
Sepulangnya dari rumah Bimbim,Lucy dan Vani terus menceritakan keseruan mereka tadi. Tak disangka ternyata walaupun orang kaya mereka orangnya ramah. Hanya saja, Bimbim gak seramah Lucky dan Papahnya.
"Kok Bimbim beda ya sama papah dan kakaknya?" Celetuk Vani saat tiba dirumah Lucy.
"Iya. Bimbim sombong dan angkuh" kata Lucy sambil merebahkan badannya di bale-bale depan rumahnya.
Saat dua gadis ini sedang asyik bercerita, tiba-tiba emak datang membawa es teh buat mereka. Cuaca panas seperti ini memang es teh sangat cocok untuk melepas dahaga. Ditambah lagi perjalanan dari rumah Bimbim yang terbilang cukup jauh.
Tadinya Lucky ingin mengantar mereka namun mereka menolak karena tak ingin meninggalkan emak sama bapak sendirian jalan kaki.
"Duh es tehnya seger banget! Pas! Cocok! Mantap!" Puji Vani setelah meneguk habis segelas es teh.
Kini tubuhnya tak terlalu gemuk seperti dulu, gelambirnya pun sudah banyak berkurang. Memang selama 3 bulan terakhir ini dia benar-benar fokus menurunkan badan. Ia ingin segera mendapatkan Berat Badan yang ideal. Sudah banyak baju dan dress yang ia masukkan di keranjang toko online. Rasanya ia tak sabar ingin membuka tabungannya dan memakai pakaian-pakaian itu. Ia juga tak sabar ingin melihat ekspresi Siska saat melihat dirinya memakai gaun indahnya.
"Van,kayaknya enak nih kalau kita minum es kelapa muda deh. Rasanya minum es teh aja belum lega" keluh Lucy.
"Enak juga tuh!" Jawab Vani.
"Ya udah ayo ke belakang yok,aku panjatkan kelapa muda,ada pohon kelapa hijau di belakang gak terlalu tinggi."
"Serius lu!" Tanya Vani heran.
"Emang gue pernah bo'ong?" Lucy balik bertanya.
Dalam pikiran Vani,ini adalah hal yang sangat menakjubkan. Bagaimana bisa seorang gadis memanjat pohon kelapa! What the f… "Tenang Vani! Apa yg gak mungkin terjadi di kota bisa terjadi disini! Tenang!" Batinnya.
Sampai di belakang rumah, Lucy langsung mengambil sebuah parang. Parang itu ia selipkan di pinggangnya. Lalu sambil berjalan ia melihat ke arah atas untuk melihat kelapa mana yang nantinya akan ia petik.
Di belakang rumah Lucy memang terdapat beberapa pohon kelapa,pohon itu mengelilingi setiap sudut rumahnya,ada yg tinggi dan ada yg rendah. Lucy memilih pohon yang rendah dan banyak buahnya.
Konon katanya sebagian pohon yang sudah tinggi ini,sudah ada sejak Lucy masih kecil dulu. Bapak sering mengumpulkan kelapa tua dan menjualnya. Pohon-pohon itu pun menjadi salah satu tambahan penghasilan untuk keluarga Lucy.
Selain pohon kelapa,di bagian pinggir pekarangan terdapat juga pohon durian,daunnya lebat dan menjulang tinggi ke langit. Seperti cita-cita kedua gadis itu,yang ingin sukses di masa mudanya. Mereka ingin membahagiakan orangtuanya dan memiliki jodoh yang mapan,serta hidup bahagia dan sejahtera.
"Woi! Turun woi! Bahaya tuh" seru Vani dari bawah pohon kelapa yang di panjat Lucy.
"Tenang aja!" Jawab Lucy menenangkan sahabatnya itu. "Eh minggir! Dan … bruuukkkk satu persatu kelapa tua dan muda berjatuhan.
Vani langsung lari terbirit-birit karena takut kejatuhan kelapa. "Wah parah lu Lus! Nyawa gue hampir aja ilang!"
"Wkwkwkwk ya makanya minggir" kata Vani sambil turun dari pohon.
Setelah sampai di bawah,mereka mengumpulkan kelapa-kalapa itu. Yang tua disisihkan karena nantinya akan dibersihkan serabutnya dan di jual lumayan sebutir kelapa di hargai tiga ribu rupiah oleh pengepul.
"Van,ambil baskom di dalam ya! Kalo gak tau tanya emak!" Perintah Lucy sambil mengayunkan parangnya membuka kelapa.
Tak berapa lama Vani datang membawa baskom yang diminta Lucy.
"Hmmm enak!" Seru Vani.
"Ini tambahin gula merah biar enak" kata emak sambil menyodorkan segumpal gula.
"Ih… saya suka saya suka!" Seru Vani sambil mengikuti gaya Memey di serial Upin dan Ipin.
"Kurang es batu ini mah!" Kata Lucy sambil menambahkan es batu sisa es teh tadi. "Nah ini baru pas."
Mereka Pun menikmati es kelapa muda buatan Lucy bersama keluarga Lucy di belakang rumahnya.
__ADS_1
Tak terasa waktu pun berlalu,jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore. Dengan berat hati Vani berpamitan dengan Lucy,emak dan bapak yang kebetulan sedang berkumpul dan duduk di bale-bale teras rumahnya.
Vani sangat senang berada di rumah Lucy karena Lucy memiliki adik cewek yang sangat lucu dan imut-imut.
Setelah 15 menit berjalan kaki,Vani akhirnya tiba di rumah.
"Mamah Vani pulang" serunya saat tiba dirumah. "Mah! Mamah!" Panggil Vani lagi. "Mamah dimana sih?" Kata Vani sambil terus mencari mamah.
"Mamaaaaaah" teriak Vani sekuat-kuatnya namun tetap tak ada jawaban. Vani mencari ke belakang rumah pun mamah juga tak ada.
"Mamah dimana?" Serunya sambil menangis.
Lalu tiba-tiba pintu kamar mamah terbuka "Apa sih nak? Teriak-teriak kayak anak kecil saja!"
"Mamah dipanggil gak jawab-jawab" kata Vani sambil berlari dan memeluk mamah.
"Mamah itu sholat!" Bentak mamah.
"Ya maaf mah,mana Vani tau!" Kata Vani membela dirinya.
"Kami pergi lama sekali,mamah kesepian di rumah." Kata mamah dengan nada sedih. "Lain kali jangan lama-lama mainnya,mamah gak ada teman dirumah" tuturnya.
"Baru sehari ditinggal dah kesepian! Gimana kalau Vani nanti nikah coba?" Celetuk Vani.
"Lho anak mamah dah besar rupanya,dah mikir nikah segala." Ledek mamah. "Apa sama yang tempo hari datang ke rumah?"
"Gak! Aku gak mau sama cowok arogan seperti dia!"
"Jangan berkata seperti itu gak baik,nanti malah suka lagi" tambah mamah.
"Gak mungkin mah,dia orang kaya, sementara kita orang miskin,kita gak sebanding dengan dia mah! Dan juga selera dia belum tentu Vani juga kan!" jelas Vani.
"Dia anak pemilik perusahaan teh lokal di kampung sebelah mah. Vani tadi dari sana,ikut emak sama bapaknya Lucy ngelamar kerja di rumah Bimbim. Rumahnya besar mah, seperti di film-film itu mah."
"Papahnya ramah banget,sopan dan terlihat bijaksana serta berwibawa. Beda banget sama Bimbim. Pokoknya 180 derajat berbeda dengan papahnya! Ntah dia mirip siapa?" Terang Vani panjang lebar.
"Oh! Jadi begitu" kata mamah sambil manggut-manggut.
"Oya mah! Ternyata lagi mah, Bimbim sama Lucky itu saudara tiri mah. Lucky itu loh mah yang sering Vani ceritakan"
Saat mereka asyik bercerita tiba-tiba,suara guntur keras dan hujan lebat pun turun. Mereka pun langsung berlari berhamburan.
"Cepat-cepat nak nanti jemurannya basah semua!" Seru mamah sambil menarik satu persatu pakaian yang tergantung di kawat tali buatan papah sebelum berangkat ke Luar Negeri.
.
.
.
Setelah kejadian tempo hari bersama Siska, ditambah lagi pertemuan mereka di rumah Bimbim,kini Lucky, Lucy dan Vani selalu berkumpul bersama,di jam istirahat mereka berkumpul di meja Vani dan membentuk lingkaran. Mereka tertawa dan bersenda gurau bersama,makan bersama serta mengerjakan tugas bersama. Sangking seringnya mereka menghabiskan waktu bersama, akhirnya mereka menamai diri mereka dengan 3 sekawan.
"Eh! Gimana kalau kita bikin geng namanya tiga sekawan. Baguskan namanya?" Usul Lucky.
"Ih aku takut geng-gengan,nanti di ganggu Siska lagi." Ujar Lucy sambil menelan makanannya.
"Iya aku juga takut ih" tambah Vani.
__ADS_1
"Tenang kan ada aku!" Kata Lucky dengan penuh wibawa.
"Ya udah aku setuju!" Seru Vani.
"Aku juga" kata Lucy ikut-ikutan.
"Kalau gitu high five dulu!" Ajak Lucky.
"High five!" Seru mereka sambil tertawa riang penuh kebahagiaan.
Berita terbentuknya tiga sekawan pun terdengar sampai di telinga Siska. Dengan penuh emosi dia memukul meja kantin,semua yang ada disitu kaget dan langsung terdiam.
"Apa! Aku gak terima kalau ada geng lain selain Siska Lovers dan Bimbim the geng! Pokoknya aku bakal ngasi pelajaran ke mereka! Terutama si Vani gendut itu!"
Kemarahan Siska di kantin siang ini,santer terdengar di telinga siswa lain,berita ini gempar sampai kemana-mana. Tiga sekawan yang baru terbentuk, langsung berkumpul untuk membicarakan hal ini supaya tidak terjadi perundungan lagi.
"Kalian tenang aja! Ada aku kok" kata Lucky menenangkan.
"Iya kita tenang aja Lus,lagian emak sama bapakkan sudah gak kerja di tempat Siska lagi,jadi kamu gak perlu khawatir mereka kenapa-napa" ujar Vani.
"Ho'oh! Aku sekarang sedikit tenang,untung ada Bimbim yang bantu emak sama bapak kemarin,kalau enggak aku gak tau bakal jadi seperti apa." Ungkap Lucy.
Mereka sepakat untuk selalu bersama dan tak berpisah satu sama lain sampai situasi membaik.
Di sisi lain Bimbim yang berada di kediamannya,mendatangi kamar Lucky yang saat itu sedang ingin tidur siang.
"Eh Luck! Bisa gak lu gak bikin gaduh di sekolah!" Kata Bimbim yang membuka pintu kamar Lucky secara tiba-tiba.
Lucky yang tengah berbaring diatas kasur langsung duduk karena terkejut dengan kedatangan Bimbim.
"Maksudnya?" Jawab Lucky santai.
"Jangan pura-pura gak tau ya! Lu kan tau gimana Siska,tapi kenapa lu malah bikin geng baru bersama anak-anak cupu itu! Kalau lu mau punya geng,lu tinggal masuk geng gue!" Seru Bimbim dengan penuh kegusaran.
"Bukan gitu Bim,lu kan tau mereka itu sering di rundung Siska,nah itu sebabnya…."
"Alah gak usah sok jadi pahlawan! Urus saja urusan lu sendiri!" Kata Bimbim memotong pembicaraan Lucky.
"Gue peringati lagi ya! Kalau sampai ada keributan lagi di sekolah,awas! Ancam Bimbim.
Mendapat ancaman seperti itu,Lucky hanya tersenyum ,ia tau betul sifat dan karakter adik tirinya itu. Dan ia juga memaklumi sikapnya karena dia dari kecil sangat di manja oleh papah dan mamah.
Apalagi sebelum Bimbim lahir,saat itu mamah sempat keguguran di usia kandungan 2 bulan. Saat itu mamah trauma berat tapi untung selang 2 bulan setelah keguguran mamah langsung hamil Bimbim.
Walaupun Lucky dan Bimbim berbeda ibu,mereka tetap dibesarkan bersama dalam satu atap,namun Lucky memiliki pemikiran yang dewasa, hidupnya santai seperti tak memiliki masalah,ia selalu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan tak suka kegaduhan. Ibu Lucky meninggal dunia saat melahirkan Lucky,jadi Lucky tak pernah melihat ibunya. Setelah beberapa bulan Lucky lahir didunia papah yang kewalahan merawat Lucky sendiri, akhirnya menikah lagi dengan mamah yang sekarang merawatnya.
Kehidupan mereka dulu tak seperti sekarang,mereka harus jungkir balik menghadapi kerasnya dunia,dengan kegigihan dan ketekunan mereka, akhirnya mereka bisa sukses bersama dan berhasil mendirikan perusahaan.
Jika Lucky memiliki pribadi yang dewasa lain dengan Bimbim yang kekanak-kanakan. Ia memiliki rasa empati yang sangat tinggi terhadap sesama. Ia memiliki sikap yang tertutup dan memilih teman bergaul. Mood-nya sering berubah-ubah,kadang tiba-tiba marah kadang tiba-tiba baik sekali. Dalam segala hal ia sangat terstruktur dan sistematis. Setiap barang yang ia miliki harus tertatap rapi dan teratur.
Namun,mamah dan papah tak pernah membedakan keduanya,mereka diberikan fasilitas yang sama,kasih sayang yang sama dan cinta yang sama. Mamah menyayangi Lucky seperti anaknya sendiri. Begitu pun Lucky menyayangi mamahnya seperti mamah kandungnya sendiri.
"Kenapa lagi nak?" Kata mamah di ujung telpon. Rupanya mamah mendengar percakapan mereka dan menelpon Lucky.
"Gak ada apa-apa mah. Hanya masalah kecil di sekolah aja kok mah!"
"Ya udah kalo gitu. Lucky tau kan adek seperti apa,jadi ngalah aja" tambah mamah.
__ADS_1
"Siap mah"