The Metamorfosa Of Vani

The Metamorfosa Of Vani
Libur Panjang


__ADS_3

Setelah ujian semester selesai,kini tiba saat yang dinanti-nanti oleh para siswa. Libur telah di depan mata,mereka semua tengah bergumul menceritakan liburan kemana dan dengan siapa.


Seperti Siska,liburan kali ini akan ia habiskan bersama keluarga di pulau Dewata Bali. Wow Bali! Siapa yang tak takjub dengan pulau itu,pulau yang indah dengan sejuta destinasi. Pantainya yang indah serta adat istiadat yang unik dan dijunjung tinggi,membuat pulau ini sangat terkenal sampai mancanegara.


Jika libur akhir semester biasa orang-orang pergi liburan, lain dengan Vani,ia harus terus fokus untuk menurunkan Berat badan agar mendapatkan berat yang ideal. Rasanya 1 bulan merupakan waktu yang cukup untuk mendapatkan berat badan yang diharapkan.


Vani makin rajin olahraga,setiap hari ia jogging mengelilingi lingkungannya. Hari ini Vani bosan,ia ingin joging ke lingkungan lain,ia ingin jogging di antara kebun teh.


Saat tiba di kebun teh, dari kejauhan Vani melihat Bimbim,jika biasanya di sekolah Bimbim merundung siswa lain,kali ini ia melihat sisi lain dari Bimbim,Vani tengah melihat Bimbim sedang membantu para pekerja mengangkut daun teh dan membagikan sembako kepada mereka. Disana ia terlihat akrab dengan para pekerja,bahkan tak sungkan makan bersama dengan para pekerjanya. Sungguh ini membuat Vani terkesan.


“Ahh gak mungkin itu Bimbim!” Gumam Vani. Matanya seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Walaupun bibirnya menyangkal tapi faktanya yang ia lihat sekarang adalah Bimbim.


Vani yang penasaran pun segera mendekat ke arah Bimbim.


“Eh elu,Ngapain lu dimari?” Tanya Bimbim cuek.


“Emmm…emmm… lagi jogging!” Jawab Vani gugup.


“Oh!” Sambil melihati Vani Bimbim berkata lagi “Terus ngapain masih disini? Mau sembako juga?” Ledek Bimbim sambil tersenyum manis pada Vani.


“Ih kagak! Ya heran aja,kamu kan di sekolah…..”


“Nakal,jail,usil,bengis! Terus apa lagi?” Tanya Bimbim memotong pembicaraan Vani.


“Ehhh bukan gitu maksud ku,ternyata kamu beda dengan di sekolah. Kamu baik dan dermawan!” Ujar Vani.


“Gak usah memuji berlebihan,ini cuma disuruh bokap aja.” Jawabnya singkat. “Gue mana ada baik-baiknya Van,yang baik itu tetep kak Lucky! Yang dewasa itu tetep kak Lucky! Kalau gue mah anak mamah yang manja!” Tambah Bimbim dengan nada kesal.


“Oh jadi itu sebabnya kau sering merundung anak-anak lain? Tapi terlepas dari itu semua,di mataku kau terlihat Bimbim yang baik hati. Sudah lama aku memperhatikan itu semua,sejak kejadian Tempo hari saat Siska mengunciku di gudang. Kau orang yang peduli pada sesama. Tak hanya itu kau juga peduli pada teman-teman lain yang sedang kesusahan.” Ungkap Vani.


“Gak usah berlebihan!” kata Bimbim cuek. “Oya temenin aku minum teh yok. Enak deh kayaknya minum disana.” Kata Bimbim sambil menunjuk sebuah gazebo yang terletak di pinggir sungai.


“Bentar aku ambil minuman dan cemilan ya.” Kata Bimbim sambil berlari ke arah mobil dan mengambil sebuah tumbler dan sekantong cemilan.


Sambil berjalan ke gazebo Bimbim mengatakan bahwa,ia sebenarnya tak datang sendiri,ada mamang yang biasa menenun dia,cuma mamangnya sedang sakit,jadi Bimbim lah yang harus turun tangan sendiri.


Tradisi bagi sembako buat pekerja,merupakan agenda rutin yang tiap bulan keluarganya lakukan dan Bimbim ditugaskan langsung oleh papahnya untuk menangani ini semua.


Sesampainya di gazebo mereka langsung duduk santai ditemani dengan kicauan burung,udara panas kini berganti sejuk seiring dengan turunnya matahari di sebelah barat.


Kedua remaja itu asyik bersenda gurau,banyak hal yang tak mereka ceritakan. Lalu di tengah-tengah perbincangan mereka Vani bertanya “Oya,Lucky mana? Kok gak ikut?”


“Oh kak Lucky? Kak Lucky lagi liburan ke Bali sama ….” Ucapannya terputus seolah-olah menutupi sesuatu.

__ADS_1


“Eh udah sore pulang yok. Sini aku antar” ajak Bimbim sambil mengalihkan pembicaraan.


“Hmmm kalau gak ngerepotin sih boleh aja.” Jawab Vani. Sebenarnya Vani sangat penasaran dengan jawaban Bimbim,namun ia tak enak hati ingin mempertegas.


“Ya udah yuk.”


.


.


.


“Nah dah sampai!” Kata Bimbim saat mobil bak terbuka yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah Vani.


“Mampir dulu yuk.” Ajak Vani.


“Bukannya nolak nih,tapi Lain kali aja ya,soalnya dah sore.” Jawab Bimbim.


“Ya udah kalau gitu,tapi makasih banyak ya Bim.” Kata Vani sambil turun dari mobil Bimbim.


Sebelum pergi Bimbim bertanya pada Vani,”eh Van,kapan lagi nih,jogging ke arah tadi?”


“Mungkin minggu depan” jawab Vani.


“Oke deh!” Jawab Vani tersipu malu.


“Ya udah aku pulang dulu”


Setelah mobil melesat,Vani masuk kedalam rumah. Lalu mamah bertanya “temannya kok gak disuruh masuk?”


“Anu mah! Kesorean dah mau maghrib.” Jawab Vani gugup.


Sikap Vani yang aneh membuat Mamah penasaran,dengan pandangan tajam mamah melihat Vani “kenapa senyum-senyum gitu?”


“Enggak kok mah!” Jawab Vani makin gugup.


Sambil terus melihat putrinya yang salah tingkah mamah memerintahkannya untuk mandi “Ya udah mandi sana!”


.


.


.

__ADS_1


Seminggu sudah sejak pertemuan Vani dan Bimbim di gazebo pinggir sungai,kini tiba saatnya Vani memenuhi undangan Bimbim untuk bertemu di gazebo itu.


Dengan menggunakan setelan kaos oblong dan celana lejing serta sepatu sport kesayangan Vani,ia mulai menyusuri jalanan perkampungan yang dikelilingi kebun teh,sebagian besar kebun teh di area sini adalah milik keluarga Bimbim. Sedangkan di bagian perkampungan Vani,sebagian besar milik keluarga Siska. Sebagian besar teh yang tersebar di penjuru nusantara berasal dari daerah tempat tinggalnya.


Setelah kurang lebih 20 menit Vani joging,ia pun tiba di gazebo. Tempat itu masih sepi,tak ada orang disana. Dengan sabar Vani menunggu Bimbim di dalam gazebo.


Suasana di sekitar gazebo sangat sejuk ditambah lagi suara gemericik air membuat suasana disana makin nyaman. Burung-burung dan kupu-kupu pun rasanya tak ingin absen,mereka seolah-olah turut menambah memeriahkan suasana sore itu.


Dari kejauhan,Vani melihat seorang pria muda berjalan menuju ke arahnya. Dengan setelan kemeja kotak-kotak dan celana Levi’s Bimbim terlihat tampan. Topi hitam yang ia kenakan membuat ia lebih terlihat gagah.


“Udah lama?” Tanyanya.


“E… Ba..baru kok” Vani sangat gugup hingga ia gagap menjawab.


“Wuihhh,makin bagus aja nih bodynya?” Pujinya.


“Kamu bisa aja.” Jawab Vani tersipu malu. “Ini semua butuh perjuangan tau! Tambahnya.


“Untuk apa kau melakukan ini semua?” Tanya Bimbim.


“Sejujurnya aku sangat tertekan dengan rundungan kalian. Panggilan Badak,babi,monster itu sangat tak enak didengar. Belum lagi rundungan Siska beberapa waktu ini,membuat aku harus pulang balik psikiater untuk mengembalikan mental ku” kata Vani.


“Psikiater?” Tanya Bimbim heran.


“Ya! Disana aku bertemu dengan dokter Rin,dokter yang membantu membentuk mental ku sampai detik ini. Sampai-sampai aku ingin jadi sepertinya.” Jawab Vani.


“Oya ini aku ada hadiah buat kamu.” Kata Bimbim sambil menyerahkan sebuah kotak.


“Boleh di buka?” Tanya Vani tak sabar. “Tapi ini bukan ular atau semacamnya kan.” Tambahnya.


“Masih aja ya su’udzon sama gue!” Kata Bimbim sedikit kesal.


Sambil membuka bingkisan Vani berkata”Canda kali!” Dibarengi dengan senyumnya yang manis.


Setelah dibuka,ternyata kotak itu berisi Gaun berwarna yang indah. Panjang gaun itu sampai lutut,di bagian dada sedikit terbuka namun menjadi indah dengan hiasan manik-manik di pinggirnya. Di Bagian pinggang terdapat tali sebagai ikat pinggangnya.


“Wahhh cantik banget. Kok kamu tau kalau aku ingin banget punya gaun seperti ini?” Tanya Vani kegirangan.


“Lah bukannya waktu itu kau sendiri yang mengatakannya padaku?”


“Ya ampun,Terimakasih sudah mewujudkan mimpiku. Sebenarnya aku sendiri sedang mengumpulkan uang saku ku untuk membeli gaun ini.” Ungkap Vani.


“Ya udah,gaun itu bisa dipakai untuk ke pesta ulang tahunku nanti ya.” Kata Bimbim.

__ADS_1


“Siap bos!” Jawab Vani penuh semangat.


__ADS_2