The Bitter Three

The Bitter Three
Dari Hati ke Hati


__ADS_3

Hari Senin hari yang sibuk.


Biasanya.


Kali ini, tidak! Hari Senin adalah hari kasmaran.


Dimulai dari sarapan bersama di meja makan. David duduk di ujung dengan wajah sumringah. Susan duduk di ujung satunya dengan wajah terlungkup di atas meja.


Jam empat pagi David memaksanya mandi junub lalu menyeret Susan ke mushola untuk ikut sholat Subuh berjamaah bersama Hanifah dan Alwa. Saat sujud ia malah limbung hampir saja ketiduran.


Kalau Hanifah, entah bagaiman saat David ke mushola, Hanifah sudah mengaji di sana. Mata pandanya menandakan wanita itu belum tidur semalaman. Saat ini Hanifah sedang menyibukkan diri di dapur sambil membuatkan Susan kopi.


Sedangkan Alwa, duduk di sebelah kanan David, namun matanya menerawang ke depan. Seperti ada yang ia pikirkan.


Sedikit-sedikit ia tersenyum-senyum sendiri. Berikutnya ia malah merengut sendiri.


David hanya melirik Alwa tanpa ekspresi walaupun ia sudah tahu tingkah absurd Alwa pasti gara-gara Raka. Pria itu memutuskan untuk diam saja membiarkan istri keduanya itu dengan khayalannya sendiri.


"Mbak, ini kopinya," desis Hanifah sambil meletakkan secangkir kopi hitam diatas meja, di dekat kepala Susan.


"Hemmm," gumam Susan tak jelas.


Hanifah lalu mengambil kotak rokok Susan dan memasukannya ke kantong jas David.


David hanya mengangkat alisnya melihat aksi Hanifah.


"Mas, ada baiknya yang beginian disimpan dulu sampai Mbak Susan tes kehamilan," kata Hanifah.


"Ah! Iya kamu benar juga," David menyeringai merasa berterima kasih.


Susan kemudian sadar mengenai topik yang dibicarakan dan langsung mengangkat wajahnya.


"Serius kamu ambil rokok saya?! Bisa-bisa saya stress Ipah!" seru Susan.


"Mbak, bagaimana kalau janinnya berkembang? Kan kasihan dikasih racun," kata Hanifah.


"Kamu kalau kurang tidur jangan pelampiasan ke saya dong!"


"Ini demi kebaikan bersama, loh!" Hanifah bersikeras. "Mulai sekarang dilarang merokok, kecuali alat tesnya negatif!" Hanifah tegas berbicara.


"Arghh! Kenapa kamu jadi galak banget sih?! Lama-lama makin mirip Galuh!" keluh Susan. Walaupun mengeluh ia tahu kalau Hanifah benar.


Hanifah mendengus. "Mbak, dengarkan aku," ia berbicara dengan suara yang lebih lembut. "Aku suka anak-anak. Tapi aku nggak bisa punya anak. Rahimku sudah diangkat karena tragedi yang tak pernah terbayang akan aku derita. Aku hanya bisa mengasuh anak orang lain. Mengasuh anak orang lain berbeda dari mengasuh anak biologis. Rasa sayang dan feelingnya beda, Mbak. Makanya selagi Mbak Susan dalam keadaan sehat, masih diberi kesempatan untuk memiliki keturunan, tolong manfaatkan sebaik mungkin,"


Susan terdiam.


Lalu ia menatap David.


David tersenyum lembut padanya.

__ADS_1


Lalu Susan menatap Alwa. Sia-sia, Alwa tampaknya bahkan tidak mendengarkan, wanita itu sibuk berkhayal. Susan berdecak melihat tingkahnya.


"Kok dia nggak kamu hamili?!" tanya Susan ke David, maksud Susan dengan 'dia' adalah Alwa.


"Pake kon-dom," desis David.


"Cih!" decak Susan. "Okeeee, aku berhenti. Tapi nggak bisa drastis begitu!"


"Nanti kubelikan vape," desis David. "Tapi setelah itu kamu harus bertahap berhenti dan harus puas dengan permen karet, aku juga akan berhenti merokok, menemani kamu,"


"Alhamdulillah!" gumam Hanifah.


"Astaghfirullaaaaah!" Balas Susan sambil kembali menelungkupkan kepalanya ke meja.


Lalu keadaan menjadi hening saat sarapan mulai dihidangkan. Susan makan sambil merengut, Hanifah makan sambil sesekali memejamkan matanya. Setelah sholat Dhuha tampaknya ia akan tidur sampai Dzuhur. David makan sambil memeriksa pergerakan saham.


Dan Alwa bahkan tidak menyentuh makanannya. Ia hanya bertopang dagu dan menatap ke depan.


Susan mencipratkan air putih ke wajah Alwa. Wanita itu langsung sadar dan kaget.


"Hiih apa sih Mbak Susan!" Omelnya.


"Setan, pergilah, Setan! Kau ganggu saja orang lain, jangan yang ini, masih polos kurang bumbu, nggak enak!" Seru Susan sambil lanjut mencipratkan air.


"Mbak Susan ih! Basah semua baju akooohhh!" Keluh Alwa.


"Lagian kamu bengong terus,"


Susan mencibir.


Lalu melirik David. Pria itu sedang menatap Susan tajam agar tidak memancing hal-hal diluar rencana. Hanifah hanya menahan tawanya dengan pura-pura berdehem.


"Alwa," David membuka kalimat.


"Eh, i-iya Abiii?" Alwa menjawab dengan nada agak gemetar.


"Apakah kamu menjaga kehormatan kamu?"


Alwa menatap David dengan mata membesar. Ia tidak langsung menjawab. Hal yang menurut David fatal. Pria itu langsung berpikiran buruk mengenai Raka.


Sekali lagi, David menatap Susan tajam. Hal itu karena mendekatkan Alwa dengan Raka adalah ide Susan.


"Tolong jawab dengan jujur, Alwa. Apa saja yang sudah kamu lakukan dengan Raka?" Sekali lagi David bertanya. Pria itu menghentikan sarapannya dan menatap Alwa dengan pandangan dingin.


Seketika, Alwa gemetaran. Matanya mulai berkaca-kaca.


"A-a-anuuu ... " Alwa merasa lidahnya kelu, sementara pikirannya kemana-mana. Mulai flashback ke masa lalu, kebersamaannya dengan Raka selama ini.


Kalau itu Susan, pasti dengan mudahnya akan menjawab : diantar ke spa, sudah ciuman, aku suka. Segamblang dan semudah itu.

__ADS_1


Namun, karena ini seorang Alwa. Alwa yang memiliki sifat naif, dengan tingkah polos dan sedari dulu diajarkan cara menjaga adab sebagai wanita bersuami. Baginya, dicium seorang laki-laki yang bukan muhrim, bahkan berpegangan tangan saja, sudah dia anggap dosa besar setara zina.


Dan ia melakukan semuanya dengan Raka.


David menarik napas berat, lalu menghembuskannya. "Susan," geramnya. "Tanggung jawab kamu bagaimana?"


"Oke, kuambil alih," desis Susan.


Wanita itu mencondongkan tubuhnya ke arah Alwa.


"Wa, apa kamu melakukan sek-s dengan Raka?" Pertanyaan tegas yang to the point. Susan tidak suka berbasa-basi. Pengakuan Raka, mereka hanya berciuman. Dan Raka meminta Alwa dengan gentle. Susan bertekad akan mendukung mereka sepenuhnya.


"Tidak!! Demi Allah aku tidak melakukan adegan terlarang itu, Mbak! Aku cuma dicium aja di bibir! Tapi sudah sekali itu saja, terus aku minta diantar pulang!" Alwa langsung panik dan mengaku.


"Bagaimana, David? Puas? Klop kan sama pernyataan Raka?" desis Susan.


David menaikkan sebelah alisnya. "Jawab begitu saja kenapa susah sekali, saya jadi sudzon kan," gumam David.


"Klop? Maksudnya apa?" Alwa kebingungan. Ia menatap semuanya bergantian.


"Kamu menyukai Raka?" tanya Susan.


"Susan," David memperingatkannya, "Jangan mengacaukan rencanaku," dia mewanti-wanti Susan.


"Saya masih menjadi istri Abi," jawab Alwa.


"Itu bukan jawaban, Wawa. Gemes banget deh, udah ah! Jadi emosi. Aku berangkat duluan!" sahut Susan sambil beranjak.


"Kita pergi bersama saja," sahut David.


"Males. Aku lagi kesal sama kamu! Bukannya mempercepat proses, malah bikin semuanya tambah galau. Kamu tahu sendiri kalau dua selir kamu ini kayak robot. Nggak bakalan gerak kalau tombol merah nggak dipencet," sahut Susan sambil keluar dari rumah.


Hanifah menghela napas, lalu menopang dagunya dan menatap David.


David meliriknya.


"Apa? Kamu juga berpikir ini salah saya?" tanya David kesal.


"Mas David, aku tidak suka dikatai selir oleh Mbak Susan. Dan kupikir dia benar," kata Hanifah.


"Loh? Kenapa Kak Hani memanggil Abi dengan sebutan Mas David?" tanya Alwa polos.


Hanifah tidak mengindahkannya, "Mas, Mbak Susan ingin Mas David lebih cepat menjadi miliknya. Hanya satu-satunya. Sekarang saya mengerti perasaannya. Dia itu terbiasa diutamakan, Mas. Perlakuan Mas David ke Alwa barusan malah mengindikasikan kalau Mas David tidak ingin melepas Alwa. Sebenarnya Mas David ini maunya bagaimana?"


David lagi-lagi menarik napas berat dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia tampak berpikir dan melipat kedua tangannya di dada.


"Hani, bisa tinggalkan saya bersama Alwa?" tanya David.


"Tentu," Hanifah tersenyum lembut.

__ADS_1


Wanita itu berdiri sambil membawa cangkir tehnya, lalu masuk ke kamarnya.


__ADS_2