
Berhari-hari,berminggu-minggu dan berbulan-bulan. Vani hidup seatap dengan Bimbim,banyak duka yang telah ia lewati. Namun wanita tegar dan kuat pastilah bisa mengatasi itu semua.
Kini kandungan Vani memasuki usia 7 bulan,perutnya mulai buncit dan sesekali ia sudah dapat merasakan gerakan janin dalam kandungannya menendang-nendang. Vani sangat bahagia menjalani kehamilannya ini,walau disisi lain Bimbim sebagai ayahnya masih belum bisa menerima kehadiran si jabang bayi.
“Auuu” desis Vani saat tiba-tiba dengan kerasnya si janin menendang perutnya.
Sambil mengelus perutnya,ia berusaha berkomunikasi dengan si bayi,”Hmm makin hari makin aktif kamu ya nak! Tumbuh sehatlah dalam perut bunda dan lahirlah dalam keadaan sehat ya?”
Saat Vani tengah bergumul dengan bayinya,dari luar terdengar pintu kamar diketuk.
“Hmm siapa gerangan yang datang? Bukankah ini belum jam makan siang? Waktu masih pukul 10 pagi dan Bimbim masih di kebun,siapa ya?” Gumam Vani seraya bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
“Iya tunggu,siapa?” Tanya Vani sambil memperbaiki ikatan rambutnya.
“Hai! Gimana kabarnya?” Teriak seorang lelaki saat pintu kamar dibuka dan membuat Vani terkejut.
“Hai,Lucky ! Kapan kamu datang? Gimana kabarmu? Lagi liburan?” Tanya Vani gembira.
“Iya aku lagi liburan,ini baru aja aku datang.
Wah keponakanku dah tambah besar aja dalam perut.” Puji Lucky.
“Hahaha iya dong ongkel,dia dah 7 bulan.” Sahut Vani tersenyum lebar.
“Ini aku bawakan Cake coklat yang enak banget,biasanya bumil suka sama yang manis-manis kan?” Kata Lucky sambil memberikan bingkisan itu pada Vani.
“Hmm harum banget” seru Vani saat dia mencium bingkisan itu.
“Oya aku masuk boleh?” Tanya Lucky.
“Oh! Silahkan” jawab Vani.
“Bimbim mana? Aku gak liat dia dari pagi.” Kata Lucky heran.
“Bimbim sekarang sibuk urus perkebunan,ayah mertua kasi tugas ke dia untuk mengatur segalanya.” Tutur Vani sambil mempersilahkan Lucky duduk di sofa.
“Oh gitu.” Gumam Lucky.
“Btw kamu nyaman disini? Kenapa gak minta rumah aja sama mamah,kalian bisa tempati bersama. Villa papah juga ada yang kosong,gak ada yang menempati,paling tukang kebun aja yang selalu datang ngecek. ” Tambah Lucky.
__ADS_1
Mendengar ucapan Lucky raut wajahnya langsung berubah “Hmmm rasanya itu tak perlu.” Gumam Vani.
“Why?” Tanya Lucky kaget.
“Apa kau tak bahagia? Apa Bimbim masih seperti dulu?” Tambah Lucky
Dengan penuh kesedihan Vani menjawab “Mungkin setelah anak ini lahir,kami akan…”
“Ya kita akan berpisah!” Potong Bimbim dari balik pintu.
“Jadi begini kalau aku gak di rumah? Kau asyik-asyikan bersama saudaraku! Hah! Apa mungkin cinta lama akan bersemi kembali?” Ledek Bimbim.
“Hay bro! Apa ini? Aku baru datang! Dan aku sangat merindukanmu,makanya aku kesini mencari mu ” sapa Lucky mengalihkan perhatian sambil berusaha memeluk Bimbim.
“Jangan sentuh aku!” Jawab Bimbim datar dan pergi keluar kamar sembari membanting pintu.
Brakkkk….
Vani dan Lucky hanya saling berpandangan dengan ekspresi heran melihat Bimbim.
.
.
.
“Kamu mau makan apa?” Tegur Vani membuyarkan lamunannya.
“Nanti aku ambil sendiri” jawabnya singkat.
“Oh baiklah!” Kata Vani.
Vani sangat senang melayani suaminya makan,hingga ia tau makanan kesukaan suaminya,terkadang di usia kandungannya yang mulai membesar,ia masih sering datang ke dapur untuk membuatkan bekal untuknya.
Makan malam kali ini menjadi makan malam yang spesial,karena keluarga Doddy telah lengkap dengan kehadiran Lucky yang sedang libur kuliah.
“Libur berapa lama nak?” Tanya mamah pada Lucky.
“Lumayan mah 1 bulan,bisa kan ya sambil ikut urus perkebunan kita.” Kata Lucky sambil melirik ke arah Bimbim.
__ADS_1
“Saya rasa perkebunan kita baik-baik saja,jadi gak ada yang perlu di khawatirkan.” Jawab Bimbim cuek.
“Tapi mungkin akan butuh sedikit masukan untuk perubahan kedepannya agar bisa lebih baik lagi.” Tukas Lucky.
“Saya rasa itu gak perlu dilakukan!” Tegas Bimbim sambil berdiri dan meninggalkan meja makan.
Semua mata tertuju pada Bimbim,suasana makan yang tadinya hanya kini menjadi dingin.
“Apa aku salah ucap?” Tanya Lucky heran.
“Sudah lupakan saja! Kamu tak lupa kan dengan sikap adikmu itu?” Jawab mamah menenangkan hati putranya.
Lucky hanya menjawab pertanyaan mamah dengan sebuah senyum simpul,yang menandakan ia paham.
.
.
.
Di tengah malam yang dingin,di dalam kamar yang luas di atas kasur lipat,Vani terbangun dengan perasaan tidak nyaman,berkali-kali ibu hamil itu harus keluar masuk toilet karena lagi-lagi kandung kemihnya penuh.
“Huh! Sudah tak terhitung lagi berapa kali aku keluar masuk kamar mandi hanya untuk buang air kecil.” Keluhnya sesaat setelah ia meninggalkan kamar kecil.
“Aduh mana lapar lagi!” Gumamnya.
“Ada apa yang di kulkas?” Tanyanya sambil mengorek-ngorek isi kulkas.
Hatinya sangat senang saat ia menemukan secuil Cake pemberian Lucky. “Ahhh untung ada kamu!” Kata Vani.
“Bisakah kau sedikit tenang? Aku ingin tidur sejenak!” Bentak Bimbim mengagetkan Vani.
“Uups! Bos kaget ya?” Ledek Vani sambil tersenyum melihat suaminya dari kejauhan.
Perlahan-lahan Vani mendekati Bimbim yang kembali tidur pulas. Dengan wajah gemas ia terus memandangi Bimbim sangat lucu dan terlihat ganteng saat tidur,itu membuat Vani tak bosan menatap suaminya saat tidur dan akan makin ganteng saat ia bangun tidur.
“Omg!” Batin Vani.
Sejenak ia lupa jika waktu bersama dengan Bimbim akan berakhir saat bayi dalam kandungannya telah lahir.
__ADS_1