
Pagi yang cerah di jalan pintas. Udara dingin menyelimuti perkebunan teh. Suara kicauan burung menyemarakkan suasana pagi,menyambut munculnya sang mentari. Seperti biasa para pekerja sudah datang dengan menggendong keranjangnya,bersiap untuk memetik daun teh muda.
Dengan tas punggung warna hitam dan buku cetak yang didekap di lengan kirinya seorang gadis dengan semangat berjalan kaki menyusuri jalanan aspal yang berlubang.
Di seberang jalan terdapat jembatan,yang dibawahnya mengalir sungai yang cukup besar,airnya jernih dan bersih. Dari kejauhan terlihat para ibu-ibu sedang mencuci pakaian, sementara anak-anak kecil dengan riang gembira bermain air. Terkadang terdengar teriakan salah seorang dari para ibu yang sedang memperingatkan anaknya agak tak bermain terlalu ke tengah. Walaupun arus tak begitu deras tapi kapan saja dapat menyapu tubuh kecil mereka jadi para orangtua harus selalu waspada saat membawa anaknya ke Sungai.
Di persimpangan jalan Vani menunggu seorang gadis yang juga bersekolah di sekolah yang sama. Sudah sepekan ini Vani tak jalan sendiri di jalan pintas,ia kini di temani oleh Lucy teman sekelasnya. Lucy memiliki tubuh yang tak terlalu tinggi,wajahnya imut dan ada lesung pipi di sebelah kiri sebagai ciri khasnya saat ia tersenyum. Lucy berasal dari keluarga sederhana,orang tuanya hanyalah buruh petik teh di perkebunan milik orang tua Siska. Lucy seorang gadis pendiam,nilai akademiknya di sekolah cukup baik. Ia merupakan siswi yang rajin. Walaupun tubuhnya kecil,ia sangat lincah bergerak.
Walaupun setiap hari mereka jalan bersama ke sekolah,mereka harus pura-pura tak mengenal satu sama lain saat di sekolah. Vani tak ingin Lucy kena rundungan dari Siska. Siska sudah melarang seluruh anak-anak di kelas untuk tidak berteman dengan Vani.
"Kalau ada yang berani berteman dengan si badak Vani! Kalian akan kena batunya! Paham!" Kata Siska saat Vani baru masuk sekolah.
Semua siswa mematuhi apa yang dikatakan Siska, walau beberapa dari mereka sebenarnya senang dengan Vani. Vani sangat baik dan suka menolong. Semenjak Vani berobat bersama dokter Rin, sedikit demi sedikit Vani menemukan jati dirinya yang sesungguhnya.
Saat tiba di tanjakan akhir sebelum pintu gerbang,mereka berpisah,Vani sengaja jalan sedikit jauh dari Lucy agar tak ada geng Siska yang melihat kedekatan mereka.
Di jam istirahat,Vani yang sedang duduk di samping kelas tiba-tiba mendengar suara misterius,suara itu seperti suara orang menangis dan berasal dari belakang kelas. Bulu kuduk Vani langsung berdiri,sekujur tubuhnya merinding dan gemetar
Vani sangat takut kalau-kalau itu adalah suara hantu atau semacamnya,karena tempo hari saat ia sedang di toilet sekolah,tanpa sengaja ia mendengar cerita dari salah satu siswa,bahwa tempat ini adalah bekas kuburan jaman dulu,yang kemudian di alih fungsikan menjadi sekolah. Konon katanya,saat pembangunan kelas ini masih banyak tulang belulang yang masih tersisa yang ditemukan oleh para pekerja.
Dengan mengumpulkan keberanian,Vani mendekati sumber suara. Di balik dinding kelas ia melihat seorang gadis tengah menangis tersedu-sedu. Vani menghela nafas lega,ia bersyukur karena suara misterius itu bukan suara Hantu di siang bolong.
"Huh… Syukurlah Ternyata bukan hantu."
Perlahan-lahan Vani mendekatinya dan menanyakan keadaannya. Namun betapa terkejutnya Vani setelah mengetahui bahwa gadis yang menangis itu adalah sahabatnya sendiri yaitu Lucy. Melihat Vani berada didekatnya,Gadis itu langsung memeluk dan menceritakan semua kejadian yang telah ia alami. Lucy sangat ketakutan hingga tak mampu berbicara dengan lancar.
Rupanya Siska Lovers telah merundung Lucy gadis pendiam itu..
Meski ia mengatakan ia tak baik-baik saja namun dari raut wajahnya mengatakan bahwa ia sedang tak baik-baik saja. Terdapat lebam bekas tamparan di pipinya,rambut yang acak-acakan karena dijambak dan beberapa kancing baju yang lepas karena tarikan.
Air matanya terus keluar tak terbendung. Vani sangat marah melihat sahabatnya diperlakukan kasar oleh Siska.
"Apa dia?" Selidik Vani.
Lucy tak mengeluarkan sepatah kata pun,ia hanya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa?" Tambah Vani.
"Ka..karena a aku berteman denganmu!" Jawab Lucy. "Katanya ia akan memecat orang tuaku jika aku tetap berteman denganmu" tambahnya.
Orang tua Lucy bekerja di perkebunan milik orang tua Siska,itulah sebabnya Lucy sangat takut jika orang tuanya dipecat dari tempat kerjanya,karena pekerjaan itu adalah satu-satunya sumber mata pencaharian orang tuanya.
Tanpa pikir panjang Vani langsung berdiri dan mencari Siska di setiap sudut kelas.
"Kamu mau kemana?" Tanya Lucy ketakutan.
"Udah Van,jangan! Aku takut! Udah!" Cegah Lucy.
Namun Vani tak menghiraukan ucapan Lucy. Vani terus mencari Siska di setiap sudut sekolah namun tak menemukannya. Akhirnya Vani mencari keluar sekolah.
"Liat Siska?" Tanya Vani pada seorang siswa sambil menunjuk ke arah Kantin. Rupanya Siska Lovers sedang di kantin luar sekolah.
"Noh di kantin" jawabnya cuek.
Mendapat jawaban itu,Vani berlari mendekati Siska Lovers sedang duduk di kantin,mereka sedang asyik bersenda gurau satu sama lain. Tanpa pikir panjang,Vani langsung menyiram es teh ke muka Siska. Rambut dan baju Siska basah terkena es teh. Siska sangat kaget dapat perlakuan seperti itu dari Vani. Ia tak menyangka,seorang Vani berani melakukan hal ini kepadanya. Belum sempat Siska berbicara Vani langsung membentaknya.
"Kalau kau ada masalah sama aku,jangan libatkan Lucy!" Kata Vani sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Siska.
"Apa salahnya jika ada seseorang yang mau berteman denganku!" Tambah Vani.
Semua siswa melihat ke arah Vani,mereka tak menyangka jika Vani akan melakukan hal senekat itu pada Siska. Rata-rata dari mereka memuji keberanian Vani.
"Nj*rrr keren juga si Vani" bisik salah seorang siswa.
"Mampus lu!" Umpat siswa lain kepada Siska.
"Hajar Van!" Teriak seorang siswa lagi.
Mendengar bisikan dari siswa lain,Siska menjadi semakin marah,wajahnya memerah dan matanya melotot. Lalu,Sekuat tenaga ia mendorong Vani hingga tersungkur. Penuh emosi ia menyiram tubuh Vani dengan es teh dan kuah mie. Teman-temannya pun ikut melakukan hal yang Siska lakukan. Dengan penuh kemarahan mereka menginjak-injak tubuh Vani.
"STOP!" Perintah Siska kepada teman gengnya.
Lalu Siska jongkok dan menarik rambut Vani "Oh! Jadi badak sekarang berani ngelawan gue? lu nantangin gue?"
Vani memandang Siska dengan pandangan tajam, seolah-olah ia seperti sedang menerkam mangsa.
"Heh jangan pernah ikut campur urusan gue. Paham!!" Bentak Siska.
__ADS_1
Saat tubuh Vani ditendang dan diinjak oleh Siska dan kawan-kawan,tak ada setitik pun air mata yang keluar dari pelupuk mata Vani. Yang ada ia makin geram dengan perbuatan Siska.
"Aaarrrrggghhhhhh..!!!" Sekuat tenaga Vani berusaha bangkit dan mulai mendorong Siska,tubuhnya ia benturkan pada meja,kerah bajunya ditarik sambil berkata, "Kau! Jangan pernah uji kesabaran ku lagi! Aku muak dengan perlakuanmu selama ini! Kau boleh memperlakukan ku seperti binatang! Tapi tidak dengan sahabat ku Lucy! Paham!" Seru Vani.
Dari kejauhan muncullah Lucy dan Lucky. Rupanya Lucy telah menceritakan semuanya pada Lucky. Tanpa pikir panjang Lucky melerai keduanya,dan menahan tangan Vani yang hampir saja menampar pipi mulus Siska.
"Udah Van! Udah!" Seru Lucky.
"Kau Siska! Sampai kapan kau akan terus seperti ini? Tak ada bosan-bosannya kau membikin onar! Kau itu perempuan Siska! Bisakah kau merubah perilaku burukmu itu!" Kata Lucky.
"Urus sendiri urusanmu!" Jawab Siska dan meninggalkan mereka.
"Udah bubar-bubar!" Seru Lucky pada anak-anak lain. Seketika mereka membubarkan diri sambil terus berceloteh tentang keberanian Vani melawan Siska.
Lucy berlari ke arah Vani dan memeluk erat sahabatnya. "Aku kan udah bilang, jangan! Tapi kau tak mendengar! Lihat dirimu jadi kotor semua seperti ini!" Ocehnya.
"Hadeh nenek mulai ngomel-ngomel lagi kan!" Ledek Vani.
"Kamu tuh kalau di kasi tau…." Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya air mata Lucy berderai.
Kembali dia peluk erat-erat sahabatnya itu. "Makasih Van" ucapnya lirih.
"Ya udah deh! Ternyata disini gue cuma di jadikan pajangan saja ya!" Seru Lucky cemburu.
"Ohhh sahabatku!" Seru Vani dan mereka bertiga pun berpelukan.
Sudah satu Minggu cerita Vani Vs Siska menjadi trending topik. Bahkan anak-anak lain tak segan-segan mulai mau bertegur sapa dengan Vani.
Hingga suatu ketika Lucy menangis tersedu-sedu karena orang tuanya di pecat dari tempat kerjanya. Rupanya Siska tak main-main dengan ancaman. Saat duduk di depan kelas,Ia menceritakan semuanya pada Vani.
"Entahlah Van,kalau aku juga bingung,kini orang tuaku sudah menganggur mana adikku masih kecil-kecil lagi,belum lagi si bungsu yang masih 2 tahun masih butuh popok dan susu."
Mendengar cerita sahabatnya itu Vani menjadi sangat iba. "Maafkan aku ya Lus" lirih Vani.
"Eh bukan salah kamu juga kali Van!" Jawab Lucy. "Lagian kita kan sama, sama-sama gak punya temen di sekolah ini. Aku yakin pasti bapakku nanti bakal dapat pekerjaan lagi." Tambahnya.
"Aamiin" kata Vani.
"Gimana kalau bokap Lo kerja di tempat bokap gue aja?" Kata Bimbim yang tiba-tiba muncul dari belakang Vani. "Bokap Lo masih kuatkan mikul barang? Kalo masih suruh aja besok ke tempat bokap gua. Disana banyak kerjaan. Ntar nyokap Lo suruh datang kerumah gua buat bersih-bersih rumah. Kebetulan nyokap lagi nyari asisten rumah tangga." Tambah Bimbim.
"Se…"
"Butuh kerjaan gak Lus" tanya Bimbim seolah tak memperdulikan ucapan Vani.
"I…"
"Gak usah…!!" seru Vani menyela ucapan Lucy.
"Iya butuh banget!" Seru Lucy yang dari tadi omongannya di sela oleh Vani.
"Ya udah besok ke rumah aja,ntar gua yang urus semua" kata Bimbim sambil berlalu.
"Ih kok mau sih! Ntar kalau di kerjain gimana? Kamu kan tau Bimbim kayak gimana anaknya!" Celoteh Vani.
"Tenang, Bimbim emang nakal tapi ia sopan sama orang yang lebih tua. Gak mungkin dia ngerjain orang tuaku Vani." Kata Lucy menenangkan Vani.
Semenjak kejadian tempo hari,Vani menjadi salah tingkah jika bertemu Bimbim. Ia tak dapat mengendalikan dirinya,rasanya ia ingin diperhatikan olehnya,namun sikap Bimbim sangat dingin dan seolah-olah tak pernah terjadi apapun diantara mereka. Bimbim seperti tak mengenal Vani apalagi datang kerumah Vani.
Hati Vani terasa perih,seperti disayat pisau. Dadanya sesak, seperti ada batu yang mengganjal di situ. Dia salah menilai Bimbim,kemarin ia mengira Bimbim anak yang baik dan sopan,namun sekarang ia yakin bahwa Bimbim orang yang arogan. Angkuh. Keras kepala. Berhati dingin.
"Dasar batu!" Umpat Vani.
Keesokan harinya di Minggu pagi, setelah semua tugasnya selesai Vani meminta izin kepada mamah. Ia ingin pergi bermain di rumah Lucy.
"Mah,hari ini Vani boleh gak ke rumah Lucy?"
Vani banyak cerita tentang sahabatnya itu kepada mamah. Dan mamah merespon baik tentang persahabatan mereka. Terlebih mamah sudah bertemu dengan Lucy beberapa hari yang lalu,saat mamah dan Vani mengantarkan pesanan sayuran ke tetangga Lucy. Semenjak tetangga Lucy memesan sayur ke mamah,sekarang mamah sudah jarang pergi kepasar. Karena itu,mamah lebih banyak menghabiskan waktunya di kebun belakang rumah.
"Boleh,tapi jangan terlalu sore pulangnya ya!" Kata mamah.
"Siap bos!" Seru Vani penuh semangat.
"Oya ini bawakan sayuran buat mamahnya Lucy ya,buat oleh-oleh" tambahnya sambil menyodorkan sebungkus sayuran.
"Oh! Ok mah!" Vani berangkat dulu ya mah." Kata Vani sambil mencium pipi mamah.
Mamah sengaja membawakan hasil kebunnya buat oleh-oleh keluarga Lucy,ya walaupun hanya terung,kangkung dan jagung muda beberapa biji,setidaknya bisa membuat senang yang menerima.
__ADS_1
Vani berjalan menuju jalan pintas Yang sering ia lewati,tak berapa lama ia tiba di rumah Lucy. Dari kejauhan ia melihat Lucy beserta orangtuanya di depan rumah,mereka terlihat rapi seperti akan pergi ke suatu tempat. Vani yang penasaran pun mempercepat jalannya.
"Lucy! Mau kemana?" Tanya Vani sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Ini mau nganter emak sama bapak ke rumah Bimbim,yang tempo hari dia nawarin kerjaan,baru sekarang bisa kesana" ujar Lucy.
"Oh ya! Jadi gimana dong aku?" Kata Vani sedikit kecewa.
"Ya udah ikut aja sini." Ajak Lucy.
"Mau dong!" Seru Vani. "Oya Tante ini ada titipan dari mamah buat Tante" kata Vani sambil menyerahkan kantongan bawaannya.
"Wah kok jadi repot-repot gini?" Kata emak.
"Ah enggak kok Mak" jawab Vani malu-malu.
Setelah emak menerima bungkusan dari mamah dan menyimpannya di dapur, mereka pun meninggalkan rumah. Perjalanan ke rumah Bimbim tak terlalu jauh,jadi kami memilih untuk berjalan kaki saja. Selain itu orang tua Lucy tak punya kendaraan lain selain sepeda onthel kuno milik bapak.
Setelah sekitar 30 menit berjalan kaki, rombongan Vani dan keluarga Lucy tiba di rumah Bimbim. Sebuah rumah mewah bercat putih berlantai dua,Rumah yang dilindungi dengan pagar besi yang tinggi itu tegak berdiri dengan gagah di depan mereka.
Rumah ini memiliki halaman yang cukup luas, di dalamnya terdapat berbagai macam tanaman hias,pohon Cemara dan juga kolam ikan yang diisi dengan ikan hias aneka warna. Sangat khas rumah orang kaya di film-film.
Sebelum masuk ke dalam pagar,kita harus melewati pos pengamanan yang dijaga oleh satpam. Dengan penuh sopan santun,bapak meminta izin masuk. Nampaknya bapak sedang ditanya-tanya oleh satpam. Dan tak lama setelah mendapat jawaban dari bapak,satpam pun mempersilahkan kami masuk.
"Wow bagus banget rumahnya!" Gumam Vani.
"Iya Van,bagus ya! Kalau kita disini berada seperti masuk kedalam istana." Bisik Lucy saat memasuki halaman rumah.
Dari kejauhan terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk membaca koran di balkon samping rumah. Berada di rumah seluas ini kami pun kebingungan. Karena kebingungan bapak kemudian menghampiri pria itu.
Setelah bercakap-cakap beberapa saat,bapak memanggil kami agar mendekat.
"Sini!" Perintah bapak sambil setengah berbisik.
Kami pun mendekat lalu bapak berkata "Kenalkan pak,ini istri saya dan ini anak saya yang paling besar,kalau yang ini temannya." Kata bapak memperkenalkan diri.
"Ayo salaman." Perintahnya lagi.
Kami pun bersalaman dengan pria itu.
"Salam kenal ya." Sapa ramah pria itu.
Tak berselang beberapa lama, terlihat Bimbim keluar dari dalam rumahnya.
"Eh Bim! Apa bapak ini yang kamu maksud?" Tanya pria itu.
"Oh iya pah,mereka yang Bimbim maksud." Jawab Bimbim.
Rupanya pria itu adalah papah Bimbim. Wajahnya sangat terlihat ramah dan baik. Tutur katanya pun lembut dan penuh wibawa. Berbeda jauh dengan anaknya Bimbim,nakal,jail dan slengean.
"Eh lu ngapain disini?" Tegur Bimbim kepada Vani. "Kepo lu ya?" Ledeknya.
"Enggak,aku cuma ikut mereka aja kok!" Jawab Vani gugup.
"Kalian sekelas kan? Ya udah kalau gitu,kalian masuk dulu,papah akan berbicara masalah pekerjaan dengan orang tua kalian" kata papah Bimbim.
"Bim,ajak temannya masuk."
Mendengar perintah papahnya, Bimbim langsung mengajak Vani dan Lucy masuk kedalam rumah. Rumah itu besar dan luas. Didalamnya terdapat banyak barang-barang mewah. Gorden besar dan tinggi terpasang disana. Vani tak pernah melihat rumah sebesar ini selain di TV. Tapi sekarang ia bisa melihat nyata dengan mata kepalanya. Biasanya jika di film-film rumah sebesar ini,diisi dengan mertua yang jahat pada menantunya,yang tega menyakiti dan menyiksanya. Tiba-tiba bulu kuduk Vani langsung berdiri mengingatnya.
"Hiiii!" Seru Vani.
"Apaan ha hi ha hi!" Seru Bimbim.
"Ya udah kalian duduk disini dulu!" Kata Bimbim mempersilahkan kedua gadis itu duduk di sofa.
Kedua gadis itu langsung duduk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sofa itu sangat empuk,lebih empuk dari kasur kapuk Vani di kamar. Rasanya ia ingin merebahkan badannya disitu. Namun tak mungkin,karena itu adalah sofa bukan tempat tidur.
Sesaat,Vani dan Lucy saling berpandangan dan dengan waktu yang bersamaan tersenyum, seolah-olah mereka merasakan hal yang sama.
Tak berapa lama mereka duduk, tiba-tiba muncul Lucky dari kamar atas.
"Hai Van! Hai Lus! Ngapain disini?" Teriaknya dari atas sambil berlari menyusuri tangga.
"Dah lama? Bimbim mana?" Tambahnya.
"Emm aku nemenin ortu Lucy kesini buat ketemu bokapnya Bimbim,katanya ada urusan pekerjaan." Jawab Vani
__ADS_1
"Wah gak nyangka banget kalian sampai sini." Kata Lucky dengan wajah yang gembira.
Saat mereka asyik mengobrol,tak lama Bimbim datang dan ikut dalam obrolan mereka. Vani tak menyangka akan bertemu dengan Lucky disini,ia tak tau jika Lucky adalah saudara tiri Bimbim.