
Tubuhnya gemetar saat melihat noda merah di sprei hotel. Seketika air matanya tumpah ruah hingga membuatnya terduduk di ujung kasur.
Lelaki yang sejak semalam bersamanya masih tidur pulas dan terbangun saat tangis gadis itu pecah.
“Sayang kamu kenapa?” Tanya Bimbim.
“Yank,ini gimana?” Vani balik bertanya.
“Tenang ada aku disini menemanimu!” Jawab Bimbim memenangkan Vani.
“Janji?” Tanya Vani polos.
“Janji sayang!” Jawab Bimbim. “Ya udah kamu mandi dan kembali ke kamarmu siap-siap pulang ya!”
“Tapi yank!” Sanggah Vani.
“Udah sana!” Sergah Bimbim.
Tanpa sepatah kata,Vani langsung melaksanakan perintah Bimbim. Setelah selesai mandi ia langsung mengendap-ngendap masuk ke kamarnya.
“Syukurlah!” Kata Vani saat melihat kondisi kamar sepi. Rupanya Lucy sedang tak ada di kamar. Ia pun bergegas membereskan barangnya. Lalu tiba-tiba terdengar pintu terbuka. Klek!!!!
“Eh Vani.” Sapa Lucy kaget.
Vani hanya membalas sapaannya dengan senyuman. “Dari mana bebs?” Tanya Lucy malu-malu.
“Semalam aku ketiduran sendiri di depan,tau-tau bangun sudah gak ada orang. Kamu tidur sendiri dikamar?” Tanya Lucy.
“Emmm i iya!” Jawab Vani gugup.
Vani sangat bersyukur karena Lucy tak ada di dalam kamar malam tadi. “Syukurlah Lucy gak tau kalau aku semalam sama Bimbim. Kalau tau bisa berabe nih!” Bisik Vani dalam hati.
“Kenapa gugup gitu sih?” Tanya Lucy heran.
“Emmm Gapapa kok! Lanjut beberes yok.” Ajak Vani.
Setelah semuanya sudah beres,jam 11 siang mereka semua keluar dari Villa. Dan benar saja di parkiran sudah menunggu bus yang ditumpangi saat berangkat kesini.
Tanpa menunggu lama,semua naik ke dalam bus dan dengan segera sopir menancap gasnya. Diperjalanan pulang tak banyak yang bercerita mereka hanya saling diam dan kebanyakan tidur. Berbeda dengan saat berangkat 2 hari yang lalu.
Vani yang sedari tadi menahan kantuk akhirnya harus menyerah di pundak Bimbim. Berkali-kali kepala gadis itu tertunduk karena tak dapat menahan kantuknya. Dengan lembut Bimbim mengarahkan ke pundaknya agar kekasihnya bisa tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
.
.
.
Kisah asmara dua remaja ini terjalin sangat romantis,mereka hanya bergelut dengan dunia mereka. Saling menyayangi satu sama lain,berdua dalam suka dan duka.
Hanya saja kendalanya adalah mungkinkah keluarga Bimbim mau menerima Vani? Seorang gadis berlatar belakang yang hanyalah seorang anak petani? Ayahnya pergi tanpa kabar setelah bisnisnya bangkrut? Kakak-kakak Vani yang tak pernah memberi kabar pada ibunya yang di desa?
“Gimana kalau orang tuamu tak merestui hubungan kita? Aku dan kamu bagaikan langit dan bumi.” Kata Vani.
“Kenapa tiba-tiba tanya gitu? Aku sayang dan cinta kamu,jadi aku bakalan perjuangkan kamu.” Tegas Bimbim sambil menatap dalam mata Vani.
Ditemani rintik hujan dan semilir angin,dua remaja itu memadu kasih di gazebo tempat biasa mereka bertemu. Udara sore itu sangat dingin,ditemani teh hangat yang Vani bawa di termos dan juga beberapa keping biskuit untuk menemani sore mereka.
“Bulan depan kau sudah harus pergi ke luar negeri” bisik vani tertunduk.
“Hmmm terus?” Tanya Bimbim.
“Aku takut,kalau sampai aku…” kata-kata Vani terhenti. Ia terus menunduk sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
“Takut kenapa?” Tanya Bimbim heran.
Ucapan Vani barusan di tanggapi guyonan oleh Bimbim. Sambil menarik pipi Vani ia berkata “Mana mungkin kan di keluarin diluar!”
“Kan aku bilang pakai pengaman yank! Tapi kau menolak!” Sesal Vani.
“Gak enak!” Jawab Bimbim singkat.
.
.
.
Hari-hari berlalu. Tak terasa waktu untuk berpisah tinggal menghitung hari. Di sebuah rumah tua,di dalam kamar kecil berukuran 4*3 meter,Vani mondar-mandir melihat kalender. Menghitung hari dan menunggu datang bulan yang tak kunjung didapatkan.
“Sudah lewat dari tanggal semestinya.” Gumam gadis itu.
Jari jempolnya di gigit kecil sambil membolak-balikkan kalender. “Harusnya tanggal 6 udah dapat ini udah tanggal 20 belum dapat juga.
__ADS_1
Ia makin panik saat melihat tanggal yang dilingkari dengan spidol merah,tanggal dimana Bimbim akan berangkat ke Luar negeri. Ditambah lagi badannya yang mulai lemas dan mual-mual.
“Mungkin aku maag. Ah! Gimana nih? Kalau aku ham….” Gumamnya panik.
“Ahh… Tenang Van! Tenang!” Katanya menyemangati dirinya sendiri.
Sejenak ia berpikir. “Ahh daripada bingung mending beli test pack ah!” Gumamnya.
Tanpa berpikir panjang,diraihnya sweater pink yang tergantung belakang pintu. Jalannya terburu-buru hingga ia melewati mamah begitu saja tanpa sepatah kata pun.
Diraihnya kunci motor yang tersimpan rapi di bufet kecil dekat bunga. Belum sempat mamah bertanya ditancapnyalah gas motor. Mamah hanya bisa geleng-geleng.
Tak beberapa lama,muncullah ia dari balik pintu,tanpa berbicara apapun ia langsung masuk ke kamar mandi. Buru-buru ia memasukkan tangannya ke saku sweaternya. Diambilnya benda yang ia beli di apotek tadi. Keringatnya mulai bercucuran keluar.
Pelan-pelan ia jongkok dan menadahkan pot kecil untuk menampung air seninya. “Segini cukup!”
Dirobek ya bungkus tespek dan di celupkan stik kecil kedalam air seninya. Tangannya gemetar,jantungnya berdetak kencang. “Ya Tuhan!” Keluhnya.
Pelan-pelan air seni itu diserap oleh stik kecil,perlahan tapi pasti garis merah pertama sudah terlihat disusul satu garis lagi diatasnya. Keringat dingin makin bercucuran saat ia saksikan dengan seksama dua garis yang ia lihat di stik kecil itu.
“God! Artinya?”. Tangisnya mulai terdengar,dengan cekatan ia menyalakan Kran air dan menutup rapat-rapat bibirnya agar tak mengeluarkan suara.
“Mamah! Papah! Maafkan Vani sudah mengecewakan mamah!” Jeritnya dalam hati.
Penyesalan yang teramat dalam meliputi hatinya. Seketika masa depannya menjadi suram dan gelap. Cita-citanya hancur seketika karena kesalahan yang telah ia perbuat.
“Aku harus cepat-cepat memberitahu Bimbim ayah dari anak yang ku kandung sebelum besok ia berangkat ke Luar negeri!” Gumamnya sambil memasukkan tespek yang ia pegang kedalam saku sweaternya.
Buru-buru ia naik ke kamarnya,diraihnya Handphone yang tergeletak di kasur,secepat kilat jarinya mengetik dan mengirim pesan pada kekasihnya.
[Sayang aku tunggu di tempat biasa. PENTING] begitulah bunyi pesan Vani.
Tanpa sepatah kata kembali Vani langsung meninggalkan mamah yang sedang memasak di dapur.
“Kenapa anak ini? Keluar masuk gak permisi!” Kata mamah heran.
Dengan terengah-engah Vani berjalan menyusuri perkebunan teh. Ia ingin segera dapat bertemu dengan Bimbim.
Bippp bippp [bunyi Handphone Vani]
“Halo sayang!” Kata Vani saat mengangkat panggilan dari Bimbim.
__ADS_1
“Ada apa kok panik gitu!” Tanya Bimbim ikut panik.
“Cepatlah ke tempat biasa aku tunggu disana ya! Aku sudah dijalan.” Serunya dan mematikan panggilan telephone dari Bimbim.