
Hanifah, di keesokan paginya, menemui David sebelum pria itu berangkat bekerja.
Semalaman wanita itu Tadaruz dan Berdzikir, menumpahkan isi hatinya ke Sang Maha Pencipta. Hanifah tahu ia tidak harus kembali ke keadaan di masa lalu.
Ia sudah lebih dewasa.
Terlebih, di sini ada motivasi untuknya bangkit.
Sebelum ia kembali ke kamar, malam itu, ia sempat berbincang sedikit dengan Susan.
Kira-kira begini perbincangan antar wanita saat itu.
"Mbak, apakah bisnis memang serumit itu?" tanya Hanifah lemas.
Hanifah takut karena sudah mengetahui bagaimana cara suaminya meninggal. Tapi paling tidak, ia percaya Suleyman meninggal dengan cara yang baik, di jalan berdakwah, dan sudah tenang di alam kubur.
"Hem, itu tergantung masing-masing orang, Pah. Kalau kamu bermimpi tinggi untuk menyaingi saya atau David, dengan sendirinya pikiran kamu akan rumit. Mulailah dari hal sederhana,"
"Hal sederhana?"
"Ya, contohnya kamu ingin jadi Direktur, mulailah dari bersekolah bisnis, lalu melamar ke perusahaan jadi OB, naik perlahan jadi operator, sekretaris, staff biasa, staff ahli, kepala bagian, kepala seksi, kepala divisi, manager, wakil direksi, baru sampai ke bagian direksi,"
"Kalau Mbak Susan?"
"Saya dari usia 5 tahun sudah diajari bisnis. Jadi pengalaman bisnis saya sudah 22 tahun. Mulai dari bersekolah, waktu kecil saya suka jualan permen bikinan Mama Saya di sekolah, ambil tittle S2, S3, saya lakukan sembari bekerja di perusahaan Papa Saya. Mulai dari menjual sebotol teh kemasan, sampai membangun pabrik wine di Italia. Apakah saya pernah menangis? Sering. Apakah teror pernah datang? Sering. Terutama ke Mama Saya yang keturunan Uighur, dianggap imigran gelap, diteror pemerintah negara lain, akhirnya saya yang harus membereskan masalahnya ke Kedutaan, Papa saya dicecar berbagai pihak karena etnis Chinesenya, diserang berbagai pemuka agama. Pokoknya tiada hari tanpa keributan,"
"Apa itu sebabnya Mbak Susan akhirnya lari ke gaya hidup glamor?"
"Sek-s dan shoping bagi saya adalah satu diantara kesenangan duniawi. Namun saya belum menemukan orang yang benar-benar saya cintai,"
Susan mendekati Hanifah dan membetulkan helaian rambut yang sedikit mengintip di balik jilbabnya.
"Hanifah, masalah Suleyman biar kami yang membereskannya. Namun bantulah kami dengan membuat diri kamu sendiri bahagia. Kamu bahagia saat apa?"
"Memasak," jawab Hanifah, "Namun saya juga ingin sukses seperti Mbak Susan,"
"Jadikan itu bisnis. Mulailah dari awal, kerja dulu di bawah orang lain. Gaji pertama yang kamu terima, dijamin, akan membuat kamu merasa menjadi orang yang berguna. Perlahan kamu akan belajar memahami kami, para pengusaha,"
"Apa aku akan jadi seperti sesukses Mbak Susan?"
"Saya harap tidak. Jadilah pebisnis yang mengutamakan jalur halal. Walaupun penghasilan tidak sebesar kami, namun yang penting bertahan lama dan membuat hati kamu tenang,"
__ADS_1
"Mbak Susan sih enak, dari dulu keluarganya sudah kaya, sudah tinggal di kota, pendidikan terjamin," keluh Hanifah. "Gampang saja Mbak Susan bicara begitu,"
Susan membalasnya dengan senyum puas.
"Hanifah," Susan mengelus pipi wanita berhijab itu, "Mengeluh terus menerus tapi kamu tetap jalan di tempat, tidak akan menyelesaikan masalah. Kamu punya anggota tubuh lain selain mulut. Lakukan saja dulu, tidak usah takut gagal,"
"Aku takut dibenci orang mbak, bagaimana kalau aku dapat banyak musuh?"
"Tidak usah takut dibenci. Dari 7 milyar jiwa manusia yang hidup di bumi ini, malah tidak masuk akal kalau semuanya suka sama kamu, pasti akan ada yang benci kamu," kata Susan sambil menyeringai.
Jadi, berbekal sedikit dorongan dari Susan, Hanifah memberanikan diri untuk menemui David pagi itu.
Pria itu sudah rapi dengan suitnya, dan sedang membetulkan kancing di pergelangan tangannya. Kali ini, David tidak duduk di meja makan, sepertinya ia akan sarapan di kantornya.
"Abi, boleh minta waktu bicara, sebentar?" tanya Hanifah.
"Ada apa?" David duduk di sofa depan tv dan meminta Hanifah duduk di depannya.
"Aku mungkin nanti akan ke cafe Mas Galuh di Tebet. Aku akan mulai bekerja di sana. Kemungkinan, aku akan pakai ijazah SMP saja, jadi tidak ada yang tahu kalau aku istri Abi," kata Hanifah sedikit terburu-buru.
"Hem, saya akan tempatkan dua pengawal saya di sana untuk mendampingi kamu. Karena Galuh tidak selalu ada di cafe," kata David.
"Abi, usahakan dua pengawal itu membiarkan saya saja. Saya ingin memulai dari bawah,"
"Setuju, Abi. Itu yang saya inginkan," Hanifah mengangguk yakin.
David tersenyum ke wanita itu. Senyuman pertama yang diterima Hanifah, terkesan tulus dan tidak dipaksakan seperti biasanya.
"Kamu sudah dewasa ya, Hani," David mengelus puncak kepala Hanifah. "Maaf saya tidak bisa membalas perasaan kamu. Sebuah cinta tidak bisa dipaksakan,"
Hanifah menarik napas panjang, "Selama ini saya mengharap cinta Abi, tapi saya mendapat pukulan telak. Mulai sekarang saya akan menganggap Abi dan Mbak Susan adalah kakak saya sendiri. Saya akan mencari cinta saya sendiri,"
David mengangguk.
"Tapi, Abi ... Bukankah suami harus memberi nafkah biologis ke istrinya? Kalau tidak diberi dalam 3 bulan, Abi akan berdosa," Hanifah menatap David dengan kuatir.
"Memberi kamu nafkah tapi menyakiti kamu, sama berdosanya. Saya lebih baik diam dari pada melihat kamu tersiksa lagi," gumam David.
Hanifah tersenyum getir.
Rasa sakit di area wanitanya masih perih sampai sekarang, walaupun sudah lebih baik.
__ADS_1
Pernikahannya sudah hancur di dalam. Seharusnya hal ini akan jadi mut'ah, haram hukumnya. Namun di lain pihak, menjadi istri David akan memberinya perlindungan yang diperlukan.
-----***-----
"Susan," Direktur Utama di kantor Susan menghampiri dengan kuatir. "David Yudha memberi penawaran dengan harga tidak masuk akal untuk pabrik bir dan lahan anggur kita di Italia,"
"Iya, Pak. Lumayan kan untuk alokasi ke proyek yang lain. Lagipula, dua pabrik itu tidak terlalu banyak profit dibandingkan makanan ringan dan restoran AYCE kita,"
"Tapi dengan harga 200x lipat dari harga modal? Kok rasanya gila ya? Seperti ada rencana tersembunyi,"
"Pasti ada Pak, saya kan istrinya. Duitnya juga akan masuk ke saya. Lagipula, David memiliki mesin yang bisa mengolahnya jadi lebih baik. Dia hanya tidak memiliki pertaniannya,"
"Saya hanya bertanya, loh. Tidak maksud menyinggung," Si Direktur Utama mengangkat tangannya.
"Ah iya Pak," Susan memanggilnya, Si Dirut berbalik, "Kemungkinan bulan depan saya akan mengajukan resign. Saya sudah panggil notaris untuk serah terima dan RUPS. Galuh akan menggantikan saya dan mewarisi saham milik Amethys Grup," Susan tersenyum penuh kelicikan.
"Tapi ... Kenapa?"
"Suami saya ingin saya jadi Ibu Rumah Tangga saja. Saya sudah terlalu banyak buka belahan dada, nanti klien keenakan," kekeh Susan.
-----***-----
Berita mengenai Galuh akan menggantikan Direktur Investasi dan Keuangan sontak membuat semua orang di Amethys Grup heboh. Kebanyakan dari mereka bersikap julid dan nyinyir, namun lebih banyak yang takut kalau Galuh akan membalas dendam atas perlakuan mereka di masa lalu.
Galuh memang karyawan serba bisa. Dari mulai mengurusi AC rusak sampai masalah legalitas, semua bergantung kepada kinerja Galuh. Dibantu oleh Raka, mereka berdua benar-benar andalan di perusahaan. Lagipula, loyalitasnya kepada Susan sudah tidak bisa diragukan.
Karena dari waktu ke waktu semua tatapan tertuju padanya, Galuh menjadi jengah. Jadi dia minta izin ke Susan untuk mengerjakan sisa pekerjaannya di cafe saja.
Susan pun langsung menelpon Hanifah. Memberitahu bahwa pemilik cafe akan stay selama seharian di Coffee Shopnya, jadi inilah kesempatan Hanifah untuk memperkenalkan diri.
Saat Galuh selesai dengan pekerjaan pertamanya, menjelang Ashar, Hanifah pun datang ke cafenya.
"Assalamu'alaikum Mas Galuh," sapa Hanifah.
Galuh yang dalam keadaan tidak siap, terkejut melihat Hanifah di depannya.
"Loh? Mbak Hani? Wa'alaikumsalam!" Galuh langsung berdiri dan menyambut Hanifah dengan wajah sumringah.
"Duduk, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Eh, iya Mas. Begini, mengenai tawaran untuk bekerja di cafe ini tempo hari. Sepertinya saya akan menerimanya, hehe," Hanifah mengutarakan keinginannya sambil tertunduk malu-malu.
__ADS_1
Galuh pun menyeringai senang.
-----***-----