The Metamorfosa Of Vani

The Metamorfosa Of Vani
Berubah pikiran


__ADS_3

Mamah terus saja menarik tangan Vani. Digenggam erat tangan gadis itu,hingga sesekali terdengar suara kesakitan dari bibirnya. Hatinya bergemuruh,kesal dan sesal namun tak dapat dilampiaskan.


“Sini kau! Naik!” Bentak mamah sesaat sebelum Vani naik di motor.


Bibir wanita paruh baya itu bergetar menahan tangis. Yang ada di pikirannya ia harus kuat demi sang putri. Di dunia ini ia tak memiliki siapa-siapa lagi selain Vani. Hanya dia yang bersamanya selama ini,suami dan anak-anaknya yang lain sudah tak ada kabar. Tak ada yang bisa dihubungi. Ntah mereka masih hidup atau telah tiada.


Motor butut itu melaju pesat di jalanan berbatu dan berlubang,sesekali mereka harus melompat dari sadel motor karena ban yang menginjak lubang cukup dalam. Di atas sadel motor Vani memegangi perutnya yang mendadak mules setelah menginjak lubang.


“Mah,pelan-pelan ya perut Vani sakit.” Keluh Vani.


Dari kejauhan rumah megah bercat putih terlihat bak istana. Rumah bertingkat dua dengan halaman yang luas dikelilingi pagar tinggi membuatnya makin gagah dan indah dipandang. Semakin dekat,semakin membesar saja bangunan itu. Dan motor mamah pun terhenti di depan pos Security.


“Selamat sore bu! Ada yang bisa saya bantu?” Tanya lelaki berpakaian putih biru.


“Pak Doddy ada?” Tanya mamah.


Pak Doddy adalah nama ayah Bimbim dan Lucky. Orang yang memiliki pribadi arif,bijaksana serta gemar membantu sesama. Umurnya kisaran 45 tahun,perawakannya tinggi besar. Memiliki kumis tipis dengan gaya rambut belah samping khas pengusaha sukses.


“Oh pak Doddy,ada bu. Sudah bikin janji sebelumnya?” Tanya pria itu.


“Belum! Tapi ini penting,tolong izinkan kami masuk!” tegas mamah.


“Baiklah,tunggu saya telpon kan.” Ujar pria itu.


Tak mau menunggu lama,mamah langsung menancap gas motornya dan berhenti tepat di depan teras rumahnya. Tak tinggal diam dengan segera security itu mengejar mamah.


“Astaga bu! Jangan gitu dong! Tolong yang sopan!” Bentak pria itu.


Mamah tak pernah menyangka jika anaknya akan berbuat senekat ini,ia merasa bersalah karena terlalu percaya dengan persahabatan mereka (Bimbim & Vani). Percintaan yang dibungkus rapi dengan kata persahabatan,dibalut dengan kesopanan dan berakhir dengan kesakitan.


“Ada apa ini?” Tanya seorang wanita muda yang baru saja keluar dari dalam rumah megah itu.


Wanita itu berparas cantik,berkulit putih dan mulus,seperti tak ada satupun noda yang bisa menempel disana. Rambut panjangnya terikat rapi dihiasi pita warna merah muda. Berpakaian indah dan rapi.


Sambil melirik tajam pria itu berkata “Ini bu! Ibu ini maksa masuk.”

__ADS_1


“Oh iya gapapa,kamu kembali aja ke pos,biar aku yang urus.” Kata wanita itu.


“Baik bu.” Kata Scurity sambil berlari kecil menuju pos penjagaan.


Dengan penuh sopan santun wanita itu mempersilahkan mamah dan Vani masuk kedalam rumah. Berkali-kali matanya melihat mereka berdua dari ujung kaki sampai ujung kepala. Hingga mamah menjadi risih dengan pandangan itu.


“Silahkan duduk!” Perintah wanita itu pada mamah dan Vani.


Mamah tertegun melihat keindahan rumah ini,dilihatnya sekeliling rumah yang terisi barang-barang indah dan mewah bak istana raja. Pantas saja keluarga ini sangat terpandang di lingkungan ini.


“Bu! Silahkan duduk.” Kata wanita itu sekali lagi.


“Oh,iya bu.” Jawab mamah gugup.


“Maaf ada yang bisa saya bantu?” Tanya wanita itu.


“Kenalkan bu,saya Pipit orang tua dari Vani anak saya ini.” Kata mamah sambil menyentuh paha Vani yang duduk tepat di sampingnya. Di kursi sofa mewah berbahan kulit berwarna merah Maroon. Sangat nyaman saat diduduki.


“Oh kenalkan nama saya indah” jawab wanita itu sambil mengulurkan tangan yang disambut oleh mamah.


Seketika mata ibu Indah yang juga ibu dari Bimbim langsung mengarah tajam pada Vani. Wajah yang tadinya ramah berubah 180 derajat menjadi asam seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Maaf! Pacarnya? Setau saya anak saya tidak pernah pacaran.” Kata bu Indah tak percaya.


“Terus ibu datang kesini ada apa ya bu?” Kembali bu Indah bertanya dengan sedikit ketus.


“Begini bu!” Kata mamah sambil berderai air mata “Anak saya Vani,tengah hamil.” Pungkas mamah.


“APA? HAMIL! Gak mungkin anakku seperti itu! Gak mungkin! Pasti kau paksa kan! Pasti kau rayu kan!” Teriak bu Indah sambil menarik baju Vani. Vani hanya bisa pasrah menerima perlakuan mamahnya Bimbim,ia menyadari kesalahannya dan posisinya. Ia sangat tau diri kalau ia hanyalah orang miskin tak berpunya.


Berbeda dengan mamah yang terus berusaha mencegah perlakuan bu Indah,ia tak terima melihat anaknya di tarik-tarik seperti itu.


“Tolong bu! Tolong! Jangan perlakukan anakku seperti ini!” Cegah mamah.


Mendengar kegaduhan diruang tamu,seisi rumah langsung berhamburan keluar. Mereka semua mengintip dari ruang tengah. Lalu muncullah seorang pria paruh baya yang datang untuk menengahi kegaduhan itu.

__ADS_1


“Ada apa ini?” Tanya pria itu sambil menenangkan istrinya.


“Anak itu membuat masalah lagi pah!” Kata bu Indah sebelum tak sadarkan diri.


“Kenapa ini?” Tanya tegas pria itu.


Tak mendapatkan jawaban apapun pria itu langsung berteriak,”Bimbiiiiiim!” Suara itu keras hingga membuat seisi rumah bergetar.


Mendengar panggilan itu Bimbim langsung keluar dari kamarnya dan turun ke lantai dasar. Disana didapatinya Vani dan mamah duduk dengan air mata berderai,disisi lain ia melihat ibunya tengah terbaring tak sadarkan diri ditemani mbok Sri asisten rumah tangga serta yang merawat Bimbim sejak bayi.


“Vani!” Kata Bimbim kaget.


“Apalagi yang kau lakukan!” Tanya papah tegas.


Bimbim hanya tertunduk tak dapat berkata-kata.


“Katakan pada papah! Apa benar yang dikatakan mereka!” Bentak papah tak sabar.


“Iya pah! Tapi kami lakukan suka sama suka gak ada paksaan dari Bimbim. Lagian dia juga mau kok kalau diajakin!” Elak Bimbim.


“Tapi kau sendiri yang bilang kalau kau akan bertanggung jawab!” Sela Vani.


Dengan santainya Bimbim menjawab,“Iya aku mau tanggung jawab! Tapi gak sekarang! Kemarin aku juga udah bilang,GUGURIN aja! Apa susahnya sih?”


Seketika sebuah tamparan mendarat mulus di pipi sebelah kanan remaja itu. Rupanya Bu Indah telah siuman, “Mamah gak nyangka anak mamah berkata seperti itu! Kurang apa didikan mamah dan papah selama ini?”


Bu Indah yang awalnya kesal terhadap Vani mendadak menjadi sangat iba setelah mendengar perkataan anaknya sendiri.


Bimbim menjadi sangat gusar,karena mendapat tamparan keras dari mamah yang disebabkan oleh Vani. Ia sangat tidak terima oleh tamparan itu.


“Pokoknya aku gak mau! Aku mau kuliah!” Kata Bimbim.


“Oh mau kuliah?” Tanya mamah.


“Oke bisa tapi kau kuliah di Jakarta saja,susul kakakmu Lucky tapi setelah kau menikahi gadis itu! Paham!” Tambahnya.

__ADS_1


Bimbim makin kesal saat mendengar keputusan mamah. Cintanya kini berubah menjadi kebencian. “Kau! Sudah menghancurkan masa depanku!” Kata Bimbim sambil menunjuk ke arah Vani dengan penuh kebencian.


__ADS_2