The Cold King (JK)

The Cold King (JK)
Episode 23


__ADS_3

Halo. Apa kabar? Terimakasih udah mau meluangkan waktu untuk membaca cerita ini.


Sebelum itu, jangan lupa untuk memberikan tombol like sebagai dukungan agar terus update eps baru.


Saran dan masukan yang kalian berikan juga sangat bermanfaat.


Yuk, sebelum membaca cerita ini, untuk memberi 5 bintang.


Terimakasih, selamat membaca....


....


saat charissa ingin melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, tiba tiba saja ia dikagetkan dengan kehadiran xzuan di balik pintu. charissa mundur beberapa langkah darinya. ketiga puluh dua muridnya langsung menatapnya dengan bingung saat melihat charissa.


betapa terkejutnya mereka semua saat melihat kedatangan putra mahkota. dengan serempak, mereka langsung berdiri dari kursinya dan membungkukan setengah badannya sebagai tanda hormat.


sedangkan xzuan, ia langsung memasuki ruangan dengan santainya sambil melewati charissa yang sedang menatapnya dengan tidak suka. charissa berdecak lalu melipat tangannya didepan perut.


"hmmm bagus juga" gumam xzuan sambil melihat seisi ruangan itu.


"ada apa?" tanya charissa. xzuan menoleh dan menatap charissa sambil tersenyum miring.


"kau buru buru sekali? apa kelas sudah selesai?" tanya xzuan. charissa menghel nafasnya dengan kasar.


"ya!" xzuan yang mendengar itu langsung mengerutkan alisnya. "cepat sekali" balas xzuan.


"itu semua karena mereka karena tidak bisa menggunakan pulpen!" kata charissa sambil melirik ke 32 muridnya dengan tajam. sedangkan mereka, hanya bisa diam sambil menundukan kepalanya.


"begitu saja marah" cibir xzuan. charissa memutar bola matanya dengan malas.


"kalau begitu, ajari mereka bagaimana cara menggunakan pulpen" jawab charissa tidak mau kalah. xzuan yang mendengar itu langsung terdiam.


"cih. jangan bilang kalau kau tidak bisa menggunakan pulpen" tebak charissa asal. lagi lagi, xzuan hanya bisa terdiam.


"hahahahahhaaha!! kau ini, begitu saja tidak bisa" tambah charissa sambil tertawa puas. ia merasa senang karena dirinya jauh satu poin lebih atas dari xzuan.


charissa memang memiliki dendam pribadi kepada xzuan. ia sunguh kesal dengan xzuan. hukuman hukuman yang diberikan oleh xzuan membuat charissa ingin membalaskan dendamnnya itu.


"jangan sombong. kau juga bisa membaca dan menulis berkat bantuanku" jawab xzuan sambil mengambil sebuah pulpen dari salah satu ke 32 murid charissa.


"yayayaya.. terserah apa katamu"


xzuan menatap charissa sambil mengangkat pulpen yang saat ini sedang ia pegang. "aku ambil ini" ucap xzuan sambil berjalan menuju pintu keluar.


"itu tidak gratis" ucap charissa.


"hey!! itu tidak gratis!!!" teriak charissa saat xzuan mengabaikannya. charissa berdecak kemudian memijat kepalanya yang terasa pusing.


"ahhhh.... betapa menyebalkannya hidup disini" bisik charissa.


...


saat ini, charissa sedang berada di tepi danau. entah mengapa, ia selalu ingin berdamai dan memenangkan dirinya di tempat itu. ia tidak memiliki alasan yang jelas mengapa ia menyukai tempat tersebut.

__ADS_1


kakinya, selalu saja membawanya kembali ke tempat ini.


charissa memandangi air yang sedang memantulkan bayangan bulan purnama dengan bintang bintang yang bertaburan di indahnya langit malam.


ia mendongakan kepalanya dan menatap langit. senyumnya mengembang saat melihat betapa indahnya pemandangan itu. "cantiknya" bisik charissa.


dengan perlahan, ia memejamkan matanya. menikmati, hembusan angin sepoi sepoi yang meniup rambut terurainya. seketika, ia kembali mengingat wajah sean.


"kenapa aku jadi memikirkannya" batin charissa yang masih memejamkan matanya.


entah apa yang terjadi, tiba tiba saja charissa terbawa pada pikirannya. ia melihat bayang bayangan sean dalam pikirannya. semua terlihat begitu lambat.


ingatannya kembali memutarkan sebuah memori. dimana, sean sedang menatapnya, tertawa bersamanya, menikmati indahnya matahari terbenam di ujung tebing, sampai pada akhirnya charissa mendapat bayangan itu kembali.


bayangan, dimana seseorang dengan jubah hitamnnya sedang membunuh charissa menggunakan pedang dengan ukiran pada bagian badan pedang itu. bayangan itu terus saja menghantui charissa.


"kenapa kau membunuhku?"


"selamat tinggal sean"


charissa langsung membuka matanya dengan kasar saat mendengar suara samar itu. ia menatap sekelilingnya dengan panik. "apa itu?" tanya charissa dengan nafasnya yang terburu buru.


ia memijat kepalanya dengan kasar sambil menenangkan dirinya. "apa maksud dari semua itu. apa.. apa yang akan terjadi" bisik charissa.


..


charissa membuka matanya dengan perlahan. sama seperti biasanya, ia terbangun di tempat yang sama. charissa bangkit dari kasurnya lalu mengambil segelas air putih. ia melirik mona yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"mona, apa hari ini aku diundang ke acara ulang tahun pangeran zuan?" tanya charissa.


"baguslah. itu akan memudahkanku untuk membalas dendam" batin charissa sambil tersenyum miring.


"siapkan aku gaun terbaik" ucap charissa.


"baikl, putri" jawab mona. mona sempat menatap charissa dengan tatapan sedih. charissa sudah banyak berubah dari yang sebelumnya.


bahkan, saat ini pun pembicaraannya tidak lagi menarik. charissa terlalu serius dengan mona. ia tidak lagi bercanda dengan mona.


"apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?" tanya charissa saat melihat mona yang tidak bergerak dari tempatnya.


"ah.. tidak putri. saya akan menyiapkan sarapan untuk putri" jawab mona dengan kaku. charissa tersenyum tipis saat mendengar itu.


...


charissa menatap dirinya di cermin setelah mona merias dirinya kurang lebih tiga jam. ia sempat terkejut dengan dirinya sendiri saat melihat betapa cantiknya dirinya saat ini.


charissa menyentuh wajahnya dengan lembut. ia tersenyum miring sambil menatap dirinya di cermin.


ia kembali mengingat kejadian yang sudah agak lama terjadi. dimana, insiden charissa tenggelam di danau itu. charissa bersyukur karena ingatan charissa di tempat asalnya dan juga charissa di dunia ini menyatu.


dengan itu, memudahkannya untuk mencari jawaban yang selama ini ia cari cari.


"kenapa kau begitu membenci diriku hah? apa salahku?!" tanya charissa yang kini sudah dibanjiri oleh air mata.

__ADS_1


"cih, kau masih berani bertanya?! ckckckck... harus kuapakan ya gadis sok polos sepertimu ini"


"sepertinya akan menyenangkan jika kau kebasahan disini" tambahnya sambil mendekat kearah charissa.


charissa pun, langsung mundur beberapa langkah darinya. "tolong, jangan lukai aku" ucap charissa sambl menangis tersedu sedu.


"tidak. aku tidak akan melukaimu. tapi, aku hanya ingin memberimu sedikit hadiah"


"a.. apa itu?" tanya charissa dengan terbata bata.


"cih... selamat mandi malam, putri bodoh!!" tiba tiba saja, tubuh charissa didorong dengan kencang.


"arghhhhh....." teriak charissa. sedangkan, orang yang mendorong tubuh charissa langsung meninggalkannya dengan begitu saja. tak lupa, hadiah berupa senyum ejekan darinya.


karena tubuh charissa yang pendek, air pun langsung menenggelamkannya dengan mudah. charissa mencoba untuk menyelamatkan dirinya dari air itu.


namun, entah mengapa tubuh charissa terasa terikat. ia tidak bisa menggerakan tubuhnya. ia melihat air di sekelilingnya yang mulai gelap, karena cahaya sudah tidak dapat meneranginya lagi.


tubuhnya semakin lama, semakin dalam. charissa pun, sempat kebingungan. kenapa, tepi danau ini rasanya sangat amat dalam. ia merasa, seperti berada di tengah lautan.


dan disinilah, jiwa charissa tertukar. datanglah charissa dari masa depan yang mengisi raga itu. dengan pengelihatan yang samar, charissa melihat seseorang yang datang dan memeluk tubuhnya.


ya, seorang pahlawan yang menolong dirinya. ialah yang membawa charissa keluar dari tempat itu. namun sialnya, charissa melupakan sesuatu.


ia lupa dengan rupa sosok pria itu.


"putri, apa kau ingin menggunakan sepatu merah ini?" tanya mona secara tiba tiba. charissa yang sedang melamun pun langsung menatap mona dengan terkejut.


"ah.. iya. itu cantik" jawab charissa.


"baiklah putri" ucap mona sambil tersenyum. charissa kembali menatap dirinya dicermin. ia mengepalkan tangannya dengan keras.


"aku, akan membalaskan semua dendamku" batin charissa sambil menatap dirinya di cermin dengan tajam.


"akan kubuat semua penduduk kerajaan ini berlutut di kaki ku. akan ku buat mereka semua tersiksa" tambahnya sambil tersenyum miring.


ia kembali melirik mona yang kini sedang memakaikan sepatu di kakinya. ia tau, kalau monalah satu satunya orang yang setia dan paling berbeda dari yang lainnya.


charissa tersenyum tipis. "tapi, tidak dengan kau" batinnya.


"apa mimpimu, mona?" tanya charissa. mona yang mendengar itu langsung mendongak.


"ah.. mimpi ku ya?' tanya mona balik.


"dulu, aku pernah bermimpi menjadi seorang koki terkenal" kata mona sambil tersenyum.


"namun sekarang, aku hanya ingin menemanimu. aku ingin selalu berada disampingmu" tambah mona. charissa yang mendengar itu langsung sedikit terkejut.


"aku akan mewujudkan mimpimu, mona. sutu saat nanti, aku akan membebaskanmu dari neraka ini" ucap charissa.


"aku, hanya ingin berada disampingmu, putri" jawab mona dengan ragu ragu.


"kau tidak harus menjadi pelayanku untuk tetap berada disampingku. kau temanku. kau selalu berada di hatiku, mona. aku berjanji akan membebaskanmu dari sini" ucap charissa sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


mona yang mendengar itu langsung terharu. bahkan, ia meneteskan air matanya. charissa yang melihat itu langsung memeluk mona. "terimakasih, karena kau berbeda dengan yang lainnya" bisik charissa sambil menenangkan mona.


__ADS_2