
Halo semua, apa kabar? Terimakasih ya karena sudah mau meluangkan waktu untuk membaca cerita hasil gabutan ini. Sebelum itu, yuk bantu aku dengan cara memberikan like sebagai dukungan untuk terus mengupdate
episode baru. Selamat membaca, semoga kalian suka ya...
....
hujan mulai berhenti dengan perlahan. kini charissa tetap menatap sean dengan kesal. "ahh... segitu bencinya kah kau padaku hingga kau ingin membunuhku?" tanya charissa.
"tidak.. aa.. aku tidak membencimu" jawab sean dengan terbata bata.
"lalu apa maksud ini?" tanya charissa sambil menunjukan pisau kecil yang kini berada di tangannya.
"kau yang ingin membunuhku" ucap sean. charissa yang mendengar itu langsung mengerutkan alisnya.
"apa maksudmu? bagaimana mungkin aku ingin membunuhmu?" jawab charissa. sean menganggukan kepalanya dengan pelan sambil menatap charissa.
"kau tidak ingat apa yang baru saja kau lakukan?" tanya sean sambil menurunkan payungnya.
"tidak" jawab charissa sambil menggelengkan kepalanya. sean yang mendengar itu langsung menarik tangan charissa hingga jaraknya sangat tipis.
"hey! lepas!" ucap charissa. sean memilih mengabaikan ucapan charissa.
sean mengarahkan tangan charissa yang sedang memegang pisau itu ke arah dadanya. "kau, ingin menusukku pada bagian ini" ucap sean. charissa menatap dada sean kemudian menatap kedua matanya.
"ck. kau pikir aku bisa dibohongi dengan semudah itu?" ucap charissa.
"terserah padamu. aku tidak berbohong" balas sean sambil melepas tangan charissa dan berjalan menjauhinya.
charissa yang melihat itu langsung kebingungan sendiri. "hey! kau ingin pergi meninggalkanku begitu saja?" ucap charissa sambil mengejar sean.
__ADS_1
"kau ingin kemana?' tanya charissa yang ikut berjalan di sampingnya.
"pergilah" jawab sean dengan datar.
"waww.. kau dingin sekali" bisik charissa namun masih terdengar di pendengaran sean.
"tidak. aku akan mengikutimu" ucap charissa sambil tersenyum lebar. sean yang melihat senyuman charissa, langsung terdiam di tempat dengan seketika.
"ada apa?" tanya charissa saat melihat itu. jantung sean berdetak dengan cepat. wajahnya pun memerah karena itu.
"umm.. wajahmu.. memerah" kata charissa sambil menunjuk wajah sean. sean yang mendengar itu langsung membuang mukanya kemudian kembali berjalan.
"ada apa dengannya?" bisik charissa dengan kesal. charissa kembali berjalan di samping sean. ia terus saja mengikuti kemana sean pergi. itu ia lakukan demi melancarkan rencananya.
niatnya, charissa ingin membuat sean jatuh cinta dengannya. namun, sepertinya rencananya ini tidak berjalan dengan baik. saat charissa melirik sean, ia langsung terpesona dengan ketampanannya. walau sebagian wajahnya tertutupi oleh topeng.
ia langsung membuang mukanya saat wajahnya merona. sama seperti yang sean rasakan tadi, jantung charissa berdetak dengan cepat. "bagaimana ini? aku tidak boleh seperti ini" batin charissa sambil menyentuh pipinya.
sampailah mereka di sebuah tempat yang sangat indah. sean membawa charissa kembali ke sebuah taman di atas bukit.sean sengaja membawa charissa ke tempat itu, untuk memperlihatkan betapa cantiknya saat matahari terbenam.
ini kali ketiganya charissa berada di tempat itu. ia tersenyum senang saat melihat keindahan itu. sean duduk di tebing agar bisa menikmati pemandangan itu dengan lebih jelas. charissa ikut duduk disampingnya sambil melihat pemandangan itu.
"woah...cantiknya..." gumam charissa. sean melirik charissa sambil tersenyum tipis. sean terpesona dengan kecantikannya. ditambah lagi, cahaya oren yang dihasilkan dari matahari yang terbenam, menambah kecantikannya.
"ya. cantik" jawab sean tanpa ia sadari. charissa menatap sean dengan bingung. sean yang sadar dengan itu juga ikut kebingungan. ia tidak tau kenapa, ia bisa berkata seperti itu.
"langitnya. cantik" tambah sean. charissa menghela nafasnya kemudian mengagguk.
charissa menyentuh bunga yang tumbuh di antara sean dan charissa. senyumnya langsung menghilang saat bunga itu langsung layu. "huftt... kenapa bunga yang ada disini akan layu saat aku menyentuhnya" bisik charissa dengan sedih.
sean langsung melihat bunga itu. dengan segala kekuatan yang ia punya, sean berhasil menghidupkan bunga itu kembali. sean memberi mantra agar bunga itu tetap bertahan saat charissa menyentuhnya.
__ADS_1
sean memetik bunga tersebut kemudian memberikan itu kepada charissa. charissa langsung tersenyum lalu menerima bunga tersebut. "wahh... sudah tidak layu lagi" ucap charissa dengan senang.
sean yang melihat itu ikut senang. sebenarnya, sean tau kalau orang yang ada disampingnya, adalah charissa dengan jiwanya yang negatif. sean bisa saja mengurung charissa dan menunggu hingga umurnya berusia delapan belas tahun.
setelah itu, sean bisa membunuhnya dan semuanya kembali normal. semua penduduk akan kembali menjadikannya sebagai pemimpin. namun entah mengapa, semua itu sangat sulit dilakukan.
sean lebih senang melihat senyuman charissa dibanding melihat tangisan charissa. "kau tau, dulu aku adalah seorang raja" ucap sean.
"ya.. aku tau. kini kau bukan seorang raja lagi karena harus membunuhku bukan?" ceplos charissa. sean yang mendengar itu langsung terkejut.
"kau.. kau sudah mengetahuinya?" tanya sean sambil melotot. charissa yang semulanya sedang memperhatikan bunganya, langsung menengok dan menatap sean.
sedetik kemudian ia langsung tersadar dengan ucapannya. ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. charissa menggelengkan kepalanya secara berkali kali.
"tidak.. aku hanya menjawab asal. aku tidak tau itu apa" jawab charissa dengan terbata bata.
"bagaimana kau bisa megetahuinya" kata sean.
"engga... bukan begitu" kata charissa dengan panik. "gawat, bukankah dengan begini akan menyulitkanku untuk melakukan rencana?" batin sean.
"tatap aku" ucap sean dengan dingin. charissa membuang mukanya kemudian menggeleng.
sean menyentuh wajah charissa dengan kasar. ia menatap kedua mata charissa dengan tajam. "tidak... jangan hilangkan ingatanku.. kumohon" ucap charissa.
namun, sean tetap melakukan aksinya. "lupakan semua yang kau tau tentangku" ucap sean. charissa langsung meneteskan airmatanya sebelum matanya tertutup.
kesadaran charissa mulai hilang. tubuhnya menjadi lemas. sean menahan tubuhnya agar tidak mengenai tanah. 'maaf, tapi aku harus melakukan ini" bisiknya.
__ADS_1