The Bitter Three

The Bitter Three
Matkul Bisnis, Dosen : Galuh


__ADS_3

Di meja makan, sambil mengamati Galuh menyuapi Vici yang sibuk dengan kado dari Susan, sementara Vini makan sendiri martabaknya dengan antusias, Hanifah jadi berpikir satu hal.


Inilah impiannya, keluarga hangat seperti ini yang tadinya ia kira akan terwujud dengan David.


Ya, Hanifah sudah jatuh cinta dengan David, sejak pertama kali wanita itu melihatnya. Diperistri David bagaikan keberuntungan yang tak terduga baginya.


Dari perawakan, David jelas lebih tampan dari Suleyman. Jambang Suleyman panjang, dengan rambut gondrong dan sorban di kepalanya. Sedangkan pakaiannya itu-itu saja modelnya, kalau tidak gamis ya baju koko.


Sedangkan Hanifah lebih menyukai pria yang berpenampilan rapi seperti David. Apalagi dari segi kemapanan, David jelas-jelas lebih unggul.


Tidak benar jika ia menikah dengan David tanpa menyukai pria itu.


Hanifah tidak tahu yang dirasakan Alwa, namun ia mengambil kesimpulan bahwa Alwa justru belum pernah merasakan jatuh cinta.


Yang membuatnya sakit hati, adalah kata-kata Susan. Dan sedihnya, semua teori Susan benar adanya.


Hanifah tidak bisa mengimbangi David, padahal pria itu membutuhkan wanita cerdas yang bisa diajaknya berkeluh kesah mengenai pekerjaan. Sebagian besar hidup David dihabiskan untuk bekerja, dan sudah pasti minat dan jiwa pria itu bukan untuk urusan rumah tangga.


Hanifah menganggap dirinya teledor karena lalai menyia-nyiakan kesempatan untuk memahami David. Bagaimana mereka bisa berkomunikasi dengan baik kalau Hanifah mengerti kesulitan David dan sebaliknya.


Dari situ, Hanifah mulai cemburu ke Susan, si pendatang baru.


Susan cantik, glamor, pandai berbicara dan cerdas dalam berbisnis.


Terlebih saat Hanifah mengetahui kalau Susanlah cinta pertama sekaligus wanita pertama David. Hatinya seakan teriris saat David mengakui hal itu. Dan yang membuat emosi Hanifah memuncak, saat tahu kalau Susan tidak berminat menyambut cinta David, tapi tetap berusaha membuat David terkesima.


Hanifah menganggap Susan hanya mempermainkan David untuk suatu tujuan licik.


"Mbak Hanifah, ada yang mau ditanyakan ke saya?" tanya Galuh.


"Eh? Apa Mas?" Hanifah tampak kaget saat Galuh menegurnya.


"Mbak Hanifah dari tadi melihat ke arah saya, saya pikir ada yang mengganjal pikiran," kata Galuh.


"Ah, iya," Hanifah menggigit bibirnya dengan ragu. "Begini, Mas, kalau saya mau sekolah bisnis, caranya bagaimana?"


Galuh mengangkat alisnya.


"Sekolah bisnis? Kuliah begitu? Syaratnya ijazah SMA,"


"Hem, nggak ada yang kursus saja Mas?"


"Bisnis bukan sesuatu yang sesimple menjahit Mbak, kadang kuliah 4 tahun juga banyak orang yang gagal memahami bisnis. Yang terjun langsung 10 tahunan juga banyak yang gagal. Karena sifatnya bersaing Mbak. Kadang kalau kasus Bu Susan dan Pak David, bersaing bukan hanya dengan pengusaha di negara ini, tapi juga seluruh dunia. Begitu hiperbolanya, hehe," kata Galuh sambil menyeringai.


"Masa sampai begitu, Mas?!" seru Hanifah.


"Ya mbak, betul. Dan lawannya kebanyakan mafia dan pebisnis culas di seluruh dunia yang menganggap nyawa manusia hanya kerikil, sering banyak yang bersekutu dengan iblis, hehe," sahut Galuh.


Sesaat Galuh teringat Suleyman. Namun ia tidak sampai hati meracuni Hanifah yang pikirannya sudah sangat sederhana, mengenai kemungkinan pembunuhan atas Suleyman, dan itu juga dikarenakan persaingan dalam bisnis. Suleyman ingin memulai kembali sistem pembayaran dengan emas murni, namun kaum kapitalis menolaknya. Dan akibatnya, nyawanya menghilang.

__ADS_1


Namun wajah polos Hanifah membuat Galuh menghentikan niatnya memberitahu. satu kalimat saja sudah akan membuat Hanifah kesulitan.


"Mas Galuh bercanda?"


Galuh menggeleng, "Saya tidak bercanda, saya nyengir biar Mbak Hanifah nggak takut,"


Hanifah terdiam.


"Apalagi kalau pebisnis wanita seperti Bu Susan, untuk dealing kontrak triliunan dia harus memperlihatkan belahan dadanya," kata Galuh.


"Untuk apa sih mencari uang segitu banyak Mas? Kan tidak dibawa mati,"


"Kalau sudah sampai di tingkat Bu Susan, kalau dia berhenti, malah dia yang mati, Mbak. Karena dia harus menelantarkan 5000 karyawannya. Pasti akan ada banyak yang pesangon yang tidak bisa terbayar. Bisa ngamuk semua mbak,"


Hanifah memucat.


"Ja-jadi kalau sekarang dia bangkrut?"


"Jalan satu-satunya, menjual perusahaannya ke investor lain. Dalam hal ini beliau bergabung ke Pak David,"


"Karena itu dia bilang pernikahan ini hanya bisnis?"


"Mungkin," Galuh tidak bilang kalau sebentar lagi nama baiknya juga akan dipertaruhkan untuk perusahaan Susan, otomatis keselamatan Vini dan Vici akan terancam.


Hanifah terdiam.


Wanita itu tampak tegang.


Galuh lalu menyuruh anak-anaknya nonton tv dan main game dari ponsel. Setelah itu Galuh kembali duduk di meja makan menghadap ke Hanifah.


"Mbak Hanifah, kalau mau belajar bisnis, bisa dimulai dari yang sederhana. Mau coba bekerja dengan saya? Saya punya coffee shop di daerah Tebet, dan belum punya supervisor,"


Hanifah menoleh,


"Loh? Kemarin Mbak Susan juga bilang akan mengenalkan saya ke relasinya yang punya coffee shop agar saya belajar bisnis,"


Galuh memicingkan matanya,


Apalagi sih rencana Bu Susan? Pikirnya waspada. Namun saat ini, persoalan Hanifah lebih penting dari rencana absurd Susan.


"Ya, mungkin saya yang dia maksud. Saya menjalankan bisnis itu sudah lama dari sebelum saya kenal Bu Susan. Dan semakin berjalannya waktu, semakin banyak kenangan bersama almarhum istri saya Mbak, jadi saya melanjutkan usaha itu sambil bekerja di perusahaan Bu Susan," Galuh menyeringai.


"Saya sebenarnya berminat Mas, saya akan minta izin Abi dulu. Sebelum itu, kendala apa saja yang Mas Galuh hadapi di bisnis ini?"


"Hehe, banyak. Keuntungan saya adalah adalah Bu Susan bersedia membantu modal. Saya habis dana banyak untuk sewa tempat dan marketing, Bu Susan mengusahakan semua itu. Sebenarnya saya diawal-awal hampir bangkrut karena persaingan. Sampai dikirimin preman biar bikin kegaduhan, dan tanah kuburan segala biar usaha saya tidak laku,"


"Astaghfirullah! Sampai begitu Mas?!"


Galuh teringat dulu Susan dan Rika adalah pelanggan setianya dan mereka tidak rela kalau coffee shopnya sampai tutup. Jadi Susan mati-matian mencari sponsor untuk cafe Galuh.

__ADS_1


"Yang coffee shop omset puluhan juta saja dikirimin santet, bisa bayangkan resiko yang dihadapi Pak David dan Bu Susan? Sudah pasti pasukannya atas bawah depan belakang dipakai semua, begitu gambarannya. Makanya jangan heran kalau tingkah mereka di luar batas,"


Hanifah mengangguk mengerti. Ia mulai memahami kalau dunia ini sangat luas.


-----***-----


Susan mengutak-atik ponselnya sambil tersenyum. Ia baru saja merayu rekanan supliernya untuk memberinya voucher diskon di sebuah hotel berbintang.


"Apa senyum-senyum?" David meliriknya curiga sambil menyetir.


"Daripada aku marah-marah, dasar masochist," gumam Susan.


"Eh? Ngomong tuh dipikir dulu," David mencubit pipi Susan.


"Ih, nanti blush on-nya luntur!" Susan menepis tangan David. "Lagian kamu mancing aku biar kesel terus,"


"Harusnya aku yang ngomong begitu, Nyonya Besar!"


"Minggu depan ada rencana apa?"


"Ziarah ke makamnya Suleyman bareng Papa,"


"Hem, habis itu?"


"Rebahan, soalnya Seninnya mau meeting sama KAP rekanan kantor kamu,"


"Kita rebahan di Hotel SS aja gimana? Aku barusan dikasih diskon sama suplier," kata Susan.


Senyum tersungging di bibir David.


"Eh? Loh? Kok manis banget ya senyumnyaaaa?! Mesum yaaaa!" goda Susan.


"Memangnya aku harus mikir apa lagi kalo diajakin kamu ke hotel? Main remi? Kan nggak mungkin," sahut David.


"Oke nanti kita main remi di hotel. Yang kalah buka baju, terus joget dangdut di beranda,"


"Heh! Fantasi kamu liar banget ya!" seru David. Susan terbahak.


Lampu merah membuat David menghentikan mobilnya sejenak. Lalu pria itu mendekatkan wajahnya ke Susan dan menarik dagu wanita itu.


Ciuman ringan mendarat di bibir Susan, membuat wanita itu menyeringai lebar.


Lalu ia pun membalas ciuman David dengan lebih dalam.


Dari kecupan ringan, lalu keduanya mulai membuka bibir mereka, menyesap segalanya, memulai permainan lidah, bertukar saliva, dan tangan David mulai bergerilya tanpa mempedulikan sekitarnya.


Sampai mobil di belakang mereka membunyikan klakson.


David terkekeh sambil menginjak pedal gas. Susan hanya membalasnya dengan pelukan di lengan pria itu.

__ADS_1


Seandainya waktu bisa berhenti untuk mereka saja. Rasanya Susan tidak ingin kembali ke rumah.


__ADS_2