The Seventh World

The Seventh World
Chapter 35


__ADS_3

Libur musim panas pun tiba, ke enamnya pergi menuju ke kota dimana rumah kakek Jiro berada. Setelah naik kereta selama empat jam, mereka sampai di kota Ao dan turun di stasiun.


“Rumah mu jauh tidak dari stasiun ?” Tanya Masato kepada Jiro.


“Lumayan, rumah kakek ku ada di luar kota....” Jawab Jiro.


“Biasanya kita waktu itu naik apa ya, kalau ga salah ada bis kan ?” Tanya Nana.


“Iya benar, tapi kita harus jalan dulu sedikit dari sini.” Jawab Jiro.


“Gimana kalau kita makan dulu, perut rasanya sudah lapar nih...” Ujar Harumi.


“Iya benar, aku setuju...makanan yang enak di sini apa Jiro-nii ?” Tanya Kenzo.


“Hmm....ramen saja, aku rekomendasi restoran, tidak jauh dari sini...” Jawab Jiro.


“Oh yang penah kamu ajak aku itu ya...mau mau...” Balas Nana.


“Wah...aku mau ramen...aku belum pernah makan ramen khas kota ini.” Balas Shoko.


“Ok pimpin jalan Jiro...” Tambah Masato.


Ke enamnya berjalan dengan Jiro dan Nana di depan memimpin jalan. Setelah melewati perumahan mereka tiba di pertokoan yang memiliki banyak restoran. Jiro masuk ke salah satu kedai ramen kecil yang berada di ujung jalan dekat pemberhentian bis. Kondisi kedai kebetulan sedang kosong, seorang paman pemilik kedai sedang duduk di balik meja sambil melihat smartphone nya, ketika Jiro masuk dia langsung berdiri,


“Selamat datang...” Sapa paman pemilik restoran.


“Halo ossan, ramen miso kare susu 6 ya ossan...” Ujar Jiro.


“Eh...bocchan (tuan kecil) ? kapan datang ? wah sudah lama tidak ketemu ya.” Tanya paman pemilik kedai.


“Baru saja ossan, masih kenal sama aku ya...” Jawab Jiro.


“Hahaha siapa yang ga kenal kamu bocchan....silahkan duduk di meja saja....” Balas paman pemilik kedai.


Ke enamnya duduk di meja kosong di dalam kedai, mereka melihat suasana kedai yang walau kecil tapi terasa nyaman. Tak lama kemudian, paman memanggil kalau ramen nya sudah siap, Jiro mengambil ramennya di jendela dapur dan membawanya ke meja. Sisanya di antar paman ke meja, kemudian paman duduk di depan Jiro dan melihat ke arah Nana yang duduk di sebelah Jiro.


“Ojouchan yang dulu pernah kesini sama bocchan kan ya ?” Tanya paman.


“Iya ossan, benar....” Jawab Nana.


“Wah sekarang ojouchan sudah cantik sekali ya, cocok dengan bocchan hahaha..” Balas paman.

__ADS_1


“Ah ossan bisa aja hehe...” Balas Nana.


“Bocchan kesini mau menjenguk nenek ya ?” Tanya paman.


“Iya di rumah....” Jawab Jiro.


“Um...bocchan belum dengar ya kalau nenek sekarang ada di panti jompo ?” Tanya paman.


“Hah...dia tidak di rumah ?” Tanya Jiro.


Kemudian paman bercerita kalau nenek Jiro di pindahkan oleh warga kota ke panti jompo yang ada di kota, alasannya karena rumah nya di serang oleh orang orang suruhan keluarga Hashimoto. Tukan kebun, pengurus rumah tangga dan anak mereka menjadi korban jiwa penyerangan kemarin, polisi mengatakan kalau pembunuh mereka adalah perampok, tapi warga kota sudah tahu kalau semua adalah ulah keluarga Hashimoto dan itulah sebabnya mereka memindahkan nenek ke panti jompo sejak kakek menghilang.


“Begitu ya, aku malah baru dengar, aku kesini karena libur sekolah dan ingin menjenguk kakek dan nenek...” Balas Jiro.


“Langsung saja ke panti jompo bocchan, nenek ada di sana...” Ujar paman.


Tiba tiba pintu kedai di buka, ada tamu yang datang, paman langsung berdiri dan pergi melayani tamu. Jiro terlihat murung dan menunduk, Nana langsung memegang tangan Jiro yang duduk disebelahnya.


“Hmm...kita lihat kondisi rumah mu saja dulu...” Ujar Masato.


“Aku juga berpikir begitu, kita cari tahu dulu...” Tambah Harumi.


“Sebenarnya aku juga mau pulang dulu untuk memakamkan kakek yang jasadnya ku bawa di item box, baru habis itu aku mau ke panti jompo.” Balas Jiro.


“Iya, sudah kumasukkan peti sih....waktu itu aku mengambilnya diam diam sendirian di gudang...” Jawab Jiro.


“Ga sendirian kan, sama aku...” Balas Nana.


“Oh iya, berdua...” Balas Jiro.


“Ya sudah, kita makan dulu lalu ke rumahmu terbang saja...” Ujar Masato.


“Setuju...biar cepet...” Balas Shoko.


Mereka langsung menghabiskan makanan mereka, kemudian mereka berdiri dan ke kasir untuk membayar makanan mereka. Setelah itu mereka ke sebuah tanah kosong di belakang daerah pertokoan dan berubah. Ke enamnya terbang menuju rumah Jiro yang berada di luar kota. Karena kalau terbang jauh lebih cepat dari naik bis, dalam waktu tidak sampai 20 menit, mereka sudah sampai mendarat di depan gerbang rumah Jiro yang masih berbentuk rumah tradisional dan ada dojo di dalam nya. Sebelum masuk ke rumah, Jiro mengajak lainnya ke pemakaman keluarganya yang berada di sebuah kuil dekat rumahnya. Mereka naik ke atas, pemakaman itu berada persis di sebelah kuil yang di batasi sungai, mereka langsung masuk dan berdiri di depan makam keluarga Jiro. Karena tidak ada siapa siapa, Jiro membuka makamnya dan memasukkan peti jenazah kakek ke dalam lubang makam, kemudian menutupnya kembali. Setelah itu dia membersihkan makam di bantu oleh Masato, Harumi, Nana, Kenzo dan Shoko. Setelah selesai, ke enamnya berdiri di depan makam dan mengatupkan tangan untuk berdoa dengan wujud ‘hero’ mereka,


“Terima kasih ya...” Ujar Jiro kepada teman temannya.


“Sama sama....senang bisa membantu.” Balas Masato.


“Iya, semoga kakek senang di alam sana...” Tambah Harumi.

__ADS_1


Ketika mereka bersiap pergi, “Klotak.” Terdengar bunyi sebuah ember kayu yang jatuh, ke enamnya menoleh dan melihat seorang gadis kecil sedang tertegun melihat mereka yang masih berwujud ‘hero’ mereka. Gadis itu tidak bergerak dan mengamati ke enamnya dengan wajah yang bingung dan penuh tanda tanya.


“Hmm ? ada orang rupanya, sebaiknya kita cepat pergi dari sini..” Ujar Masato.


Ke enamnya langsung terbang tinggi di udara, gadis kecil itu masih melihat mereka yang semakin lama semakin naik ke atas. Ke enamnya mendarat di dalam halaman rumah Jiro yang sudah di segel oleh garis kuning polisi, mereka langsung berubah menjadi wujud manusia mereka. Setelah itu, mereka mulai berkeliling di dalam rumah. Mulai dari dojo di depan, ruang tamu, kamar kamar, gudang belakang dan akhirnya mereka berkumpul di ruang tengah,


“Tidak ada apa apa di sini....” Ujar Kenzo.


“Iya, semua sudah di bereskan oleh polisi, hanya ada garis garis tempat di temukannya jenazah...” Tambah Shoko.


“Di dapur dan gudang ya.....hanya di dua tempat itu.” Ujar Nana.


“Berarti nenek benar benar sudah ada di panti jompo....aku harus kesana.” Ujar Jiro.


“Aku rasa kita sementara di sini dulu, tidak mungkin mereka meninggalkan rumah ini begitu saja kan....lagipula kita harus mencari petunjuk kenapa mereka mengusik dan menyerang rumah ini...” Balas Masato.


“Maksudmu keluarga mafia itu ?” Tanya Jiro.


“Benar, dari bekas bekas di halaman dan di dalam dojo, jelas mereka sedang mencari sesuatu...di ruang tengah ini juga ada bekas tanda tanda, lihat, lemari yang terguling, meja yang terbalik dan lainnya. Jelas mereka mencari sesuatu, tidak hanya menyerang membabi buta. Pantas polisi mengatakan mereka merampok. Kamu ada ingat sesuatu tidak.” Jawab Masato.


“Jujur aku tidak merasa di rumah ini ada rahasia....tapi memang kakek bilang rumah ini sudah di warisinya sejak jaman leluhur dulu selama beberapa generasi.” Balas Jiro.


“Berarti sama dengan karate yang di ajarkan di sini dong ?” Tanya Nana.


“Kalau menurut ceritanya kira kira seperti itu.” Jawab Jiro.


Kenzo memperhatikan sebuah lukisan tua yang berada di dinding, dari semua yang berantakan hanya lukisan itu yang masih tergantung dengan rapi di dinding.


“Jiro-nii, lukisan ini sudah sejak kapan ada di sini ?” Tanya Kenzo.


“Wah sudah dari aku belum lahir, kenapa ?” Jawab Jiro.


“Hmm...aneh, lukisan ini keras dan tidak bisa bergeser...” Balas Kenzo yang mencoba mengambil lukisan itu dari dinding.


“Ah masa, coba sini....” Balas Shoko.


Shoko mencoba menarik lukisan itu dan tidak bisa, lukisan itu seperti terpaku di dinding dan akan rusak jika di paksa. Setelah mencoba, Shoko memegang sisi bingkai nya, tiba tiba lukisan itu bergeser. “Klek.” Terdengar seperti suara kunci terbuka. Masato, Harumi, Jiro dan Nana langsung berdiri, mereka mulai mencari apa yang terbuka di dalam ruangan.


“Hmmm...ini bukan ya ?” Tanya Harumi sambil menunjuk sebuah lemari pendek yang bergeser padahal sebelum nya rapat dengan dinding.


Ke enamnya melihat ke belakang lemari itu, ternyata di balik nya ada sebuah tangga turun ke bawah. Ke enamnya langsung masuk dan menuruni tangga dengan perlahan. Mereka berjalan di lorong yang di terangi lampu bohlam yang sudah terlihat sudah tua, di ujung lorong mereka melihat sebuah pintu terbuka dengan cahaya di dalamnya, ketika masuk ke dalam,

__ADS_1


“Apa ini ?” Teriak ke enamnya.


Mereka berada di sebuah gua yang ada di bawah tanah, di depan mereka membentang sebuah danau yang tenang dan di tengah danau ada sebuah pulau kecil dengan gerbang di tengah nya yang di batas oleh tali jerami yang di tempeli kertas kertas jimat dan di pintu gerbang di ikat oleh rantai besar berkarat.


__ADS_2