
Di depan gerbang sekolah Vani berdiri sendirian menunggu angkot. Hari ini mamah tak dapat menjemputnya,karena mamah pergi ke pasar untuk menjual hasil kebunnya. Di sana banyak siswa lalu lalang, tapi tak ada satupun yang mau mendekatinya. Ada yang melihat sinis,ada yang cuek dan ada yang usil dengan pura-pura menabrakkan bahunya ke bahu Vani.
"Dih badak di tabrak kagak goyang! Hahahaha" ejek sekelompok anak laki-laki.
Vani hanya diam dan tetap diam seribu bahasa. Hatinya panas dan bergejolak ingin rasanya ia meninju wajah anak tersebut.
"Vani badak bercula 1" ejek Siska n the geng yang tiba-tiba berdiri di dekatnya. "Tumben gak di jemput mami mu? Hahahaha" tambahnya.
"Jujur ya gua kasian banget sama motor lu! Motor butut yang harus di naiki badak kayak lu! Kesiksa banget gak sih motor lu! Hahahaha!
"Kalau motor ku butut kenapa! Kalau aku gendut kenapa!" Jawab Vani dengan nada gemetar.
"Kenapa? Oh jadi melawan ya!" Tanya Siska sambil memegang dagu Vani. Matanya terbelalak dan wajahnya memerah. Tangan yang tadi memegang dagu Vani kini berayun menampar pipi Vani. "PLAAAK" "PLAAAAK"
Semua mata tertuju pada Vani dan Siska the geng,mereka berkerumun mendekat.
"Dengar ya Badak! Disini tak ada yang berani melawanku! Dan barusan kamu melakukannya!" Teriak Siska.
"Berlutut!" Perintah Siska. "Berlutut!"
Dengan berat hati Vani menuruti kemauan Siska,ia berlutut di hadapan Siska.
"Minta maaf! Cepat" bentaknya.
"Ma…maaf"
"Bilang maaf putri Siska!" Teriaknya sambil menarik rambut Vani. "Cepat!" Tambahnya.
"Ma..maaf putri Siska" kata Vani dengan sorot mata penuh kebencian terhadap Siska.
"Hahahaha ya gitu! Bagus!" Siska sangat bahagia mendengar kata-kata itu dari Vani,sebelum pergi dari hadapan Vani,Siska memberikan kenangan-kenangan berupa tendangan di bagian bahu Vani.
Kerumunan pun membubarkan diri saat Siska enyah dari hadapan Vani. Air mata Vani lagi-lagi jatuh karena ulah Siska. Dengan sekuat tenaga Vani berdiri,bahunya terasa sakit,pipinya terasa perih dan hatinya hancur saat mengingat perlakuan Siska padanya.
Sepulang sekolah,Vani langsung membersihkan dirinya. Di kaca lemari kamarnya terlihat pipinya lebam karena tamparan Siska tadi. Ia pun turun ke dapur dan di dapur ia mengisi panci dengan air dan menyalakan kompor. Setelah air mendidih ia mengambil wadah dan menuangkan air panas tadi.
Ditambahnya air itu dengan air dingin agar hangat. Ia juga mengambil kain dan mencelupkan kain itu pada air hangat,lalu mengompreskan pada pipinya yang lebam. Ia tak ingin mamah melihat pipinya lebam,ia takut mamah akan sedih. Namun rasa-rasanya tak mungkin menutupi semua itu dari mamah,karena Vani tak bisa menyembunyikan apapun dari mamah. Ia yakin mamah pasti akan tau.
Vani terus menangis saat menyeka pipinya dengan kain hangat. Hatinya hancur berkeping-keping. Mentalnya jatuh. "Aku tak ingin dilahirkan seperti ini Tuhan!" Teriaknya sambil menangis.
Disaat yang bersamaan pintu rumah terbuka,dengan terburu-buru mamah masuk dan memeluk anaknya. "Ada apa sayang?" Vani tak dapat menjawab hanya tangisan yang terdengar dari mulutnya.
Rupanya mamah yang baru pulang dari pasar mendengar teriakan Vani,saat ia masuk ia mendapati anaknya bersimpuh di lantai dengan tangisan penuh kesedihan. Mamah terus mengelus erat anak bungsunya,di elusnya rambut ikal terikat karet gelang berwarna hijau.
"Mamah,apa aku terlihat buruk? Apa aku ini seperti badak? Apa aku ini gak pantas punya teman?" Kata Vani dengan terisak-isak.
"Aku benci Siska dan kawan-kawan!" Pekiknya.
Mamah kembali memeluk anaknya,ia tak mampu mengatakan apa-apa. Air matanya pun menetes karena tak mampu melihat penderitaan anaknya.
"Vani sayang,jadilah pribadi yang kuat nak,jangan pernah kau kotori hatimu dengan kebencian. Setiap masalah akan ada solusinya sayang" kata mamah sambil memandangi wajah anaknya. Tangisnya makin pecah saat melihat lebam pada wajah anaknya.
"Apa ini karenanya?" Tanya mamah sambil memegang pipi Vani.
Vani menjawab dengan anggukan.
"Baiklah besok mamah akan kesekolah untuk menyelesaikan masalah ini,sekarang cuci muka dan makan ya" perintah mamah sambil menyapu air mata putrinya.
Keesokan harinya, seperti biasa Vani pergi kesekolah diantar mamah,diatas motor tua dan butut hati Vani sangat gembira,karena ia akan melihat Siska di marahi guru karena perbuatannya. Mamah akan melaporkan perbuatannya kepada guru. "Mampus" Seru Vani dalam hati.
__ADS_1
Setibanya di sekolah Vani dan mamah memasuki ruangan guru,disitu tak terlihat banyak guru.
"Selamat pagi pak! Saya Pipit orang tuanya Vani,bisa bicara dengan wali kelasnya Vani pak?" Tanya mamah pada seorang guru.
"Iya silahkan duduk Bu,kebetulan saya wali kelas dari ananda Vani. Siswa baru ya Bu?"
"Begini pak,Vani anak saya ini mendapatkan rundungan dari teman-teman sekelasnya pak,bahkan dari kelas lain juga merundung Vani, menurut yang anak saya katakan, teman-temannya dilarang oleh salah satu siswa untuk berteman dengannya" ujar mamah
"Kalau boleh tau siapa Bu yang melarang?" Tanya wali murid dengan wajah datar.
"Namanya Siska dan Bimbim pak" kata mamah.
"Kalau soal mereka berdua,kami para guru pun sudah angkat tangan Bu,mereka adalah anak-anak orang kaya di lingkungan ini, Bimbim adalah anak dari pemilik sekolah ini, sementara Siksa adalah anak pemilik perkebunan terluas di daerah sini bu,kami sendiri tak bisa mengatasinya." Kata wali kelas dengan wajah murung.
"Jadi tidak ada solusi untuk anak saya! Jadi begini cara kerjanya sekolah ini!" Bentak mamah.
Wali kelas terus berusaha menenangkan mamah yang marah, dengan segala upaya mamah akhirnya tenang dan pulang tanpa solusi. Mamah tak mampu berbuat apa-apa, ditambah lagi di lingkungan ini sekolah terdekat hanya di sini.
Kini kegembiraan Vani hilang,Siska tak jadi di hukum oleh guru. Semenjak kejadian itu,Vani banyak murung dan tak mau makan. Mamah pun mulai gelisah,mamah takut kalau Vani sampai melakukan hal yang tak diinginkan.
"Nak,besok ikut mamah ketemu dokter psikiater mau?" Tanya mamah pada Vani yang sedang tidur di pangkuannya.
"Untuk apa mah? Vani gak kenapa-kenapa kok mah,Vani baik-baik saja"
"Kamu jangan tersinggung ya nak,mamah ajak kamu ke psikiater supaya Vani bisa bercerita pada dokter tentang masalah Vani,nanti disana Vani ketemu dokter supaya bisa bercerita dan menghilangkan pikiran-pikiran yang selama ini Vani pendam" kata mamah penuh semangat.
"Apa itu benar mah?"
"Kita ikhtiar aja hasilnya Allah yang tentukan ya nak ya" kata mamah.
Perjalanan dari desa ke RS besar lumayan jauh. Namun itu harus dilakukan agar mental Vani tetap terjaga. Vani tak mampu menampung semua beban pikirannya sendiri,ia butuh orang yang bisa melegakan hatinya dan itu adalah dokter psikiater.
Mamah dengan setia menemani anak bungsunya bertemu dengan dokter psikiater. Selama Vina pindah ke desa Vani belum memiliki teman,setiap pulang sekolah ia hanya mengurung diri di kamar menghabiskan waktu dengan bermain game di iPadnya. Sesekali ia keluar kamar hanya untuk keluar membeli cemilan di warung ujung jalan. Vani yang dulunya ceria kini menjadi anak yang pendiam.
Vani dan mamah berjalan menuju jalan besar,disana mereka menunggu angkot,tak berselang lama angkot pun datang. Mamah memilih angkot yang kosong agar Vani dapat duduk dengan nyaman.
"Turun dimana bu?" Tanya sopir.
"Di rumah sakit ya pak" jawab mamah.
Tanpa perlu menjawab apapun sopir langsung memacu angkotnya. Hamparan kebun teh menjadi pandangan apik yang tersuguh di lingkungan ini,udara sejuk dan semilir angin menambah semarak keindahan lingkungan ini. Walau masih banyak lubang dimana-mana namun pembangunan di lingkungan ini tergolong maju daripada lingkungan lain. Itu dikarenakan pengelola desa sangat peduli dengan warganya. Perjalanan kali ini sedikit lama,karena ada perbaikan jalan di beberapa titik.
"Aduh… udah panas! Macet lagi!" Gerutu sopir saat melintasi jembatan yang sedang di perbaiki. Terlihat beberapa pegawai mengatur lalu lintas, ternyata di bagian depan ada pinggir jembatan yang retak akibat di terjang banjir beberapa malam yang lalu.
"Wah ini nih yang bikin macet nih!" Tambah sopir saat angkot memasuki daerah jembatan yang sedang diperbaiki. Dengan hati-hati angkot melewati bagian jembatan yang sedang di perbaiki itu. Petugas membatasi kendaraan yang lewat untuk mengurangi beban jembatan. Vani nampak cemas saat melewati jembatan,wajahnya terlihat tegang. Untuk mengurangi ketegangannya ia menutup mata sambil meremas kuat ujung kursi.
"Huh…" keluhnya saat angkot berhasil dengan selamat melintasi jembatan itu.
Tak beberapa lama, Mamah berseru. "Kiri pak!"
Secara otomatis angkot pun mengurangi kecepatan dan menepi. Vani dan mamah turun dari angkot tepat di seberang jalan berwarna hijau muda. Dari kejauhan terlihat banyak orang lalu lalang. Banyak kendaraan mobil dan motor terparkir di dalam pagar. Sementara di sepanjang pagar Gedung yang merupakan Rumah sakit daerah itu, berjejer penjual makanan dan ada juga penjual asongan yang sedang menjajakan dagangannya.
Mamah menengok kiri dan kanan lalu menggandeng tangan Vani "Sini ayo nyebrang mumpung sepi" kata mamah. Sampai di pintu gerbang terlihat satpam yang sedang mengatur kendaraan keluar dan masuk. Sepertinya ia tampak sibuk dengar pekerjaan. Kami pun melewatinya dan masuk ke dalam sebuah ruangan. Di ruangan itu banyak sekali orang,sejauh mata memandang tak ada tempat duduk yang kosong. Ada yang duduk di lantai ada juga yang berdiri.
Tenggorokan Vani terasa kering,ingin rasanya ia meneguk sebotol air dingin yang menyegarkan. Namun ia mengurungkan niatnya,rupanya ia khawatir kalau nanti ia jadi pipis-pipis karena kebanyakan minum air. Ia juga teringat adegan di film-film yang menayangkan gadis yang terkunci di toilet Rumah sakit dan saat gadis itu menengok ke atas ada kuntilanak yang siap menerkam gadis itu. Seketika itu Vani menggelengkan kepalanya dan dahaganya langsung hilang.
Selang beberapa lama,Vani dan mamah sudah menyelesaikan proses registrasi,kini mereka bersiap menuju ruangan dokter.
Mamah dan Vani memasuki lorong yang rame diisi oleh banyak pasien yang sedang mengantri. Di ujung ruangan itulah nampaknya ruangan psikiater. Hati Vani rasanya deg degan saat berada di depan ruangan itu.
__ADS_1
"Mah Aku takut" bisik Vani.
"Tenang dan rileks,dokternya baik kok" ujar mamah menguatkan Vani.
Vani menghela nafas panjang dan menjawab pernyataan mamah dengan anggukan,tanda bahwa ia paham.
Mamah dan Vani sengaja mengambil tempat duduk di deretan depan agar saat di panggil langsung terdengar. Ruangan psikiater tak banyak pasien yang mengantri,tak seperti ruangan yang lain,pasien sampai harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.
Tak menunggu lama nama Vani pun di panggil. Dengan hati yang deg degan ia memasuki ruangan. Kali ini mamah tak ikut masuk,ia ingin anaknya masuk sendiri agar lebih leluasa saat pemeriksaan.
Tangan Vani gemetar saat membuka gagang pintu berwarna silver.
"Per…permisi dok" sapa Vani.
"Iya silahkan masuk" jawab dokter dengan ramah. "Silahkan duduk dek." Tambahnya.
Vani pun langsung duduk di kursi yang telah di sediakan. Setelah duduk, perasaan Vani mulai membaik,kini ia tak grogi seperti saat pertama tadi. Dalam benak Vani,dokter psikiater itu seperti di TV,tua dan menegangkan namun ternyata sebaliknya. Saat ia masuk keruangan,Ia di sambut dengan senyuman ramah dari seorang dokter perempuan yang masih mudah, kira-kira dokter itu berusia 27 tahun,wajahnya ayu dan bersih,tubuhnya proporsional dan senyumnya manis. Dokter itu mengulurkan tangannya dan mereka saling berjabat tangan. Rupanya nama dokter itu dr. Rina,biasa di panggil dokter Rin. Vani langsung menyukai dokter itu dan mereka mulai akrab.
"Oya belum kenalan,aku dokter Rina biasa di panggil dokter Rin,Vani kelas berapa?" kata dokter Rina sambil mengulurkan tangannya.
Vani pun menyalami dokter Rin dan berkata "Saya kelas sebelas dok"
"Vani kenapa? Ada masalah apa?"
Vani pun menceritakan semua kejadian yang ia alami di sekolahnya,mulai anak-anak yang menyebutnya badak,perlakuan kasar Siska dan Bimbim sampai penghinaan fisik yang dilakukan oleh Siska padanya.
"Oh jadi seperti itu,lalu Vani ingin seperti apa?" Tanya dokter.
"Vani ingin membalas perbuatannya,Vani kesal dengan Siska dan Bimbim!" Jawab Vani dengan wajah yang berkaca-kaca.
"Apa kamu yakin? Perbuatan semacam itu tak baik dan pasti mamah pun tak ingin kau melakukannya bukan?"
"Kalau begitu aku harus gimana dong dok?" Tanya Vani.
"Apa keinginan terbesarmu saat ini?" Tanya dokter Rin pada Vani
"Aku ingin seperti anak yang lain dok,punya teman banyak, memiliki tubuh yang indah agar tak dihina yang lain,bisa memakai gaun indah dan masih banyak yang lain" ungkap Vani sambil menangis.
Dokter Rin berdiri sambil menenangkan Vani,ia mengusap rambut Vani. "Ya sudah kalau gitu kamu ikut diet aja!" Kata dokter Rin.
"Apa aku bisa dok?" Tanya Vani tak yakin.
"Bisa! Semua orang bisa mencapai tujuannya asalkan ia yakin! Apalagi Vani masih muda,semua bisa dilakukan di usia muda seperti mu. Keajaiban itu ada sayang" tutur dokter Rin.
"Diet itu buat sehat ya dan langsing itu bonusnya. Yakinlah pasti kamu bisa!" Kata dokter Rin menyemangati.
Mendapatkan dukungan dari dokter Rin akhirnya Vani menjadi semangat untuk diet.
"Baiklah dok mulai besok aku akan diet!" Kata Vani penuh semangat.
Sepulang dari psikiater,Vani langsung membuka YouTube. Ia mencari tau cara diet yang mudah dan aman. Disitu Vani mendapatkan beberapa referensi dari berbagai sumber,lalu memilih satu metode diet aman,enak dan mengenyangkan.
"Mah! Mamah ada uang gak? Vani mau beli susu rendah kalori buat diet mah,ini aku dapat susunya di toko online" ujar Vani saat bersantai bersama mamah di ruang nonton tv.
"Aman gak sayang?" Tanya mamah.
"Kata dokter Rin,susu ini aman mah. Harganya juga tidak terlalu mahal seperti yang lainnya." Kata Vani penuh semangat.
Melihat anaknya bersemangat diet,mamah pun mengiyakan kemauan anaknya. Mamah memberikan uang hasil jualan sayur dipasar tempo hari. Vani sangat senang dan ia pun mulai memesan susu diet itu di online.
__ADS_1
Seminggu telah berlalu sejak pertama Vani mengikuti program diet yang ia ikuti melalui aplikasi. Ia mengikuti diet premium. Banyak tugas yang harus ia lakukan setiap harinya, seperti olahraga dan juga menekan porsi makan. Vani sangat menikmati dietnya itu. Sudah 10 kg lemak dalam tubuhnya terbakar,artinya sedikit demi sedikit badannya mulai menjadi ringan dan bugar. Baju sekolahnya pun mulai longgar,dalam diet yang ia jalani tak ada kata lapar dan lemas. Dietnya santai dan menyenangkan.