The Metamorfosa Of Vani

The Metamorfosa Of Vani
Hampir Tak Percaya


__ADS_3

Libur panjang telah usai,kini saatnya kembali ke sekolah. Semua pakaian sudah di permak,dicuci lalu di setrika. Kini ia telah siap berangkat ke sekolah. Pagi ini ia merasa senang dan bahagia,karena usahanya selama ini telah membuahkan hasil. Ia telah mendapatkan tubuh yang sehat dan ideal.


Ia berharap tak akan ada lagi rundungan dari teman-teman di sekolahnya. Tubuhnya benar-benar telah ramping,tak ada lemak dan tak ada gelambir. Sangat perfect!


Sementara wajah hitamnya,kini mulai glowing karena ia rutin menggunakan masker dari buah-buahan yang ia racik sendiri.


Rambut cepaknya kini sudah rapi,setelah ia ke salon untuk melakukan perawatan. Sungguh gadis ini terlihat seperti terlahir kembali.


Pagi ini ia bangun kesiangan,akhirnya mamah harus turun tangan untuk mengantar langsung putri bungsunya itu dengan sepeda motor tuanya.


“Mamah kan sudah bilang,jangan begadang! Jadinya gini kesiangan berangkat ke sekolah!” Omel mamah.


“Cepetan! Nanti terlambat kami dihukum!” Tambah mamah.


“Iya mah,bentar mah bentar.” Sanggah Vani yang tengah memakai sepatu.


Sepanjang perjalanan mamah terus berceloteh,mamah kesal dengan putrinya yang akhir-akhir ini susah dikasih tau. Entah apa yang ada di benak gadis itu,ia hanya sibuk menonton drama Korea yang ia download setiap malam.


Sesampainya di sekolah,Vani merasa aneh karena semua mata tertuju padanya. Ia merasa menjadi siswa baru lagi sebab tak ada yang mengenalinya dan mereka tak menyangka jika gadis gendut,hitam dan dekil itu kini memiliki tubuh yang indah dan wajah yang cantik.


“Anak baru ya?” Tanya seorang siswa.


Vani hanya menjawab dengan senyuman saja. Kemudian ada beberapa siswa mulai mengenalinya.


“Eh badak beneran ini elu?” Tanya seorang siswa lainnya.


“Etdah! Cantik beut!” Tambah seorang lagi.


“Sini jadi pacarku mau gak? Hahahaha” teriak yang lainnya.


Vani bingung menghadapi teman-temannya itu,ia langsung berlari ke kelas dan duduk di bangkunya. Ia merasa tak nyaman dengan penampilan barunya. Karena banyak siswa laki-laki yang mulai menggodanya.


Seisi sekolah berkerumun di kelas Vani,mereka berebut ingin menyaksikan penampilan barunya. Mereka seperti tak percaya,Vani yang dulu gendut seperti badak,hitam dan terlihat kumuh,kini telah bermetamorfosa menjadi seorang bidadari.

__ADS_1


Dibalik lipatan tangannya ia menutupi wajahnya,ia sangat malu dan takut. Lalu disaat ketakutannya memuncak,ada tangan yang menyentuh pundaknya. Dengan sekuat-kuatnya ia berteriak. “Mamaaaaah” jerit gadis itu.


Seketika semua hening mendengar jeritan Vani,lalu si pemilik tangan itu bertanya “kau tak kenapa-napa kan?” Sapa lembutnya.


Suara itu tak asing,ia sering mendengarnya bahkan ia akrab dengan suara itu,saat ia mengangkat kepalanya dari lipatan tangannya,ia melihat Lucky disana,dialah yang memegang pundak Vani.


Hatinya perlahan-lahan mulai tenang,nafasnya pun mulai teratur. Lalu seketika Vani memeluk sahabatnya itu,dalam pelukan Lucky ia berkata “aku takut pada mereka,aku lebih suka Vani yang dulu”


“Hei ucapan apa itu? Bukannya kau yang menginginkan ini semua? Kau harusnya bahagia Vani!” Kata Lucky.


“Kau kini terlihat cantik Van,siapa sih yang gak mau sama kamu!” Tambahnya.


Setelah di yakinkan Lucky akhirnya Vani mulai menerima keadaannya yang baru. Namun disaat yang bersamaan,Siska datang dengan tatapan penuh kebencian.


Karena merasa tersaingi dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Vani,Siska segera membuat perhitungan pada Vani.


.


.


.


“Duduk di sana aja yok Lus.” Ajaknya saat melihat ada bangku kosong di bawah pohon.


“Ayo! Enak disitu tuh,adem. Ter-fav banget deh.” Kata Lucy kegirangan.


Mereka berdua suka duduk di bawah pohon yang terletak di depan kelas. Pohon itu sangat sejuk dan di sekeliling pohon itu dibuatkan tempat duduk agar semua siswa bisa duduk-duduk disana.


Sementara mereka sedang asyik mengobrol,dalatanglab Siska “Oh jadi ini yang dibilang bidadari oleh para siswa di sekolah ini?” Kata Siska ketus.


“Ya memangnya kenapa?” Sergah Lucy.


“Diam lo kutil!” Pungkas Siska terhadap Lucy.

__ADS_1


Mendapat jawaban seperti itu,nyali Lucy langsung menciut. Semenjak kejadian itu,Lucy sangat takut pada Siska. Ia tak ingin diinjak lagi seperti dulu dan tak ingin pula ditampar berkali-kali olehnya. Rasanya sakit,bahkan sampai saat makan pun terasa nyeri. “Hiii” kata Lucy saat mengingat kejadian itu.


Semua siswa di sekolah mengenal betul perangai Siska,jadi banyak siswa yang lebih baik diam daripada punya masalah dengannya.


“Bidadari dari mana? Cantikkan juga gue! Apa ini!” Ejek Siska.


Dengan memaksakan diri Lucy berkata “Orang cantik itu gak hanya dilihat dari wajah dan uangnya aja tapi dari hatinya! Jangan menilai semua dari dari materi.” Seru Lucy.


“Udah lus,jangan diladeni,kita diem aja.” Bisik Vani.


Namun Lucy tak mau mendengar ucapan sahabatnya itu,ia melanjutkan perkataannya,”Coba kalau kau bukan dari keluarga kaya,yakin aja temen-temen yang ada di belakangmu sekarang belum tentu mau berteman denganmu!”


Mendengar perkataan Lucy,Siska langsung gusar. Tangannya sudah gatal ingin menampar wajah gadis lancang seperti dia. Namun saat ia mengayunkan tangannya,tangan itu serasa ditahan. “Apa lo!” Teriak Siska lantang. “Lepaskan! Biarkan aku menamparnya! Biarkan!” Kata Siska dengan suara gemetar karena menahan emosi.


“STOP Siska! STOP!” Perintah Lucky yang tengah menahan tangan Siska. Mendengar perintah Lucky,Siska pun melemah dan hampir pingsan. Dengan sigap lucky memeluk dan menahan agar tak jatuh. Semua mata tertuju pada mereka. “Plis sudahi ini semua! Sampai kapan lu seperti ini? Lihat apa lu gak malu di setiap hari jadi bahan tontonan?” Bisik Lucky sambil memapahnya pergi ke UKS.


.


.


.


Di sebuah ranjang sederhana,tubuh mungil Siska terbaring lemah. Lalu dengan segelas teh hangat Lucky menghampirinya sabar ia membantu Siska meminum teh yang dibawanya itu.


“Kenapa kau selalu membela mereka?” Tanya Siska dengan nada memelas.


“Karena mereka benar! Mereka tak salah!” Jawab Lucky singkat.


“Kenapa kau tau pernah membelaku?” Tanyanya lagi.


“Kalau kau dipihak yang benar,walau sampai ujung dunia aku akan membelamu Siska!” Jawab Lucky.


Pelan-pelan Lucky memberi nasehat pada Siska,ia tau betul seperti apa sifat dan karakter Siska. Semakin kita kasar padanya,maka ia akan semakin semakin kasar. Begitulah sifat Siska.

__ADS_1


__ADS_2