
Halo semua, apa kabar? Terimakasih ya karena sudah mau meluangkan waktu untuk membaca cerita hasil gabutan ini. Sebelum itu, yuk bantu aku dengan cara memberikan like sebagai dukungan untuk terus mengupdate
episode baru. Selamat membaca, semoga kalian suka ya...
....
"semalam kau pergi kemana? semua orang panik mencarimu" ucap mona. charissa yang mendengar itu hanya tersenyum.
"maafkan aku monaa. aku tersesat" kata charissa. mona yang mendengar itu langsung memanyunkan bibirnya.
"lalu, bagaimana bisa kau kembali ke sini?" tanya mona. charissa langsung terdiam saat mendengar itu. ia juga kebingungan.
"maksudmu?" tanya charissa. mona yang ditanya seperti itu, juga ikut kebingungan.
"bukankah kau yang membawaku kembali?" tanya charissa kembali. mona langsung menggelengkan kepalanya.
"tidak. bukankah kau kembali dengan sendirinya? aku melihatmu sedang tertidur saat pagi tadi" jawab mona. charissa yang mendengar itu langsung mengerutkan alisnya.
"mungkin... ada pengawal istana yang menemukanku dan membawaku kesini" tebak charissa.
"mungkin saja" jawab mona sambil menganggukan kepalanya.
...
kini charissa sedang berjalan menuju danau, tempat dimana ia tenggelam. charissa masih saja memikirkan ucapan pantulannya saat dicermin, dan juga kakek kakek yang ia temui di pasar.
"sean? apakah dia seorang raja? apakah dia pria berjubah hitam itu?" batinnya.
"apakah dia yang akan membunuhku?" tambahnya.
charissa menghela nafasnya kemudian berjongkok di tepi danau. ia memandangi air danau itu dengan sendu. "ahh... kenapa semuanya jadi rumit seperti ini?" gumam charissa.
tanpa ia sadari, dibelakangnya berdiri seorang pria dengan gagah. dia sean, raja dari segala raja yang hidup lebih dari 2000 tahun lamanya. ia menatap tubuh mungil charissa dari belakang.
sean menatapnya sambil mengingat ucapan peramal dunia awan.
"buatlah ia mencintaimu. dengan begitu ia akan melakukan apapun demimu"
"maksudmu? aku tidak mau" jawab sean sambil membuang mukanya.
"itu satu satunya cara untuk membunuhnya" balas sang peramal.
"tapi dengan syarat..." tambahnya.
"apa itu?" tanya sean penasaran.
__ADS_1
"kau, tidak boleh jatuh cinta dengannya" jawab sang peramal.
sean tersenyum miring saat mengingat ucapan sang peramal. "cih, mudah sekali" bisik sean.
sean melangkahkan kakinya untuk mendekati charissa. namun, hujan turun dengan deras. sean langsung menghentikan langkahnya dan menatap charissa dengan bingung.
"dia menangis?' batin sean. ia melihat arah sekitarnya untuk mencari dahan pohon yang terjatuh. ia langsung mendekati dan mengambil dahan pohon tersebut.
dengan segala kekuatan yang sean miliki, ia berhasil mengubah dahan tersebut menjadi sebuah payung berwarna hitam dengan ukiran di atasnya. "ini kesempatan untuk membuatnya jatuh cinta kepadaku" batin sean.
sean kembali mendekati charissa. seketika, hatinya terasa sakit saat saat melihat charissa menangis. niatnya untuk membuat charissa jatuh cinta dengannya pun, hilang seketika. sean mengarahkan payungnya itu ke atas charissa yang sedang berjongkok.
DEG DEG DEG
charissa yang merasakan air hujan tidak mengenai tubuhnya, langsung mendongak dan melihat sebuah payung hitam.
charissa pun kebingungan. ia berdiri dengan perlahan kemudian membalikan badannya. jantungnya langsung berdetak dengan cepat saat melihat siapa yang sedang memayunginya itu.
"se.. sean" lirih charissa sambil menatap kedua mata sean.
"bukankah sudahku bilang, jangan pernah menangis?" ucap sean dengan tulus. tatapan tajam sean menusuk hati charissa. charissa yang sudah terlarut dalam tatapan sean hanya bisa diam.
namun,sedetik kemudian ia tersadar dan mengingat ucapan bayangannya di cermin. "kau, tidak boleh jatuh cinta dengannya"
charissa langsung membuang mukanya kemudian menjauh dari sean. tapi, sean sudah lebih dulu menahan pinggang charissa. charissa kembali menatap sean kemudian menyentuh tangan sean yang melingkar di pinggangnya.
"tidak" jawab sean dengan datar.
"lepaskan aku" kata charissa.
"bisakah kau diam?" tanya sean. charissa kembali menatap kedua mata sean. mata mereka saling bertemu dan bertatap tatapan.
charissa menatap matanya dengan dalam. seketika, ia kembali merasakan sesuatu yang aneh. kepalanya terasa pusing dan berat. ia memejamkan matanya dan melihat bayangan itu kembali.
"selamat tinggal sean. aku cinta kamu." ucap charissa sambil menyentuh wajah sean dengan tangannya yang sudah dilumuri oleh darahnya sendiri.
"maafkan aku charissa. maaf.. hiks... maafkan aku charissa..." jawab sean sambil menangis dengan tersedu sedu. mata charissa tertutup dengan perlahan. tangannya mulai melemah. sampai akhirnya, charissa benar bena pergi meniggalkannya.
"aaaaaaaaaarghhhhhh.... arrrrrrrghhhh hiks..." teriak sean yang diikuti oleh hujan deras yang membasahi mereka berdua.
charissa kembali membuka matanya dengan kasar. namun kali ini, bola matanya berubah menjadi biru. tatapannya seketika menjadi tajam. charissa sempat tersenyum miring kemudian mendongak dan menatap sean.
charissa semakin memperkecil jaraknya kepada sean.
"kau baik baik saja?" tanya sean. charissa menatap sean kemudian menyentuh wajah sean dengan lembut.
"sean" panggil charissa dengan berbisik.
__ADS_1
"hmm?" jawab sean sambil menatap charissa.
"tatap aku sean..." ucap charissa sambil menatap sean dengan hangat. sean yang mendengar itu langsung menelan ludahnya.
"ten.. tentu saja" jawab sean. charissa tersenyum. dengan perlahan ia mengambil sesuatu dari kanntongnya tanpa sean ketahui.
charissa menatap sean dengan tajam. ia menggenggam pisau kecilnya yang ia ambil dari kantungnya. dengan cepat, ia mengarahkan pisau itu pada bagian dada sean.
charissa hendak menancapkan pisau itu pada bagian dada sean agar seimbang dengan apa yang pernah sean lakukan. namun, tangannya terasa sangat berat. jarak pisau itu dengan dada sean sangatlah dekat.
ia hanya perlu menancapkan pisau itu. namun entah mengapa, tangannya sangat sulit digerakan. sean yang melihat itu langsung tersenyum miring. "jadi, apakah ini jiwa negatifmu?" bisik sean.
charissa menatap sean dengan tajam sambil berusaha menggerakan tangannya. "sial! lepaskan aku brengsek!" bentak charissa.
sean tersenyum saat mantranya itu berhasil. ia menyentuh tangan charissa dengan kasar "haruskah ku bunuh kau sekarang?" bisiknya.
charissa tersenyum miring. "kau, tidak bisa membunuhku. karena, aku bukanlah jiwa negatif"
"tapi dia" tambahnya. sean menatapnya dengan kebingungan. seketika, mata charissa berubah kembali menjadi coklat.
"ahh... pusingnya" ucap charissa yang kembali menjadi normal. charissa menatap sean dengan tidak suka.
"apa?" tanya charissa. ia melirik tangannya yang sedang di genggam oleh sean dengan kasar.
"kenapa kau menyentuh tanganku?!" bentak charissa. sean yang mendengar itu langsung melepas tangannya.
charissa mengerutkan alisnya saat melihat pisau yang sedang ia pegangang. "apa ini?" bisiknya.
ia melirik sean kembali dengan tatapan tidak suka. "cih. kau ingin membunuhku ya?!" tanya charissa.
'tidak" jawab sean sambil menggelengkan kepalanya.
"lalu, kenapa pisau ini ada di tanganku?!!" bentak charissa.
'tidak... kau.. itu milikmu" jawab sean dengan terbata bata. jujur saja ia tidak tau harus menjawab apa.
"kau ini benar benar ya..." bisik charissa sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1