The Metamorfosa Of Vani

The Metamorfosa Of Vani
Tamu (2)


__ADS_3

Dari jauh Vani menikmati pemandangan,dimana dengan brutalnya Bimbim sedang mengacak-acak isi lemari hanya untuk sebuah kaos kaki.


Dengan wajah penuh kekesalan ia berteriak “Jangan cuma ngeliatin aja! Mana kaos kakiku?”


Teriakan itu menyentak keasyikan Vani,dengan senyum meledek ia melemparkan gumpalan kain dan tepat mengenai dada Bimbim. “Tuh!”


Wajah Bimbim seketika langsung memerah dan sedikit menyunggingkan senyumnya. Dengan sedikit malu dipungutnya gumpalan kain itu,lalu duduk dan memasukkan kain itu ke kakinya.


Setelah selesai memakai kaos kaki dia mengajak Vani untuk sarapan “Sini turun sarapan!” Ujarnya.


Tanpa kata Vani mengikuti ucapan suaminya dan bergerak jalan mengikuti langkahnya. Saat menuruni tangga,tiba-tiba langkahnya terhenti mengikuti yang ada di depannya.


Sambil membalikkan badan Bimbim berkata “Tunggu! Sejak kapan kau jadi jahil padaku? Dan ya! Kenapa kaos kaki itu tidak langsung kau berikan padaku? Hah!” Tatap serius Bimbim sambil tersenyum tipis.


Tatapan itu dibalas senyum genit Vani,jari telunjuknya mencolek dagu lelaki itu dan mendahului jalannya “Ya suka-suka akulah”


Diluar dugaan Bimbim langsung tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang semakin hari semakin memanja pada dirinya.

__ADS_1


Vani dengan lincahnya menuruni setiap anak tangga,hal itu membuat Bimbim was-was ditambah lagi perutnya yang membuncit terlihat imut dan bulat di mata Bimbim,bak boneka panda yang sedang berjalan. Senyum simpul pun merekah dari bibir tipisnya,wajah gemas melihat tingkah istrinya membuat dia semakin geregetan.


Diujung tangga tiba-tiba muncul Lucky yang mengulurkan tangannya pada Vani,menyambutnya bak permaisuri. Vani yang menganggap itu hal biasa langsung menerima uluran tangan Lucky.


Seketika perasaan Bimbim langsung berubah menjadi kesal,hatinya seperti tersengat aliran listrik. Lalu dengan sedikit emosi dia berjalan cepat menuruni anak tangga dan menerobos di antara mereka dan membuat tangan Vani dan Lucky pun terlepas begitu saja.


Melihat tingkah Bimbim,Lucky pun mulai iseng pada adiknya itu dengan memberikan sapaan manis pada iparnya.


“Selamat pagi bumil!” Sapa Lucky setelah Bimbim mendahului mereka.


“Halo ongkel Lucky” jawab ramah Vani sambil berjalan menuju meja makan.


Di meja makan Bimbim terus menatap tajam kepada Lucky yang tak lain adalah kakak tirinya,dia sangat kesal melihat kedekatannya dengan sang istri “Huh! Seperti tak ada wanita lain saja.”


Lucky semakin senang saat melihat tatapan dari Bimbim,ia makin bergairah untuk membuat sang adik semakin cemburu. “Makanya kalau cinta jangan gengsi!” Lirih.


Semenjak kakaknya pulang dan dia lebih akrab pada Vani,Bimbim jadi kesal dan ingin sekali memberikan hadiah indah di pipinya. Entah perasaan apa yang ia rasakan,yang dia tau hatinya sangat perih saat melihat mereka sangat dekat.

__ADS_1


Setelah selesai makan,dia membersihkan bibirnya dengan tisu lalu berdiri,matanya melirik pada sang istri yang duduk di sampingnya,”Hari ini aku pulang telat,jadi tak perlu menungguku.”


Mendengar ucapan sang suami,Vani langsung mempercepat makannya dan buru-buru menyiapkan apa-apa yang akan dibawa suaminya kerja.


Perut besarnya membuat langkahnya tak selincah biasanya,gerakannya melambat kala sang bayi mulai menari-nari di dalam perut. Keringat bercucuran membuat baju daster yang dikenakannya jadi basah kuyup.


“Hufff kayaknya mesti ganti baju nih!” Benar saja semenjak Vani hamil,dia lebih sering berkeringat bahkan dalam sehari dia bisa ganti baju sampai 3 atau 4 kali.


Di kamar dia segera menanggalkan dasternya yang basah itu. Pelan-pelan ia mencari dasternya yang basah di antara tumpukan daster lainnya. Ia memilih warna kesukaannya,yaitu biru muda.


Sementara sedang mencari tiba-tiba ada pelukan hangat dari arah belakang ia berdiri. Tubuhnya menggeliat saat terdengar suara lirih di belakang telinganya “Kamu terlihat seksi dengan tubuh bulatmu ini”


Seketika nafas Vani berhenti saat mengetahui suara itu adalah suara dari suaminya sendiri,suami yang selama ini cuek,acuh tak acuh,bahkan sangat membencinya tiba-tiba mendadak menjadi hangat padanya. “Bu…bukankah seharusnya kamu bekerja di jam begini?”


Tanpa melepaskan pelukannya Bimbim mulai mendekatkan bibirnya,lalu dengan lembut ******* bibir itu. Sementara tangannya mulai aktif meremas bagian kenyal yang tertutup cup bra. Perlahan mata Vani tertutup saat merasakan sentuhan itu,sentuhan yang lama tak didapatkan selama ini.


Lalu! Tok…tok…tok… bunyi suara pintu membuyarkan kemesraan mereka.

__ADS_1


“Iya tunggu mbok! Aku segera kesana” buru-buru Vani menggunakan dasternya dan berjalan menuju pintu.


Namun lagi-lagi Bimbim menahannya. “Lipstikmu berantakan” katanya sambil mengusap bibir istrinya.


__ADS_2