The Seventh World

The Seventh World
Chapter 19


__ADS_3

Di sebuah istana yang gelap dan mengerikan, seorang bertubuh besar dengan kulit mengkilap berwarna hitam seperti besi dan bertanduk, sedang duduk di singgasana. Beberapa orang berlarian masuk ke dalam singgasana,


“Keluar kamu demon lord....” Teriak seorang pria yang menggunakan pedang yang lebih besar dari tubuhnya.


Pria yang duduk di singgasana berdiri dan melangkah turun dari podium, dengan gagah dia menghadang seluruh orang yang datang sendirian. Wajahnya terlihat karena tesorot cahaya matahari, ternyata dia adalah Jiro dengan wujud demon nya.


“Keluar juga kamu....” Ujar pria itu.


“Huh...kalian masuk ke tempatku dan tidak sopan...kalian pikir kalian siapa...” Ujar Jiro.


“Hahaha...kamu sudah kalah, sebaiknya kamu menyerah dan tidak melawan lagi...” Ujar pria yang di panggil pahlawan itu.


“Menyerah ? dari awal aku sudah bilang, aku tidak berniat untuk perang dengan bangsa manusia, kalian yang seenaknya menyerang kami dan membuat kami musuh kalian, sekarang kalian minta aku menyerah begitu saja ? jangan mimpi...” Balas Jiro.


“Serang dia...” Teriak sang pahlawan.


Seluruh kelompoknya langsung maju menyerang Jiro yang masih berdiri tegap di tengah. Seorang pemanah melompat dan melepaskan panahnya, tapi semua panahnya terpental ketika mengenai tubuh Jiro yang keras. Seorang penyihir merapal sihirnya untuk menembakkan bola api kepada Jiro yang diam saja tanpa menghindar dan menerima mentah mentah bola api itu. Ledakan terjadi tapi Jiro masih berdiri dan tidak tergoyahkan. Beberapa orang bersenjatakan tombak dan pedang menyerang Jiro bertubi tubi, Jiro hanya berdiri dan melipat tangan di dada menerima semua serangan itu tanpa bergerak sedikit pun. Pahlawan itu juga maju menyerang Jiro dengan pedang besarnya. Tangan Jiro bergerak dan menangkis pedang itu dengan jari telunjuknya, kemudian dia menghentakkan kaki ke tanah dan semua penyerangnya terpental jatuh.


“Hanya segitu ? kalian lemah...pulanglah, jangan menyerang kesini lagi.” Ujar Jiro berbalik dan berjalan menuju podiumnya.


“Sayang....” Teriak seorang wanita.


Jiro menoleh dan melihat seorang wanita demon keluar dari tirai yang berada di samping singgasana nya, dia langsung berlari menghampiri wanita itu.


“Kenapa kamu keluar.....” Ujar Jiro.


“Aku khawatir, mereka kuat kan sayang...” Balas wanita itu.


Tiba tiba sebuah bayangan melesat, sang pahlawan langsung menarik wanita itu dan menyilangkan pedangnya di leher wanita itu.


“Ceres.....” Teriak Jiro.


“Hei hei...jangan maju, kalau maju nyawa wanita ini melayang....” Ujar sang pahlawan dengan wajah bengis.


“Sayang....lari...aku tidak apa apa...” Ujar Ceres.

__ADS_1


“Tidak, aku tidak mungkin meninggalkan mu...” Ujar Jiro.


Kemudian dia berteriak dan seluruh energinya keluar mementalkan sang pahlawan yang ada di belakang Ceres. Jiro langsung berlari dan meraih Ceres, dia langsung memeluk Ceres sambil melindunginya.


“Pergi...aku tidak mau melihat kalian lagi....” Ujar Jiro.


Tapi wajah sang pahlawan tersenyum lebar dan membuat Jiro heran, tiba tiba, dia merasakan sakit di pinggangnya, Jiro menoleh dan melihat Ceres menusuk dirinya dengan pisau khusus yang bisa melukainya dan meracuninya sampai seluruh tubuhnya mati rasa. Jiro langsung jatuh berlutut dengan satu kaki,


“Ceres....apa....kenapa ?” Tanya Jiro.


“Wah kamu masih belum mengerti juga ya, alasan kami bisa masuk ke istana ini berkat kekasihku, benar kan sayang...” Ujar sang pahlawan sambil memeluk Ceres dari belakang.


“Hehe benar sayang, kasihan dia di perdaya oleh istri yang di cintainya....” Balas Ceres.


Kemudian sang pahlawan mencium Ceres dari belakang dan di sambut oleh Ceres yang juga menciumnya, semuanya di lakukan di depan Jiro yang melihatnya dengan geram dan sedih.


“Ke..kenapa kamu berbuat seperti ini....Ceres...” Ujar Jiro.


“Kenapa ? karena kamu mengambil ku dengan paksa dari tangan orang tua ku kan, kenapa kamu masih bertanya soal itu, selama ini aku dendam kepadamu yang sudah membunuh orang tua dan adik ku....” Ujar Ceres.


“Aku...tidak melakukan itu....” Balas Jiro.


“Sudahlah sayang, kita habisi dia....” Balas sang pahlawan sambil menciumi Ceres.


“Hehe iya sayang...”


Ceres kemudian maju dan dengan pisaunya dia memotong tanduk Jiro satu persatu, kemudian melemparkannya, setelah itu, kelompok yang datang bersama sang pahlawan, mulai menyerang Jiro dengan senjata mereka, karena tanduknya sudah terpotong, Jiro jadi bisa di lukai oleh senjata senjata dan sihir mereka. Ketika sudah di ambang ajal, Jiro masih melihat wanita yang di cintainya, tapi Ceres membuang wajahnya dan akhirnya sang pahlawan menghujamkan pedang besarnya ke punggung Jiro sampai menembus ke jantungnya. Kesadaran Jiro mulai menghilang, dia melihat Ceres yang mendekat kepadanya dan membawa sebilah pedang, kemudian Ceres menyabetkan pedangnya dan pandangan nya berputar, Jiro menyadari kalau yang terpental adalah kepalanya, dia melihat tubuhnya berada di atas podium di kelilingi orang orang yang membunuhnya. Akhirnya Jiro menghembuskan nafas terakhirnya, setelah itu dia merasa dirinya melayang di kegelapan.


“Kenapa....kenapa....kenapa nasibku selalu seperti ini....aku hanya ingin hidup...aku hanya ingin bahagia....kenapa.....di kehidupan lalu aku juga seperti ini...sekarang juga sama....kenapa nasib ku seperti ini.....aku tidak terima....aku tidak percaya kalau aku bernasib seperti ini...tolong...aku...tolong....” Ujar Jiro di dalam kegelapan.


Tiba tiba sebuah cahaya terang menyinari dirinya, Jiro tidak bisa membuka matanya karena terlalu silau. Dia mendengar suara wanita berbisik di telinganya,


“Hiduplah sekarang, aku akan mengembalikan mu.....berbahagialah...”


Jiro langsung merasa dirinya di tarik sesuatu menuju cahaya yang berada di atasnya, ketika dia membuka mata, dia melihat Ryuichi dan anak buahnya sedang berjalan keluar dari gudang,

__ADS_1


“Tunggu.....” Ujar Jiro dengan suara mengerikan.


Dia berdiri dan tubuhnya berubah, kemudian dia tidak sadarkan diri dan membantai semua orang yang ada di dalam gudang termasuk Ryuichi. Setelah itu, dia mengambil jasad kakeknya dan memakamkan nya dengan menghancurkan lantai gudang. Setelah menaruh jasad kakeknya dia menutup kembali lantainya dan memasang sebuah besi besar di atas makam nya. Setelah itu dia melangkah keluar dari gudang dan melihat Masato berdiri di depannya. Setelah itu, Jiro baru sadar kembali ketika dia melihat Nana yang tertembus oleh tangannya sendiri.


Setelah selesai Masato melihat pikiran Jiro, dia langsung berlari dan muntah, Harumi menghampirinya dan mengelus punggungnya, kemudian Harumi juga menempelkan keningnya ke kening Masato untuk berbagi pikirannya supaya Masato tidak terbebani.


“Terima kasih...Haru-chan....” Ujar Masato sambil menitikkan air mata.


“Kaname-kun....dia juga sama seperti kita.....” Balas Harumi.


“Iya....Saikoji-san juga sama.....kita berempat sama....” Balas Masato.


Keduanya menoleh melihat Jiro yang masih berlutut dengan kepala menunduk tidak sadarkan diri.


“Jiro...ada dua kepribadian di dalam dirinya....” Ujar Masato.


“Benar, dirinya yang di Hellion berada di dalam dirinya....semoga dia bisa berdamai dengan diri nya sendiri.” Ujar Harumi.


Sementara itu, Jiro merasa dirinya berada di dalam ruangan serba putih dengan sebuah layar besar di tengah yang menampilkan dunia di luar.


“Aku dimana ini ?” Tanya nya dalam hati.


“Hei...” Seseorang memanggilnya.


Jiro menoleh dan melihat dirinya sendiri dalam wujud demon berdiri di depannya sambil melipat tangan di dada. Jiro dan demon Jiro berhadapan saling melihat satu sama lain. Masato dan Harumi menghampiri Nana yang terbaring di depan Jiro yang masih berlutut dan menunduk tidak sadarkan diri di depan mereka.


“Apa yang terjadi dengan Jiro ?” Tanya Masato.


“Sepertinya dia sedang bertemu dengan dirinya yang lain...” Jawab Harumi.


“Kamu mengerti soal ini ya...” Balas Masato.


“Tentu saja, di Phanteos kita mengenal spirit, untuk menggunakan sihir, kita menjalin kontrak dengan mereka dan ketika aku melihat ingatan Jiro, di Hellion juga sama seperti Phanteos, Jiro menjalin kontrak dengan beberapa spirit yang menjadikan dirinya seperti itu dan melebur menjadi satu dengan dirinya, ini tidak mudah loh...prosesnya panjang.” Ujar Harumi.


“Lalu bagaimana cara membantunya ?” Tanya Masato.

__ADS_1


“Kita tidak bisa membantunya, hanya Jiro sendiri yang bisa menghadapi dirinya sendiri....kita tunggu saja dan bersiap siap.” Jawab Harumi.


“Aku mengerti...” Balas Masato.


__ADS_2