
Tak terasa waktu terus bergulir,semua siswa kelas XII tengah sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir. Mereka harus lebih tekun belajar agar mendapatkan hasil yang memuaskan dan bisa diterima di perguruan tinggi yang mereka inginkan.
Dalam keheningan malam,saat semua tengah terlelap dalam tidurnya dan bergumul dalam mimpi. Di sebuah rumah tua di bilik sederhana. Seorang gadis di tengah bersimpuh dihadapan TuhanNya. Memanjatkan do’a kepada Sang Maha Kuasa,butiran air mata turun membasahi pipinya. Tampaknya ia sedang berkomunikasi dengan yang Maha Agung,ia mencurahkan segala isi hatinya,keinginannya menjadi seorang psikiater seperti dr. Rin.
Ia tau itu tak mungkin jika dilihat dari kondisi keuangan keluarganya saat ini tapi ia lebih tau jika Tuhan punya kehendak apapun bisa terjadi. Segalanya bisa berubah dalam sekejap mata,roda bisa berputar 180 derajat karena Kuasanya.
Seusai ia berkomunikasi dengan Tuhannya,ia langsung menuju meja kecil di sudut kamar dekat jendela. Di Atas meja sederhana itu tertata buku-buku pelajaran yang akan diujikan nanti di Ujian Akhir. Ditariknya bangku kecil yang terselip dalam kolong meja,duduklah ia disana. Tangan lentiknya cekatan menyalakan lampu belajar. Diraih pula sebuah buku cetak dan ia pun menghabiskan separuh sisa malamnya dengan mendalami pelajaran.
Rupanya gadis itu ingin mendapatkan nilai tertinggi agar ia dapat beasiswa dan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Ya dia adalah Si buruk rupa Vani yang telah bermetamorfosa menjadi bidadari di lingkungan ini.
“Tak harus jadi psikiater yang penting bisa sekolah tinggi.” Gumamnya.
“Aku ingin minimal bisa menjadi orang yang berguna untuk lingkungan ini! Menjadikan lingkungan ini lebih maju lagi.” Tambahnya.
Gadis yang memiliki semangat tinggi dan tak pernah menyerah.
.
.
.
Hasil ujian Nasional yang ditunggu-tunggu oleh banyak siswa akan segera dimulai. Tak ada yang tak tegang menghadapi ujian ini. Semua berharap bisa mendapatkan hasil yang memuaskan dengan nilai tertinggi,agar bisa masuk di perguruan tinggi yang mereka idam-idamkan.
“Kalau lulus aku mau lanjut ke UI” kata seorang siswa.
__ADS_1
“Kalau aku ke UB di Malang” tambah seorang lagi.
“Kalau aku di UGM.”
Kelas pun jadi riuh setelah mereka menyelesaikan ujiannya.
“Kau lanjut dimana Van?” Tanya seorang siswa.
“Emmm belum tau sih!” Jawab Vani.
“Yakin mau kuliah? Biayanya gak sedikit tau! Emang manahmu mampu?” Tanya seorang lagi.
“Husss gak baik bicara gitu! Kasian dia.” Bisik temannya.
Seketika kepala Vani langsung tertunduk,ia sangat ingin kuliah namun dengan kondisi yang seperti ini mana mungkin?
Setelah menunggu lama,akhirnya hasil Ujian pun keluar. Di depan kelas di dalam mading,hasil itu di tempel. Semua siswa berhimpit-himpitan ingin melihat hasil kerja keras mereka selama 3 tahun ini.
Dalam kerumunan Vani menyelip-nyelip masuk,ia ingin segera melihat hasil ujiannya. Berdesak-desakan,saling sikut bahkan terinjak.
Satu demi satu mata Vani melihat ke lembaran putih yang tertempel di mading. Hati gembira saat ia melihat namanya terpampang di sana di urutan ke 5 disusul,Lucy di urutan ke 11 dan Lucky di urutan ke 2.
“Yey…!!!!” Teriak mereka.
“Sungguh hasil yang memuaskan” kata Lucy bahagia.
__ADS_1
“Wah keren Lucky peringkat 2 loh!” Imbuh Vani.
“Iya wajar dia kan emang pintar.” Jawab Lucy.
Kebahagiaan tampak tersirat dari raut wajah mereka,mereka sangat bahagia dan puas dengan hasilnya. Demikian dengan Bimbim. Ia puas dengan peringkat 50+.
“Bim kau?” Tanya Vani
“Gapapa yang penting lulus!” Kata Bimbim sambil berlompat menggenggam tangan Vani.
“Tapi….” Jawab Vani pesimis.
“Tenang aku cuma 4 tahun disana,kau harus janji akan menungguku kan?” Tanya Bimbim serius.
“Ya aku akan menunggu mu!” Jawab Vani penuh keyakinan.
“Tapi disana gak boleh main cewek dan wajib kasi kabar! Oke! Imbuhnya.
“Siap sayangku!” Kata Bimbim sambil mencubit pipi Vani.
Disaat Vani dan Bimbim tengah berbahagia,lain halnya dengan Siska yang harus puas dengan nilai 10 terendah. Ia terus marah-marah pada semua yang ia jumpai. Sampai akhirnya ia pun bertemu dengan Vani dan berkata “Sayang banget ya Van,nilai kami bagus tapi gak bisa lanjut kuliah karena gak punya uang!” Singgung Siska dengan suara lembut tapi menusuk.
Mendengar ucapan itu raut wajah Vani langsung jadi pucat,sepertinya apa yang dikatakan Siska semua benar,tak ada salahnya. “Tapi aku mau coba ikut program beasiswa siapa tau aku lolos” sanggah Vani.
“Ya udah coba aja! Semoga lolos ya say!” Kata Siska dengan senyuman khasnya.
__ADS_1
Vani tak marah dengan ucapan Siska,karena Vani sadar betul seperti apa keadaan keluarganya dan semua yang dikatakan Siska emang benar adanya.
“Bismillah! Insyaallah bisa!” Seru Vani dalam hati.