The Bitter Three

The Bitter Three
Secercah Harapan


__ADS_3

Hanifah berdandan sambil tercenung. Baru saja ia mendengarkan cerita Alwa mengenai Raka.


Apakah jatuh cinta memang semudah itu? Pikir Hanifah.


Alwa menceritakannya dengan berbunga-bunga, mengenai kegalauannya, mengenai ketegangannya. Dan saat ini rasanya ia selalu ingin bertemu dengan Raka.


Hanifah hanya bisa menasehati Alwa supaya jangan terlalu menekan Raka. Raka pria yang bebas, butuh ruang untuk dirinya sendiri, dan jenis yang kurang serius menanggapi sesuatu.


Semua yang serius dibuat santai oleh Raka.


Jadi, Hanifah mengusulkan supaya Alwa lebih baik berbicara ke Susan yang lebih mengenal Raka. Namun seperti dirinya, Alwa pun sedang sensitif dengan Susan.


Padahal, sama seperti Alwa, Hanifah juga bingung kalau masalah cinta-cintaan.


Setelah menorehkan sedikit liptint dan memeriksa jilbabnya, Hanifah menyambar tasnya dan beranjak untuk berangkat bekerja. Masih ada waktu satu jam sebelum shiftnya dimulai, Hanifah akan mampir dulu ke toko mas.


Dan terkejutlah ia saat melihat Galuh masih ada di rumahnya, sedang duduk di pos sekuriti di sebelah pagar.


"Mas Galuh?" sahut Hanifah.


Galuh hanya tersenyum tipis.


"Belum pulang juga? Apa lagi nungguin Mbak Susan? Sudah saya bilang, Mbak Susan pulangnya besok,"


"Iya, saya nungguin Mbak Hani,"


Hanifah mengernyit. Lalu menghela napas panjang.


"Mau bicara apa lagi?" tanya Hanifah ketus.


"Saya antar ya?"


"Tidak usah, lagipula saya mau mampir dulu ke tempat lain. Masih ada waktu satu jam sebelum shift saya dimulai,"


"Iya, saya antarkan kemanapun kamu mau,"


"Saya sudah bilang tidak usah," Hanifah berpaling dan menjauh dari Galuh. Tapi pria itu menangkap pergelangan tangan Hanifah.


"Mbak, plis, saya minta maaf kalau menyinggung,"


"Lagi-lagi seenaknya menyentuh saya," gerutu Hanifah sambil menatap tangan Galuh yang menggenggam pergelangan tangannya.


Galuh langsung melepaskan cengkeramannya. Pria itu menghela napas. "Tolong izinkan saya antar, saya sudah bilang ke Pak David juga barusan,"


"Kenapa harus mengganggu Mas David? Memangnya tidak bisa kita selesaikan sendiri?!" Hanifah langsung sewot.


"Bagaimana saya mau selesaikan kalau Mbak Haninya seperti ini?"


"Seperti apa?"


"Ketus terhadap saya,"


"Gara-gara siapa?"


Galuh mencebik, "Iya, gara-gara saya," desisnya pelan.

__ADS_1


"Ya sudah, saya mau berangkat naik transjakarta saja!"


"Feedernya kan jauh Mbak,"


"Saya sudah biasa jalan kaki keluar komplek,"


Kaki Hanifah melangkah ringan menyusuri trotoar di sepanjang perumahan elit yang terletak di Jakarta Selatan itu.


Dan Galuh mengiringi langkahnya.


"Kenapa masih mengikuti saya sih?!"


"Saya antar sampai cafe ya, terserah saja kalau mau mampir ke tempat lain dulu, saya tetap mau menemani,"


"Saya sedang tidak diincar siapa-siapa kan?!"


"Sudah tidak ada yang mengincar Mbak Hani,"


"Lalu kenapa masih di sini?"


Lagi-lagi Galuh menarik napas panjang. Pria itu langsung melangkah lebih cepat dan menghadang Hanifah dengan pandangan mengiba.


"Mbak, tolong dengarkan saya kali ini saja. Kalau Mbak Hani masih tidak berkenan, saya tidak akan ganggu lagi,"


Hanifah menghentikan langkahnya dan menatap Galuh dengan merengut. "Ya sudah, mohon lebih cepat bicaranya karena kita sedang di pinggir jalan,"


"Saya minta maaf atas perlakuan saya tadi Mbak. Semuanya reflek saya lakukan karena saya suka sama Mbak Hani. Dan saya benar-benar lupa kalau posisi Mbak Hani cukup sulit karena milik orang lain. Saya sudah terbiasa dengan Bu Susan yang vulgar dan wanita yang berada di sekitar saya semuanya bersikap dinamis, jadi secara otomatis menganggap semua wanita itu sama. Jadi saya harap Mbak Hani mau memaafkan saya. Lain kali saya akan menahan diri,"


"Saya tadi menganggap Mas Galuh sedang merendahkan saya,"


Hanifah menatap Galuh sambil mempertimbangkan ketulusan pria itu. Ia juga memikirkan maksud tersembunyi Galuh terhadap dirinya


"Mas Galuh,"


"Ya Mbak?"


"Kenapa suka sama saya? Bukankah banyak wanita cantik berseliweran di sekitar Mas Galuh?"


"Kenapa nggak boleh suka sama Mbak Hani?"


"Saya sih nggak bisa mengatur perasaan orang lain. Toh Mas David saja tidak memiliki perasaan apapun terhadap saya padahal sudah menikahi saya. Tapi saya terus terang belum bisa membalas perasaan Mas Galuh,"


Dalam hatinya Hanifah berpikir kalau saat ini memang belum bisa membalas perasaan Galuh. Tapi mungkin jawabannya akan berbeda kalau dia sudah jadi janda. (Hihi)


"Kalau begitu ..." Galuh mengusap tengkuknya. Itu sering ia lakukan kalau sedang gugup. Apalagi dia langsung teringat perlakuan Indra yang begitu romantis saat mendekati Hanifah. Entah bagaimana Galuh menjadi begitu protektif terhadap wanita bersahaja di depannya ini.


Dan sebenarnya, menunjukan rasa cinta dengan begitu gamblang bukanlah jati dirinya. Galuh saat ini sedang memaksakan diri. Tadinya mau mengulur perlahan karena ia tidak ingin terlalu mendesak Hanifah, tapi ternyata ia malah menyatakan perasaannya duluan.


Ternyata Galuh gampang terprovokasi kalau urusan perasaan.


Apalagi, saingannya adalah pria yang lebih tampan dengan mata sayu memikat, lidah penjilat, perayu ulung dan kemapanan setara David Yudha.


Jelas Galuh takut keduluan.


Zaman sekarang ini, jarang ada malaikat semenarik Hanifah. Terkadang insecure tapi cepat bangkit, terkadang judes tapi nyatanya baik hati, terkadang senyumnya hanya tipis dan kalem ternyata dia memiliki selera humor yang elegan. Dan lagi, Galuh cepat luluh dengan wanita yang 'dipilih' oleh anak-anaknya.

__ADS_1


Selain Susan.


Vini dan Vici akrab dengan Susan hanya karena mereka mengenal wanita itu sejak lahir.


Namun si kembar jarang sekali setuju saat ayahnya dekat dengan wanita lain. Mereka pasti senantiasa melancarkan aksi menginterogasi bahkan menyerang si wanita dengan tatapan sinis dan terang-terangan menolak.


Namun dengan Hanifah, mereka langsung luluh bahkan saat pandangan pertama.


"Kalau begitu, saya boleh kan terus mengharapkan Mbak Hani mau menjadi ibu dari anak-anak saya?"


Hanifah terdiam sesaat. Lalu dia jadi salah tingkah. Entah dia mau senyum atau mau kabur saja dari hadapan Galuh, yang jelas ia sangat malu. Dia belum pernah dirayu seromantis ini.


Perasaannya terasa aneh, jantungnya berdetak dan seakan aliran listrik statis langsung menjalar ke ubun-ubun kepalanya.


Inilah gunanya cadar. Untuk menghindarkan godaan seperti ini. Hanifah berpikir, kalau ia tanpa cadar seperti ini, berapa banyak lagi ia akan menebarkan dosa ke pria-pria yang terpikat dengannya padahal hal itu tidak sepantasnya terjadi.


Hanifah adalah wanita yang sudah menikah, setiap ada mata yang memandangnya, ia akan membebani David dengan dosa. Dan Hanifah tidak tega saat itu terjadi.


"Mas Galuh, kalau memang itu yang mas inginkan, tolong minta langsung ke Mas David," sahut Hanifah akhirnya. "Saya rasanya belum mampu menjawabnya,"


Galuh menyeringai, "Mbak, apa itu berarti Mbak Hani akan menerima saya seandainya Pak David berkata 'boleh'?"


"Sepertinya kata-kata saya barusan sudah mewakilkan semuanya, Mas," kata Hanifah.


Galuh mengangguk, tapi dia tidak menyinngkir dari hadapan Hanifah. "Jadi, saya boleh ya menjaga Mbak Hani?"


Hanifah mengangkat bahunya.


"Kalau begitu, bagaimana kita mulai dengan menawarkan tumpangan, agar tidak ada lagi mata jahil yang menatap Mbak Hanifah?"


Hanifah menghela napas dan menangguk.


Setelah itu, sambil menunggu Galuh kembali dengan mobilnya, Hanifah menunggu di samping trotoar sambil mengirimkan pesan kepada David.


Abi,


Mas David,


Maaf mengganggu. Besok pagi kalau berkenan saya ingin membicarakan sesuatu.


Send.


Conteng dua, biru, dan langsung dibalas.


Oke, hati-hati di jalan. Nanti pulangnya bareng Galuh saja daripada sendirian naik transjakarta.


Itu balasan David.


Dan hal itu Hanifah anggap kalau David secara tak langsung mengizinkannya menjalin hubungan special dengan Galuh.


Lalu terdengar notifikasi lain.


Pesan whatsap lain dari David.


Hati-hati dengan Indra Yodhayasa.

__ADS_1


Begitu kata David. Kalimat yang cukup singkat namun Hanifah langsung mengerti artinya.


__ADS_2