
"Mbak Alwa bisa minggir dulu nggak? Berat nih," keluh Raka.
"Eh?" Alwa menunduk ke bawah.
Dia akhirnya sadar bagaimana posisinya sekarang, penuh dengan peringatan bahaya.
"Astaghfirullahaladzim!! Mas Raka gimana sih!" Alwa langsung berdiri dengan wajah merah.
"Lah, kok saya yang diomeli?" gumam Raka malas-malasan. Lalu ia mengusap punggungnya yang membentur lantai keramik kontrakan satu pintunya.
"Kok nggak pake baju sih Mas!" Alwa langsung membalik badannya. Dan mengalihkan pandangannya.
"Orang di rumah sendiri," gerutu Raka dengan suara rendah.
"Jorok! Pasti belum mandi juga ya!"
"Dih! Dituduh jorok pula," gerutu Raka lagi. "Ada apa sih Mbaaaaaaak? Tau dari mana alamat sayaaaaa? Terus mau ngapain ke siniiiiiiii?"
"Tahu dari Mas Galuh, katanya Mas Galuh Dokter Sisca juga sering ke sini. Ngapain dia kesini?"
"Arisan kali, kenapa jadi kepo?"
"Mas Raka celananya bolong,"
"Iya sengaja biar sejuk ada ventilasinya,"
"Perlu dibeliin baru nggak?"
"Kenapa jadi ngurusin orang lain?"
Alwa tak menjawab. Dia hanya membelakangi Raka sambil tertegun. Wanita itu baru sadar kalau saat ini berada di rumah seorang pria, bukan muhrim, dan dia dalam kondisi basah kuyub kehujanan, menampilkan dengan jelas siluet lekuk tubuhnya walaupun gamisnya berwarna hitam-hitam.
"Mas Raka, pintunya di buka saja ya," desis Alwa sambil memperlebar bukaan daun pintu.
"Tutup saja, dingin," desis Raka sambil menuju ke arah lemari pakaiannya untuk mengambil kaos dan celana pendek.
"Mbak Alwa butuh pakaian ganti nggak?"
"Kayaknya butuh Mas. Saya kedinginan sih,"
"Pake ini aja ya," Raka menyerahkan handuk bersih dan ... Sarung.
"Kok pake ini sih Mas!!" seru Alwa sewot.
"Biar seksi, digubet-gubet aja kayak bunga desa mandi di kali," kekeh Raka.
"Mas Raka!" seru Alwa sewot
"Iyaaaa, itu sarung buat ganti hijab, kalau bajunya nih pake piyama saya aja. Dibeliin Bu Susan sih, jadi bahannya lumayan bagus,"
Tak disangka, wajah Alwa langsung mendung. "Oh," gumamnya. "Dia lagi, dia lagi, bosan saya,"
Raka menaikkan sebelah alisnya merasa heran. Bukankah Alwa sudah akrab dengan Susan? Kenapa sekarang malah jadi musuhan lagi?
Untuk jawabannya, mari kita flashback ke kejadian sehari sebelumnya,
Di hari Jum'at, hari bersejarah dimana terjadinya 'malam pertama' David dan Susan yang mengambil setting di kantor David.
Malam pertama yang dilakukan di siang hari.
Saat mereka kembali ke rumah pun mereka tetap mesra. Berciuman di mana saja, setiap ada kesempatan.
Hanifah yang melihat hal itu bisa memaklumi karena juga sudah tahu permasalahan sebenarnya, dia pun hanya bisa pasrah. Kalau sudah pasrah dan mencoba ikhlas, dia pun berusaha bekerja lebih banyak di cafe agar tidak perlu menghabiskan waktu di rumah.
Tapi bagaimana dengan Alwa?
Alkisah, malam itu adalah tepat 2 minggu setelah perawatan intensifnya di klinik Dokter Sisca. Alwa berkaca di dalam kamarnya dan sangat mengagumi hasilnya. Ia menjadi dua kali lipat lebih cantik dari biasanya. Wajahnya bersinar dan berseri, dengan caranya sendiri. Dia merasa seperti Cut Meyriska. Cantik, putih bercahaya, dan memikat.
__ADS_1
Lalu dia menghela napas panjang.
Dengan ini, pasti ia bisa merayu David untuk bisa menghabiskan sesi intim semalaman. Begitu pikirnya dengan percaya diri.
Belum sampai ia melewati ruang keluarga, ia mendengar suara di dapur bersih.
Suara cekikikan Susan, disertai bisik-bisik.
Alwa pun mengintip sedikit.
Susan sedang duduk di bar. Dan David berdiri di depannya. Mereka berciuman dengan mesra. Susan mengalungkan lengan putih kurusnya ke leher David, dan pria itu memeluk pinggang Susan dengan erat.
Alwa mengamati kegiatan mereka. Mempelajari gerak-gerik Susan, mempelajari hal-hal yang disukai David.
Sampai saat Susan berbisik,
"Sudah dong, di rumah masih ada Alwa,"
"Kamu janji mau traktir aku di hotel," bisik David.
"Betul juga. Mau sekarang perginya?"
"Oke,"
Dan mereka berdua pun keluar dari dapur bersih dan tanpa basa-basi langsung keluar dari rumah, masuk ke dalam mobil, dan berlalu begitu saja.
Meninggalkan Alwa yang bengong, karena tidak sempat menegur mereka.
Dalam keadaan linglung Alwa akhirnya pergi ke cafe Hanifah, bermaksud untuk menceritakan semuanya.
Ia berharap Hanifah mendukungnya. Namun yang terjadi malah sebaliknya
"Relakan saja Dek," desis Hanifah,
"Hah? Apa?"
"Relakan saja, demi kebaikan kamu sendiri,"
"Abi dari dulu tergila-gila dengan Mbak Susan, kita itu hanya beban baginya karena amanah dari Abi Suleyman. Kamu mau jadi secantik apa pun, tetap saja fokus Abi ke Mbak Susan,"
"Tapi Abi kan suami kita mbak, dia harus berlaku adil!"
"Bagaimana kalau dia memutuskan untuk tidak berlaku adil?" tanya Hanifah dengan wajah datar.
Alwa terdiam sejenak, lalu mengerutkan keningnya, "Eh? Gimana Mbak?"
"Bagaimana kalau Abi dengan sengaja memutuskan untuk tidak bersikap adil? Menurut kamu apa yang akan terjadi?" Hanifah mengulangi pertanyaannya.
Alwa tiba-tiba memucat. "Tidak mungkin seperti itu, itu hanya spekulasi Kak Hani," sahut Alwa akhirnya, berusaha tetap berpikiran positif.
Hanifah tersenyum getir. Lalu wanita itu menghela napas, "Kalau begitu, Abi tidak mungkin menghindari kamu dengan sengaja ke hotel bersama Mbak Susan hanya agar mereka ingin memiliki waktu berduaan saja,"
"Mungkin saja mereka kembali malam ini, kan?"
"Silahkan kalau mau menunggu mereka. Tapi aku peringatkan Dek, jangan berharap terlalu tinggi. Abi ... ah, Mas David adalah milik Mbak Susan. Kalau kita protes dengan menuntut keadilan, dia akan memberi kita pilihan. Mau diceraikan atau terima saja dengan keadaan ini," Hanifah sejak diberitahu bahwa urusan Suleyman sudah selesai, memutuskan untuk tidak lagi menganggap David adalah suaminya. Namun dia belum siap hidup menjanda. Jadi dia akan menerima hidupnya sampai ia memiliki cintanya sendiri, atau sampai dia bisa mandiri secara financial.
Susan sebenarnya bersedia membantunya dalam hal tabungan masa depan, tapi ditolaknya mentah-mentah oleh Hanifah. Wanita itu ingin memiliki penghasilan dari keringatnya sendiri. Kalau berharap bantuan dari Susan, sama saja bohong.
"Kak Hani bercanda terus, deh! Aku ini lagi serius loh," gerutu Alwa.
Saat itu, Galuh yang baru saja dari kantor masuk ke dalam cafe sambil melepaskan suitnya. Hanifah langsung beranjak dari duduknya untuk kembali bekerja.
"Terserah kamu saja, kamu lihat saja keadaan malam ini," desis Hanifah.
Mulai hari ini Hanifah tidak mengenakan cadarnya karena David sudah mewanti-wantinya mengenai persyaratan yang diajukan oleh club bussinessman-nya. Pakaiannya pun jadi lebih modern namun tetap rapat tertutup.
"Assalamualaikum Mas Galuh," sapa Hanifah.
__ADS_1
Galuh tersenyum sambil memperhatikan penampilan Hanifah yang tampak berbeda, "Wa'alaikumsalam, kamu hari ini beda, Mbak Hani,"
"Iya, saya belum pernah mencoba memakai pakaian bermotif sebelumnya. Tetap sopan kan ya?"
"Cantik, kok," balas Galuh. "Pak David sudah info syarat dari perkumpulannya ya?"
"Sudah Mas, walaupun berat saya berusaha menerima," Hanifah menghela napas, "Tapi setelah saya lepas dari Mas David, mungkin saya akan kembali bercadar. Risih rasanya terbuka begini,"
Galuh mengangguk sambil tersenyum lembut. "Sekarang nyebutnya Mas David?" godanya.
"Saya akan mencari 'Abi' saya sendiri," kata Hanifah. Galuh hanya diam sambil menatapnya sendu.
"Syarat apa sih?" potong Alwa tiba-tiba.
Galuh dan Hanifah menatap Alwa dengan pandangan maklum.
"Dek, aku tinggal kerja dulu ya. Makanannya nggak usah bayar, aku traktir," kata Hanifah mengalihkan pembicaraan sambil berlalu ke balik konter.
"Santai saja ya Mbak Alwa," kata Galuh sambil mengikuti Hanifah.
Jadi, malam itu untuk membuktikan kalau ucapan Hanifah salah, Alwa menunggu David dan Susan pulang. Alwa sudah mengirimkan pesan singkat ke ponsel keduanya namun tak kunjung mendapatkan balasan.
Sampai pagi harinya, saat Alwa terbangun di sofa ruang tv karena mendengar adzan subuh, seketika tangisnya meledak.
David mengiriminya pesan kalau tidak usah menunggunya. Sementara Susan membalas pesannya kalau kemungkinan mereka baru akan pulang hari Senin!
Alwa tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya, apa yang salah, dan apa maksud dari perlakuan mereka terhadap Alwa.
Dan saat itu, yang diingat Alwa malah sosok Raka. Karena Hanifah sudah tidak mungkin di ajak bicara, jadi harapannya hanya Raka.
Hujan turun deras dan Raka malah tidak bisa dihubungi.
"Dek," Hanifah keluar dari mushola setelah sholat subuh. "Aku dapat shift pagi hari ini, ada banyak wartawan mau datang untuk acara promosi cafe, aku harus kesana segera untuk menyiapkan suguhan,"
Hanifah agak terburu-buru dan segera masuk ke kamarnya untuk mandi dan berangkat kerja.
"Kak Hani, tahu alamat rumahnya Mas Raka nggak?" tanya Hanifah sambil mengejar Hanifah yang setengah berlari.
"Loh? Memang kamu nggak tahu? Aku ya nggak tahu, Dek. Malah aneh kalau aku tahu, kan?" Hanifah menyeringai.
"Ah iya benar juga," gumam Alwa.
Hanifah menghapus sisa air mata yang tertitik di pipi Alwa sambil tersenyum sayang, "Aku tanya ke Mas Galuh ya, nanti aku wa kamu kalau sudah dapat alamatnya," kata Hanifah. "Kamu ke tempat Raka bersama Pak Ridwan saja, Dek. Aku naik transjakarta saja,"
"Hah? Kak Hani pakai transjakarta?! Memang Kak Hani bisa?"
"Dari kemarin aku naik Transjakarta loh, lebih cepat daripada naik mobil. Dan ternyata asik juga karena ada area khusus wanitanya," kata Hanifah sambil masuk ke dalam kamarnya.
Dan setelah mengetahui alamat Raka, meluncurlah Alwa ke lokasi. Dan karena lokasi kontrakan Raka berada di dalam gang sempit, mobil tidak bisa masuk ke dalam. Jadi di tengah derasnya hujan, Alwa nekat turun ke jalan.
Kembali ke masa kini, Raka mendengarkan cerita Alwa sambil bertopang dagu. Alwa terisak-isak sambil meminum teh hangatnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi Mas?" tanya Alwa bingung.
Raka hanya bisa menghela napas.
Dia juga bingung bagaimana menanggapi Alwa.
Hujan pun sedikit mereda, dengan suasana yang dihiasi suara bersin Alwa. Saat itu muncul pesan singkat dari ibu angkat Raka.
Ibu : Bang, kamu dateng ke nikahan si Leha jangan lenggang kangkung ya! Ibu malu jadi omongan tetangga kalo kamu jomblo melulu! Mana diduluin sama Juleha! Kalo perlu comot di pinggir jalan aja, siapa kek!
Raka berdecak. Ceile, orang lagi bingung malah dibikin tambah bingung! batin Raka menggerutu.
Tapi lalu matanya menatap sosok di depannya ini.
"Hm," desis Raka sambil berpikir.
__ADS_1
"Apa mas? Kok ngeliatinnya begitu?" tanya Alwa sewot.
"Mbak Alwa, mau jadi calon istri saya nggak?"