The Metamorfosa Of Vani

The Metamorfosa Of Vani
Ringan


__ADS_3

Vani sangat gembira dengan tubuh barunya,rasanya ia seperti terlahir kembali ke dunia ini. Tubuh gendutnya kini mulai menyusut,rasanya makin hari tubuhnya makin ringan 20 hari menjalani diet karbo dan rutin olahraga membuat badan Vani menjadi bugar, pergerakannya pun makin lincah. Tangga tinggi yang biasa ia naiki kini terasa lebih pendek dari biasanya. Sehat itu nomor satu langsing itu bonusnya.


"Yey 20 Kg lemak jahat dah loss" teriak Vani saat kakinya menapak diatas timbangan. "PR ku masih banyak,Harus semangat" serunya.


"Mamaaaaaah!" Teriaknya dari lantai atas.


Mamah yang sedang menyiapkan sarapan kaget mendengar teriakannya,dengan buru-buru ia menaiki tangga lalu menuju kamar Vani. Ia khawatir jika ada hal tak baik terjadi pada anaknya. Apalagi beberapa waktu ini Vani mendapatkan rundungan,mamah sangat menjaga perasaan Vani agar tak terlalu stress.


"Ada apa nak!" Kata mamah,wajah mamah panik dan terlihat pucat. Namun berubah menjadi bingung saat melihat Vani yang tersenyum.


"Mamah!" Teriak Vani dan memeluk tubuh mamah.


"Tenanglah nak apapun itu kau harus kuat…." Belum selesai mamah berbicara Vani langsung melepaskan pelukannya dan mengatakan "Mah,BB Vani turun 20Kg" kata Vani kegirangan.


"Oya!" Kata mamah penuh kebahagiaan dan kembali memeluk Vani.


"Mamah yakin kau pasti bisa nak! Pasti bisa! Kau memang anak mamah yang hebat" tambah mamah dengan mata berkaca-kaca.


"Mamah kenapa menangis? Harusnya mamah senang kan?" Kata Vani saat melihat mamah melepaskan pelukannya dan duduk di pinggir kasur.


"Mamah terharu dengan perjuanganmu nak. Mamah pun tak menyangka kalau putriku bisa menjadi anak sekuat dan setegar ini. Mamah bangga padamu nak" ujar mamah sambil mengusap air matanya.


"Terus gimana dengan rokku yang melorot ini mah?" Kata Vani sambil memperlihatkan roknya yang kebesaran.


"Alah itu masalah gampang,tinggal di jepit pakai peniti aja selesai kan" kata mamah sambil memperbaiki Rok Vani yang kebesaran.


"Nah bereskan,besok tinggal di bawa ke tukang jahit. Sabar ya sayangku" ujar mamah sambil tersenyum dan mencium kening anaknya.


"Kalau sudah beres,cepat turun dan sarapan" perintah mamah sambil keluar dari kamar. Terdengar suara langkah mamah yang menuruni tangga dan tak lama kemudian ada suara piring yang sedang dirapikan.


Seperti biasa setelah sarapan, Vani berangkat ke sekolah diantar mamah dengan motor bututnya.


"Mah disini aja mah" kata Vani menghentikan kendaraannya pertengahan jalan. Mamah yang bingung tetap menuruti keinginan Vani,motor mulai menepi dan berhenti di bawah pohon besar di pinggir jalan.


Rupanya Vani ingin jalan kaki sekalian membakar lemak. Awalnya mamah ragu dan khawatir terjadi apa-apa pada anaknya,apalagi jika sampai ia di rundung di jalan oleh temannya. Namun Vani terus meyakinkan mamah jika ia akan baik-baik saja. Terjadi perdebatan kecil antara mereka dan akhirnya mamah pun menyetujuinya.


Mamah memutar balik motornya,dengan penuh semangat Vani berjalan kaki di sekolah. Saat melewati tanjakan yang biasanya ia harus turun dari motor,ia tersenyum geli sambil tersenyum dan berkata "Disini aku selalu turun dan berasa berat banget, tapi sekarang menanjak gini terasa ringan. Pagi hari biasa kaki ku pegal-pegal dan sakit saat menapak lantai,kini terasa lebih enakan gak terlalu sakit, ternyata diet itu menyenangkan. Aku harus semangat sampai Berat badanku ideal! Semangat Vani." Gumamnya saat tiba di ujung tanjakan.


Ia pun mulai berlari kecil saat jam di arlojinya menunjukkan pukul 06.55. Ia harus bergegas agar pak satpam tak menutupkan gerbang.


"Buruan Ndut" kata salah seorang siswa sambil berlari mendahului Vani.


"Ndat Ndut ndat Ndut! Udah mau telat masih aja ngeledekin orang!" Gerutu Vani.


Nafas Vani rasanya hampir putus,namun ia harus terus berlari agar satpam tak menutup gerbang. Dari kejauhan tampak Lucky yang juga baru datang,ia berhenti tepat di tengah-tengah gerbang sehingga satpam yang ingin menutup gerbang jadi terhalang oleh badan Lucky lalu ia sengaja sengaja memperbaiki tali sepatunya sambil memberi kode agar Vani dan teman yang lain segera masuk. Setelah Vani dan teman lain masuk ia berdiri dan ikut menyusul Vani masuk.


"Van! Tunggu" teriaknya sambil berlari menghampiri Vani. Dengan santainya ia meletakkan tangan kanannya di pundak Vani. Jantung Vani terasa hampir lepas mendapatkan perlakuan seperti itu dari Lucky. Baru pertama kali ini ia dirangkul lelaki. Badannya gugup dan bercampur aduk dengan perasaan deg degan yang tak biasa. Tangannya mulai dingin,badannya seperti melayang,matanya tak mampu melihat kearah lucky saat Lucky bertanya


"Tumben jalan kaki,emang mamah kemana?"


"A..ada kok" jawab Vani singkat.

__ADS_1


"Motor rusak?" Tanyanya lagi


"Bu … bukan gitu,aku sengaja jalan sambil olahraga." Jawab Vani gugup


"Oya! Wah hebat lu Van" kata Lucky seperti tak yakin.


"Ssttt jangan bilang siapa-siapa ya BB ku dah turun 20 kg,liat nih rokku di jepit pakai peniti" kata Vani sambil memperlihatkan jepitan pada Roknya.


"Gila! Vani lu hebat Van! Lanjutkan sampai badan lu ideal. Dan lu tunjukkan pada semua kalau lu bisa seperti yang lain" kata Lucky dengan penuh semangat.


"Apa setiap laki-laki menginginkan perempuan yang memiliki body ideal ya?" Tanya Vani.


"Iya! Rata-rata laki-laki melihat fisik dulu baru hati" kata Lucky sambil memperbaiki rambutnya.


"Ternyata semua laki-laki sama,mereka hanya memandang fisik." Kata Vani dalam hati. "Gak papa,aku harus semangat seperti yang dikatakan Lucky" katanya lagi.


Sepanjang jalan menuju kelas mereka terlihat akrab dan saling bercanda gurau.


Sesampainya di kelas mereka seperti tak memperdulikan siswa lain,mereka hanya fokus satu sama lain dan duduk di bangku masing-masing. Sebenarnya saat menuju bangkunya Vani melihat lirikan tajam Siska,namun ia sengaja seperti tak melihatnya dan fokus berbincang dengan Lucky. Siska makin kesal saat melihat keduanya terlihat sangat akrab.


Jam istirahat pun berbunyi,setiap siswa keluar dari ruangan,ada yang ke kantin,ada yang ngobrol dengan yang lain,ada yang usil dan ada yang menetap dalam kelas. Seperti Vani dan Lucky yang memilih untuk tetap dalam kelas.


"Tumben gak bawa bekal nasi" tanya Lucky saat melihat Vani membuka tempat bekalnya yang berisi buah-buahan potong.


"Diet Luck… diet!" Jawab Vani penuh semangat.


"Emang kenyang?"


"Yah gua bakal kangen sama masakan mamah! Tumis kangkung campur tempe dan juga telur goreng buatan mamah! Ahhh lapar gua Van." Gerutu Lucky.


"Ya udah makan di kantin aja Luck,besok kalau mamah masak aku bawakan ya,khusus buat kamu." Kata Vani pada Lucky.


"Janganlah Van,gua gak mau jadi beban, apalagi lu Sekarang kan jalan kaki kalau ke sekolah." Keluh Lucky.


"Ya gak papa sih buat aku,lagian kamu gak ngebebani aku kok Lucky" kata Vani tersipu malu.


"Ya udah terserah lu aja,yang penting beneran aku gak Bebani lu kan?"


"Aman!"


Sejak pulang dari sekolah Vani hanya menghabiskan waktunya di kamar,bayangan Lucky melekat erat di pikirannya.


"Ahh… Gak…Gak…Gak boleh dan gak mungkin" seru Vani sambil bangkit dari tidurnya.


"Daripada mikir yang aneh-aneh mending aku jogging aja deh!" Tambahannya penuh semangat.


Sekejap mata ia mengganti pakaiannya dan bergegas untuk jogging. Waktu menunjukkan pukul 15.30,saat itu matahari sudah tak terlalu panas, sinarnya tak terlalu menyakiti kulitnya. Dengan mengenakan baju putih lengan panjang,celana legging hitam dan sepatu hitam lengkap dengan kupluknya ia mulai menyusuri gang sempit di depan rumahnya.


Semenjak diet,Vani menghabiskan waktunya untuk berolahraga,ia benar-benar ingin memiliki tubuh yang ideal seperti remaja pada umumnya.


"Olahraga Ndut! Semangat Ndut!" Seru seorang teman di sekolahnya namun berbeda kelas.

__ADS_1


"Yoi!" Seru Vani dengan nada cuek.


"Kalau dah kurus mau gak pacaran ma aku,Ndut!"


"Sorry selera gua bukan elu!" Jawab Vani kesal.


"Nj*r sombong amat dah! Lagian biar lu kurus,gak bakal gua mau sama lu! Lu item jelek!"


"Lah bodo amat!" Seru Vani sambil meninggalkannya.


"Aneh-aneh dah,orang diet mau sehat malah di ledekin!" Gerutu Vani.


Sepulangnya dari dokter Rin,Vani kini memiliki kepercayaan diri. Perlahan-lahan Vani mencari jati dirinya. Apa yang Siska katakan tentang Vani semua tak penting,yang terpenting adalah ia harus sehat,bahagia dan hidup tenang.


Keesokan hari Vani berangkat sekolah jalan kaki,tekatnya makin bulat untuk memiliki tubuh yang ideal. Olahraga Yes, suplemen yes dan diet rendah kalori juga yes.


Ia harus fokus olahraga agar tubuhnya tak gelambir saat kurus nanti. Beberapa video senam aerobik dipraktekkan. Dengan perubahan ini Vani sangat bahagia. Namun disisi lain Siska sangat membenci perbuatan Vani,ia geram karena takut tersaingi oleh Vani. Apalagi semenjak Vani minum susu suplemen khusus diet, kulitnya menjadi lebih cerah,jerawat di wajahnya pun mulai mengering. Kini wajahnya terlihat mulai cerah. Rambut yang dulunya ikal dan lepek mulai terlihat halus dan terawat.


Di kelas yang sunyi Vani tengah duduk sendiri di bangkunya. Lucky sedang tak disana,nampaknya ia sedang berada di ruang OSIS untuk menyelesaikan beberapa hal. Lucky merupakan anggota OSIS,ia menjabat sebagai sekretaris dan sekarang ia sedang sibuk untuk mengurusi Porseni yang akan diadakan pekan depan.


Di kelas itu Vani tengah menyantap makan siangnya,ada dua kotak bekal yang ia bawa,yang satu berisi makanan untuk Lucky dan yang satu berisi buah-buahan.


Saat Vani sedang enak-enaknya menyantap makanannya muncullah Siska n the geng.


"Hay putri diet!" Sapa manis Siska.


Vani sangat takut,ia hanya melihat Siska yg duduk di ujung mejanya lalu tertunduk.


"Apaan nih! Disapa diem aja! Bis*?" Hardik Siska sambil memegang keras dagu Vani.


Pelan-pelan Vani menelan sisa makanan di mulutnya.


"A..a.. ada apa Siska?" Tanya Vani gugup.


"Ada apa?" Tanyanya ketus. "Lu diet? Wah pantesan gak kayak badak lagi! Kurusan dikit jadi SAPI! KERBAU! MOOOOOO!" ejek Siska.


Vani hanya diam dan membisu,ia tak berani melawan siska,ia lemah tak memiliki kekuatan apapun. Dalam hati kecilnya ia ingin marah! Ingin teriak! Dan ingin menarik-narik rambutnya!


"Heh! "Apa liat-liat!" Gertak Siska sambil menarik kotak makan Vani. Masih tersisa banyak buah-buahan potong di dalamnya. Tanpa pikir panjang, Siska mengambil segenggam buah-buahan itu dan meratakannya di wajah Vani. Satu teman menarik wajah Vani agar Siska dengan leluasa bisa menjalankan aksinya.


Setelah satu genggaman telah rata di wajah Vani, Siska mengambil segenggam lagi dan memasukkan paksa buah-buahan itu mulut Vani.


Kini buah-buahan itu mengotori baju Vani,Vani hanya bisa menangis meratapi nasibnya.


"Jangan cuma diet aja! Muka juga perlu dirawat!" Hardik salah satu anggota geng Sisa.


"Dan itu tadi tutorial cara pake masker alami! Hahahaha" tambah seorang lagi dengan tawa girang.


Siska Lovers sangat menikmati apa yang mereka lakukan. Terlihat wajah Siska sangat puas dengan perbuatannya.


Di toilet sekolah Vani membersihkan bajunya dari sisa-sisa buah potong tadi,semua sudah bersih,hanya tertinggal noda dari buah naga. "Tapi tak apa,nanti di rumah bisa dibersihkan pake deterjen pemutih" gumam Vani.

__ADS_1


Setelah semua sudah bersih,Vani kembali ke kelasnya dan mengikuti pelajaran seperti biasa.


__ADS_2