The Metamorfosa Of Vani

The Metamorfosa Of Vani
Siska Anastasia & Bimbim


__ADS_3

Menjadi siswi tercantik dan merupakan anak pemilik kebun Teh terluas di desa, menjadikan Siska gadis yang culas dan suka merundung siswa yang lemah. Ia kerap memerintahkan siswa lain untuk melakukan hal yang sebenarnya bisa ia lakukan sendiri,seperti mengikat tali sepatu misalnya, menyisir rambutnya atau mengipasi dirinya saat ia merasa gerah. Ia bahkan tak segan-segan memaki siswa tersebut jika yang ia perintahkan tak sesuai dengan keinginannya.


Sebenarnya Siska memiliki wajah yang standar namun ia sendiri telah menobatkan dirinya sebagai yang tercantik dan terbaik di sekolah dan ia sangat marah jika ada siswa yang mengikuti gayanya atau terlihat lebih cantik dari dirinya.


Seperti kejadian pagi ini,didepan kelas Siska tengah naik darah saat melihat ada siswa yang memakai jepit rambut mirip seperti yang ia miliki.


Eh...Sini…sini…sini… Apaan ini? Kenapa kamu pake jepit rambut seperti punyaku!" Bentaknya saat melihat ada yang menggunakan aksesoris seperti punyanya. Jepit rambut warna merah itu sangat indah menghiasi rambut lurus gadis itu,membuat wajahnya makin terlihat manis,namun itu membuat Siska geram.


Dengan gemetar siswa itu mengatakan bahwa itu adalah pemberian dari kakaknya yang kerja di kota. "Ini di kasi kakak aku Sis. A..a.. ku gak tau kalau kamu juga punya!"


"Lepas! Lepas! Katanya kasar sambil menarik jepit yang melekat di rambut siswa itu. Gadis itu berusaha mempertahankan jepitannya dari tarikan Siska,namun itu sia-sia,jepitan itu telah terlepas dari rambutnya dan kini hancur diinjak oleh Siska. "Jangan sampai aku liat kamu pakai pita ini lagi! Paham!"


Siswi itu hanya bisa menangis tersedu-sedu melihat jepitan pemberian kakaknya di rusak oleh Siska.


Jika siska adalah anak pemilik kebun teh terluas di desa,lain cerita dengan Bimbim si anak pemilik perusahaan teh di desa. Dengan kekayaannya ia menjadi sombong dan merasa paling hebat sehingga semua anak di sekolah harus takluk dan tunduk padanya. Bahkan guru pun hanya mampu geleng-geleng kepala saat melihat Bimbim melakukan kesalahan,pasalnya sebagian besar saham sekolah adalah milik orangtuanya.


Namun Bimbim beda dengan siska,dibalik sikap sombongnya Bimbim selalu membantu teman-teman yang mengalami kesusahan seperti pernah saat ada salah satu temannya tidak mampu membayar SPP sekolah dengan senang hati ia membantunya. "Nunggak kenapa?" Tanya Bimbim.


"Papah ku belum terima upah buruh,jadi aku belum bisa bayar,ibuku juga lagi sakit." Bimbim tau benar keadaan perekonomian keluarganya,karena ia sering membantu ayahnya untuk membagikan sedekah kepada tetangga sekitar perkebunan, walaupun hanya sebagai sopir.


"Ya udah ntar aku yang urus kamu masuk sekolah aja" kata Bimbim sambil menepuk pundak temannya itu.


"Makasih Bim"


"Apaan Bim Bim,panggil boss dong!" Kata Bimbim.


Lalu sambil memberi hormat ia pun berteriak "Terimakasih bos"


Senyum pun merekah dari bibir mereka.


Di sekolah kedua geng ini adalah geng terkuat dan mereka sering menindas anak-anak yang lemah termasuk Vani. Hingga Vani yang dulunya anak periang,menjadi anak yang pendiam dan tertutup.


Pagi ini tepat seminggu Vani bersekolah di sekolah barunya. Perasaannya sangat canggung dan terbalut rasa takut serta minder. "Hmmm harus rileks" gumamnya saat memasuki pintu gerbang sekolah.


"Hai Ndut" sapa salah seorang siswa.


Vani hanya tersenyum kecil saja. "Ndat Ndut ndat ndut. Ya emang aku gendut terus kenapa kalau aku gendut" gerutunya dengan nada lirih sambil terus berjalan menuju kelasnya.


"Pagi dak badak" sapa siswa laki-laki lainnya. Vani hanya cuek,walau hatinya meronta dan geram ingin mencekik siswa itu." Seandainya aku masih di sekolah lamaku gak mungkin kalian bisa ngatain aku kayak gini" keluhnya dalam hati.


Saat mendekati kelasnya Vani sangat deg degan hatinya seperti bergejolak,ia takut kalau-kalau ada yang menghinanya lagi seperti waktu itu. Ia terus berjalan melewati teras kelas,dan berhenti di depan kelas XI D IPS. Di sekolah ini semua siswa baru langsung dimasukkan ke IPS,entah apa alasannya tapi peraturan tetaplah peraturan.


"Vani buruan sini masuk!" teriak Siska dari balik jendela kelas. Vani sangat senang ketika mendengar panggilan dari Siska yang notabene kerap merundungnya. Dengan senyum sumringah Vani masuk ke dalam kelas. Saat Vani ingin membuka pintu yang setengah terbuka Vani langsung teriak karena ada yang mendorongnya,lalu air pun menyiram orang yang mendorongnya itu dan ternyata Bimbim telah basah kuyup,tubuhnya basah kuyup karena terisram air yang disimpan dalam ember dan di letakkan diatas pintu. Rupanya Siska ingin ngerjain Vani namun salah sasaran.

__ADS_1


"Sialan! Berani-beraninya!" Teriak Bimbim.


"Maaf Bim, sebenarnya aku mau ngerjain Vani tapi kena di kamu deh" kata Siska dengan nada memanja. Siska memang menyukai Bimbim namun Bimbim tidak menyukai Siksa,karena sifat Siska yang memiliki perangai tak baik.


"Maaf… maaf… Apaan minta maaf! Dahlah aku mau pulang aja! Hah" Teriak Bimbim sambil meninggalkan Siska.


"Bimbim" panggil Siska dengan nada manja namun Bimbim tak memperdulikan dan pergi begitu saja.


"Apa liat-liat" sergah Bimbim saat melewati Vani.


Vani langsung menundukkan pandangannya karena ia sangat takut dengan Bimbim. Ketakutan Vani terhadap Bimbim tak seberapa dibandingkan saat ia melihat Siska yang memandangnya dengan sorot mata penuh kebencian. "Kamu! Tunggu nanti bagianmu!" Bentaknya sambil menunjuk ke arah Vani. "Oya pel semua ini sampai bersih dan kering!" Tambahnya penuh kemarahan sambil kembali ke bangkunya.


"Ba..ba..baik Siska" kata Vani terbata-bata.


Vani yang merasa kesal pun bergumam "Aaarrrrggghhhhhh kapan aku bisa mencabik-cabik rambutnya dan mencoret-coret wajahnya Tuhan!!" Teriak Vani dalam hati. Vani sangat kesal dengan sikap Siska yang keterlaluan itu. Rasanya ia tak tahan bersekolah di sekolah neraka ini.


Saat jam istirahat Vani tak berani keluar kelas,ia takut kalau-kalau nanti Siska menyiksanya lagi. "Ahh lebih baik aku tetap di kelas" gumamnya. Ia tetap duduk di bangkunya yang berada di sudut paling belakang. Wajahnya sumringah saat ia mengeluarkan bekalnya dari dalam tas. Tempat bekalnya berbentuk kotak dan bersusun tiga,susunan pertama di isi dengan nasi, sedangkan susunan kedua dan ketiga di isi dengan sayur dan lauk pauk. Hari ini mamah mengisi kotak bekal warna biru itu dengan sayur kangkung yang di petik dari kebun belakang rumah,mamah membuat cah kangkung dan memberikan beberapa potong tempe dan telur dadar sebagai lauknya. Vani tak puas jika ia hanya memakan satu butir telur,maka mamah mengisi dengan 3 telur dadar di dalam kotak makannya itu. Raut wajah Vani sendikit masam saat melihat menu yang ia bawa,pasalnya Vani tak suka memakan sayur namun mamah malah memberikan sayur. Vani sangat suka makan mie instan sangking gemarnya makan mie,ia harus makan dua bungkus plus telur dua bungkus ditambah nasi satu piring. Jadi sudah tak heran jika badan Vani makin membengkak tiap harinya.


"Bismillahirrahmanirrahim,mari makan" gumam Vani. Walaupun bukan makanan kesukaannya tapi kali ini masakan mamah sangat enak. Vani sangat menikmati makanannya hari ini. Entah dari mana datangnya tiba-tiba Siska ada di samping Vani,ia tengah menertawakan Vani yang membawa bekal ke sekolah.


"Wih apaan ini! Hahahaha,Badak bawa bekal kesekolah" serunya. Teman-temannya pun tertawa. Vani sangat kangen dan sedikit geram,dia tak memperdulikan omongan Siska,yang penting ia kenyang. Namun perbuatan Vani itu membuat Siska geram,ia merasa apa yang dilakukan Vani adalah bentuk perlawanan terhadapnya.


"Heh Badak,kamu gak dengar aku ngomong apa? Hah!" Sergah Siska sambil mengambil kotak makan Vani dan menuangkan sayur kangkung di kepala Vani.


Sontak Vani langsung terkejut dan berkata "Aku salah apa? Kenapa kau selalu rundung ku?".


"Plis Sis,udah dia lagi makan,gak baik marah-marah depan makanan" terdengar dengan lembut suara laki-laki sedang menghentikan Siska.


"Apa Lo! Jangan ikut campur!" Teriak Siska.


"Sudahlah Siska,apa kamu gak kasian sama dia?" Terdengar suara laki-laki itu terus membujuk Siska untuk menyudahi perbuatannya.


Sambil menunjuk ke arah Vani ia berkata "Heh! Hari ini lagi baik! Tapi tunggu permainan selanjutnya. Badak miskin!" Teriaknya sambil berlalu.


Laki-laki itu berdiri tepat di samping meja Vani,dia tinggi, badannya proporsional,putih. Rambutnya tersisir rapi dengan belah pada bagian tengah,bagian tepinya di sedikit di tipiskan agar terlihat modis seperti layaknya boyband Korea. Aku baru pertama melihat ia di sekolah ini. "Kamu gak papa kan?" Kenalkan aku Lucky" sapa ramah laki-laki itu. "Maafkan sikap Siska yang seperti itu ya?" Ujarnya lagi. "Dia dari kecil memang sangat di manja oleh papah dan mamahnya,apa yang dia mau harus ada dan pasti ada. Dia anak tunggal dan tidak punya saudara,dirumah dia hanya di temani dengan asisten pribadi yang dari kecil merawatnya. Papahnya sibuk mengurus perkebunan sementara mamahnya sibuk dengan butiknya. Siska sebenarnya hanya butuh perhatian aja." Tambahnya.


Vani sangat terpesona dengan Lucky ia ganteng dan baik,cara bicaranya yang sopan,lemah lembut dan senyumnya membuat hati meleleh.


"I..iya kak"


"Ih Kenapa panggil kakak sih? Kita kan sekelas" jawabnya. "Aku duduk tepat di bangku sebelahmu itu"


"Jadi ini bukan bangku kosong?" Tanya Vani heran.

__ADS_1


"Ya bukanlah,aku seminggu ini sedang keluar kota jadi gak bisa masuk sekolah." Kata Lucky sambil mengambil tisu dan membersihkan tumpahan makanan di kepala Vani. "Sepertinya ini harus di cuci pakai air deh"


"I…iya Lucky aku ke toilet dulu ya" kata Vani sambil berdiri dan pergi ke toilet.


Ternyata tak semua siswa di sekolah ini jahat,masih ada yang baik seperti Lucky. Vani sangat suka dengan Lucky yang sabar dan baik,tutur katanya lembut. Lucky anak yang dewasa serta penyanyang. Siang malam Vani memikirkan kebaikan Lucky. Makin hari Lucky dan Vani makin dekat dan sekarang menjadi sahabat. Melihat kedekatan mereka berdua,Siska mulai geram lalu mendatangi Vani yang tengah duduk sendirian di depan kelas.


"Woiii Badak! Ngapai lu cengengas cengenges sendiri disini! Jatuh cinta lu sama Lucky?"


Vani hanya diam dan menundukkan wajahnya.


"Bisu lu!"


Vani tetap diam,matanya berkaca-kaca.


"Ngomong woiii!" Bentak Siska sambil menarik rambut Vani.


"Aaa aaa sakit Sis,lepasin!" seru Vani menahan sakit.


Siska melepaskan jambakannya sambil berkata "Lu budeg apa,gua tanya diem aja! Woi ngaca kalau mau suka sama Lucky! Lu itu siapa! Sudah gendut kayak badak! Hitam! Rambut lepek! Bau! Keramas sana! Iyuhhh lu bukan level dia tau!"


Vani tak mampu menjawab sepatah kata pun,ia hanya bisa menangisi keadaannya yang sangat buruk itu. 'Semua yang di katakan Siska benar,lebih baik aku tak berteman dengan Lucky agar tak terjadi kesalahpahaman diantara kami" kata Vani dalam hati.


"Seandainya aku kurus,cantik,putih dan rambutku gak lepek,apa mungkin Lucky mau dengan ku?" Gumamnya sambil tersenyum.


"Aaaahhhh gak mungkin!" Katanya lagi menyakinkan dirinya.


Vani berpikir dirinya adalah makhluk terburuk di dunia ini. Ia berpikir dengan badan raksasanya itu pastilah tidak ada yang mau dengannya. Sepanjang pelajaran ia hanya terdiam.


"Lu sakit Van?" Bisik Lucky di sela-sela guru menjelaskan materi.


"Enggak!" Jawab Vani singkat.


"Terus kok lu diem aja?" Bisiknya lagi.


"Sstttt diem guru lagi menerangkan!" Perintah Vani sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir.


"It's Ok!" Bisik Lucky.


Lalu Lucky membuat catatan kecil di kertas.


(Lu kenapa weh? Diem aja?)


Vani membalasnya (Gpp aku konsen sama pelajaran)

__ADS_1


Dalam hati kecil Vani menjadi enggan dekat dengan Lucky,ia takut memiliki rasa lebih dari sekedar teman. Walau tak bisa di pungkiri semenjak berkenalan dengan Lucky bulan lalu,Vani sangat menyukai sosoknya. Hatinya selalu berdebar kencang saat berdekatan dengan Lucky. Namun dengan keadaannya yang seperti ini pastilah Lucky tak mungkin bisa menyukainya.


Jam pelajaran pun usai,tanpa sepatah kata Vani langsung membereskan buku-bukunya dan bergegas pulang


__ADS_2