
Baiklah, Pembaca. Kali ini adalah sesi suram, karena Author ingin membiarkan David dan Susan rehat sejenak menikmati indahnya taman kota berdua saja berjalan beriringan.
Dan biarlah Alwa berguru ke Raka mengenai 'cara menyenangkan suami'.
Kita beralih ke si Dingin dan si Ambekan ('pundungan' kalo kata pembaca, hehe) yaitu, Galuh dan Hanifah.
Sore itu, Hanifah baru saja selesai sholat Ashar dan baru ingat kalau persediaan daun bawang habis. Ia sedang ingin makan wonton rebus untuk makan malam. Tanpa daun bawang terasa tidak sedap.
Daun bawang yang berkualitas biasa ia beli di supermarket elit yang letaknya agak jauh dari rumah. Harganya lumayan mahal, sepuluh ribu rupiah, tapi tebal satu batangnya bisa tiga kali lipat batang daun bawang pasar.
Karena Alwa sedang pergi, Hanifah meminta izin David via pesan singkat untuk ke supermarket.
Izin diberikan, jadilah wanita itu meminta Pak Ridwan, supir pribadi David, untuk mengantarkannya.
Perjalanan ke supermarket memakan waktu setengah jam, dan saat itu weekend, jadi suasana di dalammya sangat ramai.
Daun bawang sudah masuk keranjang, Hanifah memeriksa daftar belanjaannya.
"Daun bawangnya habis, nggak usah pakai itu ya? Ganti pakai buncis aja gimana?" Terdengar suara pria di arah belakangnya.
Hanifah memang baru saja mengambil daun bawang terakhir.
"Yahhhh Ayaaaaah, nggak sedap dong! Masa bikin martabak pakai buncis?" kata seorang anak perempuan berambut kriwil.
"Ganti pake mie pake mie pake mie pake mie!" anak perempuan yang satunya berambut lurus. Wajah mereka sama persis, hanya beda di gaya rambut.
"Ih Vici berisik ih, banyak orang nih!" omel si kriwil
"Ayah! Martabak isi Mie aja deh ya ya ya ya ya!" si rambut lurus sambil melonjak-lonjak.
"Nggak bisa, aturannya pakai daun bawang! Nggak enak nanti!" si kriwil mengomel lagi.
"Gimana kalau bikin lumpia pakai kertas beras aja? Butuhnya selada dan udang," usul si pria.
"Heeeemmm boleh deh, tambahin yang isi pastrami juga dong," kata si kriwil.
"Lumpianya pake mie nggak?"
"Nggak Vici! Dari tadi pake mie terus hih!" omel si kriwil
"Vici kapan terakhir makan mie?" tanya si pria.
"Kemarin, ayah,"
"Kalau begitu hari ini jangan mie dulu, tunggu 3 hari lagi. Nanti usus kamu sakit,"
"Kalau gitu lumpianya isi sosis pake keju,"
"Iya nanti dibikin bervariasi,"
"Tapi aku masih pingin martabak deh ayah," keluh si kriwil.
"Ya gimana, dong sayaang? Atau kita beli aja martabaknya?" tanya si Ayah.
"Nggak ada yang seenak bikinan ayah,"
Dan Hanifah menatap keranjang belanjanya. Ia jadi merasa bersalah.
Lalu wanita itu menghela napas. Biarlah ia ganti menu saja hari ini, toh dia masih bisa masak yang lain.
Jadi dia ambil daun bawang itu dan berbalik untuk menyerahkannya ke si pria dan anak-anak kembarnya.
"Anuu Pak, kalau berkenan ini saya ada daun bawangnya,"
Si pria yang dari tadi berdiri membelakanginya, menoleh. "Loh? Mbak Hanifah?" tanya Galuh. Tidak yakin juga karena Hanifah memakai cadarnya.
"Mas Galuh?"
Galuh terkekeh, "Hey, Mbak! Assalamu'alaikum, kok di sini? Sama Mbak Alwa juga?" seperti biasa, pria itu menyeringai ramah.
__ADS_1
"W-wa'alaikum salam. Saya sendirian sih," Hanifah menunduk sekilas. "Pada mau bikin martabak, kan? Ini daun bawangnya,"
"Horeeeeee!!!" seru Vini sambil mengulurkan tangannya menerima daun bawang itu.
"Tante ninja ya?" tanya Vici.
"Vici!" tegur Galuh.
"Hehe, bukaaan. Tante pakai cadar agar menutupi aurat," kata Hanifah.
"Aurat itu apa Ayah?" bisik Vici.
"Yang tidak boleh dilihat oleh orang lain. Wajah Tante Hanifah sangat cantik, jadi dia menutupinya agar para pria lain yang bukan suaminya tidak melihatnya dan mengejar-ngejarnya," bisik Galuh.
"Wooow," desis Vini dan Vici.
"Ehem!" Hanifah berdehem.
"Kok Ayah tau Tante Hanifah cantik? Memang Ayah pernah lihat? Kan nggak boleh dilihat pria, Ayah pria juga kan?" selidik Vini.
Galuh langsung garuk-garuk kepala.
-----***-----
"Waaaahhh rumah Tante Susan dan Tante Hani guedeeeeeeee!!" seru Vini dan Vici.
"Jangan lari-larian, hati-hati dengan barang-barang pecah belah, kalian tahu bawelnya Tante Susan, kan?" sahut Galuh.
"Iya Ayaaaah!" seru si kembar.
Hanifah meletakkan belanjaan di dapur dan mulai membongkar isinya.
Galuh menghampirinya.
"Anak-anak minta martabak, saya pinjam dapur ya. Mbak Hani mau dibikinkan apa?"
"Nanti sekalian saya buatkan. Saya titip anak-anak ya Mbak, mereka lagi aktif-aktifnya," Galuh mengambil panci dari lemari. "Padahal kita baru pulang dari Jungle Land, tapi tetap saja mereka bersemangat,"
"Hem ... Mas Galuh, ibu mereka nggak ikut?" tanya Hanifah hati-hati.
Tampak Galuh tersenyum tipis sambil mencuci sayuran.
"Nggak ikut Mbak, ibu mereka sudah pulang duluan,"
"Pulang duluan? Oh, ada urusan mendesak ya,"
"Mungkin Mbak, mau nggak mau, karena panggilan pulang yang ini tidak bisa ditunda oleh manusia. Soalnya yang manggil Allah," kata Galuh.
Hanifah terpaku di tempatnya berdiri selama beberapa saat.
Keadaan hening, hanya ada suara irisan sayur dan pisau yang berbenturan dengan talenan.
"Tante Hani! Tante Hani! Tadi kita lihat ini di Mushola!" keheningan sirna digantingan dengan suara gaduh anak-anak. "Ada banyak di dus!"
Buku bergambar kisah para Nabi, yang rencananya akan dibawa ke beberapa panti asuhan terdekat.
"Ya sudah, sana baca buku sama Tante Hani ya, Ayah mau masak sebentar," kata Galuh.
Vini dan Vici menarik-narik lengan Hanifah ke arah sofa di ruang tengah untuk minta dibacakan buku cerita.
Sejenak terdengar suara anak-anak berseru, "Waaah! Beneran Tante Hani cantiiikkkk!" seru mereka heboh.
Galuh yang mendengarnya dapur hanya tersenyum tipis sambil sibuk mengolah adonan pangsit.
Sepertinya Hanifah sudah membuka cadarnya di depan anak-anak.
-----***-----
Sementara di lain tempat,
__ADS_1
Susan mengunyah kebab mininya yang ia beli di jajanan kaki lima di pagar masjid sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Ia sedang menunggu David solat Ashar.
Tak sengaja ia melihat notifikasi pesan singkat yang masuk ke ponsel David yang dititipkan padanya. Dari Hanifah.
Abi makan malam di rumah, tidak? Kami sedang membuat pangsit rebus dan martabak.
Kami siapa? Pikir Susan sambil mengernyit.
Tanpa pikir panjang, Susan langsung menghubungi Hanifah kembali melalui ponsel David.
"Assalamu'alaikum Abi," sapa Hanifah.
"Sisakan saja, kemungkinan kami pulang agak malam seperti kemarin," sembur Susan.
Setelah itu belum ada balasan dari seberang, tapi Susan bisa mendengar banyak suara anak kecil di latar belakang sambungan telepon. Lalu ada suara Galuh.
Susan tersenyum lebar, Galuh dan si kembar ada di rumah. Bagaimana bisa?
Agak lama baru terdengar suara Hanifah. "Ah, begitu Mbak. Baik," nada suara Hanifah tampak tidak bersemangat.
"Galuh di sana? Sama Vini dan Vici?" tanya Susan.
"Bagaimana Mbak Susan tahu?"
"Saya sudah hapal suara mereka, coba di loudspeaker, saya ingin bicara dengan anak-anak," kata Susan.
Hanifah tampak menghela napas tanda lelah. Lalu meloud-speaker ponselnya.
"Tante Susan di telepon," kata Hanifah.
"Vini, Vici? Halo?" Sapa Susan.
"Eh? Tante Susan? Itu suara Tante Susan?!" Vici seperti biasa langsung heboh.
"Tanteeeee, makasih tiket ke Jungle Landnyaaaa!" sahut Vini.
"Kamu senang main di sana?"
"Senang, sih. Tapi Ayah nggak mau naik apa-apa! Kita berdua doang!" keluh Vini.
"Gak papa yang penting kamu senang. Bilang Ayah, ambilkan tas pink di lemari Tante ya, ada kado buat Vini Vici,"
"AYAAAAHHHH!!! KATANYA ADA KADOOOO!!" teriak Vici.
"Iya iya ayah denger, ish ..." keluh Galuh dari kejauhan.
"Isinya apa Tante???" seru Vici.
"Vici ih, nanti kan bisa dibuka!" tegur Vini.
"Aku nggak sabar, tauk," balas Vici.
"Buka bareng sama Ayah dan Tante Hanifah yaaa," kata Susan dengan nada suara mendayu. Seakan sedang menggoda Hanifah.
"Mbak Susan, saya tutup teleponnya ya, Assalamu'alaikum!" dan telepon langsung dimatikan Hanifah tanpa menunggu balasan salam Susan.
"Ceile, lagi-lagi ngambek!" gerutu Susan. Tapi dia lalu terkekeh membayangkan betapa lucunya kalau Galuh dan Hanifah bisa bersama.
Kini tinggal membujuk si Sultan Kaku itu.
Mungkin, dengan kemampuan memikat Susan yang sok-sok manja, atau teknik di atas ranjang.
Susan langsung memikirkan metode yang pas untuk meluluhkan hati David.
"Apa senyum-senyum? Mikirin rencana licik apa lagi, kamu?!" David datang sambil merengut.
"Kamu sudzon terus sama aku," desis Susan ikut merengut.
Tapi Susan tidak bilang kalau di rumah ada Galuh dan anak-anak. Sekarang tinggal mengulur waktu pulang agar Hanifah bisa lebih lama bersama Galuh dan si kembar.
__ADS_1