The Metamorfosa Of Vani

The Metamorfosa Of Vani
Jeritan tengah malam


__ADS_3

“Bisa gak,kau itu sedikit tenang? Semenjak kau ada disini,hidupku gak ada tenang-tenangnya biar cuma sedetik!” Bentak Bimbim pada Vani yang tengah merintih karena menahan mual dan muntah.


“Kau pikir aku akan terus bersamamu? Tidak Vani! Tidak! Setelah bayi itu lahir,segeralah keluar dari rumah ini!” Tegasnya penuh emosi.


“Hah!” Teriak sambil membanting gelas yang ada di depannya.


Tanpa sepatah kata Vani memungut serpihan kaca yang berserakan di lantai. Hatinya hancur seperti serpihan itu,namun cinta dalam hatinya terus memberikan imun yang terus menguatkannya.


“Ouch!” Desisnya saat serpihan itu menggores jemarinya.


“Cuma goresan biasa,gak usah terlalu manja!” Kritik Bimbim yang memperhatikan dari jauh.


Mata Bimbim melirik ke arah tangan Vani yang luka. Namun segera berlalu dengan membanting keras pintu kamar.


“Brakkk!”


Dalam kesendirian Vani menitikkan air mata. Sedetik ia mengingat indahnya masa-masa saat mereka bersama,penuh cinta dan kasih sayang satu sama lain. Dan seketika itu pula harapan itu muncul.


“Hmmm… Aku yakin semua kepahitan ini akan segera berakhir dan dia akan kembali mencintaiku lagi.” Harapnya.


.


.


.


Di tengah malam yang sepi m,disaat semua orang tengah tertidur lelap berhiaskan mimpi. Vani dengan penuh kesabaran menunggu suaminya pulang hingga sesekali kepalanya terhentuk menahan kantuk yang menyelimuti.


Hening malam terpecah saat gagang pintu kamar diketuk. Sesaat kegelisahannya hilang,namun kekhawatiran menjemput. Lelaki yang ia tunggu tengah dipapah oleh satpam,masuk dengan badan lunglai,bau muntah dan alkohol.


“Hmm lagi!” Gumamnya.


“Letakkan saja disana!” Perintah Vani.


Dengan sigap satpam membaringkan tuannya itu di sofa lalu pergi.


Dibukanya kulkas,dikeluarkan beberapa balok es yang kemudian ia simpan di baskom. Matanya tajam menyorot ke Bimbim yang tengah terbaring lunglai.


“Eh! Kau! Sampai kapan aku harus terus melihatmu disini!” Ocehnya dengan nada tak jelas.


“Harusnya kau disana,di gubuk tua bersama ibumu itu! Kau tak pantas disini! Kau bukan siapa-siapa!” Tambahnya.


“Aku benci kau! Perempuan pembawa sial. Kau sudah … huek!” Cairan kuning berbau meluncur bebas dari mulut Bimbim dan mengakhiri ocehannya.


Tanpa sepatah kata Vani memapah tubuh lunglai suaminya itu,diseretnya ke kamar mandi dan didudukkan di ujung closed. Ia tak mempedulikan kalau ia tengah hamil,ia sangat geram dengan tingkah Bimbim yang makin hari makin menjadi-jadi.


Byur… byur… byur… Tubuh Bimbim pun basah kuyup dengan karena guyuran air bercampur es.


“Aahhh dingin! Dingin!” Teriak Bimbim sambil mengelak dari siraman air bercampur es batu yang telah Vani siapkan.

__ADS_1


“Apa! Masih mau lagi? Terus saja kau bertingkah seperti anak-anak!” Teriak Vani geram.


“Ahhh dingin,huuu dingin!” Teriak Bimbim tak karu-karuan.


“Kau pikir aku mau jadi istri dan punya anak di usia semuda ini,Hah? Aku juga punya cita-cita dan itu semua hancur karena kau!” Teriak Vani sambil terus menyiram air ke tubuh Bimbim.


Hanya teriakan kedinginan yang keluar dari mulut Bimbim.


Teriakan itu membangunkan seluruh penghuni rumah,mamah langsung masuk kedalam kamar dan menyaksikan apa yang tengah menantunya lakukan pada anak laki-lakinya. Namun ia hanya tersenyum simpul sambil terus memperhatikan kedua pasangan muda itu.


Siraman Vani terhenti saat suaminya berteriak “Iya! Ampun! Dingin!”


Dengan lantang Vani bertanya,”Besok masih mau mabuk-mabukan? Masih mau? Jawab!”


“Enggak! Ampun!” Teriak Bimbim sambil terus meringkuk di bawah kloset jongkok.


“Janji!” Bentak Vani.


“Iya janji!” Kata Bimbim terus memohon.


“Selama ini aku sudah sabar melihat kau selalu pulang malam dalam keadaan mabuk seperti ini!” Teriaknya.


“Ampun!” Mohon Bimbim.


“Ok! Tapi ingat kalau kau ulang lagi perbuatanmu ini,akan kusiram kau dengan es yang lebih banyak.” Tegas Vani puas.


Mamah tak menyangka akan ada orang yang berani memperlakukan Bimbim seperti ini. Selama ini di rumah Bimbim adalah penguasa bahkan mamah sekalipun tak dapat mengendalikannya. Dan sekarang apa yang tengah mamah saksikan merupakan sebuah fenomena langka.


Sambil tersenyum ia keluar kamar,hatinya puas melihat sudah ada yang mampu membuat anaknya memohon ampun.


.


.


.


Keesokan paginya Vani bangun dengan wajah sumringah mengingat senyum dan dukungan dari mertuanya.


Ia terus tersenyum sambil merapikan kasur lantai kecil dan sebuah selimut tebal yang hangat serta sepasang bantal guling,lalu menyelipkan benda itu di bawah dipan.


“Hah!” Teriak Bimbim terkejut saat mendapati ia terbaring tanpa busana dan hanya berbalut selimut tebal.


“Ini teh mu!” Kata Vani seraya menyodorkan teh hangat pada suaminya.


“Kau!” Ucapannya terpotong,tiba-tiba teringat kejadian semalam.


“Cepat minum tehnya sebelum dingin atau kau akan demam.” Tutur Vani.


Bimbim sangat kesal melihat Vani yang sangat terlihat congkak karena telah mengalahkannya semalam.

__ADS_1


“Ahhhh! Astaga! Kau mau membunuhku? Ini teh panas sekali!” Teriaknya.


“Kau bisa meniupnya dulu sebelum meneguknya bukan!” Tegas Vani sambil berlalu.


“Ahh!” Teriak Bimbim makin kesal.


.


.


.


Di atas sofa Vani menyandarkan tubuhnya,menghela nafas dalam seraya memejamkan matanya. Kembali ia tersadar dan memandang kecongkakan bimbim dari jauh sambil tersenyum simpul.


“Kelakuannya tak pernah berubah.” Gumamnya sambil menggelengkan kepala saat melihat suaminya tengah turun dari tempat tidur sambil melilitkan selimut yang ia pakai untuk menutupi tubuhnya. Namun karena berat ia tak dapat mengimbangi tubuhnya dan ambruk begitu saja.


Tawa kecil pun keluar dari bibir mungil Vani. “Konyol!” Gumam Vani.


“Apa liat-liat!” Teriak Bimbim dengan pandangan tajam saat sadar Vani tengah memperhatikannya.


Sedetik sambil senyum simpul Vani langsung melempar pandang pura-pura melihat ke arah lain.


“Ah handukku mana ya? Apa perlu aku panggil mbok untuk mengambilkannya?” Sindirnya.


“Atau! Nah ini lebih baik daripada repot!” Tambahnya sambil berjalan ke kamar mandi tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh atletisnya.


“Astaga! Dasar tak tau malu!” Teriak Vani sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya memerah,terasa tebal dan panas karena menahan malu.


“Bukannya semalam kau sudah menikmatinya?” Sindir Bimbim sambil melirik ke arah Vani.


“Ih siapa juga yang mau!” Jawab Vani sekenanya.


“Terus yang menelanjangi ku semalam siapa kalau bukan kau!” Katanya sambil menutup pintu kamar mandi.


“Astaga!” Keluh Vani.


.


.


.


Tok tok tok terdengar suara pintu kamar diketuk,rupanya si mbok datang membawakan sarapan ke kamar. Vani terperanjat dan memperbaiki posisi duduknya.


“Selamat pagi non,Duh wajahnya sumringah gini gak kayak hari biasanya. Gitu dong semangat.” Oceh mbok sambil menyajikan makanan di meja.


“Hahaha si Mbok bisa aja.” Celetuk Vani sekenanya.


“Huh dia gak tau aja adegan apa yang baru-baru aku saksikan!” Jerit kesal Vani dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2