
Minggu berikutnya di jam olahraga dengan penuh semangat Vani menuju ruang ganti. Kali ini ia memilih untuk duluan mengantri agar kejadian minggu lalu tak terulang.
Nampak Lucy berada di depan pintu Vani,mencegah rundungan dari Siska terjadi lagi. “Jadi ntar Lu nungguin Vani di depan pintu bilik ruang ganti dan Lu Van gantian jagain si Lucy! Pokoknya kita harus saling melindungi satu sama lain. Dan gue nungguin kalian di depan pintu luar.
Mereka hanya mengangguk dan segera menjalankan instruksi dari ketua geng tiga sekawan. Dari gerak-geriknya,tak ada yang perlu dicurigakan. Seperti biasa siska mendapatkan tempat lebih dahulu dibandingkan siswa lain. Setelah geng mereka selesai ganti pakaian mereka langsung keluar ruangan tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Dari depan pintu bilik,Lucy mengisyaratkan ke Lucky bahwa keadaan aman. Setelah berganti pakaian Lucy dan Vani pun berbaur dengan yang lain.
“Aman gais!” Bisik Vani pada Lucy selepas keluar dari ruang ganti.
Suara peluit pak guru mulai berbunyi,semua murid mulai berkumpul dan berbaris rapi,mereka merentangkan tangan untuk memberi jarak antara satu dengan yang lain.
“Pertemuan kali ini kita akan berlatih lempar lembing,jadi nanti setiap anak akan mempraktekkan setiap gerakan yang akan bapak peragakan terlebih dahulu! Jadi kalian harus perhatikan baik-baik! Paham?
“Paham!” Seru semua siswa bersamaan.
“Nah sebelum kita mulai pelajaran kali ini,mari kita berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing. Berdoa mulai” kata pak guru menginstruksikan saat akan memulai pelajaran.
Setelah selesai berdoa pelajaran pun dimulai dengan melakukan pemanasan disusul dengan mempraktekkan Lempar Lembing yang telah pak guru peragakan sebelumnya. Setiap siswa yang maju diberi nilai oleh pak guru. Nilai A adalah nilai terbaik.
“Yess aku dapat A!” Wajah Lucy sangat girang saat lemparannya melesat sempurna. Disusul dengan Vani yang hanya mendapat nilai B.
“Yah aku cuma dapat B” keluh Vani dengan nada sedih. Gerakan Vani sebenarnya sempurna,hanya saja lemparannya kurang jauh.
“Gapapa B juga bagus kok! Semangat bestie!” Kata Lucy memberikan semangat.
Sambil mengernyitkan dahi Vani berkata “not bad! Hahaha!”
.
.
.
__ADS_1
Di sela-sela pelajaran pak guru berkata: “Untuk yang sudah praktek silahkan berolahraga sesuai keinginan kalian,jika ada yang mau main sepak takraw,Voli atau sepak bola,bisa ambil bolanya di gudang belakang. Setelah bermain bilah harus dikembalikan ke tempat semula,ketua kelas sebagai penanggung jawab.” Kata pak guru.
“Siap pak!” Teriak para murid.
Lalu di tengah-tengah pelajaran olahraga, tiba-tiba Siska menemui Vani yang sedang berdiri sendiri di dekat pohon. Saat itu ia sedang menunggu Lucy keluar dari toilet.
“Van!” Panggil Siska.
“Iya Siska,ada apa?” Tanya Vani polos.
“Oya mengenai masalah minggu kemarin,aku minta maaf ya! Maukah kau memaafkan ku?”
Permintaan maaf Siska pun diterima dengan senang hati oleh Vani.
“I…iya aku maafin kok,tapi jangan diulang lagi ya?” Kata Vani mengingatkan.
“Tenang aja,gak akan aku ulang lagi kok.” Ungkap Siska.
Tanpa berpikir panjang,Vani langsung mengiyakannya,dan menuruti permintaan Siska. Dalam benaknya Siska sudah meminta maaf padanya jadi tak mungkin ia akan dirundung lagi olehnya.
Mereka pun berjalan beriringan menuju gudang belakang,sambil menceritakan satu sama lain. Vani bingung bukankah bola voli letaknya bukan di gudang sini ya? Tapi di gudang depan dekat kantor. Sesampainya di depan gudang,dengan cekatan Siska membuka pintu gudang,lalu dengan kerasnya ia mendorong Vani masuk ke dalam gudang.
Di dalam gudang sangat gelap dan pengap. Tak ada bola Voli yang Siska maksud. Isinya hanya tumpukan meja dan kursi tua yang sudah reot. Replikasi tulang belulang manusia yang rusak usai dipakai praktikum menjadikan ruangan itu makin seram. Pepohonan rindang yang terlihat dari kaca jendela menambah suasana angker dalam ruangan itu.
Vani yang kaget tak dapat mengimbangi badannya. Ia pun tersungkur ke lantai. Secepat kilat kaki Siska sudah ada di pundak Vani,rambutnya di Jambak serta pipinya ditampar beberapa kali oleh Siska.
“Au!” Teriak Vani.
“Apa! Mau teriak! Coba teriak yang keras!” Hardik Siska.
“A..apalagi salahku?” Kata Vani terbata-bata. Air matanya mulai berderai,ia tak sanggup menahan sakit setelah diinjak-injak,dijambak dan ditampar. Mengingat mamah dan papah tak pernah melakukan hal sekasar ini padanya. “Penderitaan macam apa ini!” Teriaknya dalam hati.
“Mau tau salah lu apa! Gara-gara lu! Bimbim dan Lucky ngejauhin gue!”
__ADS_1
“Ga…gara-gara aku?” Tanya Vani bingung.
“Iya gara-gara lu! Mereka lebih membela lu daripada gue! Harusnya lo ngaca! Lu itu badak! Jelek! Hitam! Hidup lagi!” Bentak Siska sambil menunjuk tepat di depan mata Vani.
“Dan ya! Awas aja kalau lo masih dekat-dekat mereka! Mereka itu milik Siska bukan milik Badak kayak lo! Paham!”
Di sana ia di siksa habis-habisan,setelah merasa puas melakukan itu semua Siska langsung menguncikannya di gudang.
Di dalam ruangan yang gelap dan berdebu,gadis itu menumpahkan semua air matanya. Ia tak dapat menahan sakit hati yang ia derita. Seketika ia mengingat papah yang sangat menyayanginya,yang selalu menjaganya di saat-saat seperti ini. Papah yang selalu jadi superhero untuknya kini tak ada disini,ia harus pergi ke negeri jiran untuk mencari nafkah buat keluarga.
“Papaaaaahhhh…!!!!” Teriak Vani. “Papah kapan pulang? Vani sakit pah! Vani tersiksa! Marahi dia pah! Dia yang sudah buat Vani hancur seperti ini!” Tambahnya sambil menangis tersedu-sedu.
.
.
.
Di tempat lain Lucky yang sedang bermain bola, tak sengaja mendengar percakapan Siska dan kawan-kawan. Dengan segera Lucky pergi ke gedung belakang. Di sana ia dapati kunci yang melekat di pintu,buru-buru ia membuka pintu gudang lalu melihat Bimbim tengah membantu Vani untuk berdiri.
“Udah biar aku aja!” Lucky kepada Bimbim. Dengan cueknya Bimbim melepaskan rangkulannya pada Vani dan Lucky dengan sigap memapah Vani.
“Lu gapapa kan?” Tanya Lucky penuh kecemasan. “Aku kan dan bilang jangan pisah dengan Lucy!”
Vani hanya menangis dan tak mampu mengatakan sepatah kata pun. Rambutnya acak-acakan,bajunya berantakan dan pipinya memerah karena bekas tamparan. Lucky yang melihat semua ini jadi makin geram dengan tingkah Siska yang makin hari makin menjadi-jadi dan tidak memiliki perikemanusiaan.
“Ya udah kita ke UKS aja,kita obati lukamu ya.” Ajak Lucky.
Selangkah demi selangkah mereka berjalan menuju UKS. Dalam perjalanan Vani yang merasa tak enak berkata “Pasti badanku beratkan?”
“Udahlah lupakan itu semua,yang penting kamu harus diobati dulu ya.”
“He’eh” jawab Vani mengiyakan ucapan Lucky.
__ADS_1