
πππππ
.
.
Flashback...
Setelah Nando dan Ayla membawa Rian pergi meninggalkan tempat Rian tertembak.
Tuan Heri dan Aldi, langsung saja ingin membawa Sanjaya, Anton dan Bela ke luar, karna sebentar lagi polisi akan datang.
Namun tanpa di sangka. Sanjaya mengeluarkan senjata di balik jas yang dipakainya.
Lalu setelah itu, dia langsung mengarahkan senjata itu. Kearah Tuan Heri.
"Jika kamu berani bergerak. Maka aku akan meledakkan senjata ini kearah kepala mu." Sanjaya yang mengancam.
"Lakukan jika kamu mampu Sanjaya. Ayo tembak kepala ku. Agar kita sama-sama mati." seru Tuan Heri melirik kearah satu orang pengawal nya.
Yang sudah mengarahkan senjatanya, untuk menembak Sanjaya juga.
"Cuiih..." Sanjaya meludah, lalu dengan gerakan cepat, dia nekat menembak Tuan Heri.
Namun sebelum dia sempat menarik pelatuk senjata api nya, pengawal Tuan Heri sudah lebih dulu bertindak dan.
Dooooor......
Suara senjata api meledak, yang sudah mengenai kepala Sanjaya.
"Agh.....!" Sanjaya terjatuh kelantai.
Karna para pengawal Tuan Heri, lebih cepat bertindak sebelum dirinya.
Sedangkan Bela, langsung menjerit melihat Papinya sudah terkapar di depan matanya.
"Kalian semua jahat, kalian sudah membunuh Papi ku." Bela berusaha melepaskan tanganya, yang sedang di pegang oleh anak buah Tuan Heri.
Sedangkan Anton, hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Apalagi setelah dia melihat bagaimana Sanjaya meregang nyawa di depan matanya.
"Silahkan bawa mereka berdua. Nanti pengacara saya akan mengurus selebihnya." ucap Tuan Heri kepada polisi yang sudah mereka telepon. Sebelum Sanjaya ditembak tadi.
"Baik Tuan Erlangga. Maaf kami terlambat. Tapi Anda tidak perlu khawatir, kami akan menghukum mereka dengan pasal berlapis. Mereka tidak hanya menculik Putri Anda. Tapi mereka juga sudah banyak melakukan penipuan." jawab polisi itu, lalu mereka membawa paksa Anton dan Bela dari sana.
Meskipun Bela tidak berhenti meminta untuk dilepaskan. Namun mereka tetap tidak perduli.
__ADS_1
"Huh... Aldi, perintahkan mereka membawa jenazah Sanjaya kerumah sakit. Dan jangan lupa, suruh mereka ikut membantu untuk pemakaman nya." seru Tuan Heri yang menarik nafas lega.
Setidaknya satu masalah selesai. Tinggal dia menyusul kerumah sakit. Untuk melihat keadaan putranya.
*******
Pagi pun tiba.
Semalaman ini, satu orang pun tidak ada yang tidur. Mereka masih setia duduk di bangku tunggu. Yang berada di depan ruang ICU.
"Kalian pulang saja dulu, nanti baru kesini lagi. Biar Om yang menjaga disini." kata Tuan Heri yang baru saja datang, setelah membersihkan dirinya di ruang rawat Ayla. Sekalian melihat keadaan Mama Sonya.
"Iya Om, sekarang kami akan pulang dulu. Nanti sore kami baru kesini lagi. Jika ada apa-apa, tolong cepat kabari kami" yang di jawab oleh Andre.
"Tidak apa-apa, kerjakan pekerjaan kalian lebih dulu." seru Tuan Heri ikut duduk di kursi tunggu.
"Tapi kami akan melihat Ayla dan Tante Sonya lebih dulu. Sekalian berpamitan kepada Om Ridwan, Om." selak Nando baru berbicara.
"Oh iya, Lo bener Nan. Gue hampir lupa." Andre cengegesan kearah Nando.
"Pergilah lihat kesana, dan berpamitan dulu kepada Tante Sonya dan Tante Mirna. Kalau Om Ridwan, dia sadang pulang. sebentar" ucap Tuan Heri lagi.
Lalu Nando dan Andre pun langsung berpamitan dan pergi ke kamar rawat tempat Ayla dulu.
Ceklek.....
"Wah kebetulan sekali Bunda..! kami memang belum sarapan, tapi kami belum mandi ini." jawab Andre yang sudah duduk, di sebelah tempat Bunda Mirna.
"Tidak perlu mandi. Anak-anak Bunda sudah tampan semua." Bunda tersenyum kearah mereka.
Bunda Mirna memang sudah mengganggap Nando maupun Andre seperti anaknya sendiri. Apalagi dia tau, jika mereka berdua memperlakukan putrinya seperti adiknya sendiri.
"Tapi kami ingin ke kamar mandi dulu Bun." sahut Nando tegak, di sebelah sofa kosong.
"O iya, Bunda lupa,! jika kalian dari ruang tunggu. Andre, pergilah kekamar mandi dulu, setelah itu baru kita sarapan, bersama Tante Sonya juga." titah Bunda Mirna yang baru ingat, jika Nando maupun Andre belum mencuci muka mereka.
"Tante Sonya sudah bangun?" Nando kaget mendengarnya.
"Sudah, tadi jam setengah lima, dia sudah bangun. Sekarang dia agak mendingan. Setelah melihat keadaan Ayla. Dia juga sedang membersihkan dirinya" Bunda Mirna menjawab lesu. Melirik kearah kamar mandi yang Mama Sonya tempati.
"Syukurlah, jika Tante Sonya sudah mendingan." kata Nando berjalan kearah kamar mandi.
Lalu dia dan Andre bergantian kekamar mandi. Karna mereka mau ikut sarapan di sini, sebelum mereka pulang.
Tidak lama setelah mereka selesai, dan duduk di sofa dekat Bunda Mirna. Mama Sonya keluar setelah membersihkan dirinya.
__ADS_1
"Nak...! kalian ada disini.?" Mama Sonya memeluk Nando dan Andre secara bersama. Karna begitu melihat Mama Sonya tadi. Nando dan Andre memang langsung berdiri menyambutnya.
"Iya Tan, Tante harus kuat ya...! Rian pasti akan baik-baik saja. Percayalah,! Tante juga harus memikirkan kesehatan Tante sendiri. Jika Tante sakit, siapa yang akan menjaga Ayla dan Rian nantinya." ucap Nando setelah mereka melepaskan pelukannya.
"Kalian benar Nak. Tadi malam Tante hanya merasa shock mendengar keaada Rian. Tapi setelah melihat Ayla, Tante baru sadar, jika disini bukan hanya Rian yang sedang dirawat. Namun juga putri Tante." lirih Mama Sonya, melihat kearah ranjang tempat Ayla yang masih tertidur, dengan nyenyak.
"Sudahlah, musiba tak dapat di tolak. Untung juga tidak dapat kita raih. Dibalik musibah ini, pasti akan ada kebahagiaan untuk anak-anak kita. Sekarang mari kita sarapan dulu. Agar kita tetap sehat, untuk bisa merawat anak-anak kita." sahut Bunda Mirna.
Yang sangat mengerti apa yang dirasakan oleh besarnya itu. Setelah mendengar ucapan Bunda Mirna. Akhirnya mereka berempat sarapan di atas sofa.
Karna Ayah Ridwan sudah tidak ada, dia kembali ke rumah dulu. Untuk melihat anak bungsunya, yaitu Varo adik Ayla.
Setelah selesai sarapan dan melihat keadaan Ayla. Nando maupun Andre, kembali berpamitan kepada Bunda Mirna dan Mama Sonya, karna mereka berdua, harus mengurus pekerjaan mereka dulu.
Namun baru sepuluh menit setelah mereka pergi. Ayla mulai mengerjabkan matanya dengan perlahan. Sambil melirik kearah dinding-dinding kamar.
"Sayang kamu sudah bangun?" Mama Sonya mendekat, setelah melihat Ayla bangun.
"Mama...? Kenapa kita ada disini? Ayla kenapa?" Ayla bertanya binggung. Dan belum mengingat kejadian yang sudah terjadi tadi malam.
"Iya, ini Mama sayang,! kan tadi malam kamu pingsan di ambulans. Setelah melihat Rian tidak sadarkan diri." jawab Mama Sonya duduk di kursi sebelah tempat Ayla.
Deg....
Jantung Ayla kembali berdetak kencang. Tadi dia merasa tenang, karna belum mengigat kembali kejadian tadi malam.
"Sekarang Rian di mana Ma? kenapa dia tidak ikut dirawat bersama Ayla disini?"
"Rian masih di rawat di ruang ICU Nak. Tapi keadaanya baik-baik saja." kata Mama Sonya, menyembunyikan keadaan Rian yang sebenarnya.
"Aa..Ap..Aapa? ruang ICU,! jika dia baik-baik saja. Kenapa harus dirawat di ICU Ma?" Ayla tergagap dengan air matanya.
"Itu atas keinginan Papa mu. Agar Rian cepat pulih. Kamu sarapan dulu ya sayang. Dari kemarin, kamu pasti belum makan." Mama Sonya berusaha tegar, seolah-olah jika putranya sedang baik-baik saja.
"Tidak Ma..! Ayla ingin melihat keadaan Rian dulu. Ayo kita kesana sekarang. Setelah melihat keadaannya baru Ayla sarapan!" pinta Ayla yang sudah ingin melepaskan impus di tangannya.
*BERSAMBUNG......
.
.
.
...Buat yang masih selalu setia, terimakasih ya....πDan untuk feal cerita ini, bila tidak nyambung, atau ada kesalahan mohon pengertiannya....
__ADS_1
Mungkin untuk Minggu ini, semua novel mak author belum bisa uup seperti biasanya. Karna mak author sedang mendapatkan musibah. Ibu saya meninggalkan dunia pada hari Senin pagi. Jadi maaf beribu-ribu maaf sudah mengecewakan kalian semua.ππ*