
Halo. Apa kabar? Terimakasih udah mau meluangkan waktu untuk membaca cerita ini.
Sebelum itu, jangan lupa untuk memberikan tombol like sebagai dukungan agar terus update eps baru.
Saran dan masukan yang kalian berikan juga sangat bermanfaat.
Yuk, sebelum membaca cerita ini, untuk memberi 5 bintang.
Terimakasih, selamat membaca....
saat ini, nico dan juga charissa sedang makan malam bersama dengan rekan bisnis nico. tepatnya, di sebuah restoran mewah yang berada di puncak gedung tertinggi di kota x.
disaat orang yang lain sedang sibuk berbincang satu sama lain, hanya charissa lah yang diam. ia membuang mukanya ke arah kaca yang menampilkan pemandangan kota saat malam hari. ia sangat menyukai lampu lampu kota.
"ah.. sudah seminggu aku berada disini tapi, aku belum mendapatkan buku itu kembali" batin charissa.
"kemana perginya buku itu?" tambahnya.
sudah seminggu ia berada di masa kini. ia sangat merindukan masa lalu. ia ingin kembali kesana. ia ingin melanjutkan rencananya dan membalas dendam. seketika, ia kembali mengingat sean. dengan perlahan, ingatannya kembali.
tetapi, ia masih tidak bisa mengingat siapa yang telah menolongnya keluar dari danau itu. charissa menengok dan menatap nico yang berada disampingnya. ia tersenyum saat nico ikut menatapnya.
"kenapa?" tanya nico sambil mengelus rambut charissa.
"apa masih lama?" tanya charissa dengan berbisik.
"tidak. apa kau ingin keluar dari sini?" jawab nico. charissa yang mendengar itu langsung mengangguk dengan bersemangat.
sesuai dengan keinginannya, akhirnya nico dan charissa keluar dari restoran tersebut. mereka berdua melangkah menuju apple store. charissa akan membeli handphone baru untuk menggantikan handphone lamanya yang menghilang.
entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. tetapi, hatinya merasa tidak tenang. ia merasa akan terjadi sesuatu yang buruk. belum ada beberapa menit, ia langsung dikejutkan dengan kehadiran cleora, yang tak lain adalah mantan kekasih nico.
"hi nico... how are you?" tanya cleora sambil tersenyum lebar. nico hanya bisa mengangguk kecil sambil melirik charissa. sedangkan charissa, ia hanya menatap cleora dengan datar.
"baik. terimakasih. selamat tinggal" potong charissa yang langsung menarik lengan nico agar menjauh dari cleora.
cleora yang melihat itu langsung menatap charissa dengan tatapan jijik. "apa apaan dia..." bisik cleora dengan kesal.
tidak langsung menyerah begitu saja, cleora justru mendekati charissa dan nico yang sedang mencari handphone yang sesuai dengan kemauan charissa. "kau ingin membeli yang itu?" tanya cleora.
"apaan banget deh" bisik charissa sambil menatap cleora dengan sinis.
__ADS_1
"tapi, sepertinya itu tidak cocok denganmu." kata cleora. charissa menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu melirik nico yang hanya bisa pasrah.
"ah... pergilah. jangan ganggu aku." charissa menatap cleora dengan kesal saat melihat tatapan cleora yang merendahkan seseorang.
"kau terlalu..."
"pergi jika, kau tidak ingin malu karena tas yang sedang kau gunakan itu palsu" potong charissa sambil tersenyum miring.
cleora langsung menyembunyikan tasnya itu. ia berdecak kesal saat melihat perubahan charissa yang sangat drastis. ia sangat ingin melakukan hal yang sama seperti dulu, namun mengingat nico yang berada disampingnya, membuat cleora membatalkan niatnya itu.
"cih. bangau tetap saja bangau. kau tidak bisa menjadi merpati sampai kapanpun. jadi jangan meninggikan diri karena perubahan penampilan barumu itu!" setelah mengatakan itu, cleora langsung meninggalkan mereka berdua. hancur sudah niat cleora untuk merebut nico kembali.
charissa menangkat alisnya saat mendengar kata yang baru saja diucapkan oleh cleora. ia menatap punggung cleora yang semakin menjauh dengan tatapan jijik.
ia kembali melirik nico yang hanya bisa tersenyum kikuk.
...
sean dan juga sang peramal sedang menatap ponsel charissa yang tidak kunjung menyala. sean mengelus dagunya sambil berfikir cara yang tepat untuk menghidupkan ponsel itu kembali.
"bagiamana jika kita membawa ini ke pasar... siapa tau ada yang bisa menghidupkan barang ini" ucap sean.
"tapi.. dia sudah mati. kita harus merelakannya" jawab sang peramal.
"siapa tau, dia hanya pingsan" kata sean polos.
tidak ada lima menit, mereka berdua sudah berada di pasar. sean menatap sekelilingnya dan mencari toko yang bisa memperbaiki barang itu.
"sepertinya tidak ada yang bisa menghidupkan barang ini.." gumam sang peramal.
"tidak, kita tidak boleh menyerah. kita harus berpecar" bantah sean. "baiklah" balas sang peramal dengan datar.
sean dan sang peramal berpencar dan memasuki satu per satu toko yang bisa menghidupkan barang itu kembali.
"apa kau bisa menghidupkan benda ini?" tanya sean sambil memberikan benda itu kepadanya. sean dapat melihat reaksi kebingungan dari sang pemilik toko saat melihat benda itu.
"tidak" jawab sang pemilik toko sambil mengembalikan benda tersebut kepada sean.
tidak ingin menyerah begitu saja, sean keluar dari toko itu lalu memasuki toko toko yang lain.
"apa kau bisa menghidupkan benda ini?"
"maaf tidak"
"apa kau bisa menghidupkan benda ini?"
__ADS_1
"maaf, tapi kami tidak bisa menghidupkan benda seperti ini"
"apa kau bisa menghiudpkan benda ini?"
"maaf, ini adalah toko makanan. sepertinya kau salah masuk"
sean menghembuskan nafasnya dengan kasar. harapannya hancur saat para pemilik toko mengatakan hal yang sama. tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menghidupkan benda itu.
matanya menatap sebuah toko terakhir yang belum ia kunjungi. dengan langkah yang malas, ia pun mendekati toko itu.
"selamat datang, kau ingin mencari apa?" tanya sang pemilik toko. sean menunduk dan melihat barang dagangannya yang tak lain adalah perhiasan untuk wanita. "ah.. toko ini tidak mungkin bisa" batin sean yang sudah pasrah.
saat sean ingin pergi dari toko itu, tiba tiba saja matanya menangkap sebuah perhiasan kepala wanita yang menarik perhatiannya. dengan perlahan ia mengambil perhiasan itu.
"pilihanmu tepat sekali. perhiasan ini hanya ada satu. dibuat dengan mutiara asli. pasanganmu pasti sangat menyukainya" ucap pemilik toko.
"pasangan.." bisik sean. seketika, ia langsung mengingat charissa. senyumnya mengembang saat membayangkan reaksi charissa jika ia memberikan perhiasan ini padanya.
"hanya untuk permohonan maaf." batin sean.
"aku akan mengambil ini. apakah ini cukup?" tanya sean sambil menyodorkan sebuah giok putih kepadanya.
betapa terkejutnya sang pemilik toko saat melihat giok itu. "itu.. itu terlalu mahal" ucap sang pemilik toko dengan terbata bata.
"cukup atau tidak?!" tegas sean. sang pemilik toko yang melihat itu langsung menganggukan kepalanya.
"ambil ini" ucap sean sambil menyodorkan giok putih miliknya. pemilik toko itu menerimanya dengan ragu ragu. tubuhnya bergetar karena, ini pertama kalinya mereka menyentuh giok semahal itu.
sean berjalan meninggalkan toko itu sambil mengangkat perhiasan itu ke arah langit. ia tersenyum saat melihat betapa indahnya periasan itu. karena ia tidak memperhatikan jalan, ia pun tidak sengaja menabrak seseorang.
BRUK
sean sempat terkejut, namun dengan cepat ia langsung menahan tubuh orang itu agar tidak terjatuh, menggunakan tangan kirinya. sean mematung saat melihat seseorang yang kini berada di hadapannya.
dia charissa. sean sangat yakin kalau ia adalah charissa meskipun wajahnya tertutup oleh kain dan hanya menampakan kedua matanya.
kedua mata mereka saling bertatap tatapan. sedangkan charissa, jantungnya berdetak dengan cepat saat melihat sean yang kini benar benar berada di depannya.
"bagaimana bisa..." batin charissa. charissa yang tersadar dari lamunannya langsung mendorong tubuh sean agar menjauh darinya.
sedangkan sean, ia langsung mengembalikan posisi tubuh charissa seperti semula.
charissa membungkukan setengah badannya. "terimakasih" ucap charissa lalu berjalan mendahului sean yang masih berdiam di tempat.
"woah.." bisik sean sambil menggelengkan kepalanya. matanya terus saja mengikuti kemana charissa pergi.
__ADS_1