The Vampir

The Vampir
Chapter 4


__ADS_3

" Hwaaa !!!" teriakan Wuxian langsung menggema dirumah Oriental megah yang berdiri ditengah hutan itu. Ia langsung gemetar luar bisa sebelum dengan segera berbalik namun sesuatu menahanya dengan menarik kerah pakaian yang ia gunakan. Tubuhnya semakin bergetar hebat ketika melihat yang menahannya adalah sosok kokoh dengan mata mengkilat merah, mata Wuxian langsung terbelalak kaget ketika melihat sesuatu yang diseret oleh sosok tersebut, itu adalah mayat seseorang yang sangat asing bagi Wuxian.


" Kenapa kau takut begitu ?" ujar sosok tersebut mendengus, entah kenapa Wuxian yang sudah hampir pingsan ditempat langsung menghela napas lega, ia kenal betul suara ini " Apa yang kau lakukan malam-malan teriak-teriak ?.. kau bisa membangunkan semua orang dirumah ini" ujarnya lagi.


" Lan Zhan.. apa kau tahu kau membuatku hampir mati jantungan" ujar Wuxian kesal ketika melihat Wangji yang keluar dari kegelapan hingga Wuxian bisa melihat wajah tampan dengan iris mata emas yang menawan itu dengan jelas.


" Memangnya aku melakukan apa ?"


" Itu yang justru ingin aku tanyakan padamu.. apa yang kau lakukan ?.. apa kau sudah gila ingin membawa korbanmu kerumah ini, tidak bisakah kau makan diluar saja" Ujar Wuxian ngeri


" korban apa ?.. justru dia ingin menjadikan tempat ini sebagai tempat buruannya" ujar Wangji yang membuat Wuxian terkejut sebelum menatap dengan jelas mayat yang ada ditangan wangji mulai lenyap menjadi abu.


" J-Jadi dia Vampir"


" Hm...beruntung aku sempat bertindak" ujar Wangji menatap Wuxian lekat, tak lama kemudian lampu seluruh ruangan menyala yang membuat Wuxian terkejut


" Dasar anak tidak beguna apa yang kau lakukan tengah malam begini ?" Ujar Nyonya Mo dengan penuh amarah


" Bibi ... t-tidak ada aku hanya mengejar tikus tadi" Ujar Wuxian, sebelum ia melirik dimana seharunya Wangji berdiri namun sosok itu sudah lenyap entah kemana. Bahkan abu Vampir tadi sudah bersih tanpa jejak.


" Dasar tidak berguna" cibir nyinya Mo sebelum melakah pergi meninggalkan Wuxian yang menjulurkan lidah meledek bibinya itu.


" Dia wanita yang mengerikan" Ujar sebuah suara yang membuat Wuxian terkejut, ia hanya bisa nenghela napas ketika melihat Wangji sudah berdiri di sampingnya.


" Lan Zhan bisakah kau tidak mengangetkanku seperti itu ?"


" Ah.. siapa yang mengangetkan mu ?.. semunya sudah selesai kau tidak usah khawatir tentang vampir lagi.. ayo kembali ke kamar" ujar Wangji lembut.


Wuxian hanya terdiam menuruti Wangji yang sudah mengantarnya ke kamar, bahkan hingga Wuxian berbaring Wangji masih setia disisinya mengelus kepala pemuda manis itu dengan lembut. Entah kenapa Wuxian merasa begitu nyaman jika Wangji berada disisinya, ia selalu merasakan kehangatan ketika Wangji mengusap kepalanya seperti ini, entah ia waras atau tidak bagaimana mungkin rasa takut dan waspada pada sosok Vampir ini lenyap begitu saja.


" Lan Zhan kau .. apakah kau mengenalku ?.. apakah kita pernah bertemu sebelumnya ?" Ujar Wuxian memecah keheningan diantara mereka


" kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu ? "


" Tidak hanya saja aku merasa jika kau sepertinya sudah mengenal ku sejak dulu"


" Wei Ying" ujar Wangji menatap Wuxian lekat sebelum ia mengecup kening Wuxian singkat " tidurlah" ujar Wangji lembut mengelus Wajah Wuxian yang sudah merona hebat, Wuxian langsung menarik selimut dan menutupi seluruh wajahnya yang sudah panas


' A-A-Apa ini , k-kenapa aku begini ?'


Wuxian berusaha menenangkan dirinya yang merasakan desiran aneh dalam dirinya, jantungnya berdebar hebat dan perasaan senang luar biasa ketika Wangji mengecup keningnya, sungguh Wuxian merasa dirinya sudah gila, apakah ia jatuh dalam jeratan seorang Vampir.


Wangji hanya bisa tersenyum melihat bagaimana sikap Wuxian saat ini, sungguh ia benar-benar ingin ******* bibir ranum itu sekarang namun ia lebih memilih menahan hasrat dan kerinduannya pada sosok pemuda manis ini dari pada ia dibenci dan tidak bisa lagi bertemu dengannya lagi lebih baik ia memulai semunya dari awal, melindungi pemuda ini dengan baik. Wangji tidak akan membiarkan masa lalunya terulang lagi, masa dimana ia harus kehilangan sosok ini, sudah cukup sekali saja ia merasakan betapa sakitnya ketika ia kehilangan pemuda ini, ia tidak ingin kehilangan pemuda ini untuk kedua kalinya.


" Selamat Malam Wei Ying" Ujar Wangji pelan mengelus puncak kepala Wuxian yang terlihat dari balik selimut


" Kenapa kau memperlakukan ku seperti ini ?.. kau tahu aku bukan seorang gadis" Ujar Wuxian mengintip Wangji dari dalik selimut Wangji merasa begitu gemas dengan sikap Wuxian yang begitu manis dimatanya.


" Apa salahnya, Wei Ying tetap Wei Ying" Ujar Wangji yang membuat Wuxian semakin tersipu


" Dasar Aneh" gerutu Wuxian dari balik selimut


" Tidurlah"


Setelah Wangji menyuruhnya tidur untuk kesekian kalinya Wuxian sudah tidak berniat untuk menanggapinya lagi, kantuk sudah mengalahkannya hingga akhirnya ia terlelap dalam tidur.

__ADS_1


Pelan namun pasti Wangji mendengar suara dengkuran pelan dari Wuxian yang memberikan tanda kalau pemuda manis ini sudah terbuai oleh mimpi, Wangji berencana tetap menemani Wuxian sampai ia bangun esok pagi namun ia hanya bisa terdiam ketika melihat sosok yang muncul di kamar ini.


" Wangji" ujar sosok tersebut yang membuat Wangji langsung berdiri dari duduknya


" Xiong Zhang" ujar Wangji membungkuk hormat Xichen hanya tedenyum pada adiknya yang sudah nampak lebih hidup dari sebelumnya.


" Wangji kita harus segera kembali ke Gusu, semuanya sudah selesai, tugas yang diberikan oleh paman malam mini sudah kau selesaikan dengan baik, aku rasa paman akan membiarkan kau menguasai seluruh saham perusahaan ini" Ujar Xichen yang langsung membuat Wangji berbinar, Xichen hanya bisa tersenyum senang melihat bagaimana bersemangatnya Wangji saat ini.


Xichen melirik pada pemuda yang tengah tertidur nyaman dibalik selimut tebal yang menutupi tubunya


" Wei Gongzi... tidak berubah sedikit pun, wajahnya masih sama ssperti dulu" Ujar Xichen tersenyum teduh, Xichen hanya bisa tertawa kecut ketika melihat tatapan cemburu dari Wangji yang begitu mengerikan.


" Aku tidak akan menyentuh Wei Gongzi, bukankah kau tahu itu" Ujar Xichen tertawa garing namun tidak direspon sedikitpun oleh Wangji.


" Ayo Xiong Zhang.. bukankah kita harus pergi" Ujar Wangji


" Baiklah.. ayo.. paman sudah menunggu kita"


Wangji melirik Wuxian yang masih lelap dalam tidur sebuah senyuman tipis terukir diwajah Wangji sebelum ia pergi meninggalkan rumah ini.


.....


" Wei Wuxian.!!.. Ayo cepat bangun... Oi Wei Wuxian"


Wuxian langsung menghela napas gusar, sebelum dengan malas membuka matanya yang masih terasa berat. Pagi-pagi buta seperti ini si babi gendut Mo Ziyuan sudah menganggunya, kapan ia bisa tidur dengan tenang dirumah ini.


" Woi... Wei Wuxian..cepat bangun, atau aku dobrak pintu ini hingga hancur"


" Dobrak saja jika kau bisa" Ujar Wuxian enteng sebelum melangkah menuju pintu


Wuxian langsung membuka pintu kamarnya yang membuat Mo Ziyuan yang sudah akan mendobrak untuk kedua kalinya tersungkur, Wuxian langsung tertawa puas melihat wajah saudaranya terlihat begitu bodoh itu.


" Ya Tuhan ..apa kau tidak apa-apa ?" Ujar Wuxian tertawa puas


" Wei Wuxian" Ujar Mo Ziyuan yang berteriak marah


" Apa yang terjadi ?.. A-Yuan !." Ujar Nyonya Mo yang baru saja datang dan terkejut melihat anaknya yang tersungkur dilantai " Wei Wuxian apa yang kau lakukan dasar anak kurang ajar" Ujar Nyonya Mo menarik tangan Wuxian paksa menuju ruang utama.


" Bibi apa yang kau lakukan lepaskan, aku akan melakukan tugasku dengan baik"


" Kau sudah menyebabkan A-Yuan jatuh seperti itu jangan harap kau akan dimaafkan"


" Bibi bukan aku yang salah, dia yang memang ingin mendobrak pintu, kenapa aku yang disalahkan ?"


" Tidak bu dia sengaja.. dia memang sengaja menjebakku hingga aku seperti itu"


" Kurang ajar" Ujar Nyonya Mo menampar Wuxian keras. Wuxian hanya bisa terdiam menahan rasa perih dipipinya " Dengar Wei Wuxian tidak perduli kau adalah anak dari saudara jauh kerabat atau apapun aku tidak akan pernah membiarkan kau bertingkah seenaknya apalagi pada anakku" Ujar Nyonya Mo sinis


Wuxian hanya bisa diam jika ia sampai ditendang keluar dari rumah ini apa yang harus ia lakukan kalaupun ia bisa pergi ke pengadilan apa yang harus ia serahkan sebagai bukti jika semua berkas perusahaan dan juga rumah ini ada ditangan bibinya dan ia sendiri tidak tahu dimana bibinya menaruh semua surat-surat itu.


" Bibi jika aku memang salah tidak bisakah aku medapatkan sedikit keringanan ?"


" Keringanan apa yang kau minta kau adalah anak yang menyusahkan untuk apa aku memberikan kau keringanan ?" Ujar Nyonya Mo sebelum melangkah menuju sebuah meja dan mengambil sebuah jarum suntik yang membuat Wuxian langsung ngeri, ia yakin itu bukanlah hal yang baik.


" Bibi apa yang akan kau lakukan !" Ujar Wuxian was-was, perasaannya semakin tidak enak ketika ia dikekang oleh 2 orang pria asing yang entah berasal dari mana.

__ADS_1


" Bibi .. aku mohon dengarkan aku dulu, aku tidak melakukan apapun percayalah"


" Diam !..Bawa dia" Ujar Nyonya Mo yang mebuat kedua orang itu menyeret Wuxian menuju keluar rumah.


" Apa yang akan kalian lakukan, lepaskan aku" Ujar Wuxian ketika mereka berhenti ditengah hutan


" Tenang lah Wei Ying, kau akan menikmatinya" Ujar Mo Ziyuan menyeringai


Sementara itu disebuah bangunan yang menjulang tinggi di kota Gusu seorang pemuda dengan tubuh tegap tengah menatap kearah jendela menatap pemandangan kota Gusu yang penuh dengan bangunan menjulang tinggi.


" Tuan Muda" Ujar seseotang sambil mengetuk pintu ruang kerjanya ini


" Masuklah" ujarnya membuat seorang pria dengan stelan jas rapi masuk membawa beberapa berkas ditangannya. Pemuda itu berbalik menatap pria paruh baya yang merupakan bawahannya itu, Wajah tampannya tampak begitu serius menatap pria itu menanti hasil pekerjaan yang telah ia lakukan.


" Tuan Muda.. semua berkas yang anda minta sudah siap, sekarang perusahaan itu resmi ada ditangan anda Tuan Muda Wangji" ujar pria itu


" Hm. Terima kasih" Ujar Wangji menatap berkas yang diserahkan oleh pria itu dengan perasaan senang. Sekarang tidak akan ada yang bisa menyakiti pujaan hatinya lagi.


" Saya permisi Tuan Muda"


" Hm.."


Wangji tersenyum tipis setelah ini ia akan selalu ada disamping pujaan hatinya, melindungi sosok itu dari apapun yang ingin melukainya. Wangji sudah bertekat masa lalu yang kelam itu tidak akan pernah terulang lagi.


" Wangji" Ujar seseorang yang baru saja masuk ke ruangan ini


" Xiong Zhang" Ujar Wangji menyapa sang kakak yang hanya tersenyum padanya


" Kau sudah mendapatkan perusahaan itu, apa kau akan segera pergi ke Yilling ?"


" Hm.. aku akan segera pergi"


" Baik lah, berhati-hatilah dalam perjalanan kau tahu bukan saat ini keadaan di sekitar Yilling sedang tidak bersahabat.. aku rasa mereka akan memperketat penjagaan di Yiling semenjak kejadian Bulan darah kemarin"


" Hm .. aku sudah memastikan hal itu Xiong Zhang"


" Ambilah jalan yang aman, jangan menggunakan kemampuan mu dulu, aku sudah menyiapkan mobil untuk keberangkatanmu ke Yilling jadi bersabarlah"


" Terima kasih Xiong Zhang"


Wangji hanya terdiam melihat pemandangan yang ada dihadapannya


" Wei Ying" Gumam Wangji


Wuxian semakin ngeri ketika Nyonya Mo mendekat dan akan menyuntikkan obat yang ada ditangannya


" Bibi aku mohon jangan lakukan ini aku akan melakukan apun yang kau minta"


" Kau tidak usah khawatir Wei Wuxian. Kau akan segera menikmati nya" Ujar Nyonya Mo tersenyum puas, berlahan namun pasti Wuxian merasa seluruh tubuhnya lemas dan panas.


" A-Apa yang kau lakukan Bi ?" Ujar Wuxian dengan napas tersenggal-senggal


" L-Lan Zhan" Gumam Wuxian pelan hanya nama sosok ini yang bisa ia panggil berharap sosok itu muncul dan menyelamatkannya


" Lan Zhan"

__ADS_1


...OoOoO...


__ADS_2