The Seventh World

The Seventh World
Chapter 12


__ADS_3

Malamnya, setelah Masato selesai bekerja, dia keluar dari mini market, tapi tiba tiba manajernya memanggil nya,


“Eh tunggu Masato kun, ini bawa, dua potong cheese cake kesukaan pacar mu kan ?” Tambah sang Manajer sambil membawakan bungkusan berisi dua potong besar cheese cake.


“Eh...bapak bukannya beli untuk anak bapak ? kenapa kasih ke saya ? lagian yang kemarin kesini itu bukan pacarku pak.” Tanya Masato.


“Hah masa sih, kalian sudah seakrab itu masih bilang bukan pacar. Anak ku tidak pulang ke rumah, dia sedang menginap di rumah temannya untuk belajar bersama karena sebentar lagi ujian, lemari es ku juga sedang rusak, tidak ada yang makan kue ini, kamu kan pernah cerita kalau pacarmu senang dengan cheese cake. Jadi kebetulan kan...hahaha.” Jawab manajernya.


“Pak, dia bukan pacarku.....” Balas Masato yang wajahnya mulai merah.


“Ah sudahlah, akui saja, kasihan kan dia hampir setiap sore datang kesini hanya untuk menjemputmu...” Balas manajer.


“Huuh...iya deh, terserah bapak saja...” Balas Masato.


“Hahaha ya sudah ini bawa, sayang kalau tidak di makan, pacarmu pasti senang...sudah sana cepat pulang....” Balas manajer.


“Iya pak, terima kasih pak...” Balas Masato sambil mengambil bungkusan nya.


Dia langsung keluar melalui jalan belakang, tempat keluar para karyawan, dia membawa bungkusan itu dengan hati hati supaya kue nya tidak tumpah dan rusak, sambil berjalan dia sedikit berpikir,


“Kalau di pikir pikir, Haru-chan itu bagiku siapa ya ? pacar ? teman ? istri ? aku sendiri tidak mengerti, tapi yang jelas, dia sudah menjadi bagian dari hidupku, ini membuatku sedikit takut....aku harus membatasi diriku, jangan sampai terlalu dalam bersamanya...aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama...” Pikir Masato sambil melihat bungkusan kue nya.


Trauma di khianati oleh orang yang di kasihinya dan bahkan sampai di bunuh oleh orangyang di cintainya benar benar membuat Masato berpikir dua kali untuk mencintai Harumi. Dia berusaha untuk menghapus perasaan nya pada Harumi, tapi dia merasa aneh, karena ada perasaan lain terhadap Harumi, bukan hanya sekedar suka dan cinta saja.


“Aku harus atasi dengan segera perasaan ini...yah paling tidak malam ini aku janji bawa kue dan aku benar benar bawa kue...Haru-chan pasti senang.” Gumam Masato di pikirannya.


Dia berjalan sambil bersiul menuju apartemen nya, langkahnya terasa ringan walau dia sebenarnya tidak mau mengakui perasaan nya karena trauma yang menghalanginya. Setelah sampai, dia masuk ke dalam unitnya,


“Aku pulang....”


Dia mencium wangi masakan dari dalam, tapi ketika dia melepas sepatunya, dia melihat ada dua pasang sepatu lain, satu berukuran besar dan satunya sepatu sekolah wanita.


“Huh...ada Jiro dan Saikoji-san ?” Tanya Masato dalam hati.


Tiba tiba Harumi keluar dan menyambutnya, dia langsung menarik tangan Masato masuk ke dalam.


“Selamat datang...maaf tapi ada hal penting...” Ujar Harumi.


“Hah...” Balas Masato.


Ketika masuk ke dalam, Masato langsung melihat Jiro dan Nana yang berlutut dan menyembah di depan nya dan Harumi, Masato menoleh melihat Harumi dan dia baru sadar kalau wajah Harumi menjadi sangat merah dan tidak berani menatap matanya,


“Kami minta maaf...” Teriak keduanya.

__ADS_1


“Ada apa sih ? Haru-chan, kamu kenapa merah sekali, kamu sakit ?” Tanya Masato.


“Um...aku minta maaf Masato....” Jawab Jiro.


“Coba ceritakan, aku tidak mengerti apa masalahnya...” Balas Masato.


“Duduk dulu yuk semuanya, sudah Kaname-kun, Nana-chan, angkat kepala kalian dan duduk...” Ujar Harumi galak.


“I..iya...Haruchi, jangan marah ya....” Ujar Nana.


Akhirnya mereka berempat duduk memutari meja dengan rebusan yang sedang di masak di tengah tengah menggunakan kompor kecil. Masato bertanya kepada Jiro ada apa sebenarnya, Jiro dan Nana saling menoleh dan melihat satu sama lain, kemudian mereka mengembalikan gelangnya. Setelah Masato menyimpan gelangnya, Jiro mulai bercerita tentang percakapannya dengan Togari-sensei. Beberapa jam sebelum nya, ketika Jiro yang menyamar menjadi Masato dan Nana yang menyamar menjadi Harumi, masuk ke ruang staff dan bertemu dengan Togari–sensei.


“Kalian sudah datang...” Sapa Togari yang melihat Jiro dan Nana berdiri di pintu.


Kemudian dia mengajak keduanya masuk ke dalam sebuah ruangan khusus untuk konseling murid dan guru.


“Tahu tidak kenapa kalian di panggil ke sini ?” Tanya Togari-sensei.


“Wah tidak tau sensei, memang ada apa ?” Jawab Jiro santai.


Togari kemudian menceritakan kalau banyak laporan orang tua murid yang melihat Masato dan Harumi keluar dari dalam satu apartemen, selain itu, banyak juga guru yang mengeluh karena keduanya asik sendiri di dalam kelas, berteman dengan dua anak bermasalah, yaitu Jiro dan Nana, kemudian suka menghilang diam diam dari kelas dan kembali ke kelas dengan seragam yang acak acakan. Selain itu, banyak staff seperti pegawai kebersihan, security dan petugas lainnya melihat Masato dan Harumi keluar dari gudang penyimpanan alat alat olah raga, keluar dari atap dan tempat tempat sepi lainnya berduaan dengan penampilan acak acakan. Ternyata keduanya menjadi sorotan dan menjadi perhatian para guru.


“Loh...masalahnya gawat nih...” Pikir Jiro dan Nana.


Keduanya mulai menjadi pucat karena mereka tidak tahu harus menjawab apa, mereka sebenarnya tahu identitas Masato dan Harumi, tapi tidak mungkin mereka mengatakannya.


“Um...begini sensei, sebelumnya mohon maaf, tapi sensei kan tahu situasi kita berdua, kita tidak punya keluarga, jadi kita tinggal bersama untuk menghemat biaya dan pengeluaran kita, karena ketika lulus kita berdua berencana meneruskan ke universitas dan itu memakan biaya...” Jawab Nana yang menyamar menjadi Harumi.


“Kereeeen Nana...baguuuus...” Gumam Jiro di pikirannya.


“Aku jelas mengerti situasi kalian, tapi aku perlu penjelasan, apa kalian berdua sepasang kekasih ? atau hanya tinggal bersama saja demi alasan yang kamu ucapkan tadi atau apa ? dan kenapa kalian selalu ke gudang dan tempat sepi lainnya ? Di tambah kalian bergaul dengan dua anak bermasalah yang juga di incar perhimpunan orang tua. Terus terang saja, hal hal ini menjadi pertanyaan bagi perhimpunan orang tua murid dan sekolah susah menjelaskan nya pada mereka kalau kalian tidak menjawabnya...aku mohon kalian mengerti...” Balas Togari.


“Waduh....musti jawab apa nih....” Pikir Jiro sambil melirik ke Nana.


“Benar sensei, kita berdua pacaran, karena aku tinggal dengan sepupuku dan Ma-kun tinggal sendirian, jadi kita memutuskan untuk tinggal bersama...semuanya demi masa depan.” Jawab Nana geram.


“Haaah...kamu bicara apa Nana....” Pikir Jiro dalam hati.


“Benar seperti itu Yamada-kun ?” Tanya Togari.


Jiro yang merasa namanya bukan Yamada, melamun karena memikirkan macam macam di kepalanya, Togari-sensei bertanya sekali lagi,


“Yamada-kun, perkataan Satou-kun benar atau tidak ?” Tanya Togari sensei agak keras.

__ADS_1


Melihat Jiro bengong dan tidak menjawab, Nana yang menyamar menjadi Harumi langsung menyikut Jiro.


“Ah iya sensei....be..benar sensei...” Ujar Jiro yang menyamar menjadi Masato.


“Aaaaah aku tidak tahu lagi.....maafkan aku Masato....” Pikir Jiro.


“Hmm...memang aku pernah bicara kepada letnan Hana, tapi aku masih belum meminta keterangan jelas dari nya, begini saja, hal seperti ini tidak bisa di teruskan, tapi aku mengerti situasi kalian, aku akan mencoba bicara lagi dengan letnan Hana untuk mencari solusi terbaik bagi kalian, sudah berapa lama kalian bersama ?” Tanya Togari-sensei.


“Aduuuuuh....aku harus jawab apa....” Pikir Jiro.


“Sejak masuk ke kelas 2 sensei...” Jawab Nana lantang.


“Loh....loh....dasar kontet dodol kenapa jawab seperti itu....” Balas Jiro dalam hatinya sambil melirik kepada Nana.


“Hmm...begitu ya, kalau kalian menikah saja bagaimana ? kemarin sih aku sempat singgung masalah ini kepada letnan Hana, ku rasa dia ok ok saja, tapi aku akan minta penegasan dari dia, kalian kan sudah berumur 16 tahun, peraturan di negara kita kan 16 tahun sudah boleh menikah, bagaimana menurut kalian ?” Tanya Togari.


“Um....kami berencana menikah setelah lulus sma sensei, ketika umur kita berdua sudah 18 tahun.” Jawab Nana yang langsung menoleh kepada Jiro dengan wajah pucat.


“Waduh kenapa nengok kesini...tanggung jawab dong....” Pikir Jiro yang melihat Nana menoleh padanya.


“Tenang saja, sekarang atau nanti kan sama saja, apalagi kalian sudah tinggal berdua, aku rasa tidak akan ada masalah, aku akan tulis surat ke kepala sekolah untuk minta dispensasi untuk kalian, aku juga akan bicara kepada wali mu Satou-kun, letnan Hana dan kita akan kabari kalian ya...maaf, ini satu satunya jalan untuk membungkam perhimpunan orang tua murid dan menyelamatkan reputasi sekolah kita....kalian boleh keluar nanti aku kabari kelanjutan nya, kalau lancar, liburan musim panas ini kalian menikah saja.”


“Buseeeet ngomong apa sih si botak ini...” Pikir Jiro dan Nana yang mulai berkeringat deras.


“Ba..baik sensei, kita permisi dulu sensei...” Ujar Jiro.


Jiro langsung menari tangan Nana keluar dari ruang staff, Togari yang melihat keduanya keluar dari ruangan langsung tersenyum dan menggelengkan kepala,


“Hahaha masa muda....masih untung mereka jujur....” Gumam nya dalam hati.


Sementara di luar ruang staff, Jiro dan Nana sudah kembali ke wujud mereka semula dan melepaskan gelang nya. Keduanya menjadi bingung, sebab mereka tahu persis kalau Masato dan Harumi tidak pacaran, mereka berduaan karena kegiatan superhero mereka.


“Gimana nih Jiro ?” Tanya Nana.


“Haaaaah....urusannya jadi panjang, kalau mereka di paksa menikah gimana coba, lagian kamu kenapa bilang segala sih kalau mereka pacaran...” Jawab Jiro.


“Lagian si botak bawa bawa dua anak bermasalah segala....aku kan jadi kesal...” Balas Nana.


“Dasar sumbu pendek, makanya di pikir dulu baru bicara...sekarang urusannya jadi panjang, bawa bawa sepupunya Satou-san lagi...kacau...” Balas Jiro.


“Lah kamu sendiri cuma diam saja keringetan...jawab kek, kasih kode kek...payah...kelihatan banget ketakutan...padahal tadi bangga punya reputasi buruk.” Balas Nana.


“Bukan takut, tapi aku panik kalau sampai salah jawab. Ya sudah lah, kita ke rumah mereka saja, minta maaf dan jelaskan semuanya.” Balas Jiro.

__ADS_1


“Uh....ya sudah, toh semua gara gara kita juga....ayo, jalan sekarang sebelum aku berubah pikiran...” Balas Nana.


Keduanya langsung berlari keluar dari gedung sekolah dan berjalan menuju ke apartemen Masato.


__ADS_2