
Wuxian membuka matanya ketika merasakan ada sesuatu yang menindih tubuhnya hingga ia sulit untuk bernapas. Ia terpaku ketika melihat seorang pemuda dengan wajah begitu menawan yang tengah menatapnya datar.
" S-Siapa kau ? "Ujar Wuxian Was-was namun pemuda itu tidak menanggapi ucapan Wuxian justru hanya diam menatap manik kelabu Wuxian semakin dalam " A-Apa yang kau lakukan ? " Ujar Wuxian ketika pemuda itu malah mendekat dan semakin mendekati wajah Wuxian
" Hei Apa yang kau lakukan ?" Protes Wuxian untuk kesekian kalinya, ketika pemuda itu membenamkan wajahnya diperpotongan leher jenjang Wuxian, Wuxian terbelalak ketika merasakan sesuatu menamcab dilehernya.
Mata Wuxian terbuka lebar ketika seember air menyiram sekujur tubuhnya.
" Dasar Pemalas.. cepat bangun dan lakukan tugasmu ! " Ujar Nyonya Mo yang melempar emper bekas air yang ia gunakan untuk menyiram Wuxian.
" Tidak bisakah kau membiarkan aku tidur lebih lama ? "
" Cepat bangun anak sialan ! " ujar Nyonya Mo melangkah meninggalkan Wuxian yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya
" Apa itu hanya mimpi ? " Gumam Wuxian, ia yakin kejadian itu begitu nyata, tidak ingin kembali mejadi bulan-bulan sang bibi mau tidak Wuxian menuruti permintaan bibinya itu. Ini hal yang akan ia lakukan setipa pagi memasak bersama para pelayan dirumah ini menyiapkan sarapan untuk bibi dan sepupu buntalnya Mo Ziyuan yang begitu menyebalkan untuk Wuxian. Tidak jarang jika ibu dan anak itu akan menjadikan Wuxian sebagai bahan mainan mereka.
" Wei Wuxian ayo cepat apa saja yang kau kerjakan didalam sana kenapa lama sekali ! " Ujar Nyonya Mo dari ruang makan meminta Wuxian membawakan mereka sarapan. Setelah semua hidangan disiapkan dihadapan Nyonya Mo dan Mo Ziyuan, Wuxian menarik sebuah kursi sebagai tempat duduknya.
" EHHH ! apa yang kau lakukan kenapa kau duduk disana ?"
" Eh , apa kau tidak lihat tentu saja aku akan makan apa lagi ?"
" Apa !!?.. kau itu tidak boleh makan disini pergi kebelakang makan bersama teman-teman pelayanmu " Ujar Mo Ziyuan yang membuat Wuxian mendecih kesal, sungguh apa mereka tidak sadar tempat atau apa, tapi lagi-lagi Wuxian tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan dua orang ini saat ia melirik pamannya yang hanya menunduk ia langsung pergi, ia tahu pria itu juga tidak mampu melawan keinginan anak dan istrinya, sunggu wanita yang mengerikan tidak salah Wuxian menyebutnya Nenek Sihir.
Sarapan dengan para pelayan jauh lebih menyenangkan dari pada dia harus tetap makan diatas meja makan bersama dengan 2 orang yang paling ia benci ini, mungkin kata benci tidak tepat untuk menggambarkan kedua orang ini entah apa yang harus ia katakan untuk menggambarkan mereka . Selama ini Wuxian hanya bisa menuruti semua perkataan mereka tanpa bisa melakukan hal yang berarti, hal ini bukan karena Wuxian kalah beragumen tapi kalah karena ancaman yang dilontarkan oleh nenek sihir yang cukup untuk memukul Wuxian mundur.
Setelah menyelesaikan sarapan dengan para pelayan Wuxian mulai siap-siap untuk berangkat ke sekolahnya, walaubagaimana pun keadaannya saat ini ia harus menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atasnya yang tinggal beberapa bulan lagi. Wuxian terdiam didepan cermin ketika merasa ada yang mengganjal perasannya, sejak tadi saat ia mandi hingga saat ini ia merasakan nyeri pada daerah lehernya, namun ia hanya menganggap itu gigitan serangga karena ia tidur diluar semalam, namun ternyata ia salah.
" A-Apa ini ?" gumam Wuxian heran melihat bagaimana 4 luka lubang ternganga dileher mulusnya " Apa ini bekas gigitan hewan ? " gumam Wuxian semakin heran seingatnya tidak ada hewan yang dapat menyebabkan luka seperti ini.
" Ah .. Sudahlah untuk apa aku memikirkan hal bodoh begini " Gumamnya sebelum pergi meninggalkan kamar sederhana yang menjadi kamarnya ini.
Dengan santai Wuxian melangkah meninggalkan bangunan megah yang ada ditengah hutan seluas 2 ha itu menuju jalan setapak yang akan membawa ia menuju keramaian kota. Hamparan sawah yang begitu luas terbentang ketika Wuxian keluar dari hutan kemudian satu persatu rumah mulai terlihat hingga ia bisa melihat bangunan sekolah. Yunmeng Senior High School salah satu sekolah tinggi yang menjadi sekolah Favorit para siswa karena selain tempatnya yang stategis, sekolah ini memiliki fasilitas paling lengkap dan merupakan sekolah yang cukup elit. Letaknya yang ada di perbatasan Yunmeng dan Yiling membuat sekolah ini banyak diminati oleh siswa dari kedua wilayah ini.
" Wei Wuxian ! " Ujar seseorang yang membuat Wuxian menatap pemuda yang tidak asing baginya
" Pagi Jiang Cheng " ujar Wuxian pelan
" Wuxian kau tidak apa-apa ?.. Wajahmu terlihat sangat pucat " ujar Jiang Cheng khawatir
" Eh.. aku baik-baik saja, memang aku merasa agak lemas sejak pagi "
" Kau yakin akan baik-baik saja "
" Tentu saja aku akan baik-baik saja.. kau tidak usah memasang wajah Khawatir begitu " ujar Wuxian menyikut bahu Jiang Cheng pelan sebelum mereka melangkah menuju kelas bersama
" Apa kau jalan kaki lagi ?"
" Hm . lebih baik begitu.. lagi pula aku menikmatinya, udara pagi bagus untuk kesehatan bukan " ujar Wuxian sambil tertawa.
" Kau ada-ada saja"
" Wei Ying ! " Ujar seseorang yang suaranya sangat dikenal oleh Wuxian, dengan malas ia menatap sepupunya dan hanya bisa menghela napas gusar.
" Ziyuan bisakah kau membiarkan aku sendirian hari ini aku sedang malas mengurusimu Ujar Wuxian sebelum melangkah menuju kelas nya "
" Apa kau bilang beraninya kau.. cepat ikut aku" ujarnya menahan Wuxian yang sudah akan masuk kedalam kelas
" Mo Ziyuan bel akan segera berbunyi lebih baik kau pergi kelasmu saja" ujar seorang dibelakang mereka
" Siapa kau Be-
Ucapan Mo Ziyuan terhenti ketika melihat ternyata yang berdiri dibelakang mereka adalah salah satu guru disekolah ini.
" Xingchen Laoshi " ujar Ziyuan terkejut dengan tatapan tidak suka Mo Ziyuan pergi meninggalkan Wuxian yang hanya tersenyum meledek, beruntung kali ini ia bebas dari si babi Ziyuan itu.
" Wei Wuxian, Jiang Cheng ayo kalian segera masuk juga " ujar Xiao Xingchen lembut
" Baik Luoshi "
Saat Wuxian masuk ke dalam kelas ia heran ketika melihat seseorang yang sepertinya tidak asing ia pernah melihat pemuda itu tapi enah dimana, sosok itu menggunakan kemeja biasa yang membuat Wuxian yakin ia bukanlah seorang siswa dari sekolah ini, pria itu hanya terdiam didekat jendela memandangnya lekat-lekat seperti hanya ada mereka berdua diruangan ini.
" Wuxian apa yang kau lakukan hanya berdiri saja disana ayo duduk" Ujar Jiang Cheng yang membuat Wuxian menatap semua siswa diruangan sudah duduk ditempat mereka masing-masing, dengan segera ia duduk ditempat duduknya sebelum kembali menatap kearah belakang dimana ia melihat sosok tadi namun pemuda yang ia cari sudah tidak ada ditempat itu Wuxian melihat sekeliling melihat dimana tempat duduk sosok tersebut tapi ia tidak melihatnya diamanapun.
__ADS_1
" Aneh " gumam Wuxian heran, akhirnya ia hanya diam saja menganggap ia hanya salah lihat sebelum ia kembali bercengkrama dengan Jiang Cheng.
Sementara itu disebuah pohon besar tak jauh dari bangunan sekolah Yunmeng seorang pemuda dengan dengan kemeja putih polos yang dipadu dengan wajah putih bersih dan begitu menawan tengah menatap kearah jendela salah satu bangunan sekolah Yunmeng dimana seorang pemuda dengan wajah manis tengah bercanda ria dengan teman yang duduk satu bangku didepannya. Netra emasnya tampak berbinar menatap wajah pemuda manis yang tengah tertawa riang itu.
" Wangji " ujar seseorang yang membuat ia terkejut
" Xiong Zhang" Ujar Wangji ketika tahu yang datang adalah kakaknya pemuda dengan wajah yang tampak sama dengan Wangji ini tersenyum lembut pada adiknya
" Apa yang sedang kau lakukan disini Wangji ?"
" T-Tidak ada"
" Kau terlihat bahagia " ujar kakaknya yang membuat Wangji menatap kakaknya dengan wajah datar namun matanya berkilat kaget. Lan Xichen hanya bisa tersenyum melihat adiknya, mungkin ia harus berterima kasih pada orang yang mampu membuat adiknya kembali bergairah untuk hidup.
" Apa lukamu sudah sembuh ?" tanya Xichen yang hanya dijawab anggukan oleh Wangji
" Ayo kita pulang paman sudah menunggu kita.. kita harus segera menyelesaikan masalah ini"
" Baik Xiong Zhang" ujar Wangji ia melirik sekilas melihat kearah jendela, pemuda manis itu tengah fokus mendengarkan penjelasan guru yang sudah masuk ke kelasnya, Wangji langsung melangkah pergi mengikuti kakanya, dalam hitungan detik mereka sudah tidak terlihat lagi ditempat itu.
..
Hari sudah beranjak siang Wuxian hanya bisa terdiam menikmati segarnya udara dari loteng sekolah, ia hanya bisa tenang ditempat ini, tempat ini adalah tempat paling akhir yang terpikir oleh Mo Ziyuan untuk mencarinya. ia merasa sangat lemas hari ini entah kenapa ia benar-benar tidak berniat untuk melakukan apa-apa hari ini karena tubuhnya yang lemas dan kepalanya yang berdenyut sakit.
" Wei Wuxian kau disini ternyata apa kau tidak makan siang ? " Ujar Jiang Cheng menatap temannya yang langsung pergi dari kelas ketika bel istirahat berbunyi.
" Tidak aku tidak punya uang" ujar Wuxian pelan yang membuat Jiang Cheng menghela napas panjang
"Ini aku membelikan makan siang untukmu" ujar Jiang Cheng menyerahkan 2 Sandwich pada Wuxian. Wuxian hanya tersenyum senang sebelum ia menerima Sandwich itu dan membukanya namun sebelum Wuxian bisa memasukkan Sandwich itu kemulutnya seorang menampik tangan Wuxian hingga sandwich tersebut terjatuh tak cukup hanya dengan jatuh saja orang itu menendang Sandwich tersebut menjauh.
" Wei Wuxian apa kau tahu hari ini kau berusaha kabur dari ku apa kau tahu apa akibatnya"
" Ziyuan tidak bisakah kau membiarkanku makan siang dengan tenang "
" Enak saja apa kau kira kau bisa santai sementara aku belum makan siang ayo cepat belikan aku makan siang ! "
" Mo Ziyuan apa yang kau lakukan !" Ujar Jiang Cheng geram melihat bagaimana pemuda buntal ini memperlakukan sahabatnya.
" Jiang Cheng lebih kau pergi saja ini urusanku dengan orang ini " ujar Mo Ziyuan.
" Wei Wuxian apa kau ingin aku melaporkan mu pada ibu " ujar Mo Ziyuna yang membuat Wuxian menghela napas gusar, dia selalu menggunakan ibunya sebagai senjata.
" Ayo cepat ikut aku.. sebelum aku melakukan hal yang akan membuatmu menyesal " Ujar Ziyuan yang membuat Wuxian kembali mengikuti permintaan sepupunya ini.
Pada akhirnya Jiang Cheng hanya bisa diam melihat bagaimana Wuxian harus bolak-balik membawakan makanan yang dipesan oleh Mo Ziyuan dan 4 temannya.
" Woi Wei Wuxian ambilkan aku minuman ku" ujar salah satu teman Mo Ziyuan yang membuat Wuxian ingin menyiramkan 2 minuman yang ada ditangannya ini pada kedua orang ini.
" ini minuman kalian bolehkah aku pergi " ujar Wuxian namun tangannya kembali ditahan, Wuxian menghela napas gusar ketika melihat senyum licik diwajah pemuda ini, Wuxian tahu betul orang ini, dia adalah anak konglemerat yang dulu pernah bekerja sama dengan ayahnya, hingga Ia tahu betul tabiat anak ini sangat urakan karena dulu Ia tahu anak ini telah membunuh hewan peliharaannya sendiri karena tidak mau menuruti perintahnya, dan hal itu terjadi dihadapan mata Wuxian, ia bergidik ngeri mengingat bagaimana anjing kecil itu dihujani pukulan oleh orang ini.
" Wuxian .. kenapa kau tidak bergabung saja dengan kami disini " ujarnya yang langsung membuat Wuxian was-was, ia tidak mau berurusan dengan anak gila ini lagi.
" Wen Chao.. apa-apaan kamu ini ? " Ujar Mo Ziyuan tidak setuju dengan ucapan Wen Chao.
" Maaf ya Tuan Muda Wen sepertinya aku tidak bisa" ujar Wuxian tersenyum pahit sebelum pergi begitu saja, wajah Wen Chao langsung merah padam karena marah, selama ini ia memang menikmati permainan Mo Ziyuan dengan mengerjai Wuxian, walau bagaimanapun ia masih ingat betul nagaimana Wuxian memukulnya dengan ranting saat kecil karena memukuli anjing tidak bergunanya hingga mati. Wen Chao tidak terima jika ia disalahkan oleh orang lain, terlebih lagi setelah itu ia dihukum oleh ayahnya.
" Wei Wuxian kau akan menyesal karena telah menolaknya " Ujar Wen Chao mencibir Wuxian yang sudah pergi meninggalkan kantin, masa bodoh dengan manusia tidak berperasaan itu.
Wuxian segera melangkah menuju kelasnya untuk menikmati satu lagi hari dalam hidup penuh penindasannya ini.
" Wei Wuxian ini " ujar Jiang Cheng menyerahkan satu potong Sandwich pada Wuxian dengan senyum cerah Wuxian menerima pemberian Jiang Cheng dan mulai memakannya dengan tenang.
" Wuxian apa kau tidak bosan mengurus sepupumu yang seenaknya itu ?"
" Ah.. aku bisa apa Jiang Cheng, dia itu terlalu maja jika harus hidup tanpa aku " ujar Wuxian tergelak pelan.
" Apa kau yakin ?" ujar Jiang Cheng memastikan membuat Wuxian menatap Jiang Cheng intens
" Apa ini ?.. apa kau menghawatirkan aku" ujar Wuxian tersenyum
" Eh.. untuk apa aku menghawatirkan orang urakan seperti mu ?"
" Aiya .. benarkah ?" Ujar Wuxian tersenyum jahil sebelum memeluk Jiang Cheng
__ADS_1
" Apa yang kau lakukan lepaskan !"
" Aku menyayangimu Jiang Cheng " ujar Wuxian memeluk kemudian mencium pipi Jiang Cheng
" Ihhh Wei Wuxian lepaskan.. kau ini " ujar Jiang Cheng meronta hingga akhirnya Wuxian melepaskan pelukannya dan tertawa puas melihat wajah sahabatnya yang sudah merah padam. Mungkin jika ia bisa memilih ia ingin terus berada ditempat ini dikelilingi oleh teman-temannya yang perduli terhadap dirinya.
Hari sudah beranjak sore ketika Wuxian melangkah memasuki rumahnya dan ia hanya menghela napas gusar ketika melihat si nenek sihir sudah berdiri menantinya dipintu masuk.
" Apa kau keluyuran lagi dasar tidak tahu diri !" Ujar Nyonya Mo
" Tidak Bi aku hanya ada kegiatan di sekolah, itu saja"
" Alasan saja kau ini.. ayo cepat masuk dan lakukan pekerjaanmu"
Akhirnya Wuxian hanya diam melangkah menuju dapur memasak makan malam bersama para pelayan.
" Tuan Muda apa yang anda lakukan ?" Ujar salah satu pelayan ketika melihat bagaimana Wuxian sengaja menambahkan begitu banyak bubuk cabai ke dalam masakan yang tengah ia buat. Wuxian hanya nyengir pada wanita paruh baya itu yang membuat semuanya menggeleng pelan.
" Tuan Muda jangan sengaja memancing kemarahan Nyonya Mo "
" Tidak apa Bi palingan aku hanya disuruh tidur diluar lagi malam ini " ujar Wuxian enteng dengan ceringan khas nya
" Tuan Muda apa anda tidak takut diserang oleh binatang buas jika harus tidur diluar, anda sudah digit oleh sesuatu diluar sana hingga leher anda seperti ini apa anda tidak pernah kapok " ujar Wanita itu gusar
" Sudahlah Bibi Jia aku hanya ingin bersenang-senang dengan mereka" ujar Wuxian mengedipkan sebelah matanya pada sang pelayan, siapa yang bisa membantah sifat jahil si Tuan Muda Wei kesayangan mereka ini, tidak ada yang mampu mengatakan apa-apa untuk menghentikan ia bertingkah jahil pada sang Nyonya.
Akhirnya malam itu Wuxian kembali dihukum oleh nyonya Mo dengan tidur diluar, namun ia tidak merasa menyesal sama sekali atas apa yang sudah ia lakukan justru ia merasa puas melihat bagaimana ekspresi ketika Mo Ziyuan dan Nyonya Mo memakan masakan yang sudah ia taburi bubuk cabai, bahkan sang nyonya mengusirnya dengan mata yang masih berair dan bibir yang memerah karena kepedasan. Wuxian tertawa puas menatap langit malam dari rumah panggung di tengah taman Lostus.
" Aku tidak akan menyerah dengan kehidupan ini, ayah ibu tolong bantu aku ya " gumam Wuxian tersenyum.
Hari semakin larut namun Wuxian masih betah duduk dipinggur rumah panggung menikmati angin malam yang berdesir, bulan purnama yang menyinari taman lotus tampak begitu indah dan Ratusan kunang-kunang yang berterbangan kesana kemari.
" Apa kau tidak kedinginan ? " Ujar sebuah suara yang membuat Wuxian terkejut bukan main terlebih lagi ketika tahu orang yang bicara adalah seseorang yang tidak ia kenal.
" Maaf anda siapa kenapa anda bisa ada dirumah saya ini ?"
" Aku.. namaku Lan Wangji kau bisa memanggilku Lan Zhan, Wei Ying " Ujar sosok dengan wajah datar yang begitu menawan dan tampan tersebut, sesaat jantung Wuxian serasa berhenti berdetak, bagaimana bisa orang ini tahu nama itu.
" Siapa kau sebenarnya bagaimana kau bisa tahu namaku ? "
" Aku sudah bilang Aku Lan Wangji " Ujar Wangji menatap Wuxian yang masih terheran-heran dengan begitu teduh, sebelum ia melangkah mendekati pemuda manis ini. Wuxian merasa tidak asing dengan kemeja ini ia pernah melihat pemuda ini sebelumnya tapi dimana.
" Apa kau ingat siapa aku ? " Ujar Wangji mengelus wajah Wuxian lembut, entah kenapa Wuxian tidak bisa melakukan apapun untuk melawan pria ini. Justru jantungnya berdebar 2 kali lebih cepat dari biasanya.
" S-Siapa kau apa kau mengenalku ?" Ujar Wuxian yang membuat raut wajah Wangji menjadi sendu, benar pemuda yang ada dihadapannya sekarang ini bukanlah Wei Yingnya yang dulu, kenapa ia begitu bodoh mengikuti hasratnya begitu saja.
" Maaf aku rasa kau tidak akan pernah ingat siapa aku " ujar Wangji sebelum memeluk Wuxian yang membuat Wuxian semakin heran
" Aku benar-benar merindukanmu Wei Ying " Ujar Wangji yang membuat Wuxian bergejolak ia tidak pernah mengatakan nama kecilnya pada sosok ini tapi bagaimanan bisa dia mengetahui nama kecilnya.
" Maafkan aku jika aku tidak bisa mengingat dirimu, tapi apakah kita pernah bertemu sebelumnya ? " Ujar Wuxian bigung, Wangji melepaskan pelukan mereka sejenak sebelum menatap Wuxian lekat-lekat. Wuxian terkejut bukan main ketika tiba-tiba netra emas Wangji berkilat menjadi merah.
" Apa kau mengingat kejadian kemarin malam saat kau tidur disini ? " Wuxian kembali memutar ingatannya dimana saat tengah malam, hari itu dia bermimpi bertemu dengan seorang pria dengan wajah tampan dan kalau diingat-ingat wajah tampan itu sama persisi dengan wajah Wangji. Apa ini ?, mungkinkah kalau ia tidak bermimpi saat itu.
" Tunggu aku ingat saat malam itu aku bermimpi bertemu dengan dirimu dan aku yakin kau melakukan sesuatu dengan menindihku dan menanjabkan sesuatu dieherku setelah itu aku terbangun sudah pagi, aku kira itu hanya mimpi" Ujar Wuxian semakin heran tunggu dulu aku yakin saat ini aku tidak bermimpi aku bahkan belum tidur sejak tadi
" Wei Ying apa kau ingin membuktikan apakah ini mimpi atau tidak ?" Ujar Wangji yang membuat Wuxian mengangguk. Wangji kembali mendekat dan memeluk Wuxian dengan erat.
" Apa yang kau lakukan ? "
" Maaf mungkin ini akan sedikit menyakitimu" ujar Wangji
Ap- Ahhhh
Desahan pelan lolos dari mulut Wuxian ketika lidah Wangji menjilat lehernya dengan begitu lembut
" Apa yang kau lakukan !? " Protes Wuxian saat Wangji kembali menjilat lehernya Wuxian dengan sekuat tenaga menahan suara memalukan yang akan lolos dari mulutnya.
" Kau.. Ap- Akhhhh"
Desahannya berubah menjadi pekikan kesakitan ketika merasa sesuatu menancab dilehernya, dengan wajah ketakutan wuxian melirik kearah kiri dimana Wangji membenamkan kepalanya dan mengigit leher Wuxian dalam, Wuxian bisa melihat setetes darah keluar dari empat lubang yang dibuat oleh gigi taring Wangji.
" K-Kau- Arghhhh "
__ADS_1
...OoO...