
Pagi yang cerah, hari Minggu yang dibanjiri sinar matahari setelah kemarin hujan deras.
Setengah sadar, Hanifah keluar dari kamar. Ia baru bangun tidur jam 11 siang. Tidak biasanya ia tidur lagi setelah solat Subuh. Tumben-tumbennya hari ini gaya gravitasi kasurnya begitu besar. Ia bahkan lupa surah apa saja yang ia baca saat solat tadi pagi.
Kedua kakinya kelu, pegal, seakan aliran darahnya tidak lancar.
Tadi malam apa yang terjadi? Suasana seakan kacau sekali di dalam cafe. Pengunjung ramai tak henti-henti sampai-sampai mereka harus memaksa suplier mengirimkan pasokan sebanyak 3x lipat dari biasanya. Jemari Hanifah pegal dan kram akibat memukul-mukul dan menipiskan adonan.
Untung saja hari ini Hanifah mendapat shift sore.
Lalu wanita itu merapihkan bergonya sebelum keluar kamar dan memeriksa ponselnya.
Wah! Ada kiriman dana yang tulisannya bonus lembur di e-bankingnya!
Hanifah menatap layar ponselnya dengan mata berbinar. Lima ratus ribu rupiah, diluar gaji per bulannya.
Alhamdulillah, lumayan! Nggak sia-sia pegal-pegal sampai serasa mau copot pinggang ini. Pikir Hanifah senang.
Lalu wanita itu memeriksa Grup Chat WA karyawan cafenya. Rata-rata yang ikut menangani event kemarin mendapat lemburan dan mereka tampak gembira. Para Barista dan Pastry Chef diberi lemburan 2x lipat dari Hanifah. Wajar karena mereka bekerja paling keras kemarin. Bahkan ada yang hampir pingsan karena kelelahan.
Hanifah beruntung masih bisa duduk dan mengobrol sebentar sambil membereskan front liner. Ia juga sembari membantu para chef menangani adonan. Dan bisa dilihat, tak satupun Barista dan Pattissier yang bisa duduk kemarin. Mereka berlarian kesana kemari dengan terburu-buru bahkan sampai terjatuh segala.
Hanifah tersenyum riang. Walaupun hanya lima ratus ribu, namun didapat dengan penuh perjuangan! Jumlah yang tidak seberapa namun mengandung banyak makna.
Lalu Hanifah memeriksa harga jual emas per hari ini. Ia berencana sebelum ke cafe, ia akan singgah sebentar di toko emas untuk membeli perhiasan sebagai simbol gaji dan bonus pertamanya hasil jerih payahnya sendiri.
Kalau ditambah dengan gajinya, mungkin bisa membeli cincin emas beberapa gram.
Lalu Hanifah mengernyit saat keluar kamar.
Ia melihat Alwa duduk termenung di depan TV. Hanifah bisa langsung tahu kalau Alwa sedang melamun, karena tayangan TV menampilkan acara off road motor trail, sesuatu yang bahkan tidak Alwa mengerti.
Mata Alwa terpaku memandang ke arah kayar, namun tatapannya kosong seakan menerawang memikirkan hal lain.
Hanifah mengerutkan kening. Suatu pemandangan yang aneh.
Tak lama kemudian, terdengar suara salam dari arah pintu masuk.
Suara yang terdengar familiar di telinga Hanifah. Dengan riang, Hanifah menghampiri asal suara dan melupakan kondisi Alwa.
Namun tepat sebelum pilar ruang tamu, Hanifah menghentikan langkahnya dan berlagak pasang tampang jutek. Ia hampir lupa kalau kemarin sedang ngambek sama Galuh.
Sepanjang hari sampai cafe tutup, Hanifah bungkam karena kepikiran ucapan Indra mengenai hubungan masa lalu Galuh dan Susan.
Sebenarnya hal itu memang tak ada sangkut pautnya dengan Hanifah. Dan seharusnya ia tidak kaget. Malah aneh kalau Susan tidak pernah menyentuh Galuh sama sekali mengingat tabiat wanita itu begitu binal.
Namun, rasanya kesal saat tahu, entah kenapa.
"Assalamu'alaikum Mbak," Galuh dengan wajah segar dan senyum lembut khasnya langsung menyerang Hanifah bertubi-tubi sampai wanita itu menyipitkan matanya yang silau.
"Wa'alaikumsalam, Mbak Susan belum pulang, lagi hanimun sama Mas David. Pulangnya tahun depan kali," gerutu Hanifah.
Galuh menaikkan alisnya. "Kali ini saya tidak mencari Bu Susan,"
"Masa sih? Biasanya lengket kayak magnet," Hanifah masih menggerutu. "Mau cari siapa Mas?" dia masih menanggapi Galuh dengan ketus.
"Mau cari kamu, Mbak,"
"Kenapa? Apa saya berbuat kesalahan kemarin?" tanya Hanifah.
Galuh menghela napas. "Itu pertanyaan saya," desisnya.
Hanifah menghempaskan tubuh mungilnya di atas sofa ruang tamu sambil mendengus. "Makasih ya mas, bonus lemburnya besar," kata Hanifah masih dengan wajah jutek.
Galuh duduk di samping Hanifah sambil menatap wanita itu dengan penuh perhatian. "Kemarin kalian sudah bekerja keras, itu belum seberapa dibandingkan usaha kalian menyukseskan acara,"
"Hem, Jazakallah Khairan,"
"Aamiin, sama-sama,"
__ADS_1
Lalu hening.
Hanifah yang bertopang dagu sambil membuang muka, dan Galuh yang menatap tingkah ngambek Hanifah dengan sabar.
Dan Pak Ridwan datang memecah kesunyian.
"Permisi Bu Hanifah," sapa Pak Ridwan.
"Ya Pak?"
"Ini ada paket,"
Pak Ridwan meletakkan buket bunga dan sekotak coklat di meja kopi depan Hanifah dan Galuh. "Untuk siapa Pak?" tanya Hanifah.
"Untuk Bu Hanifah, yang antar kurir dari toko bunganya tadi, katanya dari Pak Indra Yasa,"
"Indra Yodhayasa?!" tanya Galuh sambil mengerutkan kening.
"Ah, iya Mas, itu namanya!" kata Pak Ridwan.
Galuh langsung diam seribu bahasa dan menatap buket bunga itu dengan sinis. Sementara Hanifah menghirup wangi mawar putih itu.
Kotak yang menyertai buket bunga itu berisi coklat yang tampaknya sangat mewah dari kemasannya. Ada logo halal dari Dubai tercantum di labelnya.
"MasyaAllah!" sahut Hanifah kagum sambil meraih kartu ucapan yang tertempel di kotak coklat.
Untuk Malaikat tanpa sayap.
"Waduh! Romantis banget!" sahut Hanifah sambil tersenyum ceria. Lalu wanita itu reflek melirik Galuh.
Yang saat ini ternyata juga sedang meliriknya dengan muram.
"Suka yang beginian ya Mbak?" desis pria itu sambil merengut. Nadanya sangat sinis.
"Saya baru kali ini dikirimi bunga! Artinya apa ya Mas?"
"Biasanya kalau pria mengirimkan bunga dan coklat, itu berarti ada maksud mengambil hati," sahut Hanifah.
"Hem," gumam Galuh. "Buang-buang duit aja, cuma bikin makhluk yang seharusnya hidup jadi mati sia-sia, padahal begini indahnya," gumam Galuh.
Hanifah memicingkan mata menatap Galuh. "Mas Galuh kedengarannya sinis banget, atau saya salah dengar?"
"Kamu ada hubungan apa sama Indra?" tanya Galuh menelisik.
"Kamu ada hubungan apa sama Mbak Susan?" Hanifah balik bertanya.
Galuh mencibir, "Sudah masa lalu nggak usah dibahas,"
"Enak nggak? Berhubungan intim sama wanita paling cantik di hidup Mas David?!"
Galuh mengernyit merasa tersinggung, "Maksud pertanyaannya apa sih? Sudah saya bilang itu sudah masa lalu! Saya sudah nggak punya rasa sama Bu Susan!"
"Ternyata orang sekalem kamu pernah berzina juga. Ah! Kecewa saya," kata Hanifah.
"Ohya? Orang yang jadi suami kamu dan yang mengirimi kamu bunga juga sama saja,"
"Loh, kenapa jadi ngomongin aib orang? Itu kan urusan mereka. Nggak usah mengalihkan perhatian Mas!"
"Kalau gitu kenapa marah duluan karena masa lalu seseorang? Saya sudah nggak main yang begituan, kok situ jadi nyindir-nyindir?!"
"Nah kenapa marah juga saat saya dikirimi bunga?! Merusak mood saya saja!"
Lalu hening.
Masing-masing dari mereka hanya terdengar tarikan napas yang menggebu-gebu, menahan amarah.
"Saya bisa kasih yang lebih mahal dan lebih berarti dari buket bunga tidak berguna," desis Galuh.
"Ya sana kasih ke mantan,"
__ADS_1
"Buket itu lebih baik dikasih saya saja, mau saya tabur di makam ibunya anak-anak. Nanti saya beri gantinya,"
Hanifah langsung diam lagi. Mantan ... Yang Hanifah maksud adalah Susan. Ia lupa kalau ada ibunya Vini dan Vici dalam kehidupan Galuh.
"Dibagi dua saja buketnya, saya mau taburin di atas makam mantan saya juga," desis Hanifah. Yang ia maksud adalah Suleyman.
Seketika ia menyadari kalau nasibnya dan Galuh sama saja.
"Ini, Mas," Hanifah memberikan kotak coklatnya ke Galuh. "Berikan ini ke Vini dan Vici. Mereka pasti suka,"
"Ini kan punya kamu,"
"Iya, karena ini milik saya, jadi terserah saya mau diapakan,"
"Oh," gumam Galuh sambil menerima kotak coklat itu. "Laluuuu ... " pria itu menarik napas panjang. "Soal hubungan saya di masa lalu dengan Bu Susan, hal itu sudah terlupakan sebenarnya. Dan saya menyesal akan hal itu," desis Galuh. "Karena itu kami sepakat tidak mengungkitnya lagi, termasuk menyembunyikannya dari Pak David. Saya harap Mbak Hanifah mengerti posisi kami,"
Hanifah menatapnya sinis, lalu mendengus sebal. "Saya agak sensitif kalau masalah Mbak Susan,"
"Iya, saya mengerti,"
"Pokoknya saya sebal kalau mendengar sesuatu yang berhubungan dengan beliau,"
"Iya Mbak,"
"Lagipula dari sekian banyak laki-laki, kenapa harus Mas Galuh, sih?!"
"Saya juga mau tanya hal yang sama dengan Indra, type wanita kesukaannya jauh dari style Mbak Hani,"
"Mungkin dia mau bertobat Mas?"
"Pokoknya saya agak sensitif kalau mendengar sesuatu yang berhubungan dengan si Indra,"
"Jangan meniru kata-kata saya," gerutu Hanifah. "Lagipula ada apa sih dengan Pak Indra?! Kalian sepertinya cukup akrab,"
"Sebenarnya baru kenal saat menyelesaikan perkara likuidasi Amethys Corp, entah bagaimana langsung nyambung jadi temen nongkrong," gumam Galuh. "Dia itu pemilik PT. Mangkubarata Nagarawan,"
"Hah?! Yang punya provider tv kabel? Yang punya PH juga kan ya?! Film-filmnya semua box office loh Mas!"
"Ck!" decak Galuh tidak senang. "Bodo amat,"
"Wow, ternyata dia orang hebat! Tapi sifatnya berbaur sekali ya! Supel!" kata Hanifah.
"Suka cowok yang begitu ya? Saya nggak ada kesempatan jadi calon suami, dong?"
Hanifah terdiam.
"Apa Mas?" tanyanya meminta pengulangan.
Namun Galuh tersenyum tipis. "Nanti kita bareng saja ke cafe ya, saya mau belikan hadiah yang lain sebagai ganti buket unfaedah ini,"
"Tapi saya lebih senang laki-laki yang perhatian dan penuh kejutan. Bukannya malah memberi saya hadiah karena termotivasi orang lain,"
Dan,
Cup!
Sebuah ciuman mendarat di pipi Hanifah.
"Gimana? Sudah cukup mengejutkan?" tanya Galuh sambil menyeringai jahil.
Hanifah hanya menatapnya takjud. Rasanya lidahnya langsung kelu.
"Lain kali, kalau ada hadiah dari Indra, tolong bilang ke saya," Galuh mengelus pipi Hanifah dengan lembut. "Setidaknya, pikirkan perasaan saya juga,"
Hanifah hanya mampu membelalakkan matanya. Semua ini terlalu tiba-tiba! Bagaikan petir menyambar di hari cerah.
Sejak kapan semua ini berawal?! Kenapa sekarang semua seperti sambung menyambung dalam satu waktu?!
Sampai beberapa saat Hanifah masih belum dapat menggerakkan tubuhnya karena terlalu kaget.
__ADS_1