The Bitter Three

The Bitter Three
Di Balik Kesetiaan Galuh


__ADS_3

David masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang sedikit lega. Sepertinya berbicara dengan Galuh adalah tindakan tepat. Galuh baru saja mengutarakan kalau ia ingin merekrut Hanifah untuk menjadi karyawan di coffee shopnya, untuk pengalaman wanita itu, juga untuk belajar.


Memang agak aneh, bahkan Hanifah belum bilang apa pun ke David, malah Galuh duluan yang bilang kalau pria itu menawari Hanifah bekerja. Galuh mengatakannya saat David bertanya apa yang bisa dilakukan Galuh untuk membantu David.


Saat seorang wanita belajar untuk mandiri, otomatis pikirannya menjadi lebih terbuka. Berbagai pengetahuan mengenai kehidupan manusia dan segala intriknya masuk. Diharapkan ia bisa menjalani hidup dengan lebih leluasa, bisa menjaga dirinya sendiri dan yang paling penting, memiliki harga diri.


Belajar untuk mandiri bagi perempuan bukan hanya menjadi wanita karier. Kebetulan saja Hanifah memiliki kemampuan kuliner dan ada tawaran pekerjaan untuknya. Bisa jadi kalau Alwa berbeda lagi. Menjadi ibu rumah tangga pun banyak sekali tantangannya.


Selama ini Alwa selalu dimanja Suleyman dan David. Segala keperluannya tersedia. Nanti, kalau Hanifah tidak ada di rumah karena harus bekerja, David mungkin akan minta Alwa untuk memasak dan berbelanja sendirian.


Atau mungkin, Alwa bisa mulai mengambil kejar paket C dan dipanggilkan guru untuk homeschooling. Pendidikan tinggi setingkat universitas mungkin akan cocok bagi wanita itu.


Kebetulan sekali, Hanifah bertemu dengan David saat keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum.


"Abi! Assalamu'alaikum," sapa Hanifah sambil mencium tangan David.


"Wa'alaikumsalam. Alwa?"


"Di kamarnya. Tadi dia bilang akan tidur lebih cepat karena kecapekan,"


David hanya berdiri di depan Hanifah sambil memasukan kedua tangannya ke dalam kantong celananya. Pria itu menatap Hanifah dengan sendu.


"Abi kenapa?" tanya Hanifah. Wanita itu berdiri sambil memiringkan kepalanya.


"Hanifah, apa kamu bahagia selama bersama saya?" tanya David.


Hanifah berdiri mematung.


Tepat saat itu Susan keluar dari kamarnya. David dan Hanifah berada di depan kamar Susan.


David menatap Susan sambil memicingkan matanya yang memang sudah sipit. "Aku sudah bilang jangan memakai baju seseksi itu!" tegurnya. Seperti biasa, Susan mengenakan piyama sutra one piece berenda, mini dan menerawang, dengan kimono yang bagian depannya sengaja ia tidak ia talikan.


"Udaranya lagi gerah," Susan berjalan ke arah dapur untuk membuat kopi. "Lanjutkan saja perbincangan romantis kalian, aku tidak ikut campur," kata Susan.


Tapi wanita itu membuka toples kopi dengan mata menyelidik ke arah David dan Hanifah.


"Aku bahagia Abi," kata Hanifah beberapa saat kemudian. "Tapi itu sebelum Mbak Susan datang,"


Dan senyum getir menghiasi wajah cantik Hanifah. Wanita itu dalam diam masuk ke kamarnya untuk beristirahat bersama Vini dan Vici.


David menatap Susan, namun tanpa ekspresi.


Susan hanya tersenyum licik. Sangat terlihat kalau memang itu tujuannya. Membuat Hanifah tidak bahagia, dan dengan sukarela meninggalkan David. Tanpa sadar Hanifah telah terjebak ke dalam perangkapnya.

__ADS_1


"Aku memang biang keributan," desis Susan sambil tetap tersenyum dan mengaduk kopinya.


"Biarkan mereka lepas pada waktunya,"


"Aku berharap bekal mereka hidup mandiri sudah cukup untuk bertahan hidup. Biarlah mereka cari kebahagiaannya sendiri, wanita lebih cantik kalau seperti itu. Tentu saja, kamu bisa sambil mengawasi mereka dari jauh," kata Susan.


"Kamu ini unik ya," desis David sambil berjalan ke kamarnya, "Unik, tidak dapat ditebak, dan sangat menyebalkan," tambah David sambil menutup pintunya.


Seringai menghiasi wajah Susan, ia pun melanjutkan menikmati kopinya.


-----***-----


Tak berapa lama saat Susan sibuk dengan media sosial dan rokoknya di ruang tamu, Galuh masuk dan menghampirinya. Pria itu duduk di sebelahnya.


"Calon karyawan yang waktu itu akan ibu kenalkan ke saya itu, Mbak Hanifah?" tanya Galuh.


Susan menoleh ke arahnya, "Betul, kok tahu?"


"Baru saja saya menawarinya pekerjaan, dan Pak David mengizinkannya,"


"Wah, alam bekerja dengan sendirinya. Bagus, lah. Memang itu yang dibutuhkan Ipah. Jangan hanya diam di rumah, masak, bersih-bersih dan merengut. Sekali-kali dia harus tahu dunia luar,"


"Ibu tahu kan kalau dia begitu juga karena kekangan Pak David,"


Galuh baru ingat kalau Susan sama sekali belum diberitahu perihal kematian Suleyman, karena Galuh dan Raka melakukan penyelidikan secara pribadi. "Mungkin untuk keselamatannya sendiri, dia istri seorang konglomerat," kata Galuh akhirnya.


"Hem, memangnya David banyak musuhnya?"


"Tidak sebanyak ibu, mungkin. Tapi kemungkinan selalu ada," Galuh menyeringai.


Susan tersenyum dan menatap Galuh dengan lebih serius, "Kan sudah saya bilang, kalau bukan jam kerja tidak usah memanggil saya dengan sebutan 'Ibu',"


"Hem, saya sudah terbiasa," gumam Galuh.


Lalu pria itu melirik Susan.


Wanita itu cantik. Sangat cantik, menurut Galuh. Dan ia tidak menampik, sebelum mengenal Rika mereka sempat menjalin hubungan yang bisa dibilang tidak biasa.


Galuh mengenal Rika justru dari Susan. Karena wanita yang duduk di sebelahnya ini memiliki gaya hidup bebas yang terlalu frontal, mereka tidak saling cocok. Saat dalam keadaan galau itulah, muncul Rika.


Susan menjadi pelanggan tetap cafe Galuh sudah sejak cafe itu mulai buka di hari pertama. Saat itu hujan turun dengan deras, mobil Susan mogok tepat di depan cafe dan wanita itu memutuskan untuk singgah sambil menunggu mobil derek.


Mahasiswi dengan baju dan tas bermerk adalah pemandangan tidak biasa. Dan Galuh mulai berkenalan dengannya. Susan yang judes dan apa adanya seketika memikat Galuh. Sehari-harinya hidup mereka dihiasi adegan panas. Sampai saatnya mereka mulai sering bertengkar.

__ADS_1


Susan selalu menceritakan masalahnya dengan Rika, si teman kecilnya. Rika kerap berusaha mendamaikan Susan dan Galuh. Otomatis Rika jadi sering singgah ke cafe Galuh kalau pasangan itu bertengkar.


Kelembutan hati Rika mulai membuat Galuh luluh. Dan Rika pun ternyata memendam perasaan terhadap Galuh yang tampan, dingin, dengan kulit kecoklatannya yang seksi.


Sementara Susan,


Sudah asik dengan pacar barunya.


Karena itu, mau sevulgar apa pun penampilan Susan, Galuh sudah tidak terpengaruh.


Pria itu begitu mengenal Susan, luar-dalam, sampai-sampai hubungan mereka jadi seperti kakak-beradik. Sepeninggal Rika, Susan dan Galuh saling melindungi, namun sudah tidak pernah lagi terbersit pikiran untuk mengulang masa lalu.


"Lagipula, Bu Susan sudah berkeluarga, jadi sudah sepantasnya saya menjaga sikap," lanjut Galuh.


"Hm, terserah kamu saja. Saya sedang menunggu Vini Vici bangun. Saya kangen dengan mereka. Lagipula, bagaimana ceritanya kamu bisa tiba-tiba di sini? Bukannya kalian lagi liburan ke Jungle Land?" tanya Susan.


"Kami bertemu di supermarket. Anak-anak bosan bermain dan minta pulang, lalu mereka minta dibikinkan martabak. Begitu tahu kalau kamu, eh, Bu Susan tinggal satu rumah dengan Mbak Hani, mereka memaksa kemari," jelas Galuh.


"Oh," Susan menyunggingkan senyum selicik rubah, seperti biasanya. "Bagaimana pendapat kamu tentang Hanifah?" tiba-tiba Susan bertanya demikian. Namun Galuh sudah terbiasa dengan pertanyaan aneh dari atasannya itu.


"Jadi sekarang kita meng-gibah orang nih?" tanya Galuh.


David keluar dari kamarnya, berniat ke ruang tamu menyusul Susan. Dan melihat Susan dan Galuh duduk berdampingan.


Tepat saat Susan bertanya mengenai Hanifah.


David memperlambat langkahnya dan menguping pembicaraan mereka.


"Jawab saja, saya ingin tahu pendapat jujur kamu. Saya perlu tahu untuk rencana saya selanjutnya," kata Susan.


"Ibu ini kebiasaan bikin rencana yang merugikan orang lain, mereka bukan boneka," desis Galuh tidak terlalu suka dengan niat Susan.


"Kamu tahu kalau rencana saya selalu memiliki win-win solution,"


"Jangan bilang kalau kali ini saya terlibat, seperti saya terjebak saat bersama Rika,"


"Ah, pada akhirnya kalian bucin sampai sekarang. Tidak usah menampik kalau saya problem solution lah," Susan melambaikan tangannya.


Galuh menghela napas panjang. "Pendapat saya mengenai Mbak Hani ... Wanita malang. Kehidupannya bagai pungguk merindukan bulan,"


Susan mendengus setuju.


-----***-----

__ADS_1


__ADS_2