
Sebulan sudah sejak pertemuan keduanya dengan dokter Rin,kini jadwal ketiga Vani untuk kontrol ulang, berangsur-angsur mental Vani mulai membaik,kini Vani telah memiliki teman,bukan hanya dengan tiga sekawan namun teman lain kini sudah mau berteman dengan Vani.
Vani sangat rindu dengan dokter Rin,ia merindukan kecantikan dokter Rin dan senyumnya yang manis. Ia ingin seperti dokter Rin, memiliki kulit yang bersih dan berkilau. Tak sabar rasanya Vani ingin secepatnya bertemu dengan dokter Rin.
Pagi itu,Vani berangkat ke RS sendirian tanpa ditemani mamah,ia sengaja berangkat sendiri agar mamah tidak menunggunya terlalu lama.
Setelah naik angkot kira-kira 30 menit,gadis itu pun tiba di RS.
RS pagi ini tampak lenggang,tak banyak pasien yang mengantri di loket,hanya beberapa lansia saja yang mengantri disana. Itu membuat proses di RS lebih cepat dari biasanya.
Pasien dokter Rin hanya sedikit,terlihat dari antrian di depan ruangannya. Sekitar 1 jam ia duduk,kini tiba gilirannya.
“Halo gadis cantikku.” Seru dokter Rin saat Vani memasuki ruangannya.
“Hai dok.” Kata Vani lemas.
“Ih kok lemes gitu? Ada apa? Cerita dong!” Kata dokter Rin.
Tanpa basa basi lagi Vani mulai menceritakan segala masalah yang tengah dihadapi,mulai dari rundungan Siska sampai perasaan rindunya pada sang papah. Sekitar 10 menit ia menceritakan keluh kesahnya kepada dokter Rin. Dengan seksama dokter Rin mendengarkan cerita pasiennya itu.
Bagi dokter Rin,Vani adalah pasien istimewa,pasalnya dari sekian banyak pasien remaja yang ditanganinya,Vani lah yang berproses dengan cepat. Dokter Rin sangat menyukai semangat dan sifat Vani pantang menyerahnya. Vani adalah gadis penurut,ia selalu mengikuti setiap arahannya dan rutin meminum obat yang diresepkan. Ditambah lagi gadis itu juga bercita-cita ingin menjadi dokter ahli jiwa seperti dirinya.
Dokter Rin sangat ahli membuat pasien jadi rileks,ia mampu menciptakan suasana yang nyaman dan membuat pasiennya pulang dengan hati yang tenang dan damai.
__ADS_1
Kini setelah bertemu dengan dokter Rin,pikiran Vani jadi tenang dan lebih fokus lagi. Ia selalu mengingat setiap pesan dari dokter Rin,terlebih lagi dokter Rin berkata bahwa ia mengalami perubahan yang sangat drastis.
Sebelum pulang tadi dokter Rin berkata “Ayo yang semangat dietnya,biar yang lagi deketin Vani makin semangat deketinnya.” Ah rupanya perkataan dokter Rin rupanya membuat gadis itu GR. Gadis yang baru memasuki usia puber itu mulai tersipu malu saat mengingat beberapa momen yang ia lewati dengan lelaki idamannya.
.
.
.
Di Rumah mamah yang sedari tadi menunggu Vani akhirnya bisa bernafas lega,kini gadis bungsunya itu sudah berada tepat di depan matanya. Rasa cemas dan khawatir yang berkecamuk dalam hatinya,kini berubah menjadi bahagia. Ia tak perlu mengkhawatirkan gadisnya lagi,karena rona wajah gadis itu kini telah bersinar kembali.
Senyum manisnya merekah,wajahnya yang redup kini berseri kembali. Mamah sangat bersyukur bertemu dengan dokter sehebat dokter Rin. Dokter Rin mampu mengambil hati pasiennya hanya dalam sekali pertemuan.
“Ia tak harus merasakan ini semua,harusnya ia sekarang sedang bersenang-senang bersama dengan para sahabatnya kecilnya dulu waktu di kota,seharusnya ia bisa menikmati masa remajanya dengan penuh keceriaan. Tercukupi segala apa yang ia inginkan. Beban orang tuanya tak harus ia tanggung seperti ini.” Keluh mamah dalam hati.
“Andaikan keluarga kita tak bangkrut,pasti kau tak akan merasakan ini semua.” Kata mamah sambil memeluk putrinya itu.
“Kenapa mamah mengatakan ini semua? Vani bahagia menjadi anak mamah dan papah,Vani sangat senang tinggal disini mah. Walaupun ada yang sering mengganggu Vani,tapi disisi lain Vani punya orang tua yang hebat dan sahabat yang selalu setia menemaniku. Vani bangga punya orangtua seperti mamah!” Ujarnya.
“Mamah juga punya anak sekuat kamu nak. Teruslah jadi anak yang baik,memiliki hati yang lembut dan pemaaf,walaupun itu adalah hal yang berat.”
Mamah adalah sosok wanita yang kuat dan mandiri,ia mampu memposisikan dirinya dimanapun berada. Kala roda berputar diatas,mamah tak pernah sombong,ia selalu berbagi dengan orang yang kurang beruntung. Dan di saat roda berputar di bawah,ia tak gengsi melakukan pekerjaan yang tak pernah ia lakukan seperti sekarang ini,selama itu semua halal.
__ADS_1
.
.
.
Dikamar yang sunyi ditemani Gadget lamanya,Vani bermain game offline yang telah lama tak ia mainkan. Ia rindu dengan game itu,memang benar semenjak ia memiliki Lucy,ia lebih sering menghabiskan waktu dengan sahabatnya itu ketimbang dengan gadgetnya. Pasalnya setelah lelah bermain ia langsung tidur, agar keesokan hari ia bisa bangun lebih awal dan tak terburu-buru berangkat ke sekolah.
Di tengah keasyikannya bermain game,tiba-tiba ia teringat ucapan Siska “Dua pangeran yang sedang merebutkan badak berculah.”
“Maksud Siska apa ya? Kenapa ia mengatakan hal seperti itu? Yang aku tau selama ini Lucky yang selalu membelaku,itu tak lain karena aku adalah bagian dari tiga sekawan. Lalu yang ia maksud siapa? Apa itu Bimbim?” Gumamnya.
Sikap Bimbim akhir-akhir ini memang aneh,dulu waktu Siska menguncikannya di gudang,tiba-tiba Bimbim datang menolongnya. Entah darimana datangnya manusia itu,tapi disetiap Vani mendapat masalah ia selalu datang lebih dulu daripada Lucky.
“Apa! Teriak Vani. “Enggak! Gak mungkin! Gak mungkin dia suka sama aku!” Katanya histeris.
“Aku gak mau sama laki-laki sekasar dia! Walaupun aku kayak badak eh bukan badak lagi,BB kU kan dah turun,sekarang aku seperti sapi. Iya walaupun aku kayak sapi,aku gak mau sama dia!” Celoteh Vani.
“Ahhh bodo amat!” Serunya. “Daripada mikirin dia,mending tidur!” Katanya sambil menarik selimutnya.
Namun didalam selimut ia pun tetap tak bisa tidur. Pikirannya selalu mengarah pada Bimbim,”hus hus pergi sana,jangan disini!” Kata gadis itu seolah-olah sedang mengusir Bimbim dari pikirannya.
Setelah lama bergelut pikirannya sendiri,gadis polos itu pun tertidur pulas.
__ADS_1