
Rumor tentang kehamilan Vani terus tersebar keseluruhan penjuru lingkungan. Cerita dari mulut-mulut santer terdengar hingga ke telinga mamah dan Vani. Sebagai pihak perempuan jelas dia mendapatkan banyak hujatan dan nyinyiran yang membuat Vani enggan untuk keluar rumah.
Karena rumor ini,Mamah juga sekarang sudah tak menjajakan sayurnya lagi ke pasar atau ke pengepul. Kebanyakan dari mereka menolak hasil kebun mamah dan mamah juga sudah tak sanggup mendengar cibiran dan hujatan dari para tetangga.
“Ya gitu kalau cuma ngincer harta,pasti ngerayu-rayu biar mas Bimbim mau sama dia,kalau udah hamil baru deh minta pertanggung jawaban.” Cibir seorang ibu-ibu dipasar.
“Katanya si Vani itu genit Jeng,sukanya gangguin cowok-cowok gitu! Dulu sebelum sama mas Bimbim dia sempat deketin mas Lucky tapi gak berhasil,akhirnya berubah haluan itu!” Bisik seorang lagi sambil melirik mamah yang tengah berdiri di depan penjual beras.
“Ih gatal banget sih jadi perempuan!” Ucap seorang wanita paruh baya berambut ikal yang terlihat paling aktif berbicara.
“Iyalah gak mungkin mas Bimbim mau sama orang miskin gitu kalau gak di apa-apain! Kan semua orang tau kalau mas Bimbim itu orangnya sopan dan dermawan kayak bapaknya.” Balas seorang wanita berbando coklat.
Hati ibu mana yang tak bergemuruh ketika mendengar anaknya dicibir seperti itu. Panas! Emosi! Geram! Semua bercampur aduk jadi satu,bak bola panas yang siap meluncur dan menerjang mereka satu per satu.
Dengan segala kekuatan mamah menjawab ucapan mereka,”Maaf ya bu! Anak saya tidak serendah itu! Anak saya tidak gila harta maupun gatal seperti yang kalian tuduhkan!”
“Kalau tidak seperti itu terus kok bisa hamil diluar nikah! Terus milih yang kaya lagi!” Kata wanita berambut ikal itu.
“Mas Bimbim itu orangnya sopan loh!” Sergah ibu berbando coklat.
“Iya jadi gak mungkin mau macam-macam kalau gak di gangguin sama si Vani itu!” Tegas si ibu pertama.
Rasanya hanya buang-buang waktu saja berdebat dengan mereka,bukannya mendapatkan solusi malah akan menjadikan masalah baru. Sambil menghela nafas panjang mamah meninggalkan ketiga wanita itu tanpa sepatah kata pun.
.
.
.
__ADS_1
Dirumah,Vani tengah duduk bersila di depan televisi. Berkali-kali ia tekan tombol untuk mengganti Channel TV namun tak ada satu acara pun yang ia sukai.
“Hmmm kok jelek semua sih siarannya? Aku gak suka ih” Desis Vani lalu mematikan TVnya.
“Mamah mana ya kok belum pulang? Vani lapar banget tapi kalau makan pasti bakal mual dan muntah,badan Vani lemas.” Keluhnya sambil menghela nafas panjang.
Belum juga enak perasaannya tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
“Ah mungkin mamah dah pulang tuh.” Kata Vani penuh kebahagiaan.
Buru-buru ia membuka pintu,ia mengkhayalkan mamah telah datang dengan membawa pesanan jeruk manis yang ia minta sebelum mamah berangkat ke pasar tadi pagi,
“Iya tunggu mah!” Teriak gadis itu menyambut kedatangan mamahnya.
Sirrrr! Darah Vani mendesir mengalir cepat. Bak petir menyambar di siang bolong,wajah Vani langsung pucat pasi saat melihat Bimbim berdiri di depan pintu dengan keadaan acak-acakan. Rambut tak disisir,wajah kusam dan lusuh.
“Kenapa? Kaget!” Bentak Bimbim masuk dalam rumah dan mendekati Vani.
“Apa ya mau ku? Hahahaha” kata Bimbim dengan ketawa puas.
“Jangan sakiti anakku!” Kata Vani penuh ketakutan.
Selangkah Bimbim maju dan mendekatkan wajahnya ke wajah Vani,jari-jarinya dengan kasar memegang dagu Vani. Vani makin ketakutan hingga rasanya ia ingin pingsan.
“Rasanya tidak mungkin aku menyuruhmu lagi untuk menggugurkan kandunganmu,kau tau sendirikan hari pernikahan kita sudah ditentukan! Jadi mau tak mau kita harus menikah.” Kata Bimbim dengan nada santai.
Wajah Vani sesaat langsung berubah menjadi bahagia karena akhirnya Bimbim mau menerimanya sebagai istri dan ayah dari anak yang dikandungnya.
“Eits jangan senang dulu! Walaupun kita nanti menikah,kita gak bakal bisa seperti dulu lagi! Karena kenapa? Karena cintaku telah mati untukmu! KAU SUDAH MENGHANCURKAN MASA DEPANKU! INGAT ITU!” Bentak Bimbim sambil mendorong tubuh gadis itu hingga terduduk di sofa.
__ADS_1
“Kelak yang kau rasakan bukan cinta tapi penderitaan dan hukuman atas semua perbuatanmu padaku!” Teriak Bimbim.
“Kau itu tak pantas mendapatkan cintaku lagi! Dasar pembawa sial! Kau dan bayimu itu jelas membawa sial buatku! Ngerti!” Tambahnya.
Wajah Vani kembali memucat,kini butiran air mata mengalir membasahi pipinya. “Takdir apa yang harus ku jalani ini ya Tuhan!” Rintih Vani.
Setelah puas berbicara panjang lebar,tanpa permisi Bimbim pergi meninggalkan Vani yang terduduk lemas di sofa ruang tamunya.
Perutnya kembali mual dan rasanya ingin muntah. Perasaan aneh yang tak pernah ia duga sebelumnya.
“Syukurlah ia tak berbuat nekat padaku. Karena ada ataupun tak ada,aku akan tetap menjaga anak ini. Sampai kapanpun dia akan tetap darah dagingmu ” Kata Vani mengepalkan tangannya.
.
.
.
Hari pernikahan mereka sudah di depan mata,keluarga Bimbim sudah datang kerumah dengan membawa beberapa karung beras dan aneka bahan pokok. Acara pernikahan sederhana akan digelar di rumah tua milik mamah.
Hanya sekedar syukuran dan baca doa selamat saja. Dengan harapan ibu dan bayi dalam kandungan Vani sehat selalu hingga lahiran serta keluarga kecilnya menjadi keluarga yg harmonis.
“Gak usah mengundang orang banyak! Cukup kita saja yang disini yang menyaksikannya!” Kata bu Indah dengan nada datar.
Walaupun wajahnya pucat karena banyak pikiran dan kurang istirahat,tapi tak dapat menutupi kecantikan bu Indah. Benar! Semenjak kejadian itu,pak Doddy maupun bu Indah sangat terpukul dan merasa malu,mereka jarang keluar rumah karena tak sanggup mendengar rumor yang beredar. Walaupun rumor itu sebagian besar membela anaknya,tapi tetap saja ia merasa nama baiknya serta nama baik keluarganya tercoreng.
Bak ditelanjangi di depan umum lalu di lempar kotoran manusia. Begitulah besarnya rasa malu yang harus ditanggung keluarga Doddy. Keluarga yang terhormat harus ternoda dengan perbuatan anaknya sendiri. Satu melakukan kesalahan seluruh keluarga yang menanggungnya.
Pelan-pelan Vani berjalan menuju ruang tamu,ia sudah siap dinikahkan dengan Bimbim. Dengan mengenakan kebaya putih dihiasi bunga melati,ia duduk di samping Bimbim. Lalu dengan segera pak penghulu memulai acara dan menikahkan keduanya.
__ADS_1
Vani memejamkan mata saat acara akad nikah usai,dalam hati ia berdoa,“Tuhan,jadikanlah rumah tanggaku sebagai rumah tangga yang engkau ridhoi,yang diliputi dan dibalut dengan kebahagiaan dan keceriaan hingga akhir hayat. Aamiin”
Air Matanya berderai saat ia sungkem pada mamah,tak kuasa ia menahan tangis hingga ia tak sadarkan diri.