The Bitter Three

The Bitter Three
Bukan Melamar


__ADS_3

Susan dengan langkah tegas dan wajah cemberut melangkah masuk ke dalam lobi gedung kantornya.


Sialan si Indra, umpatnya dalam hati.


Dikasih hati minta jantung, minta juga otak dan bagian tubuh lain! Dasar Direktur serakah nggak tahu diri! Kalau bukan karena aku masih menghormati keluargamu, aku batalkan semua kontrak! Gerutu Susan.


Jadi kondisi meeting siang ini tampaknya tidak berjalan selancar rencana Susan. Ada klausula-klausula yang dibahas tidak pada waktunya dan tampaknya sudah dibicarakan di belakang Susan sebelumnya. Perusahaan Indra menginginkan aset atas semua saham kepemilikan David di Amethys. Dan dilihat jadi jumlah kerugian Amethys grup, dapat dimungkinkan manajemen akan melepaskan kepemilikan tanpa perlawanan. Kalau bertahan 6 bulan lagi, kerugian yang diderita dari biaya operasional saja bisa mencapai 50 miliar, siapa yang mau menanggung kerugian sebesar itu?!


Ini gara-gara Susan nekat untuk membeli pertanian anggur di Italy dan pabrik wine di Jakarta. Biaya perijinannya jauh lebih besar dari profit! Sementara Indra akan mengakuisisi semua untuk dijadikan franchise dari cafe – cafe kecil seperti milik Galuh, dan perusahaan provider.


Francise dari UMKM, kenapa tidak terpikir di benak Susan dari kemarin-kemarin? Padahal ia menanamkan modal di Coffee Shop Galuh secara pribadi! Kenapa ia tidak terpikir untuk mengembangkan cabang dan menjual patennya? Ah! Memang licik si Indra ini!


Licik dan Cerdas, licin bagai belut dan tajam bagai pedang ikan marlin.


Para direktur dari perusahaannya sudah pasti marah besar. Ini berkaitan dengan pendapatan mereka. Bekerja di bawah kepemimpinan Indra Yodhayasa bagaikan bekerja di dalam neraka milik Hades! Ya, ini berkaitan dengan etos kerja, sih. Tidak akan ada lagi leyeh-leyeh, kerja santai, makan siang di jam kerja, kegiatan keagamaan sebagai dalih mangkir dari meeting, bahkan mungkin tidak akan ada lagi penggelapan dana dari biaya entertain.


Dalam hati, Susan senang. Memang enak! Pikirnya menyindir. Tapi ia juga harus siap dengan hujatan dan teror. Kegiatan bersenang-senang para direkturnya sudah berlangsung belasan tahun, yang namanya kebiasaan pasti sulit dihilangkan. Terbayang kecewanya wajah mereka malah membuat Susan terkekeh.


Tidak ada lagi ahli fengshui yang datang ke kantor, direktur yang seenaknya membawa balita ke kantor, atau bahkan binatang peliharaan mereka, atau bahkan wanita simpanan mereka duduk di kursi sekretaris, tidak akan ada lagi para istri direktur yang terlibat dalam bisnis dan seenaknya menginterupsi setiap keputusan. Di bawah kepemimpinan Indra Yodhayasa dan David Yudha, semua itu hanyalah mimpi indah.


Apakah itu berkaitan dengan gender Susan? Sehingga ia tidak mampu menolak semua masukan yang terjadi? Yang pasti, sejak dimulainya pengambilalihan saham oleh David dan Indra, bodyguard Susan bukan lagi Galuh dan Raka. Tapi empat orang berpakaian suit hitam yang sekarang mengikutinya ini.


“Hebat juga kamu, dari Sous chef sekarang jadi Paspamres (Pasukan Pengamanan Istri Presiden Direktur. Hehe), dan kamu bukannya tukang cuci piring di cafe Galuh ya?” sindir Susan.


“Kami bisa jadi apa saja tergantung pesanan,” sahut salah satunya sambil menyeringai.


“Bilang ke Indra, saya mau bodyguard yang wanita saja,”


“Saya wanita, loh,” Kata bodyguard ketiga yang berjalan di belakang si mantan tukang cuci piring.


“Kamu wanita?!” seru Susan kaget sambil menghentikan langkahnya.


“Nama saya Jeni, Bu,”


Susan menatap sosok itu dari atas ke bawah. “Kamu transgender?”


“Saya perempuan tulen kok bu,”


“Lesbian?”


“Bukan, saya juga punya suami dan anak kok bu,”


“Kok ganteng?”


“Bawaan lahir bu,”


Susan memicingkan mata tak yakin, lalu ia melambaikan tangannya. “Sudahlah,” desisnya dan melanjutkan perjalanannya ke ruangan kantor.


“Pastikan tidak ada yang bisa mendekati saya, saya sedang badmood tidak ingin menerima keluhan dalam bentuk apa pun, kecuali dari Raka atau Galuh,” kata Susan saat lift sudah hampir sampai di lantai kantornya.


“Siap bu,” kata keempat bodyguard barunya.


Ting! Lift berhenti di lantai 15.


Dan mereka disambut oleh ... Raka.


“Bu Susaaaaaaan!!” seru Raka riang.


Sampai-sampai Susan mundur selangkah dan menabrak Bodyguard di belakangnya. “Apa sih?”


“Saya besok cuti mendadak ya,”


Susan mencibir. “Gila kamu ya?! Nggak ada! Kantor lagi ribet!!” seru Susan.


“Ribet apanya, kan tinggal tunggu diambil alih,” dengus Raka.

__ADS_1


“Ya kan kamu harus mengurusi legalisasinya,”


“Buat apa kita spend gaji buat tim Legal? Pecat saja semuanya,”


“Kok kamu jadi culas begitu,”


“Saya mau jemput Bapak- Mak saya buat melamar Alwa loh ini,”


“Eh?” Susan membelalakkan matanya. “Apa tadi kamu bilang?”


Raka menyeringai, “Alwa ditalak Pak David tadi pagi,”


“Haaaaahhhhh?!” seru Susan kaget. “Terus kamu mau melamar dia sekarang? Kamu gila? Ada aturannya woy!”


“Yang penting kan booking dulu bu! Nikahnya mah nanti kalo iddah selesai!”


“Sinting, lu pikir vila dibooking,” gerutu Susan sambil menyambar ponselnya untuk mengkonfirmasi kebenaran info itu.


-----***-----


"Menikah bukan perlombaan, bukan soal cepat atau lambat. Tetapi, siapa yang siap mengemban amanah yang besar." (Quotes dari NN)


Papa David melongo saat mendapati seorang pemuda tampan yang terasa asing di matanya datang menemuinya bersama kedua orang tuanya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, David juga ada ada di sana.


“Assalamu’alaikum Pah, apa kabar?” tanya David.


“Wa’alaikumsalam. Ini siapa ya?” Papa David menatap Raka.


David dan Raka saling lirik. Lalu keduanya menyeringai.


“Pah, duduk dulu,” David membantu Papanya duduk di salah satu sofa panjang di ruang tamu. Sementara Raka dan kedua orang tuanya duduk di sisi yang bersebrangan.


David pun menghela napas mengumpulkan tenaganya.


“Saya sudah menalak Alwa secara lisan,”


“Sabar dulu Pah, semua ada pemicunya,” sahut David.


“Tapi kamu melakukan semuanya tanpa membicarakan apa pun dengan Papa!”


“Saya juga disuruh melakukan semuanya tanpa sempat menolak, dipikir saya peduli dengan keadaan Alwa dan Hanifah? Kalau bukan karena Suleyman yang meminta, saya sudah tinggalkan semuanya,” balas David.


Papa David terdiam, bukan hanya dia, semua terdiam.


Terutama orang tua Raka yang hanya dijelaskan segelintir. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi, namun mereka bisa mengira-ngira garis besarnya. Yang ada di depan mereka adalah Ketua Yayasan dari salah satu Mualaf Centre terkenal di negeri ini. Orang terpandang dan bukan sembarang warga negara.


Bagaimana bisa anaknya, si Bang Raka mantan preman jalanan bisa kenal dengan kalangan seperti ini, hal itu yang membuat Bapak dan Mak takjub.


Siapa sebenarnya bidadari yang mau dipinang oleh anak angkatnya itu?


Papa David terduduk lesu di sofa sambil tertegun. Apa yang terjadi dengan rumah tangga anaknya ini? Padahal ia pikir selama ini semua baik-baik saja.


“Pah, saya pun menjalani pernikahan dengan terpaksa untuk melindungi amanah Suleyman. Papa pikir mudah memperistri orang yang tidak kita sayang? Mudah melakukan adegan ranjang dengan bekas istri kakak sendiri? Tidak Pah, semua itu saya tahan selama hampir 3 tahun ini sambil membereskan masalah Suleyman. Kini sudah tidak ada teror lagi, dan di saat yang bersamaan Takdir Illahi membuat kami memiliki jalan keluar yang sesuai,” David menoleh ke arah Raka.


“Perkenalkan, ini Raka dan orang tuanya. Raka adalah asisten Susan, dia dari awal mengetahui duduk permasalahannya. Alwa ... Alwa mengaku ke saya kalau dia menyukai Raka,”


“Astaghfirullahaladzim,” gumam Papa David.


“Bagi saya itu Alhamdulillah, saya malah pada awalnya skeptis ada yang menyayangi Alwa sampai sebegitunya, sebesar Suleyman mencintai Alwa, setelah lama Alwa makan hati dengan tingkah laku saya,” desis David.


“Ini jalan keluar terbaik Pah, mereka saling suka,”


“Tetap saja itu namanya berzina, David,”


“Apakah lebih baik membuat Alwa depresi saja?” tantang David. “Saya sendiri mencintai orang lain dan itu bukan Alwa, selama ini saya tidak berlaku adil gara-gara Susan sudah mengambil alih semua hati saya. Tidak ada yang tersisa untuk Alwa, Papa mau membiarkan Alwa hidup dalam kubangan gelap seperti itu?”

__ADS_1


“Kalau memang Papa tidak setuju dengan Raka, saya kan tetap membuat Alwa menjanda. Biar dia cari sendiri imam hidupnya,” David Bersandar sambil melipat kedua tangannya di dada.


Papa David hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya itu.


“Lalu apa yang kamu harapkan dari Papa sekarang?” tanya Papa David.


“Bicarakan semuanya, dengan Raka,” kata David.


Lalu dia bungkam, hanya mengamati saja. Sampai di sini porsinya selesai.


Sebelum menghadap ke Papa David, Raka dan David sudah berdiskusi bagaimana mendeklarasikan kondisi perasaan Alwa dan Raka.


Karena,


Bila ia masih berstatus sebagai istri seseorang maka haram ia dipinang baik secara jelas ataupun sindiran. Sedangkan bila ia dalam masa iddah maka haram ia dipinang secara jelas. Adapun dipinang secara sindiran, bila ia dalam masa iddah karena talak raj’i (Talak saat suami masih hidup) maka haram meminangnya secara sindiran karena ia masih berstatus sebagai seorang istri. Sedangkan bila ia dalam masa iddah karena ditinggal mati atau yang semakna dengannya seperti talak bain dan fasakh maka tidak haram meminangnya dengan sindiran.


Jadi jalan satu-satunya peminangan adalah deklarasi. Info kalau perasaan mereka sama, dan mengambil hati Papa David supaya mendukung keduanya supaya saling dekat, baik itu ta’aruf maupun sekedar makan siang bersama.


“Jadi, kamu penyebab semua ini terjadi? Siapa kamu?” tanya Papa David setengah menggerutu.


“Nama saya Raka, Pak. Saya sudah 9 tahun menjadi asisten Bu Susan. Saya mulai kenal Alwa sejak Pak David menikah dengan Bu Susan. Mohon maaf Pak, saya tahu semua yang terjadi, dan sangat ikhlas membantu penyelesaian masalah. Namun, mohon maaf juga,” Raka melirik David,


“Mengenai masa lalu, penderitaan Alwa, dan kasus Pak Suleyman, saya juga sudah tahu dari awal, dan sejak itu kami saling curhat. Mungkin dari situ perasaan saya terhadap Alwa tumbuh,” kata Raka.


“Apa yang kamu harapkan?”


“Saya ingin restu supaya bisa lebih dekat dengan alwa, restu bapak sebagai walinya akan sangat banyak membantu. Terlebih karena Alwa selama ini sangat dijaga oleh Pak David, saya juga ingin ikut andil untuk menjaganya,”


“Dan tujuan kamu? Untuk menjadi suami di masa depannya Alwa, menggantikan David?” tebak Papa David.


“Saat kedua insan saling mencintai, apalagi yang diharapkan? Pasti semua bermimpi bisa menghadapi jenjang pernikahan,”kata Raka.


“Tidak boleh melamar, masih masa iddah, dan belum diurus secara legal,”


“Saya mengerti Pak. Tapi saya butuh restu bapak untuk menjadi teman dekat Alwa, sampai masanya tiba. Wanita bersahaja seperti Alwa tidak boleh sembarangan dekat dengan non mahram,”


“Teman dekat, heh?! Bagaimana kalau saya berencana menjodohkan Alwa dengan pria lain setelah selesai masa iddah,”


Raka pun menghela napas.


“Itu terserah bapak sebagai wali. Saya datang kesini, saat ini, misi saya hanya untuk membuat bapak tahu, bahwa saya mencintai Alwa. Bapak dan Mak saya saksinya,”


Papa David pun ikut menarik napas panjang.


----***----


"Dasar semprul!" Bapak menggetok ubun-ubun Raka dengan gemas. "Udah bikin jantungan aje nih, bapak pikir beneran lamaran!"


"Yang penting kode booking udah ditangan," kata Raka.


"Lu pikir tiket pesawat?!"


"Ini jet pribadi, soalnya,"


"Hih! Anak sinting!!" kembali Bapak menggetok kepala Raka, diakhiri dengan kekehan Raka yang bahagia.


"Saya akan percepat proses legalisasinya," kata David sambil memeriksa jam tangannya, "Sambil jalan, kalau kamu mau merancang pesta atau hal lain boleh saja, asal Alwa tidak diberi tahu,"


"Ya Pak, saya akan merenovasi rumah di Depok. Saat ini sedang dikontrakkan, jadi saya ingin senyaman mungkin untuk ditinggali Alwa nantinya," kata Raka.


David memasukan sebelah tangannya ke dalam saku celananya dan menatap Raka dengan penuh pertimbangan, "Raka," panggilnya.


Raka menghentikan seringai dan angan-angannya, dan langsung fokus ke David.


"Raka, tidak ada jaminan kamu bisa memperistri Alwa dalam hal ini. Yang saya bisa bantu adalah mempercepat proses perceraian. Setelah Papa Saya menjadi wali Alwa, segala keputusan ada di tangannya. Jadi kamu pandai-pandai saja memanfaatkan peluang. Tapi saya senang kamu bergerak cepat, itu menandakan kesungguhan hati kamu," Kata David.

__ADS_1


"Saya mencintai Alwa, dan tidak ingin dia diambil siapa-siapa," sahut Raka.


"Itu diluar kuasa manusia," David tersenyum masam.


__ADS_2