The Metamorfosa Of Vani

The Metamorfosa Of Vani
Lingkungan Baru


__ADS_3

Sepanjang siang yang sunyi,Vani menghabiskan waktunya di kamar,di luar sedang hujan dan membuat udara pegunungan yang dingin semakin dingin hingga menembus tulang. Tak ada yang berani mandi dalam keadaan seperi ini.



Berbekal cemilan dan selimut merah dengan motif bunga-bunga,Vani merebahkan dirinya di kasur. Di cuaca seperti ini jaringan internet sangat buruk,namun beruntung Vani sudah mendownload game offline sebanyak-banyaknya. Sambil berbaring dan main game,Vani mengunyah satu persatu cemilan yang ia beli kemarin sore di warung yang terletak diujung jalan. Entah berapa banyak cemilan yang sudah dimasukkan ke mulutnya. Semenjak di desa Vani lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, ia sangat bosan dan kesepian berada di lingkungan barunya ini,sunyi,sepi dan tak punya teman.



Sementara mamah sejak subuh mamah sudah sibuk dengan kebun teh di belakang rumah. Mamah mulai menggarap sedikit demi sedikit. Setelah bibit teh sudah di tanam semua,mamah juga mulai menanam sayur-sayuran untuk dimakan setiap harinya. Disisi lain Mamah menanam kol,sawi dan kentang, sementara di bagian tepian kebun,mamah tanami pohon pepaya,pisang berada di sudut kebun, berbatasan dengan kebun milik tetangga. Lalu lombok dan tomat di tanam dalam pot dan di letakkan persis di emperan rumah. sejak dulu,Mamah sangat senang berkebun. Sewaktu di kota dulu,mamah rajin menanam sayur-sayuran didalam pot. Selain sayuran mamah juga suka menanam bunga,jadi rumah kami lebih terlihat asri dan sejuk.



Vani yang dulunya tinggal di kota tak menyangka akan pindah dan menetap di pelosok desa yang jauh dari hiruk pikuk, hingar-bingar kehidupan kota yang dihiasi gemerlapnya lampu jalan. Kadang hal ini membuatnya berpikir untuk kembali ke Kota. Kehidupan di kota jauh lebih mengasyikkan dibandingkan di desa. Di sana ia memiliki sahabat-sahabat yang baik,yang bisa menerima Vani apa adanya. Pada saat weekend mereka selalu menghabiskan waktu bersama, terkadang mereka pergi menonton ke bioskop,jalan-jalan ke mall, ke tempat karaoke atau hanya sekedar duduk di cafe-cafe dipinggir jalan. Buatnya kehidupan di kota sangat menyenangkan karena ia memiliki banyak teman yang menyayangi dan selalu melindunginya.



Pernah satu ketika saat jam olahraga ada sekelompok siswi dari kelas lain sedang merundung Vani,Vani yang sedang duduk sendirian di pinggir lapangan, tiba-tiba dilempar bola dan tepat mengenai kepalanya. Vani yang kaget langsung berdiri,meraka yang terdiri dari 5 orang itu mendekat,lalu siswi yang tercantik dari mereka mendorong Vani hingga terduduk. "Apa! Mo marah! Nglawan! Sini kalo berani"



Mata Vani berkaca-kaca menahan marah dan tangisnya. "Ti…tidak,a..aku hanya ka…kaget sa..saja" terdengar suara Vani yang serak dan terbata-bata.



"Sa…salahku a…apa?" Tambahnya.



Dengan nada culas dan menarik rambut Vani,siswi tercantik itu menjawab "Seharusnya Lu sadar kalo lu berdiri disini merusak pemandangan dan menyakiti mataku"



Dari kejauhan terlihat sahabat Vani berlari dan langsung menendang siswi tercantik iti dari belakang,tubuhnya oleng dan jatuh ke depan, refleks Vani langsung membantu siswi tercantik itu untuk berdiri. "Kamu gak papa kan?"



"Lepasin gue! Lu bisa melukai gue" Bentak siswi tercantik sambil menarik kuat tangan yang di pegang Vani.



Perkelahian di lapangan itu tak terelakkan lagi,namun siswi tercantik tak mampu menandingi kekuatan teman Vani yang merupakan atlet taekwondo. Pukulan,kuncian dan bantingan ia dapatkan,sampai akhirnya siswi tercantik itu harus berlutut meminta maaf pada Vani.



Para sahabat Vani selalu membelanya mati-matian,bahkan pernah kejadian di tempat nongkrong salah satu dari sahabatnya itu sampai memberikan tamparan keras kepada anak yang berani merundung Vani. "Kalo lu berani ganggu Vani lagi! Ni gue lawan lu! Paham!" Dengan wajah pucat si perundang langsung lari terbirit-birit. Vani dan yang lainnya tertawa melihat tingkah anak itu.



Masa-masa indah itu kini hanya tinggal kenangan,semua terjadi setelah bisnis tekstil papah mengalami kebangkrutan. Saat itu papah menjual semua asetnya lalu memutuskan untuk menjadi TKI di Luar Negeri. Mamah dan Vani memutuskan untuk tinggal di desa dan menggarap sepetak kebun teh milik orang tua Papah. Sementara kedua kakak Vani yang telah berkeluarga memilih mencari tempat kos dan tetap berada di kota untuk melanjutkan hidup mereka. Kini Vani hanya berdua dengan mamah,Vani sangat kesepian karena ia tak memiliki teman. Di tambah lagi susahnya mendapatkan akses internet disini, membuatnya makin merasa tak betah. "Kenapa kita gak ikut kakak saja di kota mah? Di kota kita bisa memulainya kembali. Aku tidak betah disini!" Keluh Vani.



"Cobalah untuk sedikit bersabar sayangku,lihatlah di sekeliling mu,indah bukan? Bukit yang hijau,udara yang sejuk dan pemandangan yang indah! Apa yang kurang dari tempat ini Vani?"


Vani hanya mengerutkan dahinya.


"Lambat laun kau akan betah disini karena minggu depan kau sudah mulai bersekolah" kata mamah sambil tersenyum.


__ADS_1


"Hah! Sekolah?" Mendengar perkataan mamah wajah Vani langsung pucat. Dengan tubuh gendut seperti ini ia merasa tidak akan ada yang mau menerima keberadaannya.



"Iya kau akan sekolah,jadi persiapkan dirimu dan berbaurlah dengan anak-anak lain" tegas mamah memecahkan lamunan Vani.



Bagi banyak orang sekolah adalah tempat yang menyenangkan,tempat bertemu teman-teman baru, berkenalan,menjalin persahabatan dan pertama kali mengenal rasa.


Harusnya Vani merasa senang dengan sekolah baru,kelas baru,guru baru dan teman baru. Tapi ntah apa yg Vani pikiran malah bertolak belakang,ia takut kalau tidak ada satu teman pun yang mau berteman dengannya.


Apalagi dengan keadaannya yang seperti ini bukan tidak mungkin ia akan mendapatkan rundungan di lingkungan barunya. Vani sangat takut,di sekolah baru tidak ada para sahabatnya yang bisa membantu saat ia di rundung, tak ada sahabat yang datang menenangkan hatinya,tak ada pelukan hangat saat bertemu dan yang membuatnya tertawa saat ia bersedih. Kini Vani sangat merasa sedih karena harus menyelesaikan masalahnya sendiri.



Saat di meja makan ia hanya memandangi makanannya,wajahnya seperti tak bersemangat. Mamah yang duduk didepannya pun jadi heran. "Apa masakan mamah gak enak?"



Vani kaget mendengar ucapan mamah. "Enggak lah mah,masakan mamah paling enak, cuma Vani sedikit takut saja untuk kesekolah besok mah."



"Apa yang di khawatirkan nak,semua akan baik-baik saja?"



Dengan wajah tertunduk Vani mengatakan pada mamah,bahwa ia takut kalau-kalau nanti tidak ada yang mau berteman dengan Vani.




Dengan wajah berseri-seri dan mata berbinar-binar Vani menyantap makanan yang di sajikan mamah.



Setelah semuanya selesai seperti biasa Vani mencuci piring,mengelapnya dan membereskan meja makan. Rasanya sangat bebas saat semua tugas telah di lakukan, sekarang saatnya bagi Vani untuk ke kamar dan tidur.



Keesokan harinya sepulang dari sekolah tanpa berkata apapun Vani langsung masuk kamarnya,dengan tertatih-tatih ia naiki anak tangga step by step. Sekolah baru yang di nanti-nanti oleh Vani,karena ia akan bertemu dengan teman barunya, nampaknya itu semua berubah bak neraka setelah ia mendapatkan rundungan di sekolahnya yang dilakukan oleh bimbim the geng dan siska lovers the geng. Mendapatkan rundungan yang tiada hentinya di kelas Vani membuat Vani merasa berkecil hati.



Wajah Mamah terlihat heran melihat apa yang anaknya lakukan." Ini adalah hari pertamanya masuk sekolah harusnya Vani bahagia bukan?". Terdengar dari bawah tangga mamah memanggil Vani, namun Vani tak memberikan jawaban. Mamah yang cemas langsung naik ke atas dan masuk ke kamarnya. Di dapatilah anaknya tertidur telungkup dengan suara tangis terisak-isak yang di tahan.



Dari pinggir dipan dengan lembut mamah mengusap kepala Vani "Apa semua baik-baik saja nak?"



Vani tak mampu menjawab apapun,ia hanya menggeser posisi dan meletakkan kepalanya di pangkuan mamah.



"Apakah aku seburuk itu mah? Kenapa semua menghinaku hanya karena aku gemuk?" Kata Vani sambil terbata-bata.

__ADS_1



Mamah terus mengelus rambut Vani,dengan menahan air mata mamah menenangkan anak bungsunya itu,"Kau tidak buruk nak,buat mamah kau adalah princess Mamah, kesayangan mamah buah hati mamah. Tak mungkin Tuhan melahirkan makhluknya tanpa kelebihan. Kau istimewa sayangku,tenanglah." Suara mamah terdengar berat dan parau.



"Mereka hanya tak mengenalmu sayang,semua ini akan berlalu tenanglah" tambahnya.



"Benarkah itu mah?" Tanya Vani sambil mengangkat kepalanya dan dengan mata berbinar-binar.



"Ya sayang,yakinlah semua akan baik-baik saja karena temanmu adalah orang baik" kata mamah sambil memeluk Vani.


Mamah melihat kesedihan yang mendalam pada mata anaknya,entah apa yang telah ia dapatkan di hari pertama sekolah ini.


"Bolehkah mamah dengar cerita di hari pertamamu sekolah nak?" Tanya mamah.



Sambil memperbaiki posisinya dan meletakkan kepalanya di pangkuan mamah Vani menceritakan hari pertama sekolahnya. Di hari pertama ini ia harus merasakan sakitnya di rundung. Ia menceritakan bahwa saat masuk kelas, di papan tulis ada gambar manusia namun tangan,kaki,wajah dan perut semua di buat bulat dan pada bagian hidung mereka menggantinya menyerupai hidung babi lengkap dengan bintik-bintik di bagian pipi atas kiri dan kanan lalu di bawah gambar itu tertulis nama Vani. "Aku sangat marah,ingin rasanya ku pukul si pembuat gambar itu!' ujar Vani. "Namun aku teringat kata-kata mamah jangan balas kejahatan dengan kejahatan,tapi balas kejahatan dengan kebaikan dan berdoalah agar orang yang berbuat jahat padamu akan terbuka hatinya dan menjadi baik." Ujar Vani.


"Nice,kamu memang princess mamah yang paling baik" kata mamah sambil mengembangkan senyumnya dan mengusap air mata putrinya itu.


"Mah,Vani lapar" katanya manja.



"Oya? Kalau begitu ayo turun dan makan" ajak mamah penuh semangat.



Mereka berdua pun keluar kamar dan menuju ruang makan. Satu persatu anak tangga di turuninya, sebenarnya ini sangat tidak baik untuk Vani yang memiliki kelebihan berat badan,namun Vani sangat suka di lantai 2 pasalnya ia bisa leluasa melihat pemandangan dari depan jendela kamarnya.



Mamah menyiapkan makan siang buat Vani. Kali ini mamah memasak cah kangkung dengan lauk tempe dan ikan kecil-kecil yang mamah dapat dari kolam belakang rumah. Vani sebenarnya tidak suka sayur namun karena keadaan,mau tak mau ia harus memakan apa yang mamahnya masak.



Tiba-tiba saat Vani tengah asyik menyantap makan siangnya mamah berkata "Sepertinya kamu harus mulai menurunkan Berat badan sayang"



Sambil menghela nafas Vani menjawab "Jadi sekarang mamah ikut-ikutan merundung Vani seperti mereka juga?" Wajah Vani memerah namun tetap menjaga agar kata-katanya tak menyakiti hati mamah.



"Itu semua buat kebaikan kamu sayang. Apa kamu tak ingin memakai dress cantik seperti remaja-remaja yang lain? Apa kamu tak ingin memiliki kekasih? kata mamah sambil melirik kearah Vani.


Wajah Vani seketika memerah! Dengan terburu-buru Vani menghabiskan makan siangnya. Ia bangkit dari duduknya tanpa sepatah kata dan meletakkan piringnya di wastafel lalu menuju ke kamarnya. Seperti biasa tubuhnya tertatih_tatih menaiki anak tangga itu,keringatnya pun bercucuran saat ia tiba di ujung tangga. Nafas yang terengah-engah turut menjadi saksi betapa sebenarnya tubuh Vani ingin mendapatkan kehidupan yang layak.


Hari berat telah ia lalui,ia tak marah pada mamah,ia pun tak marah pada teman kelasnya,bagi Vani Mamah telah memberikan saran terbaik buatnya,walaupun itu membuatnya sedikit tersinggung. Teman-temannya pun tak salah karena mereka tak saling mengenal. “Semua akan baik-baik saja,mungkin esok mereka akan menjadi sahabat baikku.”



Keesokan harinya Vani telah siap berangkat ke sekolah. Ia menggunakan seragam putih abu-abunya,lengkap dengan topi dan dasi. Rambutnya yang sebahu ia sisir rapi dan ia hiasi dengan bando berwarna hitam kecil. Di bahu sebelah kiri terlihat tas samping berwarna hijau Armi. Ia menggunakan sepatu Kets warna hitam dan kaos kaki warna putih. Tepat pukul 06.30 ia berangkat kesekolah diantar mamah menggunakan motor. Jalanan pedesaan tak semulus jalanan di kota,banyak lubang dan kubangan disana. Sesekali Vani harus turun dari motornya karena motor tua itu tak mampu mendaki di tanjakan sebelum akhirnya tiba tepat didepan pintu gerbang sekolah. Udara pagi pedesaan sangat dingin tak jarang bulu kuduk Vani berdiri. Setelah tiba didepan pintu gerbang,mamah memutar motornya dan berlalu di ujung jalan. Motor tua itu sepertinya sudah lega karena bebannya telah berakhir.

__ADS_1


__ADS_2