
Sudah hampir sebulan Vani pergi kesekolah dengan berjalan kaki. Jarak antara sekolah dan rumah tidaklah dekat,setiap hari ia menempuh perjalanan sejauh 10 km,namun jika melewati jalan pintas perjalanan itu hanya ditempuh dengan jarak 6 km saja. Jadi bisa menghemat waktu dan tenaga. Melewati jalan pintas bukan berarti jalan itu mulus,ia harus menyeberangi sungai dan mendaki pendakian yang menanjak.
Vani sangat senang melewati jalan pintas ini, walaupun harus naik turun bukit namun setiap kali ia melintas,ia disuguhi dengan pemandangan kebun teh yang hijau dan asri. Dari kejauhan terlihat gunung yang indah,ia berdiri gagah bak perisai buat kampung ini.
Udara dingin dan embun pagi menjadi sahabat bagi Vani,tak tertinggal burung dan kupu-kupu turut menemani perjalanan gadis itu menuju ke sekolah. Ia selalu lupa dengan sekolah neraka itu jika ia melewati jalan pintas. Tak jarang ia pun bertemu dengan para pekerja di kebun teh. Sejak pagi mereka telah berada di sana,gelak tawa riang terdengar diantara mereka. Tak jarang dari mereka melempar senyum pada Vani,dengan ramah Vani membalas senyuman itu.
Vani tak merasa takut melewati jalan pintas karena banyak juga teman-teman sekolahnya lewat situ. Karena seringnya mereka bertemu, akhirnya ada beberapa dari mereka sedikit akrab dengan Vani,walau di sekolah mereka harus pura-pura tak kenal karena takut dengan Siska.
Siang ini,pulang dari sekolah Vani seperti ngos-ngosan. Udara yang biasa sejuk di jam-jam seperti ini berganti dengan panas yang menyengat kulit. Wajah Vani seperti terbakar karenanya. Raut wajah kusut dan baju kotor menjadi pandangan berbeda bagi kawanan burung dan kupu-kupu. Sepertinya mereka tau kegelisahan dan kesedihan Vani. Tak ada senyum terlihat dari wajahnya,yang ada hanyalah tangis yang tertahan. Ia sudah lelah menangisi setiap perbuatan Siska,ia benci dan geram dengan Siska.
Dari kejauhan tampak pandangan baru buatnya, terlihat Bimbim tengah berada di antara para pekerja,entah apa yang Bimbim lakukan disana. Mereka nampak akrab satu sama lain. Saat itu Vani sangat muak melihat wajah Bimbim,ia kesal dengan sikapnya terhadap teman-teman, sifatnya tak jauh beda dengan Siska,hanya saja Bimbim jarang merundungnya.
Vani terus melangkah,semakin Vani berjalan semakin dekat jaraknya dengan Bimbim. Jika ada jalan lain,Vani akan memilih jalan lain daripada harus melewati Bimbim.
"Woi badak! Ngapain lu dimari? Oh lu sekarang jalan kaki?" Tanya Bimbim sambil menghadang jalan Vani yang tengah berdiri di depannya
Vani tak berbicara apapun,ia hanya berusaha keluar dari hadangan Bimbim.
"Dih sombong amat!" Ejeknya lagi.
Dari jarak sedekat ini,wajah Bimbim terlihat sangat manis dengan gigi susul dan bibir tipis yang di hiasi kumis tipis di atasnya. Ia memakai baju dalam warna merah dengan baju sekolah sebagai rompinya,tampak khas gaya anak geng ternakal di sekolah. Wangi parfumnya sangat lembut tercium di hidung Vani. Dari jarak sedekat ini Vani bisa sedikit menilai pribadi Bimbim yang ternyata dia anak yang modis. Cowok ini sebenarnya ganteng hanya saja tak ada yang mau mendekat karena ia terlalu liar untuk ditaklukan. Gadis sekelas Siska pun tak mampu menaklukkannya,entah gadis seperti apa yang bisa membuatnya takluk.
"Woi!" Serunya.
"Lepasin gak! Aku mau pulang!" Seru Vani kesal.
"Dih galak!" Hahahaha. " Kenapa tuh baju? Dirundung lagi lu?" Tanyanya saat melihat noda buah naga pada baju Vani.
"Gak usah sok akrab,mau mu apa?" Tanya Vani emosi.
"Bisa santai gak! Lu tuh jadi perempuan harusnya jangan lemah biar gak ditindas mulu!" Seru Bimbim dengan nada tinggi.
"Liat tuh penampilanmu! Emang lu dasarnya gobl*k kali ya!" Tambahnya sambil memberi jalan pada Vani. Tak lupa ia melintangkan kakinya agar Vani jatuh.
Brukkkkk. Akhirnya gadis itu pun terjatuh,lututnya menghantam keras batu di jalan yang mengakibatkan robek pada bagian kiri dan lebam pada kaki kanannya. Kakinya gemetar saat mencoba bangkit.
"Aduh!" Teriak Vani kesakitan,air matanya menetes tangisnya pecah begitu saja. Pelan-pelan dia berusaha berdiri dan membersihkan lututnya.
"Kau! Tunjuk Vani.
Apa mau mu? Kenapa kau sangat membenciku? Salahku apa?" Jerit Vani membalikkan badannya kepada Bimbim.
Tangisnya semakin pecah,hatinya sangat terluka.
"Aku gak minta dilahirkan kayak badak! Aku juga ingin seperti yang lain! Cantik punya badan yang indah!" Tambahnya sambil terus menangis tersedu-sedu.
"Kenapa gak ada seorangpun yang bisa menerima aku disini? Kenapa? Apa aku begitu menjijikkan buat kalian?" Emosi Vani makin menjadi-jadi,semua yang ia rasakan di luapkan pada Bimbim yang berapa di depannya.
"Di sekolah dirundung Siska,sekarang kau pun ikut merundung ku! Ya Allah salahku apa?"
Wajah Bimbim seketika berubah,raut wajahnya menunjukkan ia sangat iba dengan Vani. Ia berusaha membantu Vani,namun Vani menolaknya.
Mendengar Vani menangis banyak pekerja yang melihat ke arah mereka. Wajah Bimbim memerah menahan malu. Bimbim berusaha membuat Vani diam namun Vani terus saja menangis.
"Udah Van,semua orang ngeliat ke sini tau" perintah Bimbim sedikit berbisik.
"Persetan dengan mereka!" Kata Vani membalikkan badan.
Dari belakang Bimbim menepuk bahu Vani "Sorry Van bukan gitu!" Katanya
Namun Vani yang tengah kesal tak memperdulikan ucapan Bimbim. Dengan penuh kekesalan Vani meninggalkannya. Susah payah ia berjalan,kakinya terasa perih saat dipakai melangkah.
__ADS_1
Bimbim yang merasa bersalah berusaha mengejar Vani dengan motornya.
"Van,sini gua antar pulang" katanya sambil mengejar Vani menggunakan motor matic warna merah miliknya.
"Gak usah! Aku mau jalan aja" jawab Vani singkat.
"Udah naik sini! Rumah lu masih jauh noh!" Bujuk Bimbim.
"Gpp!"
"Kalo lu gak mau naik gua ikutin sampai rumah!" Ancam Bimbim sambil mengikuti langkah Vani dari belakang.
"TERSERAH"
"Biasanya kalo luka kayak gitu di pake jalan, besoknya di amputasi" sindir Bimbim.
"Biarin!" Seru Vani ketakutan.
"Beneran ada temen gua gitu" tambah Bimbim sambil membuat Vani makin takut.
Lalu Vani berhenti, motor Bimbim pun ikut berhenti.
"Yaudah naik aja" ajak Bimbim.
Dengan terpaksa Vani naik di motor Bimbim,hatinya kesal dan marah pada Bimbim. Walaupun sebenarnya Vani tau kalau Bimbim sedang berbohong. Ia hanya sengaja berpura-pura takut agar luka pada kakinya tidak semakin perih saat dipakai jalan.
"Nah gitu dong! Dari tadi kek" seru Bimbim penuh semangat.
Kini mereka berdua menyusuri jalanan perkebunan yang indah dengan pemandangan kebun teh Yang sedang menghijau. Terik matahari sudah tak terlalu menyengat lagi,kini awan mulai menyatu membentuk gumpalan hitam diatas sana.
Dari atas motor Bimbim bertanya "rumah lu sebelah mana?"
"Terus aja,ntar ada lorong kecil sebelah kanan masuk aja rumah paling terakhir" jawab Vani cuek.
"Masuk dulu Bim" ajak Vani.
"Emang gapapa gitu?" Tanya Bimbim.
"Gapapa lah! Tapi maklumi aja rumahku kayak gini" jawab Vani sambil berjalan menuju ke rumah.
"Assalamualaikum,mah Vani pulang" kata Vani saat berada didepan rumah.
"Waalaikumsalam" seru mamah dari dapur.
Walaupun kecil,rumah ini sangat rapi, perabotan di tata rapi oleh mamah, terdapat di beberapa bunga plastik yang menghiasi dinding dan meja sudut diisi dengan bunga yang dipadu dengan pot klasik.
"Sini masuk" ajak Vani.
Tak lama mamah muncul dari dalam. "Eh ada temannya Vani,sini masuk nak." Kata mamah sambil mempersilahkan duduk. Nampak raut wajah penuh kegembiraan saat melihat Vani datang dengan temannya.
"Namanya siapa nak?" Tanya mamah ramah.
"Bimbim Tante" jawab Bimbim sedikit malu.
"Tinggal dimana?" Selidik mamah.
"Di desa sebelah Tante" jawab Bimbim.
"Teman sekelasnya Vani atau gimana?" Tanya mamah lagi.
"Iya Tante teman sekelas" jawab Bimbim.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya Vani punya teman di sekolah,mamah suka khawatir liat Vani pulang kadang murung. Sempat beberapa kali Tante bawa Vani ke psikolog,soalnya waktu itu Tante takut Vani depresi. Apalagi Vani anaknya manja dan gak bisa dikasari" kata mamah dengan penuh kekhawatiran.
"Mamah hus…!!!" seru Vani sambil mengisyaratkan mamah untuk diam.
"Hahahaha santai aja lah Ndut,eh Van!" Seru Bimbim keceplosan.
"Vani! Itu kenapa nak kakinya?" Seru mamah saat melihat kedua lutut Vani memar dan berdarah.
"Oh ini? Tadi Vani jatuh mah, tersandung batu pas lewat di jalan pintas. Untung ada Bimbim lewat dan mau mengantar" jawab Vani sambil matanya melirik ke arah Bimbim.
"Sini mamah obati dulu" kata mamah penuh kekhawatiran.
"Oya nak Bimbim mau minum apa?" Tanya mamah.
"Air putih aja Tante" jawab Bimbim.
"Ya udah Tante ambilkan dulu ya,pasti Bimbim haus,soalnya udara di luar lagi panas-panasnya" kata mamah sambil berjalan ke dapur.
Dengan wajah penuh bersalah Bimbim memandang Vani yang duduk berseberangan dengannya. Lalu tiba-tiba Bimbim berkata "Sorry ya Van,gua gak tau kalau nyokap lu bakal sekhawatir ini"
Vani tak menyangka Bimbim akan mengatakan hal itu. Ternyata dibalik sisi garangnya ia memiliki hati yang lembut.
"Santai aja ih,luka dikit juga kok. Hahaha" jawab Vani malu-malu.
Setelah beberapa lama berbincang dengan mamah dan Vani,Bimbim berpamitan untuk pulang. Vani mengantar Bimbim sampai depan pagar.
"Bim,makasih ya udah mau nganterin sampai rumah" kata Vani sebelum Bimbim pulang.
"Santai aja kali… Tapi gimana nih, dimaafin gak ni?" Tanya Bimbim.
"Sebelum kamu minta maaf udah aku maafin kali! Jawab Vani.
"Oh gitu,makasih ya Van. Ya udah gua cabut dulu ya" tambahnya.
Pelan-pelan motor Bimbim melaju,Vani terus melihatnya sampai motornya berlalu di ujung jalan.
Keesokan harinya Vani tiba lebih awal di sekolah karena hari ini ia ada jadwal piket membersihkan kelas. Sekolah masih sepi,hanya ada beberapa siswa yang datang dengan tujuan yang sama, membersihkan kelas.
Sambil menunggu teman piketnya datang,ia mulai mengelap meja dan mengumpulkan sampah di bawah meja dilanjutkan menyapu kelas. Jika ada siswa yang masuk ke kelas,tak ada diantara mereka teman piketnya. Namun Vani tak kaget,karena setiap minggunya memang ia harus piket sendiri.
"Huh…" keluh Vani sambil menyandarkan punggungnya di kursinya.
"Ya itung-itung lagi olahraga Van" kata Lucky yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
"Eh kamu luck! Bikin kaget aja!" Seru Vani. "Tumben datang cepet" tambahnya.
"Eh dah turun berapa kilo Minggu ini?" Tanya Lucky.
"Lumayan 10 kg Luck"
"Oya! Keren! Semangat Vani" kata Lucky menyemangati Vani.
Kedatangan Lucky sebagai perisai buat Vani ternyata tak membuat siska berhenti merundungnya. Bahkan Siska makin semangat merundung Vani. Ia tak peduli jika Lucky akan datang untuk membela Vani.
Dari ujung pintu Vani melihat Bimbim masuk kelas,saat mata mereka bertemu dalam satu pandangan,dengan tiba-tiba Bimbim melempar pandangan seolah-olah ia telah melupakan kejadian kemarin.
Tiba-tiba dada Vani terasa sesak Melihat sikap Bimbim. Lalu dia bergumam "Seandainya aku kurus dan cantik,pasti semua anak-anak di sekolah ini mau berteman denganku, termasuk Bimbim.
"Ah enggak kok! Aku tetep mau temenan ma kamu!" Kata Lucky mengagetkan Vani.
"Ih nguping ya!" Seru Vani sambil mencubit pinggang Lucky.
__ADS_1
"Hih sakit tau!" Kata Lucky membalas cubitan Vani.