
" Dasar tidak tahu diri" ujar seorang pria gendut seraya melemparkan sebuah telur mentah pada pemuda manis yang hanya terdiam menerima perlakukan dari 5 orang siswa dihadapannya ini, apa yang bisa ia lakukan ? Tidak ada, dia akan selalu berada di pihak yang salah dan ditindas.
" Wei Wuxian..kau dengar dengan baik...apa kau pikir karena kau disukai banyak laki-laki di sekolah ini bukan berarti kau bisa mendapatkan semuanya..dasar jalang" ujarnya lagi sebelum kembali melempari pemuda manis bernama Wei Wuxian itu dengan telur sebelum berakhir dengan guyuran air kotor.
" Terimakasih kakak semua, setidaknya kalian .memberikan aku bahan untuk makan siang nanti, sepertinya telur gulung sangat enak untuk makan siang." ujar Wuxian tersenyum lebar memandang 5 orang laki-laki yang semakin geram akibat ulahnya
" apa kakak sekalian mau mencobanya.. kita bisa berbagi bahan masakan lain kan ?.. Aaaa.. atau lain kali kalian bisa memberiku jus atau susu coklat lagi seperti sebelumnya, setidaknya itu bisa langsung ku makan. Bukan bahan mentah yang harus diolah seperti ini" ujar Wuxian semakin tersenyum lebar melihat bagaimana merahnya wajah pria gendut yang tidak lain adalah sepupunya itu. selama ini mereka tinggal satu atap.
" Wei Wuxian.. awas saja kau, akan ku beri pelajaran kau nanti " ujarnya lagi mencengkram kerah kemeja sekolah Wuxian yang sudah penh dengan telur dan tepung.
Wuxian menghela napas panjang ketika ke lima orang itu pergi meninggalkannya di belakang gedung sekolah, sungguh hal yang benar-benar menyebalkan bila ia harus menghadapi kebengisan sepupunya Mo Ziyuan. Ingin rasanya Wuxian menjual sepupunya itu ke penjual babi.
" Wei Wuxian " ujar seseorang yang membuat Wuxian menatap pemuda yang tidak lain adalah sahabat baiknya
" Jiang Cheng.. kenapa kau masih diluar bukannya seharusnya semua orang sudah ada dikelas sekarang"
" Aku tidak melihatmu ada di kelas jadi aku mencarimu kemana-mana .. apa yang terjadi ?" ujar Jiang Cheng penuh Khawatir melihat bagaimana keadaan sahabatnya saat ini yang penuh dengan tepung dan bau amis dari telur busuk.
" bukan apa-apa kau tidak usah memikirkannya"
" T-tapi"
"Sudah kau kembali saja ke kelas.. bilang aku sedang sakit "Ujar Wuxian sebelum melangkah pergi meninggalkan bangunan sekolah. Wuxian hanya bisa terdiam mengikuti langkah kakinya yang entah membawanya kemana, orang-orang menatapnya penuh heran bahkan berpisik tidak jelas dibelakangnya, rumah demi rumah ia lewati hingga ia hanya melihat hamparan hutan dengan jalan setapak yang begitu sepi, ia kemudian berbelok memasuki hutan pinus yang sudah tidak asing baginya. Tak lama kemudian Wuxian menghela napas panjang menatap hamparan danau yang begitu jernih, tanpa pikir panjang ia langsung melompat membuat air danau yang tenang bergelombang.
"Apakah ini tidak akan pernah berakhir" ujar Wuxian pelan sebelum kembali menyelam ke dalam air danau. Setelah merasa puas membersihkan dirinya Wuxian melangkah menuju pinggiran danau menyandarkan tubuhnya dibatang sebuah pohon magnolia yang menjadi tempat favritnya untuk tidur, namun untuk pertama kalinya ia tidak bisa memejamkan matanya hari ini, rasa dingin dari air danau yang masih melekat di pakaiannya yang basah kuyup membat ia tidak merasa mengantuk justru membuat perutnya berbunyi keras meminta diisi.
"Ah.. Sial aku lapar" ujarnya gusar sambil mengelus perutnya yang terasa perih, jika diingat lagi terakhir ia makan adalah kemarin siang, ia tidak makan malam dan sarapan tadi pagi.
Akhirnya ia hanya mampu menghela napas pasrah memejamkan matanya untuk menenangkan diri, namun ia sama sekali tidak bisa tidur ia malas merasakan dingin yang semakin menusuk kulitnya.
" Tuan Muda Wei" ujar seseorang yang membuat Wuxian terjingit kaget
" Paman" ujar Wuxian ketika melihat sosok pria paruh baya yang tengah menggendong kayu bakar dipunggung nya.
" Apa yang Anda lakukan disini tuan muda ?" Ujar pria itu seraya mendekati Wuxian
" Tidak ada.. aku hanya menghabiskan waktu ku disini.. apakah Paman mencari kayu bakar ?.. ini pertama kalinya aku melihat Paman masuk kehutan ini"
" Iya ..karena kayu bakar di rumahku sudah hampir habis akhirnya aku memutuskan untuk meminta izin ke Nyonya Mo untuk mengambil kayu bakar di hutan ini" Wuxian hanya bergumam 'Oh' mendengar jawaban dari pria yang dulunya merupakan pekerja kebun dirumah nya.
__ADS_1
" Tuan muda kenapa anda tidak sekolah ?. Pakaian Anda basah semua, Anda bisa sakit tuan muda "
" Tidak apa paman aku sedang malas kesekolah"
" Kalau begitu setidaknya pulanglah Tuan Muda.. ganti pakaian anda"
" Tidak paman, tidak apa-apa.. aku akan pulang nanti " ujar Wuxian tersenyum lembut namun Paman itu hanya terdiam sebelum menaruh kayu bakarnya dan mengambil sesuatu dari tas yang ia bawa.
" Tuan Muda ini ...aku membawa ini .. apa tuan muda masih ingat ini ?" Ujarnya menunjukkan sebuah kotak yang berisi bekal dengan berbagai lauk yang terlihat begitu menggiurkan Wuxian langsung meneguk ludahnya paksa ia tahu ini masakan dari istri Paman ini yang dulu pernah ia makan dan ia tahu betul bagaimana rasa masakan yang mengingatkan ia kepada mendiang ibunya dulu.
" Ayo makanlah Tuan Muda .. tidak paman aku sudah makan " ujar Wuxian yang membuat Paman itu memandangnya curiga
" Anda jangan berbohong begitu Tuan Muda, ayo duduk.. makan lah"
Wuxian hanya bisa menurut duduk dan menerima kotak makan siang dari Paman tersebut. Dengan ragu suap demi suap nasi dan lauk itu masuk ke tenggorokan nya yang sudah kering mengisi perutnya yang sudah kosong. Tanpa bisa ia sadari kotak makan siang itu telah kosong
" Maaf Paman aku menghabiskan makan siang paman"
" Tidak apa Tuan Muda justru saya merasa senang Anda menyukainya" ujarnya ternyum lembut pada Wuxian.
" Terima kasih Paman " ujar Wuxian sebelum mengembalikan kotak makan siang itu.
Paman tidak usah khawatir aku baik-baik saja.. paman lanjutkan saja pekerjaan paman Ujar Wuxian tersenyum, akhirnya paman itupun pergi meninggalkan Wuxian sendiri. Wuxian hanya bisa mengehla napas kasar bahkan pria itu lebih sayang pada dirinya dari pada sosok seorang wanita kejam yang ia sebut bibi. Selama ini ia tidak pernah bisa melakukan apa-apa untuk melawan wanita itu walaubagaimanapun jika ia melawan maka bibinya akan mengusirnya dari rumah yang merupakan peninggalan satu-satunya dari ayah dan ibunya. Jika dilihat darimanapun bibinya itulah yang menumpang dirumahnya tapi malah bibinya yang menjadi penguasa dirumahnya sungguh ironis hidup ini baginya. Setelah ia kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan sekarang ia harus hidup dibawah penindasan bibi dan sepupunya.
"Ayah Ibu.. apa kalian hidup dengan bahagia disana ? "Gumam Wuxian menatap kearah matahari yang mulai meninggi, air matanya jatuh begitu saja ketika mengingat kedua orang tuanya yang sudah lama pergi meninggalkan ia sebatangkara, hingga ia harus hidup seperti pebantu dalam rumahnya sendiri. Wuxian segera menghapus airmatanya sebelum bersenandung pelan, berusaha mengusir rasa sedih dan sakit hati yang ia rasakan.
Waktu berjalan dengan begitu cepat hari sudah beranjak semakin siang, bahkan pakaian Wuxian yang awalnya basah kuyup sudah mulai mengering, setidaknya ia sudah tidak merasakan dingin yang menusuk dikulitnya. Akhirnya ia bersandar dibatang pohon magnolia dan mulai memejamkan matanya, menikmati sejuknya udara yang menerpa wajahnya dengan berlahan suara napasnya mulai semakin tenang dan teratur menandakan bahwa ia sudah terbuai dalam mimpi.
Langit diatas sana mulai dihiasi oleh awan yang semakin padat, bahkan cahaya matahari mulai bersembunyi dibalik tebalnya awan, sati persatu air jatuh membasahi rumput dan tanah membuat udara menjadi penuh dengan bau rumput basah. Wuxian membuka matanya ketika merasakan wajahnya disntuh oleh dnginnya air Hujan sungguh konyol pakaiannya akan basah lagi sekarang, walaupun hujan sudah begitu deras, Wuxian masih duduk dengan nyaman dibatang pohon magnolia ini. Akhirnya ia berdiri dan melangkah pergi meninggalkan tepian danau, kembali kejalan setapak yang akan membawanya ke tempat yang ia sebut rumah.
Setelah mengikuti jalan setapak yang dikellingi oleh hutan ini sebuah bangunan megah mulau terlihat gerbang kayu yang begtu besar dibalik gerbang sebuah rumah Oriental China yang begitu mengah berdiri kokoh. Tanah seluas 2 Ha ini merupakan milik keluarganya, ayahnya adalah seorang pengusaha yang cukup sukses naun saat ini perusahaan itu dikelola oleh pamannya, Wuxian sendiri tidak bisa mengatakan apapun tapi setidaknya pamanya itu masih peduli dan memberikan kasih sayang padanya tidak seperti wanita yang saat ini tengah berdiri didepan pintu rumah berkacak pinggang dengan wajah menyeramkannya.
"Dasar anak biang Onar ! "Ujar Nyonya Mo yang sudah mendelik marah menarik tangan Wuxian paksa.
"Wei Ying.. kau punya banyak pekerjaan dirimah ini, kenapa kau pulang terlambat apa kau kelayapan ?"
"Aku bukan Ziyuan yang akan kelayapan berpoya-poya bersama teman-temannya bi.. aku tidak pernah kelayapan" Ujar Wuxian yang membuat Nyonya Mo mendelik marah, hingga sebuah tamparan keras mendarat dipipinya, Wuxian hanya bisa terdiam menahan rasa perih di pipinya.
"Apa bibi tidak lapar, aku sudah sangat kelaparan bisakah aku makan sekarang ?" Ujar Wuxian tersenyum meledek pada bibinya itu.
__ADS_1
"Dasar kau ini.. cepat ikut aku !" Ujar Nyonya Mo yang menyeret Wuxian menuju salah satu kamar mandi, setelah disana bibinya ini langsung memanggil seorang pelayan meminta dibawakan air Es.
"Bibi apa kau sudah gila, aku tidak kepanasan untuk apa kau meminta pelayan membawakan es ?"
"Diam saja kau dasar anak pembuat onar"
"Maaf nyonya hanya ini es yang ada dirumah ini" ujar pelayan wanita yang baru saja datang membawakan 2 balok es untuk Nyonya Mo
"Jangan membodohiku !" bentaknya yang membuat pelayan itu gemetar ia langsung melirik Wuxian yang hanya tersenyum padanya sebelum mengangguk pelan. Dengan berat hati pelayan itu pergi mengikuti permintaan sang nyonya mengambil semua es yang ada dirumah ini, melihat jumblahnya saja sudah cukup membuat pelayan itu bergidik ngeri.
Nyonya Mo langsung mengambil satu-satu persatu balok es ke dalam bak mandi, setelah merasa puas dengan 10 balok es yang mebuat air di bak mandi dingin luar biasa. Dengan sebuah gayung Nyonya Mo mengguyur tubuh Wuxian dengan air tersebut.
"Apa kau menikmatinya Wuxian ?" Ujar Nyonya Mo dengan wajah penuh seringaian.
“ Sangat sejuk Bi" Ujar Wuxian bergetar, wajah bibinya itu langsung semakin masam dan menyiram makin banyak air es pada Wuxian.
"Keluar !" ujar Nyonya Mo lagi menyeret Wuxian yang sudah gemetar kedinginan menuju pintu belakang rumah. Malam ini kau tidur diluar ! Ujar Nyonya Mo sebelum menutup pintu dengan kasar
"Bi .. Bibi .. apa kau yakin .. tidak bisakah aku tidur digudang saja hari ini ? "Ujar Wuxian menggedor pintu namun ia tidak mendapat jawaban ari dalam sana
"Sial !!! "Geram Wuxian menendang pintu dengan keras. Tubuhnya terasa kaku akibat kedinginan, bibinya sudah membiru dengan wajah pucat dan tubuhnya yang terasa lemas membuat ia semakin meruntuk dalam hati Nenek sihir yang ada didalam rumah ini benar-benar ingin membunuhnya secara berlaha-lahan.
Wuxian menerubos hujan yang deras ini melangkah mnuju sebuah rumah panggung yang cukup besar di tengah taman Lotus dibelakang rumahnya, hanya disini tempat ia bisa tidur tanpa kehujunan. Ia hanya terdiam menatap langit yang semakin menggelap, sekuat apapun ia berusaha mendekap tubuhnya agar lebih hangat tidak membuahkan hasil sama sekali. Tubuh kurusnya semakin gemetar kedingin, sudah cukup seharian ia memakai pakaian basah ditambah dengan disiram dengan air es kemudian sekarang ia harus tidur diluar saat hujan deras dan pakaian basah kuyup akibat air es, sungguh sempurna penderitaannya hari ini.
"Tuan Muda " ujar seseorang yang membuat Wuxian menatap pelayan yang tadi mengambilkan air es untuk sang nyonya. " Tuan Muda anda baik-baik saja kan ? " ujarnya khawatir ketika melihat wajah pucat Wuxian.
" Tuan Muda mohon maafkan saya, saya tidak bisa melakukan apa-apa ujarnya menunuduk sedih Wuxian hanya tersenyum simpul pada pelayan ini
"Tidak Bi .. ini bukan salah mu .. nenek sihir itu memang terlalu kejam " ujar Wuxian tertawa yang membuat pelayan ini hanya bisa gakum pada tuan muanya yang selalu ceria dan kuat menghadapi penyiksaan dari sang nyonya yang bahkan tidak berhak bersikap seperti itu pada tuan rumah ini. Sungguh ironis orang yang menjadi pemilik dari rumah ini justru dijadikan babu oleh orang yang menumpang untuk bernaung.
" Tuan Muda ini saya bawakan anda makan malam serta pakaian ganti dan selimut tebal.. segeralah ganti pakaian anda saya harus segera pergi sebelum nyonya Mo melihat" ujar Pelayan itu membungkuk hormat pada Wuxian sebelum ia pergi. Dengan segera Wuxian mengganti seragam sekolah yang sudah ia pakai sejak pagi dengan keadaan basah kuyup itu dengan baju yang lebih hangat, ia hanya bisa menghela napas lega setidaknya ia tidak akan mati kedinginan sekarang. Hari yang benar-benar melelahkan bagi Wuxian tanpa berniat menyentuh makanan yang ada disebelahnya ia menutup matanya dan terlelap dalam tidur.
Malam semakin larut ketika hujan mulai reda dan bulan diatas sana menunjukkan sinar cerah yang menyejukkan setiap mata yang memandangnya. Ditengah hutan yang tengah begitu sunyi sosok seorang pemuda dengan paras begitu menawan wajahnya begitu bersih bagai giok tanpa cacat sedikutpun tengah menyusuri hutan dengan langkah gontai. Tangan sejak tadi menekan luka yang ada ditubuhnya darah terus menetes dari lukanya membuat kemeja putih yang ia kenakan berubah menjadi merah. Matanya menyipit ketika melihat cahaya didepan sana, membuat ia bisa melihat sebuah bangunana Oriental yang begitu besar dan kolam lotus yang luas.
Matanya berkilat ketika melihat sosok seorang pemuda yang tengah tertidur di sebuah rumah panggung ditengah taman lotus. Dengan berlahan ia mendekati rumah panggung itu, matanya keemasannya mulai berkilat merah ketika ia semakin mendekati sosok pemuda itu.
' Wei Ying '
...OoO...
__ADS_1