
Menikah muda,jadi istri dan hamil di usia 18 tahun bukanlah cita-cita Vani. Dulu ia pernah bermimpi ingin menjadi psikolog seperti dokter Rin. Dokter kesayangan Vani,dokter yang telah memberi support buatnya hingga menjadi wanita kuat seperti sekarang.
Namun apa mau dikata nasib berkata lain,karena kesalahan yang dibuat sendiri kini Vani harus menanggung buah dari perbuatannya. Kehamilan muda yang menyiksa ditambah lagi berada dirumah mertua serta tingkah Bimbim yang diluar dugaan.
Pagi ini Vani berdiri di depan balkon depan kamar Bimbim. Udara pagi hari yang segar menerpa tubuh mungilnya,raut wajahnya pucat akhibat mual muntah yang dideritanya.
Dari dalam kamar seorang wanita tua memanggilnya, “Non ini sarapannya mbok simpang di meja ya?” Kata mbok Sri,pelayan paling senior di rumah ini. Pelayan yang merawat Bimbim sejak masih bayi.
“Mbok,Bimbim mana?” Tanya Vani sambil berjalan menghampiri mbok Sri.
“Oh den Bimbim sudah keluar lari pagi sambil nengokin pekerja dari tadi pagi non” jawab si mbok.
“Non Vani kelihatan pucat banget,Non gak apa-apa kan?” Tanya si mbok khawatir.
__ADS_1
“Enggak kok mbok,aku baik-baik aja.” Jawab Vani.
“Ya udah kalau gitu si mbok ke bawah dulu lanjutkan pekerjaan mbok ya,kalau ada apa-apa nanti pencet angka 4” kata si mbok sambil melihat ke arah telpon yang tertempel di dinding dekat kasur.
Di kamar seluas 6x5 meter ini Vani merasa kesepian,walaupun kamar seluas itu sudah tersedia ranjang yang empuk nan mewah,Televisi LCD yang besar. Lemari dan bufet yang mewah,kamar mandi minimalis yang indah dan harum. Baginya ruangan itu hampa,tak ada keindahan di dalamnya.
Berbeda dengan kamarnya yang dulu,walaupun kecil mungil namun sangat nyaman. Walaupun hanya dengan tivi tabung kuno dengan bintik-bintik semut menghiasi layar. Antena yang harus di putar-putar untuk mendapatkan sinyal yang bagus. Itu sudah cukup bagi Vani untuk membuatnya merasa sangat bahagia.
Jika bagi sebagian orang kebahagiaan itu letaknya pada kemewahan dan harta yang berlimpah. Lain halnya dengan gadis kecil Vani,baginya bukan harta yang membuatnya bahagia tapi hati yang luas dan rasa syukur terhadap apa yang telah diberikan oleh Tuhan padanya.
Tak ada senyum di wajahnya,hanyalah muka datar tanpa senyum yang akhir-akhir ini ia tampakkan di depan istrinya. Jika pada awal pernikahan harusnya dihiasi dengan yang indah-indah,berbeda dengan Vani yang harus menelan pil pahit atas penderitaan yang sebenarnya bukan 100% perbuatannya sendiri.
“Mau ku ambilkan sarapan?” Tanya Vani memecah kebisuan.
__ADS_1
Tanpa menjawab apa-apa Bimbim berlalu begitu saja. Hati Vani hancur berkeping-keping,lelaki yang ia cintai kini berubah membencinya. Jangankan untuk saling berbincang,saling berpandangan pun tak pernah. “Pernikahan macam apa ini?” Pekik Vani dalam hati.
Disaat yang hampir bersamaan,rasa mual dan muntah kembali datang. Rasa yang tidak bisa ia tahan sedikit pun. Seketika tubuhnya lemas dan lunglai. Sambil tertatih-tatih ia menggapai ujung meja dan terduduk di kursi.
“Huh untung saja.” Desis Vani sambil membasuh peluhnya yang bercucuran.
Melihat Vani yang tengah hamil muda hampir tersungkur,tak ada sedikitpun kepedulian dari Bimbim,raut wajahnya tetap datar. Tak sedikitpun badannya bergeming. Keras! Angkuh! Arogan! Begitulah sifat Bimbim sekarang.
“Bi…bisakah kau ambilkan aku segelas air minum?” Kata Vani terbata-bata.
“Bim… aku bicara padamu.” Tambahnya dengan nada lembut.
Namun Bimbim tetaplah Bimbim,diam seribu bahasa dihadapan Vani. Langkahnya tergerak menuju dispenser yang terletak di samping meja Tivi.
__ADS_1
“Nih!” Katanya sambil menyodorkan air minum. Betapa bahagianya hati Vani,ternyata dalam cueknya,dalam diamnya dan dalam acuhnya ia masih mau menuruti perintahnya.
“Aku yakin,perasaan itu masih ada!” Kata Vani tersenyum kecil.