The Bitter Three

The Bitter Three
Di Balik Pencitraan


__ADS_3

Galuh sengaja menunggu Susan dan David sampai mereka kembali dari restoran. Terdengar kicauan Vini dan Vici yang heboh.


"Ayaaaah!" sapa mereka.


"Masuk ke rumah tuh salam dulu!" tegur Galuh.


"Wassalamualaikum," balas Vici.


"Assalamu'alaikum dulu Vici!" ralat Vini.


"Wa'alaikumsalam Viniii," balas Vici lagi.


"Auk ah elap!" sahut Vini gemas dengan kelakuan saudari kembarnya itu.


"Kalian pulang dulu ya ke rumah eyang. Ayah ada urusan penting sama Om David dan Tante Susan, kalian pulang diantar Pak Ridwan,"


David dan Susan mengangkat alisnya keheranan.


"Oke Ayaaaah! Tante Hani mana?"


"Tante Hani ... Lagi sakit," Galuh menatap David dingin. "Badannya panas, jadi harus istirahat,"


David balas menatap Galuh. Sang Tuan Besar berpikir, bahwa kemungkinan Galuh sudah tahu permasalahan Hanifah.


-----***-----


Galuh, David dan Susan berbicara di dalam kamar Susan. Karena dari sekian kamar di rumah itu, kamar Susan adalah ruangan dengan kedap suara terbaik.


Saat itu kebetulan Hanifah sudah merasa lebih baik, ia melihat mereka bertiga masuk ke kamar Susan.


Wanita itu merasa penasaran. Lalu membuka sedikit pintu kamar Susan untuk mendengarkan.


"Begitu cara Anda memperlakukan wanita? Saya mengerti kalau dia istri Anda, tapi dia bukan budak! Dan diharamkan bagi suami untuk memper-kosa istrinya sendiri dan memperlakukannya bagaikan seonggok sampah seperti itu!" seru Galuh emosi.


David mengernyit.


"Dari mana kamu tahu kalau saya memper-kosanya?"


"Dari keadaan Hanifah juga bisa dipastikan kalau dia dipaksa!"


Susan yang melihat perbincangan itu mengangkat alisnya. Tapi dia memutuskan untuk diam dulu. Rasanya tidak mungkin David berbuat begitu, dilain pihak Galuh tidak mungkin mengada-ngada. Suan tidak diberi tahu detailnya tadi malam, jadi wanita itu kini hanya bisa mengira-ngira.

__ADS_1


"Jadi, kamu sudah melihat keadaan Hanifah? Kamu bukan muhrimnya dan kamu tahu kamu tidak boleh ikut campur, apalagi melihat tubuh istri saya,"


"Anda tahu keadaan istri Anda tapi Anda diam saja? Iblis macam apa Anda ini!" seru Galuh sambil memukul dinding di sebelahnya. Rasanya ingin dia menghabisi David saat ini juga.


"Saya rasa kamu salah paham. Hanifah memintanya sendiri. Susan saksinya," David bersandar berdiri ke dinding dengan tenang. Ia mulai bisa membaca sifat Galuh.


"Dia minta diperlakukan seperti saya memperlakukan Susan. Dan itulah yang terjadi. Kamu sendiri tahu gaya bercinta Susan seperti apa, kan? Itu lah yang saya berikan ke Hanifah. Jadi fitnah namanya kalau kamu bilang saya memper-kosanya!"


Hanifah yang mendengarnya dari balik pintu langsung menangis pilu. Ia menyadari kebodohannya, dan fakta kalau David benar. Hanifah memang memintanya sendiri. Seakan ia sudah playing victim dan memanfaatkan keadaan untuk keegoisannya memonopoli David.


"Itu dalih Anda, Pak David? Itu namanya pelampiasan, Hanifah manusia bukan boneka se-ks. Dan dia wanita bersahaja, bukan PSK yang terbiasa dengan kekasaran pelanggannya! Kalau Anda benar-benar melindunginya, seharusnya Anda melindungi hatinya juga! Bukan hanya raganya!"


"Janji saya ke Suleyman hanya raganya, tidak termasuk hati mereka," sahut David.


"Anda gagal, dia hampir bunuh diri," sahut Galuh. "Kalau Anda tidak bisa memperlakukan Hanifah secara layak," Galuh menatap lurus ke David. "Berikan Hanifah ke saya. Talak dia, saya akan bertanggung jawab atas hidupnya,"


David membeku penuh geram. Susan bahkan sampai ternganga mendengar Galuh.


"Kamu? Memangnya kamu bisa?" desis David tampak meremehkan Galuh.


"Kamu pikir kamu bisa melindunginya?" Geram David sambil maju menantang Galuh. "Kamu asal bicara atau bagaimana Galuh? Perasaan simpati kamu tidak masuk akal!"


"Kamu pikir berapa lama saya meyakinkan kaum kapitalis kalau Hanifah dan Alwa tidak ada hubungannya dengan gerilya Khilafah yang dilakukan Suleyman?! Berapa banyak yang saya habiskan untuk melindungi mereka berdua dari ancaman pembunuhan?! Kamu tahu sendiri setengah ART disini adalah bodyguard! Kamu juga tahu sendiri berapa banyak sniper yang mereka kirimkan kesini untuk membunuh Alwa dan Hanifah! Semua gara-gara Suleyman mencoba melawan ekonomi dunia!" Seru David sambil mencengkeram kerah Galuh.


Galuh diam.


David melepaskan cengkeramannya.


"Selanjutnya, saya akan melikuidasi seluruh pabrik wine dan miras Amethys Corp. Itu yang bisa saya lakukan agar saya terlihat tidak se-suci Suleyman, kalau perlu saya mabuk dan berjudi di depan umum," geram David.


"Setidaknya, sampai saya bisa meyakinkan dunia kalau Hanifah dan Alwa tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Suleyman, baru saya bisa melepas mereka. Saat itu, saya bisa dengan ikhlas melepaskan Hanifah untuk kamu," desis David.


"Dan juga, bilang ke Hanifah, jangan coba-coba memancing emosi saya lagi,"


Dan David pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk dan tak menentu. Ia perlu menenangkan dirinya untuk sementara waktu.


Saat keluar dari ruangan, ia berpapasan dengan Hanifah yang sedari tadi juga ikut mendengarkan perbincangan itu. Wajah Hanifah pucat dan ketakutan. Namun tidak seperti takut akan David. Lebih ke takut akan masa depannya.


"Jangan beritahu Alwa apa pun, saya tidak ingin dia panik," desis David ke Hanifah.


"Juga ... Maafkan saya kalau berlaku kasar terhadap kamu. Untuk selanjutnya karena kamu sudah tahu masalah dibalik semua ini, saya harap kamu tidak meminta lebih dari saya," kata David lirih.

__ADS_1


Pria itu pun masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintunya.


"Sini, Hanifah," Suaan melambaikan tangan ke Hanifah.


Hanifah masuk sambil sesenggukan. Susan menggenggam tangan wanita itu dan mencoba mengelus punggungnya untuk menenangkannya. "Mulai sekarang, bicarakan semuanya ke saya, oke? Saya bukan musuh kamu walaupun tingkah saya agak ekstrim," sahut Susan.


Hanifah mengangguk lemah.


Susan menatap Galuh dengan dingin. "Dan kamu, ada yang mau kamu ceritakan ke saya, Galuh?" tanya Susan sinis.


Galuh berkacak pinggang sambil menghela napas berat.


-----***-----


Susan membuka pintu kamar David. dengan hati-hati. Pria itu sedang duduk di atas meja, membelakangi wanita itu, dengan botol Chivas yang isinya sudah habis setengah dan rokok di tangannya.


"Hey, Badboy," sapa Susan.


"Aku boleh nangis, nggak?" gumam David.


"Di depanku saja ya," kata Susan sambil duduk di sebelahnya.


David memeluk Susan, membenamkan wajahnya di rambut Susan yang sewangi taman bunga.


Lalu perlahan air mata jatuh di pipinya.


"Kalau Suleyman tahu aku mabuk, pasti aku sudah disabetnya dengan ikat pinggang," gumam David.


"Dia yang sekarang tahu tujuan kamu mabuk. Takaran dosa kamu, bukan manusia yang menentukan," kata Susan.


"Kadangkala kamu mengucapkan teori yang serasa tidak bisa dipercaya. Tapi ternyata kamu memang benar,"


"David, aku boleh minta satu hal?"


"Hm?" David mengusap air matanya.


"Mulai sekarang, jangan lari ke alkohol lagi. Sekarang ada aku,"


"Kamu tidak selamanya milikku. Aku kan bertepuk sebelah tangan,"


"Aku akan belajar cara mencintai kamu, mulai sekarang. Kalau saja kamu menceritakan semuanya dari awal, kita tidak perlu menghabiskan waktu dengan debat kusir tak berguna," kata Susan.

__ADS_1


David mempererat pelukannya, dan mengangguk perlahan.


-----***-----


__ADS_2