The Metamorfosa Of Vani

The Metamorfosa Of Vani
Semalam bersamanya


__ADS_3

“Darimana sih? Kok baru muncul?” Bisik Lucy saat melihat Vani tiba-tiba berdiri di sampingnya yang tengah asyik bernyanyi bersama yang lain.


Vani hanya menjawab dengan senyuman. Lucy pun mulai curiga saat melihat sahabatnya bersikap tak seperti biasanya. “Gak habis ngapa-ngapain kan?” Selidik Lucy. “Ingat jangan aneh-aneh semua ada batasnya dan indah pada waktunya.” Imbuhnya Lucy mengingatkan sahabatnya.


“Iya aman kok. Gak sampai macem-macem aku tuh!” Jawab Vani meyakinkan sahabatnya.


Lucy memandang sahabatnya itu dalam-dalam,ia takut kalau lah Vani sampai terjerumus ke jalan yang salah.


“Jangan liatin aku kayak gitu ah! Ngeri tau!” Canda Vani yang gugup dipandangi oleh Lucy. Ia paham betul sifat sahabatnya,ia juga tau jika saat ini sahabatnya itu sedang mengkhawatirkannya.


“Enggak kok! Aku yakin kamu pasti bisa jaga dirimu dengan baik.” Ucap Lucy serius.


“Udah jangan khawatir gitu ah!” Kata Vani sambil merangkul sahabatnya dan menangkannya.


.


.


.


Malam ini,langit sangat cerah,bulan bersinar terang ditemani bintang sebagai perisainya. Mereka bersinar di zona masing-masing,membentuk gugusan rasi bintang yang kian elok dipandang.


Dibawah sinar rembulan dan ditemani deburan ombak pantai,Vani dan Bimbim menghabiskan waktu berdua di pinggir pantai. Suasana yang dingin mengharuskan mereka saling merapat duduk.


Dua remaja yang tengah dimabuk asmara itu tampaknya sedang menghabiskan waktu bersama sebelum mereka harus berpisah lama.


“Yank kesana yok!” Tunjuk Bimbim ke arah bebatuan besar.


“Gelap! Takut” jawab Vani.


“Gapapa tapi seru tau!” Ajak Bimbim sambil menarik tangan kekasihnya.


Dengan gelak tawa dan riang gembira mereka berlari ke arah bebatuan besar yang dimaksud Bimbim. Batu itu berjejer bertingkat tiga,banyak fotografer yang sering datang untuk mengabadikan foto disini saat pagi terbit matahari atau senja saat terbenamnya matahari.


Di tengah kegelapan malam,di antara deburan ombak pantai dua insan yang dimabuk asmara itu melewatkan malam bersama,memadu kasih dan melepaskan segala hasrat.


“Jangan! Aku belum siap!” Rengek Vani.


“Aku bakal tanggung jawab sayang,aku bakal bilang ke orang tuaku untuk melamar mu!” Kata Bimbim meyakinkan Vani.


“Percayalah!” Tegasnya.


Sejenak gadis itu terdiam lalu mengiyakan permintaan Bimbim. Pelukan,kecupan dan belaian tengah dirasakan Vani. Jantungnya dihujam rasa yang tak pernah ia rasakan berselimut rasa bersalah. Bayangan orang tuanya menari-nari di benaknya. Saat ia melihat senyum papah,seketika ia terperanjat dan mengakhiri setiap sentuhan.


“STOP! Aku tak bisa!” Tegas Vani.


“Ayolah yank! Apalagi?” Rayu Bimbim. “Aku tanggungjawab kok. Tenang aja!” Tambahnya


“Aku masih ingin kuliah,aku masih ingin menggapai cita-citaku!” Rintih Vani penuh penyesalan. Setitik air mata keluar dari pelupuk matanya.

__ADS_1


“Aku tak kan mengecewakan mamah dan papahku!” Tangisnya.


Kekecewaan Bimbim berubah menjadi iba saat melihat tangis Wanita yang ia cintai pecah dalam pelukannya. Rasa bersalah ikut menyelimuti hatinya jika benar hal yang terlarang itu terjadi.


“Ya udah perbaiki pakaianmu dan kembali ke Villa” ajak Bimbim. Suaranya terdengar parau.


“Gapapa kan?” Tanya Vani. “Kamu gak kan ninggalin aku kan?” Tambahnya.


“Enggak kok sayang,maafkan aku ya! Hampir saja aku menghancurkan masa depanmu” Suara Bimbim terdengar makin parau,sedetik yang lalu Bimbim seperti menelan bola yang kini mengganjal di tenggorokannya.


Setitik air mata jatuh di pipi remaja pria itu,dengan penuh penyesalan ia memeluk kekasihnya yang sedari tadi berlinang air mata.


“Ya udah hapus air matamu dan kita berbaur dengan yang lain ya.” Ajaknya seraya menggandeng tangan kekasihnya.


Vani hanya menjawab ajakannya dengan anggukan.


.


.


.


Dentum suara musik terdengar sangat keras. Muda mudi tengah asyik berjoget ria bersama,menghabiskan malam. Sebagian dari mereka berada disisi kanan untuk membakar BBQ. Sebagian lagi menyiapkan makan malam.


“Vani! Sini!” Bisik Vani sambil menyeret sahabatnya ke samping bangunan agar tak terlihat teman yang lain.


“Apaan sih!” Tanya Vani heran.


Langsung Vani membersihkan lipstiknya dengan tisu yang di bawa Lucy. “Udah belum?” Tanya Vani.


“Ih belum!” Jawab Lucy sambil menyabet tisu di tangan Vani dan membersihkan bibirnya.


“Dari Mana aja sih! Dan ngapain aja? Bandel amat!” Oceh Lucy.


“Maaf!” Ucap Vani lirih.


“Apa? Maaf? Kau suka aneh-aneh sih! Kau gak macam-macam kan!” Tanya Lucy.


“Hampir!” Jawab Vani.


“Astaga Vani!” Kata Lucy sambil memukul pundak sahabatnya. “Aku udah bilang jangan nekad!” Tambahnya.


“Masih hampir! Lagian dia juga mau tanggung jawab kok!” Sanggah Vani.


“Laki-laki itu pasti ngomong gitu,kalo dah diambil keperawananmu terus dia pergi ke luar negeri gimana?” Tanya Lucy geram.


“Dia bakal nungguin aku dan aku kan setia padanya!” Sanggahnya lagi.


“Tapi kalau nyatanya ia pulang dengan kekasih barunya gimana?” Tanya Lucy.

__ADS_1


Vani langsung tertunduk malu dan memeluk sahabatnya. Bulir air mata kembali menetes. Dengan suara Terisak ia berkata “aku hanya sayang padanya”


“Iya sudah ya! Maaf kalau aku cerewetin kamu. Kalau dia serius mending kalian nikah aja,terus kamu ikut ke Luar negeri.” Usul Lucy.


“Hmmm nanti aku bilang ke dia” jawab Vani ragu.


“Ya udah ngumpul yuk” ajak Lucy mencairkan suasana.


Suasana pesta yang meriah,membawa mereka terhanyut dalam suasana yang indah. Keringat bercucuran saat mereka bergoyang mengikuti irama musik. Semakin malam pesta semakin meriah hingga jelang subuh mereka baru berhamburan mencari tempat tidur mereka. Ada yang kembali ke kamar dan ada yang berhamburan tidur di lantai dan sofa.


“Yank sini.” Ajak Bimbim sambil menuntun masuk ke kamarnya.


“Tidur disini aja,temenin aku! Aku takut tidur sendiri.” Kata Bimbim.


“Lucky mana?” Bisik Vani.


“Terakhir aku liat sama Siska tapi gak tau lagi setelah itu.” Jawab Bimbim sambil membaringkan badannya di kasur.


“Sini yank!” Ajak Bimbim.


Vani tak menjawab apa-apa hanya langsung berbaring di samping kekasihnya. Jantungnya kembali berdetak kencang,iramanya mulai tak beraturan saat Bimbim memeluk serta membelai setiap jengkal tubuhnya.


Nafas mulai tak beraturan saat satu persatu pakaiannya dilucuti. “No!” Bisik Vani.


“Tenang semua akan baik-baik saja!” Bujuk Bimbim.


Mereka Pun larut dalam dunia mereka,kehormatan yang seharusnya dijaga kini telah ternoda. Gadis itu telah melepaskan mahkotanya lalu memberikannya pada kekasih hatinya.


.


.


.


Setelah semalam puas berpesta ria. Saatnya mereka bersiap-siap pulang. Seketika Vani lompat dari tidurnya saat mendengar pintu kamar diketuk. Tak tau harus berbuat apa,ia panik hingga dengan kerasnya dia mengguncang-guncang tubuh Bimbim yang masih tertidur pulas.


Tok tok tok… (bunyi suara pintu diketuk)


“Yank bangun! Ada orang!” Bisik Vani.


“Emmm apa sih yank!” Kata Bimbim sambil menggeliat.


“Ada orang mau masuk!” Jawab Vani panik.


“Ya udah dibuka aja!” Katanya setengah sadar.


“Ihh! Kamu yang buka cepat!” Perintah Vani.


“Biarin aja ntar pergi sendiri.”

__ADS_1


Benar saja tak berselang lama,suara itu pergi. Vani langsung berdiri dan mengambil handuk yang tergantung di dinding,ia menutupi tubuhnya dengan handuk itu dan mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.


Setitik air mulai membasahi pelupuk matanya kala ia melihat noda bercak darah di seprei hotel yang berwarna putih.


__ADS_2