
Setelah dinasihati panjang lebar oleh Lucky,kini keduanya berjalan menuju kelas. Lucky berharap semua nasehatnya didengar oleh Siska dan Siska bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Sesampainya di kelas,Siska melihat Bimbim yang sedang ngobrol dengan Vani,mereka terlihat akrab satu sama lain. Melihat hal itu,tanpa sepatah kata pun ia langsung menuju bangkunya.
Hatinya godok dan dongkol,kenapa bisa kedua pria dari keluarga terpandang malah menyukai gadis dari keluarga miskin seperti Vani.
Vani yang melihat Siska sudah kembali,langsung menghampirinya. “Apa kau baik-baik saja Siska?”
Dengan wajah datar ia menjawab “ia aku sudah baikan kok!”
“Syukurlah. Tadi aku khawatir banget sama kamu!” Kata Vani.
“Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku” jawab Siska.
Tak berselang lama,Bimbim mendatangi Siska. Ia sangat senang dengan kedatangan Bimbim,wajahnya terlihat ceria dan senyumnya terlihat manis. Senyum yang baru pertama kali Vani lihat,senyum manis yang membuat Siska terlihat lebih baik.
“Hai Sis! Lu baik-baik aja kan?” Tanya Bimbim.
Dengan lemah lembut ia menjawab “Iya Gapapa,gue dah baikkan kok.”
“Syukurlah! Lain kali jangan gitu lagi! Lu sebagai cewek harus bisa berperilaku baik! Perempuan itu harus lemah lembut gak boleh kasar!” Kata Bimbim.
Mendengar ucapan Bimbim ia langsung tertunduk,wajahnya memerah menahan amarahnya,ia sangat marah melihat Bimbim membela Vani,ia geram dan ingin sekali menampar wajah Vani. Lagi lagi Bimbim membela Vani!
Ia sangat marah,sampai kedua tangannya mencengkeram roknya. Ia sangat tak tahan lagi! “Tapi tunggu! Aku harus menyusun strategi agar bisa menjatuhkan Vani! Dasar perempuan rendahan!” Umpat Siska dalam hati.
“Aku ingin Vani makin dibenci oleh Bimbim dan Lucky bahkan seluruh siswa di sekolah ini.” Tambahnya.
.
.
.
Keesokan harinya,Vani melihat ada yang tak biasa dari Siska. Ia terlihat lebih ramah padanya. Bahkan ia yang biasanya cuek dan jail terhadapnya kini terlihat ramah,senyumnya pun sangat manis.
“Hai Van darimana?” Tanya Siska kepada Vani yang sedang beristirahat di bawah pohon bersama Lucy.
Vani sangat kaget sampai tak mampu menjawab apa-apa,ia hanya terus menatap wajah Siska dengan penuh keheranan.
“Van,lu di tanyain sama Siska noh!” Bisik Lucy.
Seketika Vani tersadar,dengan gugup ia menjawab bahwa ia sedari tadi disini bersama Lucy.
Lalu,Siska bertanya pada mereka “Bolehkah aku ikut bergabung dengan kalian?”
Vani yang masih terheran,mengiyakan permintaannya.
“Ya udah aku duduk dekatmu ya?” Pinta Siska.
__ADS_1
“Bo…boleh sini deketan sama aku.” Sambut Vani dengan penuh kebahagiaan.
Akhirnya mereka pun asyik mengobrol satu sama lain. Mereka asyik bercerita tentang pengalaman mereka. Di tengah obrolan mereka,Siska yang memiliki niat jahat dari awal,sengaja memasukkan kalung emas berbentuk hati miliknya kedalam pouch yang berada di atas meja.
“Aduh sorry aku gak sengaja” kata Siska saat dengan sengaja ia menjatuhkan pouch itu.
Vani refleks dan ingin mengambil benda itu,namun di cegah oleh Siska “Gapapa Van,biar aku aja!” Ujar Siska saat mengambil pouch itu lalu menyelipkan kalungnya di saku depan pouch itu.
Obrolan pun dilanjutkan hingga jam istirahat usai. Mereka pun bubar dan bergegas masuk ke dalam kelas.
.
.
.
Saat semua siswa sudah masuk kedalam kelas,tiba-tiba Siska menangis sambil berteriak “OMG! Kalung hati kesayangan ku hilang!”
Mendengar teriakan Siska,seisi kelas langsung gaduh. Mereka bingung kenapa bisa hilang dan siapa gerangan yang berani mengambil Kalung kesayangan Ratu Siska?
Saat semua murid gaduh,tiba-tiba guru masuk ke kelas.
“Ada apa ini ribut-ribut?”
“Itu pak,kalung Siska hilang.” Jawab seorang murid.
“Hilang? Hilang dimana?” Tanya guru heran.
Guru pun mulai menanyai Siska tentang kronologi kejadiannya. Setelah Siska memberikan keterangan,pak guru mulai menanyai satu per satu murid yang ada di kelas.
Semua tak ada yang mengaku. Akhirnya ia pun memberikan usul untuk memeriksa tas milik setiap murid “Pak guru,gimana kalau kita cek tas semua murid dalam kelas ini” usul Siska.
“Ide yang bagus,kalau begitu semua tas harap dimasukkan ke atas meja.”
Mendengar perintah dari pak guru,mereka pun menaikkan semua tas mereka ke atas meja.
Satu persatu pak guru memeriksa tas milik semua murid,hingga tiba giliran Vani. Namun saat giliran Vani,ia tak melihat pouch yang ada di meja tadi. “Dimana pouch itu?” Gumam Siska sambil terus mengobrak-abrik isi tas Vani.
“Lho kok gak ada!” Sergah Siska.
“Aku gak mengambilnya.” Jawab Vani polos.
“Pouch kecil milikmu mana? Tadi aku liat kau memegangnya.” Kata Siska.
“Owh pouch itu? Itu bukan punyaku tapi itu milik temanku yang duduk di sebelahku tadi,dia di kelas sebelah!” Jawab Vani santai.
“Ada apa dengan pouch itu?” Tanya Vani lagi.
“Gak ada apa-apa lupakan!” Jawab Siska ketus.
__ADS_1
Semua tas dalam kelas sudah diperiksa namun kalung Siska tak ditemukan.
Dengan kesal dan gondok Siska kembali ke bangkunya. “Awas aja kau! Tunggu pembalasanku.”
.
.
.
Sepulang sekolah Siska menemui siswa pemilik pouch itu dan tanpa basa basi mengambil kalung miliknya. Si pemilik pouch yang tak tau apa-apa hanya bisa diam dan terheran melihat Siska mengambil kalung dari dalam pouchnya.
“Awas aja Van,gue bakal bikin lu malu dan dibenci oleh semua orang di sekolah ini!”
.
.
.
Setelah kabar hilangnya kalung Siska berlalu,Siska dan Vani makin dekat. Makin hari Siska makin baik terhadap Vani dkk. Vani telah menganggap Siska sebagai sahabatnya juga. Dimana ada Vani dan Lucy tak lengkap rasanya jika tak ada Siska. Hingga satu ketika.
“Van,lu liat kalung hati yang biasa gue pake gak?” Tanya Siska.
“Kalo lu,liat gak?” Tanyanya lagi pada Lucy.
Mereka berdua heran dengan pertanyaan Siska,soalnya selama ini mereka tak pernah melihat ia memakai kalung.
Disaat mereka bingung,Siska dengan membabi buta menggeledah isi tas mereka.
“Nah ketemu!” Serunya kegirangan.
Vani yang masih kaget langsung terbelalak saat melihat kalung yang dimaksud ditemukan di saku tasnya.
“Kau yang mengambilnya Van?” Tanya Lucy seolah tak percaya.
“E…enggak! Mana mungkin aku mengambilnya.” Jawab Vani gugup.
“Kalau kau tak mengambilnya lalu kenapa ada di tasmu?” Bentak Siska.
“A…aku gak tau Siska. Bisa saja ada yang dengan sengaja memasukkannya ke tasku!” Sanggah Vani.
Siska pun menangis “Apa kau kira aku sendiri yang memasukkannya ke tas ku? Atau kau menuduh orang lain diantara kita memasukkannya dengan sengaja? Aku tak menyangka sepicik itu pemikiran mu Van!” Kata Siska dengan penuh sandiwara.
“Atau kau menuduhku Van?” Tanya Lucy.
“Tidak! Bukan begitu maksudku!” Air mata Vani menetes,ia benar-benar tak mengambil kalung itu,bahkan melihat kalung itu pun ia tak pernah sekalipun.
“Aku tak menyangka kau seperti itu Van! Aku kecewa!” Teriak Lucy meninggalkan Vani.
__ADS_1
Semua kejadian ini adalah setingan dari Siska,ia ingin melihat Vani dijauhi oleh teman-temannya dan para sahabatnya,ia tak ingin melihat Vani bahagia walau hanya sedetikpun.
Karena kejadian itu,seluruh anak di sekolah menjauh darinya,bahkan Lucy pun tak mau mendekatinya. Kini Vani merasa sendirian tak ada teman,ia sangat sedih terlebih lagi jika ia melihat Lucy. Ia tak menyangka jika sahabatnya sendiri sudah tak mempercayainya.