
Wangji menatap setiap tempat yang ia lewati, ia merasa begitu bosan perjalanan dari Gusu hingga Yilling membutuhkan Waktu yang panjang ia harus bersabar selama 4 jam didalam mobil. Ia berusha untuk tenang dan menikmati perjalanan menuju Yilling yang bisa ia capai hanya dengan waktu 30 menit bila ia menggunakan kemampuan yang ia miliki.
" Tuan Muda.. apakah ada yang mengganggu pikiran anda ?" Ujar sang sopir yang sejak tadi heran melihat sang tuan yang hanya melamun dengan wajah masam.
" Tidak" ujar Wangji singkat.
Saat masuk ke perbatasan Yunmeng Wangji merasa perasaan yang aneh, entah kenapa ia merasa ada yang tidak beres.
" Paman tolong percepat jalannya ya !" ujar Wangji yang langsung dituruti oleh sang supir.
Sementara itu Wuxian sudah tidak bisa melakukan apa-apa tubuhnya tidak merespon seperti yang ia inginkan, bahkan ingin rasanya Wuxian mengubur dirinya hidup-hidup saat ini juga.
" Jangan... aku mohon jangan sentuh aku" ujar Wuxian memohon pada 2 orang pria yang saat ini tengah melepaskan satu-persatu kain yang melekat ditubuhnya. Ia ingin meronta menendang atau apaun yang bisa membuat ia lepas dari kedua pria ini namun tubuhnya tidak merespon seperti yang ia inginkan, justru sekujur tubuhnya meremang ketika disentuh oleh tangan kedua pria ini, seolah ingin disentuh lagi dan lagi.
" Kalian berdua bisa bersenang-senang dengan bocah ini, setelah itu terserah kalian mau melakukan apa" Ujar Nyonya Mo yang membuat Wuxian menatap sang bibi tidak percaya.
" Bi .. Bibi aku mohon jangan lakukan ini padaku, aku mohon pada mu" Ujar Wuxian memelas namun Nyonya Mo hanya tertawa senang.
" Teruslah memohon seperti itu, maka aku akan memaafkan mu" Ujar Nyonya Mo yang membuat Wuxian mulai merangkak mendekati bibinya itu, senyuman angkuh langsung terukir diwajah Nyonya Mo perasana puas tengah memenuhi hatinya ketika melihat tubuh setengah telanjang Wuxian yang diseret di atas tanah.
" A-Aku mohon Bi"
" Baiklah.. Aku akan memaafkanmu" Ujar Nyonya Mo mencengkram rambut Wuxian keras hingga Wuxian mendongkak menatap bibinya itu " Tapi setelah kau menjadi pemuas birahi para pria ini" Ujar Nyonya Mo yang langsung membuat Wuxian terbelalak kaget.
" Tidak.. aku tidak mau..Lepaskan" Ujar Wuxian berusaha meronta namun ia sudah tidak mampu melakukan apapun.
" Selamat bersenang-senang.. Wei Wuxian" Ujar Mo Ziyuan yang pergi mengikuti ibunya sambil tertawa puas. Wuxian hanya bisa menolak dengan kata-kata atas apa yang tengah dilakukan oleh kedua pria dihadapannya ini.
" Lan Zhan.. Lan Zhan .. Tolong aku" Gumam Wuxian dengan air mata yang sudah berlinang deras, ia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, Lan Wangji adalah satu-satunya orang yang terpikirkan olehnya
" H-Hentikan ... J-Jangan sentuh aku" Ujar Wuxian ketika kedua pria ini mulai menggerayangi tubuhnya yang sudah setengah telanjang, ia sudah tidak tahu harus melakukan apa untuk melawan kedua pria dengan tenaga luar biasa kuat ini, terlebih saat ini tubuhnya sedang tidak seperti biasanya.
" Ahh.. J-Jangan" ujar Wuxian ditengah desahan yang berusaha ia tahan namun apa daya tubuhnya seolah menolak untuk melawan sentuhan kedua orang ini. Ia hanya bisa menangis dan terus meratap memohon agar kedua pria ini tidak menyetubuhinya. Desahan demi desahan lolos dari bibir mungil Wuxian ketika kedua tonjolan di dadanya mulai dilumat oleh bibir kedua pria ini, tangannya sudah tidak bisa digunakan akibat telah diikat oleh mereka.
" Aku ..Moho- Ahhh..J-Jangan .. Jangan"
" Diamlah manis aku tidak akan menyakiti mu, kau hanya perlu melayani kami"
Seluruh tubuh Wuxian bergetar hebat ia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Lebih baik jika dirinya dibunuh dari pada harus disentuh oleh mereka, tidak Wuxian tidak mau begini.
' Ayah.. Ibu .. tolong aku.. aku mohon jangan biarkan anak kalian ini menderita lebih dalam lagi, aku sudah lelah, lebih baik aku ikut dengan kalian.. aku tidak mau hidup seperti ini'
Air mata sudah membasahi wajah manis Wuxian yang merah padam, hatinya menjerit ketika mengingat kenangan manis ketika kedua orang tuanya masih hidup. Siapa yang akan menyangka jika kehidupannya yang tenang, nyaman, penuh kasih sayang dan berkecukupan akan berakhir sebagai babu di rumahnya sendiri, apakah ia juga akan menjadi pemuas birahi para pria bejat ini.
" A-Aku mohon jangan sentuh aku" ujar Wuxian meringsut menjauh dari mereka, namun apa daya setiap tindakan yang ia lakukan tidak berarti sama sekali
" Kau tidak perlu takut manis"
Pria yang ada dihadapan Wuxian mendekat dan menarik Wuxian kuat hingga Wuxian mendongkak menatap pria ini, ia hanya bisa menutup matanya rapat-rapat menjauhkan wajahnya dari sosok pria ini, berusaha menghindar dari ******* sosok ini.
" S-Siapa kau ?"
Wuxian terdiam tanpa membuka mata ketika mendengar ucapan salah satu pria yang mengekangnya ini, tak lama kemudian tubuh Wuxian dilepaskan begitu saja yang membuat Wuxian heran.
" Berani sekali kalian" Ujar seseorang yang membuat tubuh Wuxian menegang, ia tahu pemilik suara itu, dengan berlahan Wuxian membuka matanya dan ia hanya bisa terbelalak tidak percaya ketika melihat sosok tegap berwajah tampan yang sudah berdiri dihadapannya, bahkan kedua pria bertubuh kekar itu sudah tidak berdaya dibelakang sana.
__ADS_1
" Lan Zhan"
" Kau tidak apa-apa kan" Ujar Wangji membuka Jas yang ia kenakan dan menutupi tubuh Wuxian dengan jas tersebut, tangis Wuxian langsung pecah dalam dekapan hangat Wangji
" Terima kasih .. Terima Kasih.. Lan Zhan" Ujar Wuxian sebelum semua pandangannya gelap
" Tidurlah" Ujar Wangji lembut mengecup kening Wuxian hangat sebelum pemuda manisnya ini terlelap.
Wangji hanya bisa menghela napas kasar, ia sungguh tidak habis pikir wanita mengerikan itu sampai melakukan hal ini pada Wei Ying nya. Wangji langsung membawa Wuxian keluar dari hutan hingga ia melihat rumah oriental yang sangat ia kenal.
" Ya Tuhan Tuan Muda Wei" ujar salah satu pelayan yang kebetulan melihat Wangji memasuki halaman rumah
" Apa yang terjadi Tuan ?" Ujarnya begitu khawatir
" Antar aku ke kamar Wei Ying"
Sang pelayan langsung menurut mengantar tamu yang entah siapa membawa tuan Muda nya dalam keadaan yang janggal.
" I-Ini kamar Tuan Muda Wei . Tuan" ujar sang pelayan yang baru saja mencapai kamar Wuxian ia sengaja membawa Wangji masuk dari pintu belakang karena ia merasa takut jika seandainya ia ketahuan oleh sang Nyonya.
" Tuan terima kasih anda membawa kembali Tuan Muda Wei.. sebenarnya apa yang terjadi padanya Tuan ?"
" Panggil nyonya mu.. Bilang saja Lan Wangji sudah datang dan ingin bertemu dengannya" ujar Wangji dingin yang membuat pelayan itu semakin bingung, " aku tunggu dikamar ini" Ujar Wangji tanpa melepas pandangannya dari Wajah Wuxian yang nampak begitu lelap dalam tidurnya.
" B-Baik Tuan" Ujar sang pelayan sebelum pergi meninggalkan Wangji yang masih setia menatap Wajah Wuxian. Wangji merasa miris mengapa nasib Wuxian begitu menyedihkan dikehidupan ini.
Tak lama kemudian pintu kamar Wuxian dibuka dengan kasar oleh seseorang namun sosok tersebut langsung terkejut ketika melihat Wangji tengah duduk dengan tenang disamping pemuda manis yang tengah tertidur pulas ini.
" T-Tuan Muda Lan" Ujar Nyonya Mo sebelum ia tersenyum ramah " Apa yang terjadi.. bagaimana anda bisa bertemu dengan anak gila ini, maaf tuan muda anda tidak seharusnya berada disini, mari ikut dengan saya ke ruang utama" ujar nyonya Mo tersenyum manis pada Wangji yang hanya menatapnya datar.
" T-Tapi ..
" Tidak perlu" Ujar Wangji tegas " Nyonya apa kau tahu apa yang terjadi pada Wei Ying ?" Ujar Wangji yang langsung membuat Nyonya Mo terkejut bagaimana bisa Tuan Muda kedua Lan mengenal anak sialan yang selalu ia jadikan mainan itu.
" Maaf Tuan Muda bagaimana anda mengenal Anak ini ?.. Dia hanya nak gila yang –
" Jangan menyebutnya Gila.. " Ujar Wangji geram yang langsung mebuat Nyonya Mo bungkam
" Seluruh saham perusahaan keluarga Wei sudah menjadi milik saya penuhnya" ujar Wangji yang membuat Nyonya Mo terbelalak tidak percaya.
" Maaf Tuan Muda.. bukankah seharunya anda hanya memiliki 50 % saja .. bagaimana bisa sekarang
" Kau bisa menanyakannya langsung pada suami anda nyonya" Ujar Wangji yang membuat Nyonya Mo langsung menghambur keluar dengan perasaan kesal.
" T-Tuan jadi ..anda Tuan Muda dari GusuLan ?" Ujar pelayan yang sejak tadi menguping bembicaraan mereka
" Hm .. mulai sekarang aku akan tinggal ditempat ini" ujar Wangji para pelayan langsung membungkuk hormat pada Wangji.
.....
Dengan perlahan Wuxian membuka matanya, ia langsung heran ketika melihat ini bukanlah kamar tidurnya yang sempit dan kecil, ia tahu betul ini adalah kamar utama yang megah dan luas, kamar yang dulunya merupakan kamarnya sebelum ia ditindas oleh bibi nya yang kejam itu.
" Apa yang terjadi ?" Gumam Wuxian bingung ketika kepalanya berdenyut sakit. Tak lama kemudian seseorang masuk ke kamarnya ini yang membuat Wuxian langsung terkejut.
" Kau Sudah bangun" ujarnya tersenyum pada Wuxian.
__ADS_1
" L-Lan Zhan apa yang kau lakukan ditempat ini ?.. bagaimana kalau ada orang yang tahu ?"
" Tidak apa"
" Tidak apa ?.. apanya yang tidak apa .. ayo cepat kita pergi dari sini" ujar Wuxian menarik Wangji keluar
" Wei Ying jangan memaksakan dirimu seperti ini, kau tidak usah khawatir tentang keluarga mu yang kejam itu" Ujar Wangji yang membuat Wuxian menatap Wangji curiga.
"Kau tidak membunuh mereka bukan ?"
" tentu saja tidak.. aku sudah bilang aku tidak seperti para Vampir diluar sana" Ujar Wangji sebelum memeluk Wuxian dari belakang
" A-Apa yang kau lakukan Lan Zhan !" Ujar Wuxian yang langsung mendorong Wangji menjauh, tubuh Wuxian langsung bergetar hebat yang membuat Wangji terdiam.
" M-Maaf hanya saja.. A-Aku.. Aku"
" Ada apa Wei Ying.. apa kau takut pada ku"
" Tidak ..B-Bukan begitu" Ujar Wuxian bingung " Aku harus pergi"
Wangji hanya bisa termangu menatap Wuxian yang sudah melangkah pergi, ia yakin ini pasti akan berpengaruh terhadap keadaan psikis pemuda manis itu, hanya saja Wangji tidak menyangka bahkan ia yang sudah sering melakukan tindakan seperti itu dihadapan Wuxian sekalipun dapat menyebabakan Wuxian bersikap seperti ini.
" Wei Wuxian !" Ujar seseorang yang membuat Wuxian menatap ke arah suara
" Ziyuan.. Apa Yang kau-
" Ingat saja .. aku tidak akan melepaskanmu disekolah, jadi bersiap-siaplah kau" ujar Mo Ziyuan mencengkram kerah kemeja Wuxian erat, Wuxian semakin heran melihat koper yang tengah dibawa oleh Mo Ziyuan, Ia langsung mendorong Wuxian sebelum ia melangkah pergi meninggalkan Wuxian yang termangu, ia terdiam melihat Nyonya Mo dan pamannya tengah berdiri di ruang utama menunggu Mo Ziyuan. Wuxian semakin heran karena mereka semua juga membawa puluhan koper, Wuxian langsung turun ke lantai satu mendekati mereka yang sudah mengangkat kover mereka masing-masing.
" Paman apa yang terjadi ?"
" Tidak ada A-Xian kami hanya-
" Sudah ini semua karena salah mu.. dasar suami tidak berguna" Ujar Nyonya Mo sebelum ia mendelik pada Wuxian dan pergi begitu saja.
" Semoga kau bisa hidup dengan tenang setelah kami pergi A-Xian" ujar sang paman mengelus kepala Wuxian pelan. Wuxian hanya bisa terdiam menatap kepergian mereka, pamannya bukanlah orang jahat namun ia terlalu takut menentang keinginan sang istri sehingga ia hanya bisa diam melihat keponakannya disiksa.
" Paman" gumam Wuxian pelan pria paruh baya itu hanya tersenyum pada Wuxian sebelum ia pergi menjauh dari rumah oriental megah berlantai 2 itu.
" Mereka sudah pergi ?" Ujar Wangji medekati Wuxian yang hanya terdiam
" Apa yang kau lakukan Lan Zhan bagaimana bisa mereka pergi begitu saja ?"
" Apa kau tahu pemilik dari 50 % saham diperusahaan ayahmu ?"
Gelengan pelan dari Wuxian membuat Wangji menghela napas, mungkin selama ini pemuda manisnya ini terlalu dikekang oleh wanita kejam itu bahkan ia sampai tidak tahu perusahaan terkenal Lan Group.
" Pantas saja kau tidak menyadarinya ketika aku menyebut nama ku Lan Wangji" Ujar Wangji sebelun ia mendekati Wuxian dan mengelus kepalanya pelan.
" Wei Ying mulai sekarang aku akan tinggal disini bersama mu, Kau tidak perlu khawatir tentang perusahaan ayahmu, perusahaan itu akan aman ditanganku" Ujar Wangji tersenyum lembut. Wuxian hanya bisa terpaku ia benar-benar bingung harus mengatakan apa, mengapa pria ini begitu perhatian dan baik padanya, apakah mereka pernah bertemu sebelumnya hingga Wuxian merasa benar-benar tidak asing pada sosok dihadapannya saat ini.
" Terima Kasih" Ujar Wuxian dengan air mata berlinang
" Sudah jangan menangis lagi" Ujar Wangji mendekap Wuxian lembut, Wangji mengeratkan pelukannya ketika Wuxian dengan berlahan membalas dekapan hangat Wangji.
' Wei Ying aku mencitaimu' gumam Wangji dalam hati entah sudah berapa banyak ia menyebut itu sejak ribuan tahun yang lalu.
__ADS_1
...OoOoO...