
Halo. Apa kabar? Terimakasih udah mau meluangkan waktu untuk membaca cerita ini.
Sebelum itu, jangan lupa untuk memberikan tombol like sebagai dukungan agar terus update eps baru.
Saran dan masukan yang kalian berikan juga sangat bermanfaat.
Yuk, sebelum membaca cerita ini, untuk memberi 5 bintang.
Terimakasih, selamat membaca....
...
Charissa dan sean sedang duduk di tepi danau. Mereka berdua sama sama menikmati hembusan angin yang meniup rambutnya.
Charissa menatap air danau yang ada di hadapannya. Sama seperti biasanya, air itu tetap tenang.
“Bagaimana kau tau tempat ini?” Tanya charissa yang tetap menatap air danau yang kini ada dihadapannya.
Sean yang mendengar itu, langsung menatap charissa. Seketika, ia kembali mengingat memorinya ditempat itu ratusan tahun yang lalu. “Entahlah” jawab sean.
“Kau sendiri?” Tambah sean. Charissa tersenyum tipis.
“Entahlah. Aku tidak tau alasannya. Tanyakan saja pada kakiku ini. Ia yang selalu membawaku ketempat ini” jawab charissa.
“Aneh sekali ya. Aku penasaran dengan seseorang yang menolongku keluar dari danau itu” bisik charissa namun masih terdengar oleh sean.
“Sayangnya, aku tidak menemukan orang yang kutunggu tunggu, di tempat ini. Bahkan, orang orang pun enggan datang ketempat seindah ini” tambah charissa sambil memasang raut sedih.
“Orang itu ada didepanmu saat ini. Akulah orang yang kau tunggu tunggu” batin sean.
Charissa menengok dan menatap sean dengan tatapan yang sulit diartikan. ”apa kau tidak bosan berada disini?” Tanya charissa.
“Tidak, kenapa aku harus merasa bosan?” Jawab sean.
“Aa.. apa kau bosan?” Tambah sean ragu ragu. Charissa tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Aku hanya merindukan ponselku” jawab charissa sambil berbisik. Sean yang mendengar itu langsung mengerutkan alisnya.
“Apa itu ponsel?” Batin sean.
“Kadang, aku ingin kembali ketempat asalku. Aku ingin mengetahui siapa saja yang merindukanku” kata charissa sambil kembali menatap air danau.
“Oh, tidak. Bahkan, mereka tidak menyadari kalau aku menghilang” tambahnya. Sean yang mendengar itu langsung menatap charissa dengan kasihan.
“Jangan tatap aku seperti itu. Aku tidak suka, jika diriku dikasihani oleh orang lain” bisik charissa.
“Hidupmu sangat menyedihkan” kata sean. Charissa yang mendengar itu langsung menatap sean kembali sambil tersenyum pahit.
__ADS_1
“Hidupmu, pasti menyenangkan” kata charissa.
“Kenapa kau bisa berfikir seperti itu?” Tanya sean.
“Wajahmu tampan walau tertutup oleh topeng. Pasti, banyak wanita yang mengejarmu” jawab charissa.
“Tidak. Kau salah. Hidupku sangat menyedihkan. Bahkan lebih menyedihkan dari kehidupanmu. Hidupku dipenuhi oleh penyesalan” batin sean.
Steeetttt
“Aaaaarghhhhh” ringis sean kesakitan saat wajahnya tergores oleh kuku yang tajam dan runcing milik kakaknya itu.
Sean menyentuh wajahnya dengan perlahan. Ia kembali menurunkan tangannya dan melihat darah segar ditangannya.
Ia mendongak dengan perlahan dan menatap kakanya itu dengan tajam. Rahangnya mengeras saat melihat kakaknya yang kini sudah dibanjiri oleh darah yang mengalir dari tubuhnya sendiri.
Tubuh kakaknya sudah sangat lemas akibat ulah sean.
“Arrrrrrrghhhhhh!!!!!” Teriak sean sambil berlari kearah kakaknya itu dengan membawa pedang miliknya.
Namun, kakaknya berhasil menghindar lebih dulu. Kakanya membuang pedang itu kesembarang tempat dan menahan sean.
Jarak mereka sangat berdekat dekatan. Hingga mereka bisa mendengar nafas satu sama lain.
“Kau sudah dibutakan oleh kekuasaan, sean” bisik kakaknya.
Sean mengambil pisaunya dan menacapkan pisau itu pada leher kakaknya dengan keras.
“Aa..aaarghhh” teriak kakaknya saat pisau itu menacap pada bagian lehernya.
Sean yang melihat kakaknya yang kini sedang tergeletak ditanah, langsung tersenyum miring. “Kau kalah. Permainan selesai” ucap sean.
Sean sama sekali tidak merasa kasihan dengan kakanya yang kini sudah berlinang darah. Ia justru menyaksikan penderitaan yang amat menyakitkan yang dialami oleh kakaknya.
“Selamat tinggal kak” bisik sean.
Sean yang kembali mengingat kejadian itu ratusan tahun yang lalu, tepatnya di danau ini langsung menyentuh topengnya dengan perlahan.
“Apa kau menyembunyikan sesuatu dibalik topeng itu?” Tanya charissa dengan tiba tiba.
“Ba.. bagaimana kau bisa...”
“Ahh... kau tidak bisa menyembunyikan semua itu dibalik topengmu. Itu hanya membuat batinmu terluka. Jangan biarkan kejadian burukmu itu menguasai hidupmu” potong charissa sambil membuang mukanya.
“Tidak ada manusia yang sempurna, sean” bisik charissa.
...
__ADS_1
Saat ini charissa sedang berada di ruangan projeknya. Ia merancang ruangan itu agar terlihat lebih modern. Bahkan, saat ini ruangannya jauh lebih bagus dibanding ruangan pribadi raja.
Banyak orang yang menganggap, kejadian yang menimpa charissa, membuatnya menjadi genius. Mereka semua menganggap peristiwa tenggelamnya charissa membuatnya menjadi manusia paling genius di seluruh daratan.
Ya, charissa berhasil membuat berbagai alat canggih yang memudahkan pekerjaan manusia. Walau perlahan, tapi pasti. Bahkan saat ini, kerajaannya jauh berkembang lebih maju dibanding kerajaan yang lainnya.
Meski, charissa sempat kesulitan mencari bahan bahan untuk membuat alat tersebut. Ditambah lagi, ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri karena, kurangnya ilmu membuat orang lain tidak bisa membantu pekerjaannya.
Tapi, hal itu bukan menjadi penghambat untuk charissa. Ia bahkan rela mengorbankan nyawanya hanya untuk mendapatkan bahan yang ia mau. Ia juga rela mencuri bahan bahan itu pada kerajaan lain. Contohnya bunga merah yang ia curi dari kerajaan sebelah.
Ia juga menjadi perhatin raja akhir akhir ini karena penemuannya itu.
Semua penduduk kerajaan, kini diwajibkan untuk belajar tentang hal dasar. Para petani pun kini harus meluangkan waktunya untuk mendapatkan ilmu. Ia tidak peduli lagi dengan kedudukan seseorang. Siapapun orang itu, mereka wajib mendapatkan ilmu minimal ilmu dasar.
Ya, charissa lah yang mengubah itu semua. Ia rela membuat buku bermodalkan ingatannya yang pernah ia pelajari selama ia sd, smp, sma bahkan hingga kuliah. Ia membagikan buku itu secara gratis tanpa imbalan sedikit pun.
Saat ini, ia sedang bersama 32 orang lainnya. Mereka adalah ahli matematika paling pintar dikerajaan.
“Oh, ayolah. Masa kalian harus membutuhkan waktu 3 hari ini untuk menyelesaikan ini?” Tanya charissa dengan kesal.
“Bahkan, anak kecil saja bisa menyelesaikan soal ini dalam lima menit” tambah charissa.
Charissa menatap 32 orang itu dengan tajam. Ia menghela nafasnya dengan kasar.
“Catat rumus ini baik baik” ucap charissa sambil mencatat sebuah rumus di papn tulis.
Seketika, semua orang yang ada diruangan itu langsung mencatatnya dengan baik. Charissa membalikan tubuhnya setelah ia menuliskan rumus itu.
Matanya terpancing saat melihat seseorang yang hanya diam tanpa mau mencatat rumusnya itu. “Kau kenapa tidak mencatat rumus ini?” Tanya charissa.
“Maaf putri... hamba tidak bisa menggunakan alat ini” ucapnya dengan terbata bata.
Charissa menganga saat mendengar itu. “Kau tidak bisa menggunakan pulpen?” Tanya charissa dengan tidak percaya.
“Bukannkah aku sudah pernah mengajarimu?” Tambahnya lagi.
“Siapa lagi yang tidak bisa menggunakan pulpen? Angkat tangan” kata charissa. Ia menggelengkan kepalanya saat melihat tujuh orang yang mengangkat tangannya.
Charissa menyapu wajahnya dengan kasar menggunakan telapak tangannya.
“Aahh.. kalian seharusnya bersyukur karena aku memberikan pulpen ini secara gratis untuk kalian!” Bentak charissa.
“Pulpen ini lebih mudah digunakan dibanding menggunakan kuas! Ahhh.. sudahlah. Aku ingin keluar” tambah charissa.
“Aku ingin pertemuan selanjutnya kalian sudah bisa mengerjakan soal ini. Dan juga, aku ingin kalian sudah bisa menggunakan pulpen dengan baik”
“Jika tidak, maka kalian harus menerima hukuman yang berat” ancam charissa.
__ADS_1
“Baik”