The Seventh World

The Seventh World
Chapter 11


__ADS_3

Dua minggu berlalu, sekolah mulai mengadakan ujian tengah semester sebelum liburan musim panas. Selama tunangan sepupu Harumi ada di apartemen nya, Harumi tinggal bersama Masato di apartemen nya. Ketika mereka sampai di kelas,


“Hei...sini...” Ujar Harumi.


“Kenapa ?” Tanya Masato.


“Dasi kamu mencong Ma-kun....perhatikan dong...” Jawab Harumi sambil membetulkan dasi Masato.


“Terima kasih Haru-chan....” Balas Masato yang mendongak ke atas karena dasi nya sedang di betulkan.


Sikap keduanya menjadi pusat perhatian bagi teman sekelas, Masato walau dulunya terkenal culun, tapi dia peringkat nomor 1 seangkatan, sedangkan Harumi peringkat 2 seangkatan walau dulu dia tidak cantik dan seperti kutu buku. Perubahan mereka menjadi pusat perhatian bagi teman seangkatan, adik kelas dan kakak kelas. Di tambah sekarang keduanya di gosipkan pacaran dan tinggal bersama sehingga sudah seperti suami istri.


“Buset...pasangan populer pagi pagi sudah mesra aja...bikin iri dunia..” Ujar seorang siswa.


“Iya ya...mereka semakin hari semakin nempel...benar benar serasi..” Tambah seorang siswi.


“Sebentar lagi teman mereka hadir, pasangan populer nomer 2, preman ternama tapi ganteng dan cewek gaul yang super seksi.” Tambah seorang siswa.


“Hahaha...benar, tapi kenapa mereka ada di kelas ini sih...bikin kita tidak kelihatan...” Tambah seorang siswi.


Dan masih banyak gosip lainnya, Masato dan Harumi tidak menggubris mereka dan berbicar sendiri membahas kegiatan sampingan mereka di tambah misteri Jiro dan Nana.


“Oh ya Haru-chan, ini....” Ujar Masato sambil memberikan kunci.


“Eh...kunci ? ini kan kunci apartemen...” Ujar Harumi yang menerima kuncinya.


“Iya, sebab aku nanti pulang agak malam karena menggantikan shift teman yang sakit di mini market, kamu pulang duluan saja...” Balas Masato.


“Yaaah....padahal nanti ada diskon daging di supermarket, baru aku mau ajak kamu belanja selesai kamu kerja Ma-kun...” Balas Harumi murung.


“Wah maaf, kamu belanja sendiri saja ya, aku tidak bisa ikut, nanti pulangnya aku belikan kue deh...” Balas Masato.


“Eh benar ? asiiik....janji ya, baiklah, kamu pulang makanan sudah tersedia pokoknya...” Balas Harumi girang.


“Wah...jadi enak nih, aku jadi semangat bekerja...” Ujar Masato.


“Hehe sip, bekerja yang giat ya, demi perekonomian kita....” Balas Harumi.


“Waduh kenapa bawa bawa perekonomian, jadi berat nih...” Balas Masato.


“Hehe maaf, tapi itu penting....” Balas Harumi.


“Ehem...tolong ya, pelajaran sudah mulai pembahasan suami istri kalian nanti saja di lanjutkan...”


Masato dan Harumi menoleh, mereka melihat seorang guru pria berkepala botak sedang bertolak pinggang dan berdiri di antara mereka dengan wajah geram.


“Eh...Togari-sensei...pagi sensei...” Balas keduanya bersamaan.


“Hah apanya yang pagi...pulang sekolah tolong kalian berdua datang ke ruang staff, aku mau bicara...” Balas Togari.

__ADS_1


“Baik sensei...” Jawab keduanya menunduk.


“Haha wajar Togari sensei marah, jomblo abadi sih. Ga bisa melihat pasangan mesra hahaha.” Celetuk seorang siswa, teman satu kelas pun tertawa mendengarnya.


“Diam semuanya....jangan ada yang bicara lagi.” Teriak Togari-sensei marah.


Jiro dan Nana menggelengkan kepala mereka sambil tersenyum melihat Masato dan Harumi yang masih menunduk walau Togari sudah kembali ke depan.


“Nah kan, mustinya bahasnya nanti saja, malah ngomongin urusan suami istri di kelas...” Bisik Jiro.


“Hehehe....nanti kita makan apa ?” Tanya Nana berbisik.


“Kare....sudah diam, nanti sasaran si botak ke kita lagi...” Jawab Jiro berbisik.


“Iya iya....” Balas Nana.


Sementara itu, Masato dan Harumi masih terdiam dan tidak bicara apa apa, mereka langsung menyimak pelajaran yang di berikan oleh Togari-sensei,


“Huuuuh...di Vanadis (Masato) Phanteos (Harumi) tidak ada sekolah tahu....” Pikir keduanya dalam hati.


****


Sepulang sekolah, setelah semua teman teman sekelas keluar, Masato, Harumi, Jiro dan Nana berkumpul di kelas,


“Aduh...aku ada kerjaan nih, ngapain sih Togari-sensei memanggil kita ?” Tanya Masato.


“Kalian ini.....sudahlah, gini aja, biar aku yang ketemu sama si botak, aku akan bilang ke dia kalau kalian sibuk ada urusan mendadak.” Balas Jiro.


“Aku juga bantu dia jelaskan kepada si botak, tenang saja, kalian pulang saja duluan...” Tambah Nana.


“Loh memang boleh seperti itu ?” Tanya Masato.


“Huh, kamu memang kaku sih Masato, dasar siswa teladan, bawa santai saja, aku saja sering kok berurusan sama si botak...” Jawab Jiro.


“Lagian kalian itu kan juara 1 dan juara 2 seangkatan, prestasi kalian nyata, tidak mungkin juga dia berani macam macam pada kalian...sudah tidak apa apa, pulang saja duluan sana...” Tambah Nana.


“Tapi nanti kalian kena masalah ga ?” Tanya Harumi.


“Hahaha santai Satou-san, kalian kan tahu julukan kita berdua ini apa, kalau kalian berdua anak terpandai dan terpintar seangkatan, kalau kami anak paling bermasalah seangkatan, lihat nih....aku berambut pirang, anting dan kalung, sedangkan si kontet, kedua telinganya penuh anting....benar kan Na...” Jawab Jiro sambil menoleh kepada Nana.


“Kenapa bangga sih dengan julukan anak bermasalah.....dasar bongsor, reputasi berantakan kok bangga....dodol...” Balas Nana sambil menyikut Jiro.


“Tapi kalau begini aku jadi tidak enak pada kalian...” Balas Masato.


“Hah...kenapa musti tidak enak, kita kan teman...” Balas Jiro sambil menepuk punggung Masato.


“Hmm...ya sudah, tapi sebentar, aku ada alat bagus...” Balas Masato.


Dia membuka item boxnya dan mengambil dua buah gelang yang terbuat dari kain berwarna putih, kemudian dia menggenggam kedua gelang itu, sebuah lingkaran sihir keluar di atas gelang itu, Masato menyentuh salah satu lingkaran sihir dan dia minta Harumi menyentuh lingkaran sihir gelang satunya. Kemudian dia memeberikan gelang yang dia sentuh lingkaran sihirnya kepada Jiro dan Harumi memberikan nya kepada Nana.

__ADS_1


“Apa ini ?” Tanya Jiro.


“Coba pakai, lalu tekan kristal di tengahnya.” Jawab Masato.


Jiro memakai gelangnya dan langsung menekan kristal di tengahnya, tiba tiba cahaya hijau menyelimuti tubuh Jiro dan dia berubah menjadi Masato.


“Wooooow....aku jadi kamu ? hahaha lucu juga nih....” Ujar Jiro.


“Iya tapi waktunya cuma 1 jam, setelah itu berubah kembali ke asal.” Balas Masato.


“Cukup kok 1 jam, memang si botak mau bicara berapa lama...” Balas Jiro.


Nana juga langsung mencoba nya dan dia berubah menjadi Harumi, Nana langsung mengamati tangannya dan berlari ke jendela untuk melihat dirinya di pantulan cermin.


“Waaaaa aku jadi Haruchi....ayo bongsor, waktunya hanya 1 jam kan, kita ke tempat si botak sekarang...” Ujar Nana sambil menarik Jiro.


“Eeeeh...Saikoji-san, ini aku yang asli...” Balas Masato yang di tarik Nana.


“Ups...maaf...hehehe...salah tarik...ayo Jiro...” Sekarang Nana menarik Jiro yang sebenarnya.


Keduanya langsung keluar dari kelas, kemudian Masato mengambil jubah menghilangnya dan dia memakainya bersama Harumi, keduanya keluar dari kelas secara diam diam sampai ruang loker sepatu. Di luar sekolah, Masato membuka jubahnya di tempat sepi dan menyimpannya di item box. Keduanya langsung berjalan menuju apartemen mereka. Setelah sampai di persimpangan jalan,


“Sudah ya Haru-chan, aku kerja dulu...” Ujar Masato sambil menunjuk mini market di belakangnya.


“Iya, aku kesana ya...ke supermarket....belanja dulu, kerja yang rajin ya Ma-kun..” Balas Harumi sambil mengacungkan jempolnya dan tersenyum.


“Hahaha dasar...iya tenang saja, nanti aku pulang bawa kue...” Balas Masato.


“Hehehe...aku tunggu ya....” Balas Harumi.


“Eh tunggu, ini...” Ujar Masato memanggil Harumi yang sudah berbalik dan memberikan sejumlah uang.


“Eh apa ini ?” Tanya Harumi bingung.


“Yah uang tambahan untuk beli makanan dan kalau kamu mau beli sesuatu juga boleh....” Jawab Masato dengan wajah sedikit merah.


“Oh bagus deh, kalau aku beli pakaian dalam baru boleh kan Ma-kun ?” Tanya Harumi polos.


“Hah...kenapa kamu tanya aku ? kan aku sudah bilang uang itu untuk kamu...terserah saja kan...dasar...” Jawab Masato dengan wajah merah dan membetulkan kacamatanya.


“Hehehe...malu nih ye...aku heran, kita sudah tinggal bersama tapi kenapa kamu masih malu malu...” Balas Harumi.


“Jangan meledek ku terus Haru-chan...” Balas Masato.


“Hehe maaf maaf, sudah ya...aku ke arah sana...” Balas Harumi.


“Iya, hati hatiya...” Balas Masato.


Kemudian keduanya berpisah, Harumi langsung berlari ke sebrang menuju ke supermarket dan Masato masuk ke dalam mini market yang ada di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2