
Karena merasa sedih difitnah oleh Siska dan dijauhi oleh sahabat dekatnya,Vani memilih menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan.
Menurutnya,perpustakaan adalah tempat ternyaman saat ini. Disana ia puas menghabiskan waktu dengan membaca atau hanya sekedar melamun saja.
Saat ia asyik melamun,tiba-tiba ada yang melempar kertas ke arahnya. Ia kaget dan bingung. Lalu ia memungut kertas itu dan membukanya. Ternyata hanya sebuah kertas kosong. Wajah Vani yang awalnya penasaran langsung terlihat seperti kecewa.
“Vani! Vani! Sini!” Terdengar suara sedikit berbisik memanggil namanya.
Ia pun mencari sumber suara itu. “Disini!” Panggilnya lagi.
Vani sangat girang saat menemukan sumber suara itu,ternyata ada Lucky yang sedang berdiri di antara rak buku. Melihat Lucky berdiri disana,Vani langsung berlari ke arahnya.
“Sini ikut aku,ke tempat rahasiaku.” Ajak Lucky saat Vani berada Disampingnya.
Tanpa menjawab apapun Vani langsung mengikuti langkah kaki Lucky. Sampailah mereka di ujung rak buku,lalu mereka memasuki sebuah celah kecil yang terhalang oleh lemari-lemari buku,di situ tempatnya sangat nyaman dan tak terlihat dari kejauhan.
Jika kita memasuki celah itu,kita seperti berada di ruangan kecil. Ruangan itu berisi tumpukan buku-buku lama,rusak dan usang yang tersusun rapi dalam sebuah karton.
“Nah disini aku sering menghabiskan waktuku” kata Lucky.
“Wah! Aku tak menyangka ada ruangan nyaman disini!” Kata Vani kagum.
“Jangan bilang siapa-siapa ini ruangan rahasiaku! Tak banyak yang tau tentang ruangan ini” jelas Lucky.
“Lalu kenapa kau mengajakku kesini?” Tanya Vani heran.
“Karena aku percaya padamu,seperti halnya aku percaya bahwa bukan kau yang mencuri kalung Siska.” Kata Lucky.
Vani terharu mendengar perkataan Lucky,di saat ia merasa tak punya teman,Lucky datang dengan sebuah kepercayaan yang membuatnya sedikit memiliki semangat.
“Kau mau tau kenapa Siska seperti itu padamu?”
Vani tak menjawab apapun,ia hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Begini Vani!” Kata Lucky sambil memegang pundak Vani.
“Siska iri padamu,karena semua teman sekarang lebih menyukaimu daripada dia,ia marah karena aku dan Bimbim lebih membelamu. Sikap dia tak lebih hanya ingin diakui oleh khalayak banyak.”
“Tapi sikapnya membuat aku harus mengalami mental Down dan harus bolak balik ke psikiater.” Ungkap Vani.
Air matanya tak terbendung saat ia menceritakan sakitnya mendapat rundungan dari Siska dan sekarang harus dijauhi oleh sahabatnya sendiri.
Melihat Vani menangis,Lucky langsung memeluk gadis itu,ia tak tega melihat gadis itu menitikkan air mata di hadapannya.
Disisi lain,Hawa nyaman merasuki sanubari gadis 16 tahun itu,ini adalah pelukan pertamanya dengan seorang pria lawan jenisnya. Tubuhnya terasa melayang tak menyentuh tanah. Ditambah lagi aroma tubuh Lucky membuat gadis itu mabuk kepayang.
“Apa ada denganku? Ada apa dengan perasaan kU? Kenapa pelukan ini terasa sangat nyaman?” Jerit Vani dalam hati.
Beberapa detik setelahnya Vani langsung tersadar dan melepaskan pelukan Lucky.
“Kenapa?” Tanya Lucky heran.
“Ah tidak! Ayo kita keluar,sebentar lagi jam istirahat berakhir” jawab Vani.
.
__ADS_1
.
.
Hari berikutnya. Saat Vani berada di perpustakaan. Ia yang sedang duduk sendirian dihampiri oleh Lucy dan teman yang Tempo hari duduk bersamanya saat Siska kehilangan kalung yang pertama kalinya. Melihat kedatangan mereka berdua,Vani senang bercampur heran.
“Ada apa ini?” Tanya Vani.
Tanpa mengulur waktu,teman itu menceritakan bahwa saat pulang sekolah ia dihampiri oleh Siska dan saat itu Siska langsung merebut pouchnya,lalu saat itu juga Siska langsung mengambil kalung hati miliknya. Ia juga mendengar bahwa kalung itu sengaja dimasukkan ke dalam pouch ku,agar Vani dituduh mencuri. Namun ternyata Siska salah sasaran,pouch itu bukan milik Vani tapi milik teman Vani.
“Jadi ini sebuah jebakan!” Tebak Vani kaget.
“Ya!” Jawab Lucy dengan mata berkaca-kaca. “Maukah kau memaafkan ku sahabatku?” Tanya Lucy.
“Enggak!” Jawab Vani singkat.
Mendengar jawaban Vani,Lucy langsung tertunduk air matanya menetes. Ia seolah menyadari kesalahannya.
Melihat sahabatnya menangis Vani lalu memeluknya dan berkata ”nggak akan maafin kalau belum ditraktir mie ayam di kantin. Hahaha”
Mendengar jawaban konyol dari sahabatnya ia pun makin memeluk erat Vani. “Maafin aku! Aku gak berguna sebagai sahabat! Aku ….”
“Husss jangan menangis,nanti cantiknya ilang!” Kata Vani sambil mengusap air mata Lucy.
.
.
.
.
.
.
Minggu pagi yang cerah adalah waktu terbaik bagi Vani untuk jogging,walau tubuhnya sudah mencapai Berat ideal tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berolahraga.
Setelah puas jogging,ia mampir ke rumah Lucy.
“Lucy! Lus! Oh Lucy!” Panggil Vani.
“Oi masuk aja!” Jawab Lucy dari dalam rumah.
Tanpa basa basi Vani masuk kedalam rumah. “Dimana lu!” Tanya Vani.
“Sini dikamar!” Jawab Lucy.
Vani langsung menuju ke kamar Lucy,ia mendapati sahabatnya itu sedang menyetrika pakaian seragamnya.
“Lus!” Panggil Vani
“Hemmm apa!” Jawabnya sambil terus menyetrika.
“Menurutmu,Lucky gimana sih orangnya?” Tanya Vani basa basi.
__ADS_1
“To The point aja deh!” Kata Lucy ketus.
“Emmmm!”
“Emmm apa? Kau suka kan sama si Lucky!”
“Kok kamu tau!” Teriak Vani yang tak menyangka.
“Dah ketahuan dari gerak gerikmu bego! Dan sepertinya Lucky juga memiliki rasa lebih kepadamu,dari caranya memperhatikan mu,semua orang juga tau kalau dia ada rasa padamu.” Kata Lucy sambil memukul kepala sahabatnya itu.
“Terus gimana dong!” Tanya Vani lagi.
“Emmm kau maunya gimana ?” Lucy tanya balik ke Vani.
Dengan malu-malu Vani berkata “aku maunya sih!” Aku maunya dia cukup tau! Urusan dia nerima aku,itu urusan belakangan!” Kata Vani dengan nada cepat.
“Ya udah sok atuh neng! Cie cie! Dah dewasa! Ledeknya sambil mencubit pinggang Vani.
.
.
.
Mendapat semangat dari sahabatnya Lucy,tekad Vani pun makin bulat. Dengan berbekal secarik kertas yang bertuliskan pesan “Jam istirahat Aku Tunggu di ruang rahasia by Vani”
Setelah memastikan pesan itu dibaca oleh Lucky,di jam istirahat dengan penuh semangat Vani menuju ke ruang Rahasia. Hatinya mulai cemas dan jantungnya serasa pecah. Aliran darahnya berdesir kencang,nafasnya pun tak beraturan.
Setelah kurang lebih 10 menit Vani menunggu,akhirnya Lucky pun datang.
Lucky datang penuh dengan tanda tanya dan keheranan,ada apa gerangan dengan sahabatnya ini. “Hay Van. Sorry menunggu. Ada apa?” Tanya Lucky.
“Emmmm… Lucky aku bingung mau mulai dari mana tapi AKU SUKA KAMU” kata Vani dengan gemetar.
“Apa? Hahahaha. Kok bisa sih? Kita kan sahabat?” Kata Lucky santai.
“Ya gak tau! Mau gak jadi….”
“Jangan ngaco deh Van!” Jawab Lucky.
“Tapi selama ini?”
“Aku baik? Aku perhatian? Aku selalu bela kamu?” Tanya Lucky sambil memegang pundak Vani.
Vani hanya mengangguk.
“Vani,sepertinya kamu salah Paham,aku anggap kamu sebagai sahabatku gak lebih!” Kata Lucky.
“Terus arti pelukan itu?”
“Gini Van,aku gak tega liat kau dirundung terus-terusan oleh Siska,kalau bukan aku siapa lagi yang melindungi mu? Terlebih lagi,aku gak tega melihat perempuan menangis.”
Mendengar jawab dari Lucky,tubuh Vani langsung lemas,ia langsung terduduk lunglai dibangku “Astaga! Aku gak nyangka ternyata arti perhatianmu hanya sebuah belas kasih kepada gadis Malang seperti aku ini? Iya? Oke aku terima” tutur Vani.
“Kamu Gapapa kan Van?” Tanya Lucky.
__ADS_1
“Iya aku baik-baik saja!” Kata Vani sambil menahan air mata dan pergi tertatih-tatih meninggalkan ruang Rahasia.