The Metamorfosa Of Vani

The Metamorfosa Of Vani
Pelukan Hangat


__ADS_3

Di ruang UKS,Vani menceritakan semua kejadian yang telah ia alami. Lucy yang geram,tak henti-hentinya mengomel. Sambil terus mengomel ia menyeka wajah sahabatnya yang lebam karena tamparan dari Siska.


Terlihat butiran air keluar dari pelupuk matanya. Tangis Lucy tak dapat terbendung lagi dengan penuh emosional ia memeluk sahabatnya itu,”maaf aku gak bisa tolong kamu,aku gak bisa jaga kamu.” Katanya sambil terisak-isak.


“Gapapa aku dah terbiasa,aku kuat dan aku mampu.” kata Vani. Suaranya terdengar parau,ia menahan agar sebisa mungkin tak menangis di depan sahabatnya itu,namun ia tak mampu. Air matanya tetap keluar. Air mata itu seolah menjadi saksi betapa kedua gadis itu saling menyayangi satu sama lain.


“Aghhh…!!! Ini gak bisa didiemin lagi!!!” Kata Lucky sambil keluar ruangan.


“Luck mau kemana?” Teriak Vani namun ditahan sama Lucy.


“Biarkan aja Van,sekali-kali dia harus dapat pelajaran!” Ujar Lucy dengan penuh emosi.


.


.


.


Di tempat lain.


“Harus dengan cara apalagi gue harus peringatin elu Sis! Gue udah bilang jangan ganggu Vani!” Kata Bimbim.


“Emang kenapa? Elu suka sama badak itu? Heh rendah banget selera lu Bim!” Seru Siska.


“Lu gak tau dia seperti apa! Dan lu gak tau bagaimana khawatirnya orang tuanya karena ulahmu!”


“Oh jadi sekarang lu peduli! Bukannya lu dulu gak suka sama dia! Bahkan lu juga ikut merundung dia kan! Terus sekarang kenapa?” Bantah Siska.


“Persetan dengan lu! Terlalu banyak bicaramu!”


Dari kejauhan Lucky melihat Siska dan Bimbim sedang bersama,ia berlari ke arah mereka. Tanpa basa basi ia berkata “oh! Jadi ini ulah kalian? Gue gak nyangka! Ternyata kalian kerjasama untuk merundung Vani?”


“Gak usah banyak bac*t kalau gak tau apa-apa!” Kata Bimbim sambil berlalu.


“Oh jadi sekarang ada dua pangeran yang lagi ngrebutin si Badak berculah itu ya? Heh aneh!” Kata Siska sambil meninggalkan Lucky.


Lucky yang tak tau apa-apa jadi bingung dengan keadaan yang sedang terjadi.


.


.


.


Dengan hati-hati Vani berjalan masuk kelas di temani oleh Lucy,menuju bangkunya.

__ADS_1


Melihat Vani kembali ke kelas, membuat Siska geram dan mendatangi kedua gadis itu. Tamparan keras mendarat di pipi Lucy. Celaan dan makian mereka dapatkan.


Rasanya Vani sudah tak kuat lagi bersekolah di tempat ini. Ini bukanlah sekolah melainkan neraka. Terlebih lagi ia sangat kesal saat Lucy pun imun mendapatkan rundungan karena berteman dengannya. Rasanya semua orang yang berteman dengannya menjadi musuh bagi Siska.


“Maafkan aku Lucy,karena aku kau pun kini dirundung olehnya.” Kata Vani penuh kesedihan.


“Aku rela berkorban apapun buat kau,yang penting jangan pernah jauh dari aku,sahabatku. Kalau bukan denganmu lalu dengan siapa aku berteman? Kita sama Van,sama-sama membutuhkan satu sama lain.” Ujar Lucy.


“Kau sudah seperti saudara perempuanku Van,kau selalu ada dalam suka dan sedihku.” Tambahnya.


Sambil menahan tangis mereka pun duduk di bangku masing-masing. Semenjak dekat dengan Lucy,Vani memilih sebangku dengannya agar bisa bertukar pikiran dan saling diskusi tentang pelajaran.


“Ingat Van,Tuhan tak akan menguji makhluk-Nya melebihi batas kemampuan makhluk itu.” Kata Lucy menguatkan dirinya dan sahabatnya itu.


“I know bebs. Makasih selalu ada buatku.” Dengan penuh kasih sayang ia memeluk sahabatnya itu.


.


.


.


“Siska! Kau sangat keterlaluan!” Terdengar suara Lucky yang sedang memarahi Siska di depan kelas.


Suasana kelas jadi kacau dan gaduh. Semua murid berhimpit-himpitan agar bisa menyaksikan pertengkaran mereka dari jendela kelas.


Dengan santainya Siska berkata “Terus apa hubungannya denganku?”


“Pakai hatimu Siska! Kau ini dari keluarga terhormat,tak sepatutnya kau berperilaku seperti ini!” Ujar Lucky.


“Kau juga dari keluarga terhormat dan terpandang,gak sepantasnya kau bergaul dengan para gembel seperti mereka!” Balas Siska.


“Dimataku semua sama! Tidak ada yang berbeda! Aku tak pernah memandang kasta,selama mereka baik kepadaku aku akan balas kebaikan mereka.” Jelas Lucky.


“Dua pangeran dari keluarga terhormat punya selera rendah! Awas kau akan ku laporkan pada papah ku!” Ancam Siska.


“Silahkan! Tapi jangan salahkan aku,kalau papahmu tau tentang ini semua.” Balas Lucky.


“TERSERAH!” Teriak Siska sambil berlari ke dalam kelas.


Ia langsung menuju tempat duduknya,tak ada sepatah kata yang ia keluarkan. Jari lentik ya perlahan membuka tasnya dan mengeluarkan selembar tisu putih dan menyeka air matanya. Ini kali pertamanya Vani melihat Siska menangis,tampak dari raut wajahnya menyimpan berjuta kekesalan.


Dari kejauhan,teman-teman Siska tampak bingung. Mereka panik melihat sang ketua geng menangis. Siska yang mereka kenal kuat kini menjadi lemah karena ulah Lucky. Namun mereka hanya bawahan,mereka tak dapat berbuat apa-apa selain menghibur sang ketua.


.

__ADS_1


.


.


Sementara itu,Lucky datang menemui kedua sahabatnya yang sedang duduk di bangku paling belakang.


Dengan penuh kecemasan ia bertanya “ kalian Gapapa kan?”


“Gak kok,kami baik-baik saja” jawab Vani.


“Terus kamu gimana Lus? Sakit?” Tanya Lucky


“Aku juga baik-baik saja” jawabnya.


“Syukurlah kalau begitu.” Kata Lucky penuh kecemasan sambil memeluk kedua sahabatnya itu.


Lalu serempak teman sekelasnya berteriak “CIEEE…” suit suit!”


Dari kejauhan Bimbim tersenyum dan ikut merasa senang karena melihat Vani sudah memiliki pelindung.


.


.


.


Hari yang panjang sudah Vani lewati. Sepulang sekolah dan setelah berganti pakaian,ia mencari mamah yang sedang berada di kebun belakang rumah.


Mamah tampak sedang asyik dengan pekerjaan yang sedang ia lakukan. Dengan berbekal cangkul kecil dan sebuah bangku kecil,ia duduk dibawah terik matahari. Rupanya ia sedang membersihkan rumput yang sudah mulai rimbun dan meninggi.


“Mah,apa mamah ada uang?” Tanya Vani saat berada di dekat mamah.


“Uang untuk apa nak?” Jawab mamah sambil terus mencabuti rumput.


“Vani rindu sama dokter Rin mah.” Ujar Vani lirih.


Perasaan mamah langsung tak enak,ia pun menghentikan pekerjaannya dan berkata “Apa yang terjadi padamu! Kenapa pipimu?”


Raut wajah mamah seketika langsung pucat dan penuh kekhawatiran. “Apa ia melakukannya lagi?” Tanya mamah.


Vani hanya dapat menunduk,ia tak kuasa melihat wajah mamah yang berlinang air mata.


“Tenang saja nak,mamah ada uang kok. Nanti kita ketemu dokter Rin ya,mamah telpon dulu biar dibuatkan jadwal. Kamu gak usah khawatir.”kata mamah.


“Dah,kau harus kuat ya! Anak mamah pasti kuat. Kau harus terus berdoa agar papahmu lekas ada kabar disana,bisa segera pulang dan membawa kita pergi dari tempat ini ya.” Tambah mamah.

__ADS_1


Vani tak dapat menjawab apa-apa ia hanya bisa menganggukkan kepalanya.


__ADS_2