The Metamorfosa Of Vani

The Metamorfosa Of Vani
Gula-gula Manis


__ADS_3

Hari pun berlalu tanpa terasa kelulusan di depan mata. Selama 5 hari ke depan semua siswa termasuk Bimbim,Vani,Lucky,Siska dan Lucy ikut serta dalam Ujian Nasional (UN)


Ketegangan pun menyelimuti mereka. Tak terkecuali Bimbim yang sebenarnya sudah pasti lulus. Walau dengan otak yang pas-pasan ia tetap ingin lulus dengan hasil kemampuannya sendiri.


Sebelum memulai ujian semua siswa berdoa menurut agama dan keyakinan mereka. Dengan penuh semangat Vani mulai mengerjakan setiap soal di lembar ujian. Hari demi hari mereka lewati akhirnya mereka menyelesaikan Ujian nasional dan kini tinggal menunggu hasilnya saja.


“Huh lega! Ujiannya dah selesai!” Kata Vani.


“Iya nih! Semoga ujian kita hasilnya memuaskan. Aamiin” jawab Lucy penuh harap.


Sambil menunggu hasil ujian mereka menghabiskan waktu bersama-sama,bermain dan bercanda bersama sebelum mereka berpisah menjalani kehidupan masing-masing.


Banyak diantara mereka yang melanjutkan kuliah ke ibu kota namun tak sedikit juga tak melanjutkan kuliah. Sebagian dari mereka yang tak melanjutkan kuliah memilih untuk bekerja atau menikah.


Disela-sela keasyikan mereka bersenda gurau di kelas,Bimbim datang menghampiri Vani tanya sedang duduk dengan Lucy di bangku mereka.


Melihat Bimbim datang,Lucy langsung paham dan mempersilahkan Bimbim duduk di bangkunya dan ia pun pergi berbaur dengan yang lain.

__ADS_1


“Van! Ntar lanjut dimana?” Tanya Bimbim.


Mata Vani langsung berkaca-kaca,sebenarnya ia ingin sekali menganjurkan kuliah namun kondisi keuangan keluarga tak memungkinkan,ditambah lagi selama ini papah tidak pernah ada kabar. Terakhir 2 tahun lalu saat papah baru saja kerja di sana ia kerap memberi kabar dan mengirimkan uang,namun setelah itu sudah tak bisa di hubungi lagi. Ia berharap papah selalu dalam keadaan baik-baik saja.


“Emmm mungkin hanya di rumah aja Bim.” Jawab Vani.


“Umm gitu!” Kata Bimbim.


“Kau sendiri mau kuliah dimana?” Tanya Vani.


“Coba tebak?” Kata Bimbim


“Enggak sayang! Aku mau kuliah ke Turki.” Kata Bimbim dengan nada penuh semangat.


Mendengar jawaban Bimbim,hati Vani terasa perih seperti teriris,hatinya terasa pilu. Ia merasa sangat takut kehilangan Bimbim.


“Hei! Tenang cuma empat tahun aja,setelah itu aku pulang kok! Jaga diri baik-baik di kampung ya.” Kata Bimbim menyemangati.

__ADS_1


Bagi Vani empat tahun itu sangat lama dan bahkan ia tak sanggup membayangkan semua itu. Dadanya terasa sesak,seperti ada batu besar yang menindihnya. Ia ingin menangis tapi ia bukan siapa-siapa buat Bimbim.


Di tengah kesedihan Vani,Bimbim mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya. “Nah ini buat kamu,buat kenang-kenangan dari aku." Kata Bimbim.


"Apa ini?" Tanya Vani heran.


"Itu kalung buatmu. Pakailah!" Suara Bimbim terdengar parau.


"Aku tak ingin jauh darimu,tapi demi masa depanku dan masa depan keluargaku aku harus mengambil keputusan ini. Ketahuilah Van,aku sangat sayang padamu. Tunggu aku sampai aku pulang ya!" Tambahnya.


Air mata Vani berderai saat mendengar pengakuan dari Bimbim. Setelah selama ini ia selalu menyangkal perasaannya pada Bimbim,kini ia sadar bahwa ia benar-benar menyayangi Bimbim.


Tanpa diperintah,Bimbim memakaikan kalung itu pada Vani. Dengan hati berbahagia ia bersedia menerima Bimbim.


“Kalung ini jadi saksi perjalanan cinta kita,jaga baik-baik. I Love you” kata Bimbim lalu memeluk Vani.


Seketika seluruh kelas bersorak. “CIE JADIAN!”

__ADS_1


Ternyata selama ini wanita yang Bimbim cari tak lain adalah Vani. Kelembutan dan keteguhan hati membuat Bimbim mengagumi sosoknya.


__ADS_2