The Metamorfosa Of Vani

The Metamorfosa Of Vani
Kejutan


__ADS_3

Rintik hujan bersambut angin sepoi-sepoi menerpa tubuh mungil Vani. Dengan tergopoh-gopoh ia berjalan menuju gazebo. Pipinya memerah diterpa udara dingin yang menyelimuti sore itu. Tak ada yang bisa dirasakan,indranya seolah mati.


Hatinya bergejolak,hidupnya hancur terkubur mimpi-mimpi yang telah mati. Kini ia harus siap dengan segala konsekuensinya.


Tak lama setelah gadis itu duduk di gazebo,seorang pria muda menghampirinya. Ia adalah Bimbim yang sedari tadi ditunggu. Seketika ia menabrakkan tubuhnya pada pria itu Sambil memeluk erat tubuh pria itu ia menumpahkan segala tangisnya. Pria itu bingung “kenapa sayang?” Tanyanya.


“Yank ini gimana?” Dengan terbata-bata ia berkata,nanar matanya menyimpulkan ia sedang tak baik-baik saja.


“A..ada apa?” Tanya Bimbim.


Vani hanya menjawab dengan tangisan. Lidahnya kelu hingga tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Tangannya gemetar saat mengeluarkan benda kecil dari dalam sakunya.


Bimbim tak menyangka apa yang sedang dilihatnya. Garis dua pada stik itu menunjukkan bahwa Vani tengah berbadan dua. Seketika ia melepaskan Vani dan sedikit menjauh,untuk menenangkan dirinya. Syok! Disaat sudah mau berangkat kuliah harus mendapatkan kejutan semacam ini.


“Astaga! Kenapa bisa?” Ucap Bimbim sekenanya.


“Bukannya gak pernah didalam! Kok bisa! Gak mungkin!” Tambahnya dengan nada keras.


“Gak mungkin gimana? Kalau bukan kamu terus siapa lagi?” Tegas Vani.


Bimbim terdiam dan terus berpikir. “Jadi gimana? Bukannya kita lakukan suka sama suka. Jadi masalahnya dimana?”


“Kok jadi gitu! Bukannya kau bilang akan bertanggung jawab jika aku kenapa-napa,kenapa sekarang nanya gitu?” Tanya Vani penuh kebingungan.


“Gugurin atau!” Bentak Bimbim sambil mendekati Vani dan berusaha mencekiknya.


Mendengar perkataan Bimbim yang diluar nalar,membuat hati Vani hancur. Sambil berlinang air mata Vani memukul-mukul tubuh Bimbim. “Gak! Aku gak mau! Pokoknya kau harus tanggung jawab!” Kata Vani gusar sambil sekuat tenaga melepaskan cekikan yang melingkar di lehernya.


“Aahhh! Lepas!” Teriak Vani.


Seketika Bimbim langsung tersadar dan melepaskan cekikannya pada Vani. “Iya iya aku bakal tanggung jawab tapi gak sekarang! Aku belum siap! Dan kau tau sendirikan besok aku sudah harus berangkat keluar negeri?” Hardik Bimbim.


“Apa yang kau lakukan sangat tak masuk diakal! Ingat laki-laki itu dipegang ucapannya!” Kata Vani dengan nada tinggi.

__ADS_1


“Lagian aku gak maksa kamu kan untuk melakukan itu!” Elak Bimbim.


“Kau bukan Bimbim yang ku kenal! Kau manusia berhati iblis!” Umpat Vani.


Vani sangat ketakutan saat melihat emosi Bimbim yang mendadak meluap-luap. Sedikit demi sedikit ia berjalan mundur dan kemudian berlari dengan kencangnya sambil menangis tersedu-sedu.


Tuhan tau Vani telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya,tapi Vani yakin Tuhan takkan meninggalkannya sendirian.


.


.


.


Setibanya dirumah,tubuh Vani basah kuyup karena diterpa hujan yang lebat. Seolah langit tau apa yang dirasakan Vani,hingga ia pun ikut menangis. Dengan berbasah-basahan gadis itu masuk kedalam rumah. Langkahnya sempoyongan. Hingga ia tak sadar saat terjatuh tepat dibawah telapak kaki mamah yang sedari tadi cemas karena melihat gelagat anaknya.


“Ada apa Vani?” Tanya mamah dengan nada tegas.


.


.


.


M


“Syukurlah kau sudah sadar nak!” Ucap mamah lembut. “Apa yang terjadi padamu?” Tambahnya.


Kepala Vani masih berat,pandangannya pun masih kabur. Tubuhnya lemas tak berdaya terbaring diatas kasur,ditemani mamah yang sejak tadi duduk disampingnya. Rupanya aroma minyak kayu putih yang membangunkannya dari kematian yang hanya sejenak itu (pingsan).


“A…aku kenapa mah?” Tanya Vani dengan suara serak.


“Kamu tadi pulang dalam keadaan seluruh tubuhmu basah kuyup. Tersungkur di kaki mamah,lalu pingsan. Sebenarnya apa yang terjadi? Coba ceritakan.” Kata mamah.

__ADS_1


“Mah…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Vani,ia tak mampu untuk berkata-kata lagi. Ia tak kuasa menatap mata mamah. Mamah yang merawatnya dari kecil,mamah yang membesarkannya,memberikan segalanya baginya namun apa yang ia lakukan,ia malah mengecewakan mamah.


“Coba ceritakan pelan-pelan” tutur mamah.


Vani tetap tak mampu berkata-kata,mulutnya terkunci! Kaku!


“Vani! Coba liat mata mamah!” Perintah mamah lembut.


Bibirnya kaku hingga hanya bisa keluar suara “Mah. Ini” katanya sambil menunjukkan tespek yang ada di saku sweaternya.


Wajah mamah pucat pasi,seperti tak ada setitik darah pun yang mengalir di sana,air matanya berderai. Sejenak ia diam memandang dalam pada putrinya.


“Siapa ayah dari anak ini?” Kata mamah berusaha tenang.


“Siapa!” Bentak mamah yang mulai tak sabar melihat Vani yang hanya diam seribu bahasa.


“E…e… Bim… Bimbim mah!” Jawab Vani ketakutan.


Melihat ekspresi putrinya emosi mamah yang semula memuncak kini berubah menjadi iba. Sambil menahan tangis diusapnya lah air mata putrinya itu dengan penuh kasih sayang.


Mamah tak mau terlalu mengintimidasi Vani,karena mamah tak ingin mental Vani terganggu yang dapat mempengaruhi psikisnya. Mamah takut Vani nekat mengakhiri hidupnya.


“Apa dia sudah tau?” Tanya mamah.


“Hmmm” jawabnya.


“Terus? Dia mau tanggung jawab?” Tanya mamah kembali.


Vani hanya menggeleng.


“Huh…” terdengar suara mamah menghela nafas panjang.


“Sekarang ayo kita temui orang tuanya.” Tegas mamah sambil menarik tangan Vani.

__ADS_1


__ADS_2