The Metamorfosa Of Vani

The Metamorfosa Of Vani
Olahraga


__ADS_3

Pagi yang cerah di hari Rabu,cuaca yang bersahabat untuk melakukan olahraga. Kebetulan hari ini jam pertama adalah jam olahraga, udara pagi yang masih sejuk ditambah titik-titik embun menyelimuti hijaunya lapangan.


Para siswa mulai memasuki ruangan ganti,mereka mengganti pakaiannya seragamnya dengan pakaian olahraga. Setelah siswa laki-laki selesai ganti baju,kini giliran siswa perempuan. Harus digilir agar tak ada siswa yang jail.


Di kelas Vani dan Lucy mempersiapkan pakaiannya dan bergegas menuju ruang ganti. Saat berjalan menuju ruang ganti,Vani melihat Bimbim duduk di depan ruang ganti. Mata mereka beradu,namun dalam sekejap Bimbim membuang muka mengalihkan perhatiannya. Melihat sikap Bimbim Vani mengurungkan niatnya untuk melempar senyum. "Ih! Sombong amat!" Teriaknya dalam hati sambil terus berjalan menuju ruang ganti.


Lucy dan Vani pun mulai berganti pakaian,di ruangan terpisah mereka berganti baju. "Van,masih lama kah?" Teriak Lucy dari ruang sebelah.


"Iya lus,aku masih pasang peniti di celanaku, celananya longgar banget." Maklum setelah turun 25 Kg semua baju dan celana Vani jadi longgar dan harus di peniti agar tak melorot.


(Priiit …. Priiiit … priiiit…) Dari luar ruangan ganti,terdengar suara peluit pak guru. Itu tandanya semua murid harus segera berkumpul dan pelajaran olahraga segera dimulai.


"Van! Buruan!" Ajak Lucy saat mendengar suara peluit pak guru.


Vani yang masih sibuk dengan celana olahraganya jadi gugup,"ya udah Lus,duluan aja ntar dihukum kamu. Aku masih agak lama nih susah banget di kancingin celananya. Aku nyusul" serunya dari dalam ruangan.


"Gapapa ni?" Tanya Lucy meyakinkan.


"Iya gapapa kok!" Seru Vani.


Karena takut dihukum Lucy pun meninggalkan sahabatnya itu di ruangan ganti. Kini ruangan ganti kosong hanya Vani yang ada sana. Namun tiba-tiba ada bayangan kaki berdiri di depan bilik ganti Vani. Lalu KLIK! Terdengar suara pintu terkunci. Vani pun panik dan berusaha membuka pintu tapi tidak bisa terbuka karena sudah di kunci dari luar.


"Siapapun yang ada di luar,tolong buka pintunya!" Teriak Vani.


"Tolong! Tolong! Ahhh… Gak lucu tau!"


Tiba-tiba pintu terbuka lalu BYUUUURRRR! Tubuh Vani basah kuyup diguyur air. Nampak Siska berdiri didepan pintu dengan memegang ember. Sambil tertawa ia pergi dari hadapan Vani.


"Hey! Aku gak lagi ulang tahun!" Teriak Vani kesal.


"Hufff untung aja air keran! Apa jadinya kalau air got! Dasar Siska! Ada-ada aja kelakuannya!" Gumamnya kesal.


"Vani sangat kesal karena tidak bisa ikut olahraga terlebih lagi ia harus absen di jam pelajaran itu. Kini ia harus memeras bajunya yang basah yang tembus sampai pakaian dalamnya lalu memasukkannya ke dalam kantong kresek.


Terpaksa Vani harus menggunakan dalaman yang basah. "Ntar juga kering di badan,untung aja aku bawa sweater!" Gerutunya.


Lucy yang sedari tadi gelisah langsung mencari Vani di ruang ganti. "Van! Vani!" Teriak Lucy. "Kamu gapapa kan?"


"Iya gapapa,tapi ya gitu,basah kuyup kayak gini!" Keluh Vani.


"Iya aku denger dari Siska" ungkap Lucy.


"Van! Lu gapapa kan!" Seru Lucky sambil memegang pipi Vani.


Vani kaget dengan perlakuan Lucky dan Lucy yang berada disitu jadi salah tingkah. "Ehm!" Sindir Lucy.


Mereka pun terkejut dan Lucky melepaskan tangannya dari pipi Vani. "Gak gitu juga!" Sindir Lucy lagi.


"Ahhh! Apaan sih Luck! Teriak Vani salah tingkah.

__ADS_1


"Ya maaf kan gua gak sengaja tuh!" Timpal Lucky sekenanya.


Sambil menunjuk ke arah Lucky,Lucy berkata,"Lu suka ya sama Vani?"


"Yaelah! Gak gitu weh! Gua kasian aja dia di rundung mulu sama si Siska!" Seru Lucky.


"Lagian gua sudah anggap kalian semua sebagai sahabat ya kan!" Tambahnya sambil memeluk Lucy dan Vani.


"Yup! Sahabat untuk selamanya! High five dulu dong!" Kata Vani penuh semangat.


Dari kejauhan mata Vani melihat sekelebat bayangan Bimbim. Sepertinya ia memperhatikan apa yang telah tiga sekawan lakukan.


Dalam hati kecil Vani berkata “semoga tak terjadi apa-apa dengan tiga sekawan.”


.


.


.


Sementara di tempat lain,Bimbim menemui Siska yang sedang duduk-duduk di kelas bersama gengnya.


“Sini lo,gue mau ngomong” kata Bimbim.


Siska merasa GR mendapat panggilan dari Bimbim. Buru-buru ia memperbaiki rambut dan bajunya. Dengan memanja ia berkata “Ehm! Ada apa sih ayang Bimbim.”


Mendapat teguran seperti itu Siska langsung emosi,ia langsung menghardik Bimbim “Oh! Jadi lo kesini cuma mau ngebelain si Badak itu! Heh! Gue gak habis pikir ternyata selera lo rendah banget ya!”


“Lo boleh jail sama temen-temen yang lain tp di luar jam pelajaran!” Kata Bimbim sambil meninggalkan Siska.


Dengan penuh kemarahan Siska mendorong kursi dan berkata “Kenapa sih semua belain si Badak itu! Apa kurangnya dari gue! Gue lebih cantik dan seksi! Tapi…. Aaahhhh dasar kampungan!”


.


.


.


Di ruang guru,wajah Vani terlihat pucat saat pak guru memarahinya karena absen di jam pelajarannya. Pak guru memarahinya mulai dari A sampai Z. Vani hanya bisa diam,ia tak berani mengatakan hal sejujurnya,karena takut Siska akan merundungnya lagi. Ia hanya beralasan jika dia sedang sakit perut. Tapi pak guru tak mau tau dan menghukum Vani keliling lapangan 3 kali lalu hormat bendera selama jam istirahat.


Di tengah terik matahari yang menyengat,gadis itu berlari mengelilingi lapangan. Keringatnya bercucuran membasahi tubuhnya dan wajahnya memerah tersengat matahari. Sungguh Malang nasibnya,disaat yang lain berolahraga ia harus berurusan dengan Siska dan bajunya yang basah. Lalu di saat yang lain sedang beristirahat,ia harus mengelilingi lapangan sendirian dan hormat bendera.


“Mau marah gak berani! Mau nangis tapi malu! Vani…Vani… Sungguh malangnya nasibmu bebs” gerutunya saat ia harus berdiri dan hormat di bawah tiang bendera.


“Van… Vani … semangat!” Bisik Lucy dan Lucy dari kejauhan.


Mendapatkan dukungan dari sahabatnya,Vani langsung menjadi semangat kembali. Seolah-olah rasa capek setelah lari tiga putaran dan hormat bendera langsung hilang seketika.


Saat ia merasa sendiri dan terpuruk,ada sahabat yang selalu memberikan support dan dukungan buat dia.

__ADS_1


Ia pun tersenyum sambil menganggukkan kepala,mengisyaratkan bahwa ia sedang baik-baik saja.


Lonceng pun berbunyi,tanda jam istirahat telah usai,begitu pula dengan masa hukuman Vani juga ikut berakhir. “Hufff akhirnya” lenguh Vani.


“Nih!” Tampak Bimbim menyodorkan minuman.


“Oh! Tumben banget!” Kata Vani dengan nada kesal.


“Temen lu yang nyuruh gue ngasih ini ke lu!” Tambahnya.


Sambil mengambil sebotol air mineral di tangan Bimbim ia berkata “Apa iya? Kok aneh? Ini gak ada racunnya kan?” Selidik Vani sambil membolak-balikkan botol air itu.


“Gak mungkin juga gue ngeracun lu!” Kata Bimbim sambil berlalu.


Sikap Bimbim yang berubah-ubah membuat Vani jadi penasaran,sebenarnya apa yang terjadi dengan dia. Kadang marah-marah gak jelas,kadang care banget dan kadang seperti gak kenal. “Hiii jangan-jangan dia psikopat!” Ucap Vani sambil menutup mulutnya.


.


.


.


“Enak habis dihukum pak guru?” Tanya Siska saat Berpapasan dengan Vani yang sedang menuju ke kelas. Matanya yang sipit melirik Vani dengan pandangan sinis dan tajam. Sungguh seperti singa yang sedang mengintai mangsanya.


Vani hanya diam saja,ia tak memiliki banyak tenaga untuk meladeni Siska dan sudah sangat capek menghadapi sikap Siska. Sungguh gadis yang luar biasa,sifatnya sangat tak patut ditiru oleh siapapun.


Dari kejauhan Lucy dan Lucky tampak berlarian menjemput sahabatnya. Mereka sangat kegirangan karena melihat Vani sudah lepas dari hukuman.


“Ahhhh akhirnya lu selesai juga dihukum! Pasti capek kan! Ini minum buat kamu.” Terlihat Lucky menyodorkan sebotol air mineral untuk Vani.


Eksepsi Vani langsung berubah,dalam hati ia bertanya-tanya. “Bukankah tadi Bimbim,memberiku air minum yang katanya dari temanku ? Kalau bukan Lucky dan Lucy lalu siapa lagi?”


Dengan penuh pertanyaan Vani menerima air mineral yang diberikan Lucky. “Makasih ya bro!” Seru Vani sambil tersenyum lebar.


Mereka bertiga berjalan menuju kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasanya.


.


.


.


Sepulang sekolah Vani langsung merebahkan badannya,kakinya terasa kram dan ngilu setelah berlari di siang bolong. Rasa capek di badannya berkali-kali lipat tak seperti saat ia jogging saat minggu pagi atau sore.


Sambil rebahan ia memikirkan air mineral dari Bimbim. Ia penasaran dengan maksud dan tujuan Bimbim. Pikirannya mulai merasa aneh. “Ahhh jangan keGRan Van,mana mau dia sama cewek gendut,item kucel kayak kamu Van.” Serunya memecahkan lamunan.


Hatinya diliputi rasa gundah gulana,jantungnya berdebar-debar. Ini kali pertama ia merasakan hal semacam ini. Ia selalu memikirnya,pertemuannya di jalan pintas,kedatangannya dirumah,permintaan maafnya dan sekarang air mineral. “Ahhh apaan sih! Gak! Gak! Gak mungkin Vani,Gak mungkin!” Katanya sambil menyakinkan dirinya.


“Kita beda kasta! Kita beda level! Dan gak mungkin dia suka sama aku! Pliss Vani pliss!”

__ADS_1


__ADS_2